Beberapa hari yang lalu, saya sedang duduk di sebuah gerbong kereta api, mencoba khusyuk membaca sebuah esai panjang tentang sejarah sosial di Indonesia. Di sebelah saya, seorang remaja tampak begitu asyik dengan ponselnya. Jempolnya bergerak sangat ritmis: scroll ke atas, tunggu beberapa detik, scroll lagi, tertawa kecil, lalu scroll lagi. Saya iseng menghitung durasi ia berhenti pada satu konten. Rata-rata? Tidak lebih dari 15 detik.
Dalam 15 detik itu, ia sudah mendapatkan musik yang menghentak, visual yang berwarna-warni, lelucon yang singkat, dan informasi yang langsung ke inti. Sementara itu, saya di sebelahnya masih berkutat di paragraf kedua, mencoba memahami latar belakang sebuah peristiwa yang terjadi seratus tahun lalu. Di titik itu, saya merasa seperti seorang pejuang yang membawa pedang kayu di tengah medan perang yang sudah menggunakan laser.
Inilah tantangan terbesar penulis buku di tahun 2026: bagaimana kita bisa membuat orang tetap mau membalik halaman kertas, sementara di saku mereka ada mesin penghasil dopamin yang menawarkan kesenangan instan setiap 15 detik?
Kekalahan Fokus: Ketika Otak Kita Terbiasa “Scrolling”
Kita harus jujur bahwa struktur otak pembaca kita saat ini telah berubah. Kebiasaan mengonsumsi konten pendek di TikTok atau Reels telah melatih otak untuk mengharapkan imbalan (reward) yang cepat. Membaca buku adalah aktivitas yang “lambat”. Ia membutuhkan investasi waktu, kesabaran untuk mengikuti alur, dan ketenangan untuk mencerna gagasan.
Bagi generasi yang dibesarkan oleh algoritma durasi pendek, membaca buku sering kali terasa seperti mendaki gunung tanpa ujung. Jika dalam tiga halaman pertama sang penulis tidak segera memberikan “kejutan” atau poin yang menarik, pembaca akan merasa bosan dan kembali lari ke pelukan ponselnya. Menulis buku sekarang bukan lagi sekadar adu kecerdasan gagasan, tapi adu ketangkasan menjaga perhatian pembaca agar tidak berpaling ke aplikasi sebelah.
Buku yang Harus Menjadi “Cepat” Tanpa Menjadi Dangkal
Kondisi ini memaksa penulis untuk mengubah strategi bercerita. Banyak penulis masa kini yang mulai mengadaptasi gaya bahasa yang lebih to the point, bab yang lebih pendek-pendek, dan hook (kait) yang lebih tajam di setiap awal tulisan. Kita seolah-olah sedang menulis buku yang “bercita rasa” konten digital.
Namun, di sinilah letak bahayanya. Jika penulis terlalu terobsesi mengejar kecepatan durasi perhatian pembaca, kita berisiko menghasilkan karya yang dangkal. Kita takut memberikan penjelasan yang panjang dan mendalam karena takut pembaca kabur. Padahal, kekuatan utama buku adalah kedalamannya—sesuatu yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh video 15 detik. Tantangan bagi kita adalah: bagaimana tetap memberikan “daging” yang berbobot, namun dengan cara penyajian yang tidak membuat pembaca merasa sedang mengerjakan ujian akhir semester.
Penulis sebagai Kreator Konten: Sebuah Keniscayaan yang Melelahkan
Di era TikTok, buku tidak akan bisa laku jika sang penulis hanya berdiam diri di balik meja tulisnya. Penulis masa kini dituntut untuk juga menjadi “pemain” di platform tersebut. Kita harus membuat video singkat tentang proses menulis, membagikan kutipan buku dengan latar lagu yang sedang tren, hingga melakukan live streaming untuk menyapa pembaca.
Sering kali, waktu dan energi kita habis untuk memikirkan konten apa yang viral agar buku kita dilirik, daripada memikirkan bagaimana cara memperbaiki kualitas paragraf di bab terakhir. Kita dipaksa untuk bersaing dengan para kreator konten yang memang dedikasinya adalah membuat visual. Seorang penulis yang biasanya hanya bergelut dengan kata-kata, kini harus pusing memikirkan pencahayaan, transisi video, hingga algoritma. Ini adalah kerja tambahan yang luar biasa melelahkan, namun sering kali menjadi satu-satunya cara agar buku kita tidak tenggelam di dasar rak toko buku.
Romantisasi Literasi vs Realitas Dopamin
Sering kali kita para penulis melakukan romantisasi: “Membaca itu perjalanan jiwa, membaca itu jendela dunia.” Kalimat-kalimat ini memang indah, tapi ia kalah sakti dibandingkan ledakan dopamin dari video TikTok yang memperlihatkan resep masakan simpel atau drama rumah tangga orang lain.
Kita harus berhenti hanya mengandalkan slogan-slogan puitis untuk mengajak orang membaca. Kita harus menyadari bahwa kita sedang bersaing dengan industri hiburan raksasa. Buku harus diposisikan bukan sebagai “tugas” atau “kewajiban moral”, melainkan sebagai bentuk pelarian yang lebih berkualitas. Kita harus mampu meyakinkan pembaca bahwa meski video 15 detik itu menyenangkan, hanya buku yang mampu memberikan ketenangan dan pemahaman yang utuh di tengah dunia yang makin berisik ini.
Keuntungan di Balik Keriuhan: Mencari Pembaca yang “Lelah”
Namun, di tengah kepungan durasi pendek, sebenarnya ada peluang bagi penulis. Banyak orang yang mulai merasa “lelah” dengan kecepatan media sosial. Mereka merasa otaknya terlalu penuh, cemas, dan kehilangan kemampuan untuk fokus. Di sinilah buku bisa hadir sebagai “terapi”.
Buku bisa dipasarkan sebagai tempat perlindungan dari kebisingan algoritma. Kita melihat tren slow living atau digital detox yang makin marak. Penulis bisa masuk ke celah ini dengan menawarkan karya yang mengajak orang untuk melambat, merenung, dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Di tengah lautan konten 15 detik, sebuah buku yang mampu membuat seseorang duduk tenang selama satu jam adalah sebuah kemewahan yang tak ternilai harganya.
Penutup: Tetap Setia pada Kedalaman
Menulis buku di era TikTok memang terasa seperti melawan arus. Kita dituntut untuk lincah namun tetap dalam, cepat namun tetap bermakna. Namun, saya percaya bahwa seberapa pun cepatnya dunia bergerak, manusia akan selalu merindukan cerita yang utuh. Mesin algoritma bisa memberikan kita tawa atau informasi singkat, tapi ia tidak bisa memberikan rasa “selesai” dan “kenyang” secara emosional seperti yang diberikan oleh sebuah buku yang bagus.
Jangan biarkan durasi 15 detik itu menciutkan nyalimu untuk menulis naskah setebal 300 halaman. Teruslah menulis dengan napas yang panjang. Sebab, saat tren video pendek itu sudah lewat dan terlupakan, kata-kata yang kau susun dengan penuh perenungan akan tetap ada di sana, menunggu seseorang yang sedang lelah dengan keriuhan dunia untuk datang dan menemukan ketenangan di dalamnya.
Bagaimana dengan Anda? Masih sanggupkah bertahan membaca satu bab buku tanpa tergoda membuka ponsel setiap ada notifikasi masuk? Mari kita jujur pada diri sendiri.




