Mengapa Kita Lebih Suka Membeli Buku daripada Membacanya?

Beberapa waktu lalu, saya berdiri di depan rak buku di ruang tamu, mencoba mencari sebuah referensi lama yang tiba-tiba melintas di kepala. Namun, bukannya menemukan buku yang saya cari, mata saya justru tertumbuk pada barisan buku yang plastiknya masih utuh. Ada yang sudah nangkring di sana sejak dua tahun lalu, ada yang baru datang bulan kemarin lewat paket kilat, dan ada pula yang saya beli karena lapar mata saat melihat diskon “cuci gudang” di sebuah toko buku daring.

Saya meraba punggung buku-buku itu dengan perasaan bersalah yang amat sangat. Saya ingat betul gairah saat memesannya: bayangan akan menjadi lebih pintar setelah membacanya, bayangan akan kutipan-kutipan keren yang bisa saya bagikan, atau sekadar rasa puas karena berhasil memiliki karya seorang pemikir besar. Tapi kenyataannya? Buku-buku itu hanya menjadi penghuni tetap rak yang bertugas mengumpulkan debu.

Fenomena ini ternyata punya nama keren di Jepang: Tsundoku. Sebuah kondisi di mana seseorang terus-menerus membeli buku, menumpuknya, tapi tidak pernah benar-benar membacanya. Di Indonesia tahun 2026, tsundoku bukan lagi sekadar kebiasaan aneh para kutu buku, melainkan sudah menjadi gaya hidup massal. Kita lebih suka melakukan transaksi di kasir daripada melakukan transaksi intelektual di dalam pikiran. Mengapa ini bisa terjadi?

Aspirasi Identitas: Membeli Buku untuk Menjadi “Seseorang”

Alasan pertama yang paling mendasar adalah soal identitas. Sering kali, kita membeli buku bukan karena kita benar-benar ingin tahu isinya saat itu juga, melainkan karena kita ingin menjadi sosok yang “seharusnya” membaca buku tersebut. Membeli buku adalah cara instan untuk membeli sebuah identitas.

Ketika Anda membeli buku filsafat setebal bantal karya Heidegger atau naskah sastra klasik yang bahasanya njelimet, ada semacam perasaan bahwa Anda telah selangkah lebih dekat menjadi seorang intelektual. Membeli buku memberikan kepuasan psikologis yang mirip dengan pencapaian, padahal kita belum melakukan kerja kerasnya—yaitu membaca. Kita mencintai citra diri kita sebagai “pembaca”, namun kita sering kali terlalu lelah untuk benar-benar menjadi “orang yang membaca”.

Di dunia yang serba cepat ini, memiliki buku memberikan rasa aman intelektual. Kita merasa bahwa ilmu pengetahuan itu sudah “bersama kita” karena fisiknya sudah ada di rak rumah, meskipun isinya belum satu milimeter pun berpindah ke dalam otak. Kita membeli aspirasi, kita membeli kemungkinan, tapi kita lupa membeli waktu untuk menekuninya.

Dopamin Belanja: Kesenangan yang Berhenti di Keranjang Belanja

Mari kita bicara soal kimiawi otak. Proses mencari buku di toko buku—baik fisik maupun digital—adalah aktivitas yang memicu dopamin. Melihat sampul yang estetik, membaca sinopsis yang menjanjikan perubahan hidup, hingga akhirnya menekan tombol “Bayar”, memberikan ledakan kesenangan instan yang luar biasa.

Namun, dopamin belanja ini memiliki sifat yang pendek. Begitu buku sampai di rumah, gairah itu sering kali langsung padam. Buku tersebut telah kehilangan daya magisnya sebagai “objek buruan” dan berubah menjadi “tugas” yang harus diselesaikan. Membaca membutuhkan usaha kognitif yang besar: konsentrasi, waktu sunyi, dan pengolahan data di otak. Sementara itu, membeli buku hanya butuh waktu beberapa menit dan sedikit saldo di rekening.

Banyak dari kita yang terjebak dalam siklus ini. Kita terus membeli buku baru untuk mengejar ledakan kesenangan baru, sementara tumpukan buku lama dibiarkan terbengkalai. Kita menjadi pecandu transaksi, bukan pecandu substansi.

Teror “Fear of Missing Out” (FOMO) di Media Sosial

Di tahun 2026, pengaruh media sosial terhadap kebiasaan membeli buku sangatlah masif. Ada tren BookTok atau Bookstagram yang terus memamerkan judul-judul terbaru yang “wajib punya”. Ketika sebuah buku viral dan dibicarakan semua orang, muncul rasa takut tertinggal jika kita tidak memilikinya.

Kita membeli buku tersebut agar bisa ikut dalam arus percakapan, atau minimal agar bisa memajangnya di media sosial dengan tagar tertentu. Setelah difoto dengan latar belakang kopi yang cantik dan diunggah ke feed, misi kita sering kali dianggap selesai. Buku tersebut telah memenuhi fungsinya sebagai properti sosial. Urusan membacanya? “Ah, nanti saja kalau ada waktu luang,” yang kita semua tahu artinya adalah: tidak akan pernah.

Media sosial telah mengubah buku dari instrumen perenungan menjadi simbol status digital. Kita lebih peduli pada apa yang orang pikirkan tentang apa yang kita baca (atau apa yang kita miliki), daripada apa yang sebenarnya kita dapatkan dari bacaan tersebut.

Optimisme yang Berlebihan tentang Waktu Luang

Pernahkah Anda membeli lima buku sekaligus saat pameran karena yakin bahwa akhir pekan depan Anda akan punya waktu luang untuk membabat habis semuanya? Itu adalah bentuk optimisme palsu yang sering menyerang para kolektor buku.

Kita sering kali meremehkan betapa sibuknya hidup kita dan betapa melelahkannya tuntutan dunia modern. Kita membeli buku untuk “diri kita di masa depan” yang kita bayangkan punya waktu luang melimpah, duduk di kursi malas sambil menyesap teh. Padahal, diri kita di masa depan biasanya tetaplah diri kita yang sama: yang sibuk membalas pesan kerjaan, yang kecanduan menonton video pendek, dan yang terlalu lelah untuk memproses kalimat-kalimat rumit setelah pulang kantor.

Buku-buku itu akhirnya menjadi tumpukan janji yang tidak ditepati. Setiap buku yang tidak dibaca adalah pengingat akan kegagalan kita dalam mengelola waktu dan prioritas hidup.

Buku sebagai Obat Penenang (Self-Help Trap)

Khusus untuk genre pengembangan diri atau self-help, membeli buku sering kali berfungsi sebagai obat penenang. Saat kita merasa hidup sedang kacau, karir stagnan, atau hubungan sedang retak, membeli buku dengan judul “Cara Mengubah Hidup dalam 30 Hari” memberikan rasa kendali sesaat.

Dengan membeli buku itu, kita merasa sudah melakukan “sesuatu” untuk memperbaiki masalah kita. Ini adalah bentuk prokrastinasi yang dibungkus dengan produktivitas. Padahal, masalah kita tidak akan selesai hanya dengan memiliki bukunya; masalah itu baru akan tertangani jika kita membaca, merenungkan, dan mempraktikkan isinya. Tapi bagi banyak orang, memiliki bukunya saja sudah cukup untuk meredakan kecemasan mereka, sehingga motivasi untuk membacanya justru hilang begitu saja.

Menuju Literasi yang Jujur: Berhenti Menimbun, Mulailah Membaca

Jadi, bagaimana kita memutus siklus tsundoku ini? Langkah pertama adalah bersikap jujur pada diri sendiri. Akui bahwa tumpukan buku itu bukanlah koleksi ilmu, melainkan koleksi niat yang tertunda.

Mungkin kita perlu menerapkan aturan yang lebih ketat: jangan membeli buku baru sebelum dua buku lama tuntas dibaca. Atau, mulailah beralih ke perpustakaan atau meminjam buku, sehingga ada batas waktu yang memaksa kita untuk segera menyelesaikannya.

Membaca adalah sebuah komitmen, sebuah percakapan antara penulis dan pembaca yang membutuhkan kehadiran penuh. Jangan biarkan buku-buku itu hanya menjadi saksi bisu atas kemalasan kita yang dibungkus dengan bungkus intelektualitas.

Hargailah Isinya, Bukan Hanya Fisiknya

Pada akhirnya, sebuah buku akan benar-benar menjadi “milik” kita bukan saat kita berhasil membayarnya di kasir, melainkan saat gagasannya sudah meresap ke dalam pikiran kita dan mengubah cara kita melihat dunia. Jangan biarkan rak bukumu terlihat penuh sementara kepalamu terasa kosong.

Mari kita rayakan buku bukan sebagai pajangan, tapi sebagai perjalanan. Lebih baik punya satu buku yang halamannya sudah kusam, banyak coretan, dan benar-benar merubah hidupmu, daripada punya seribu buku mengkilap yang hanya menjadi hiasan di ruang tamu. Berhentilah sekadar menjadi pembeli, dan mulailah kembali menjadi pembaca yang sungguh-sungguh. Karena ilmu pengetahuan tidak akan pernah menular lewat sentuhan punggung buku, ia hanya menular lewat ketekunan membaca kata demi kata.