Jasa Penulisan yang Kini Dihargai Seharga Langganan API

Saya menerima sebuah surat elektronik dari seorang kawan yang sudah bertahun-tahun mengais rezeki di dunia agensi konten. Isinya singkat saja, namun nadanya seperti pengumuman duka yang disampaikan lewat pengeras suara masjid di pagi buta. Dia bilang, salah satu klien besarnya…

Ketika Kualitas Tulisan Dikalahkan oleh Kecepatan Posting

Saya terjebak dalam sebuah percakapan yang agak melelahkan dengan seorang kenalan yang mengaku diri sebagai “pakar konten digital”. Dengan nada bicara yang cepat—secepat jempolnya menggulir layar ponsel—ia memberi saya kuliah singkat tentang bagaimana dunia tulis-menulis bekerja hari ini. “Mas,” katanya…

Selamat Tinggal Penulis Lepas, Selamat Datang Operator Prompt Murah

Saya menerima pesan singkat dari seorang kawan lama yang sudah satu dekade lebih menggantungkan hidupnya sebagai penulis lepas atau freelance writer. Wajahnya yang biasanya cerah saat membahas proyek tulisan baru, kini tampak mendung lewat barisan teks di WhatsApp. Ia baru…

Harga Sebuah Kata Saat AI Memberikannya Secara Gratis

Saya teringat masa-masa ketika menjadi penulis pemula yang masih sering mengirimkan tulisan ke redaksi koran minggu. Kala itu, satu kolom esai sangatlah berharga. Bukan hanya soal honornya yang cukup untuk membayar kos dan makan enak selama tiga hari, tapi soal…

Ketakutan Menjadi “Kuno” Karena Masih Pakai Otak Sendiri

Beberapa hari yang lalu, saya terlibat dalam sebuah obrolan yang agak sureal dengan seorang kawan lama yang kini bekerja di sebuah agensi kreatif papan atas di Jakarta. Dia bercerita dengan nada yang antara bangga dan cemas. Katanya, sekarang di kantornya,…

Menjaga Kewarasan di Tengah Banjir Konten Tanpa Makna

Beberapa waktu lalu, saya iseng melakukan sebuah eksperimen kecil yang berakhir dengan rasa pening di kepala. Saya mencoba menggulirkan layar ponsel saya (scrolling) di sebuah media sosial populer selama tepat lima belas menit tanpa henti. Hasilnya? Saya merasa seperti baru…

Malas Berpikir Adalah Candu Baru yang Dijual Lewat AI

Beberapa hari yang lalu, saya sedang duduk di sebuah kedai kopi yang cukup riuh di daerah Jakarta. Di depan saya, ada seorang pemuda—mungkin mahasiswa tingkat akhir—yang tampak sangat serius menatap layar ponselnya. Saya pikir dia sedang membaca jurnal berat atau…

Kenapa Kalimat yang Terlalu Sempurna Justru Terasa Sangat Salah

Beberapa hari lalu, saya tidak sengaja membaca sebuah naskah pidato yang disusun oleh seorang kawan. Dia bangga sekali. Katanya, naskah itu sudah “dibersihkan” oleh teknologi terbaru. Dan memang, saat saya baca, kalimat-kalimatnya sungguh luar biasa. Subjek, predikat, dan objeknya berdiri…

Mengapa Penulis Selalu Terlihat Murung di Foto Profilnya?

Beberapa waktu lalu, saya sedang iseng memandangi rak buku di ruang kerja saya. Pandangan saya tertuju pada deretan sampul belakang buku, di mana foto-foto profil penulis biasanya dipampang. Saya perhatikan satu per satu: ada yang menopang dagu dengan tatapan kosong…