Membawa Buku Berat ke Kafe demi Terlihat Intelek

Beberapa sore yang lalu, saya mampir ke sebuah kafe di kawasan hits Yogyakarta. Suasananya tipikal: musik indie yang diputar sayup-sayup, aroma biji kopi yang dipanggang manual, dan deretan manusia yang sibuk dengan gawai masing-masing. Di pojok ruangan, saya melihat seorang pemuda dengan penampilan yang sangat “senja”. Ia mengenakan kemeja flanel yang kancingnya dibuka satu, kacamata bingkai bulat, dan di atas mejanya—tepat di samping cangkir latte yang masih penuh—tergeletak sebuah buku setebal bantal.

Saya melirik judulnya: sebuah karya filsafat klasik dari era eksistensialisme yang kalau dibaca satu halaman saja sudah bisa bikin kening berkerut sampai besok. Selama satu jam saya di sana, pemuda itu lebih banyak sibuk mengatur posisi bukunya agar terkena cahaya lampu yang estetik, sesekali melirik ponselnya, lalu menatap kosong ke luar jendela dengan dagu yang ditopang tangan. Bukunya? Tetap terbuka di halaman yang sama sejak saya datang hingga saya pergi.

Inilah fenomena yang saya sebut sebagai Membawa Buku Berat ke Kafe demi Terlihat Intelek. Sebuah ritual sosial di tahun 2026 yang menempatkan buku bukan lagi sebagai sumber pengetahuan, melainkan sebagai aksesoris busana atau properti pembangunan citra diri.

Buku sebagai “Seragam” Intelektualitas

Dulu, orang membawa buku ke tempat umum karena mereka benar-benar ingin memanfaatkan waktu luang untuk membaca. Sekarang, fungsi itu telah bergeser. Buku, terutama yang tebal, berat, dan judulnya “sulit”, telah menjadi bagian dari seragam identitas. Membawa buku tersebut ke kafe adalah cara instan untuk mengirimkan sinyal kepada orang-orang di sekitar—dan tentu saja kepada pengikut di media sosial—bahwa: “Saya adalah orang yang punya kedalaman berpikir.”

Ada semacam kebanggaan semu saat kita menaruh buku karya Nietzsche, Pramoedya, atau Harari di atas meja kayu kafe. Kita merasa sedang membangun aura misterius dan cerdas. Seolah-olah dengan hanya meletakkan buku itu di dekat kita, partikel-partikel kecerdasan di dalamnya akan menguap dan masuk ke dalam otak kita lewat pori-pori kulit secara osmosis. Padahal, sering kali buku itu dibawa hanya untuk menemani kita bermain ponsel atau sekadar melamun estetik.

Olahraga Memikul Gengsi

Mari kita bicara soal teknis. Membawa buku berat, katakanlah yang tebalnya lebih dari 500 halaman, ke kafe itu sebenarnya sebuah perjuangan fisik. Tas menjadi berat, pundak pegal, dan ruang di meja jadi sempit. Namun, demi sebuah citra “intelek”, rasa pegal itu dianggap sebagai pengorbanan yang sepadan.

Kita rela memikul beban itu berkeliling kota, berpindah dari satu kedai kopi ke kedai kopi lain, hanya agar ada momen di mana kita bisa membukanya di tempat umum. Ironisnya, sering kali tenaga kita sudah habis untuk mengangkut buku tersebut, sehingga saat sudah duduk di kafe, otak kita sudah terlalu lelah untuk benar-benar mencerna kalimat-kalimat di dalamnya. Kita akhirnya hanya sanggup membaca dua paragraf, merasa sudah sangat pintar, lalu kembali mengecek notifikasi Instagram.

Dilema “Deep Reading” di Tengah Kebisingan

Membaca buku berat, apalagi yang bertema filsafat atau sains tingkat tinggi, sebenarnya membutuhkan ketenangan yang luar biasa. Ia butuh fokus yang tajam, suasana yang sunyi, dan kemampuan untuk berdialog dengan diri sendiri. Kafe, dengan segala keriuhan suara mesin espreso, obrolan orang di meja sebelah, dan musik yang terkadang terlalu keras, sebenarnya adalah tempat paling buruk untuk membaca buku berat.

Maka, membawa buku berat ke kafe sebenarnya adalah sebuah kontradiksi. Jika Anda benar-benar ingin membedah pemikiran sulit, Anda akan melakukannya di perpustakaan atau di kamar yang tenang. Membawanya ke kafe menunjukkan bahwa niat utamanya bukanlah “membaca dalam”, melainkan “pamer bacaan”. Kita lebih peduli pada bagaimana orang melihat kita sedang membaca, daripada apa yang sebenarnya kita baca.

Validasi Digital: Foto Dulu, Baca Nanti (Atau Tidak Sama Sekali)

Di tahun 2026, ritual ini belum lengkap tanpa dokumentasi. Buku yang berat tadi harus difoto dari sudut yang pas (flat lay), bersandingan dengan cangkir kopi dan mungkin sepotong croissant. Unggahan tersebut kemudian diberi takarir (caption) yang filosofis atau sekadar “Enjoying the weekend with some light reading,” padahal buku yang difoto adalah naskah berat tentang teori relativitas.

Setelah mendapatkan puluhan likes dan komentar yang memuji betapa “pintar” dan “rajin”-nya kita, kebutuhan ego kita terpenuhi. Validasi digital itu memberikan kepuasan yang jauh lebih instan dan besar daripada kepuasan intelektual saat menamatkan buku tersebut. Akibatnya, buku itu sering kali hanya berakhir sebagai model foto, bukan sebagai guru bagi pikiran.

Menuju Literasi yang Jujur

Apakah salah membawa buku ke kafe? Tentu tidak. Membaca di tempat umum adalah hal yang bagus dan bisa menularkan semangat literasi. Yang menjadi masalah adalah ketika buku dijadikan alat untuk membohongi diri sendiri dan orang lain. Kita terjebak dalam fasad intelektualitas tanpa pernah benar-benar memiliki isinya.

Mungkin kita perlu belajar untuk lebih jujur. Jika memang ingin santai, bawalah buku yang ringan, komik, atau novel populer yang memang bisa dinikmati di tengah keriuhan. Jangan menyiksa diri memikul buku berat hanya demi gengsi yang sebenarnya tidak dipedulikan oleh orang lain di kafe tersebut. Percayalah, orang di meja sebelah mungkin juga tidak tahu siapa itu Heidegger atau apa itu teori dialektika materialisme.

Penutup: Berat di Tas, Ringan di Otak

Pada akhirnya, intelektualitas bukan diukur dari seberapa berat buku yang kau jinjing ke kafe, atau seberapa rumit judul yang kau pamerkan di atas meja. Intelektualitas diukur dari seberapa banyak gagasan yang kau pahami dan bagaimana gagasan itu tercermin dalam sikap serta bicaramu.

Lebih baik membawa buku saku yang tipis namun kau khatamkan dan kau pahami isinya, daripada membawa ensiklopedia raksasa yang hanya kau gunakan sebagai ganjal laptop atau properti foto. Jangan biarkan buku-buku hebat itu hanya menjadi beban di tasmu tanpa pernah menjadi cahaya di otakmu. Intelek itu ada di dalam kepala, Kawan, bukan di atas meja kafe yang penuh dengan ampas kopi dan kepura-puraan.

Bagaimana menurutmu? Apakah kamu punya buku “andalan” yang selalu dibawa ke mana-mana tapi tidak pernah selesai dibaca?