Beberapa waktu lalu, saya berdiri di depan etalase “Buku Terpopuler” di sebuah toko buku yang AC-nya terlalu dingin. Di sana, berjajar wajah-wajah yang sangat akrab bagi siapa pun yang punya akun Instagram atau TikTok. Wajah-wajah glowing, penuh filter, dan tampak selalu bahagia. Mereka bukan sastrawan, bukan peneliti, apalagi wartawan perang. Mereka adalah para pesohor digital, atau yang kerennya kita sebut sebagai influencer.
Mereka sedang pamer karya terbaru: sebuah buku. Ada yang isinya kumpulan foto diri dibumbui kutipan motivasi “selamat pagi”, ada yang mencoba menulis novel romantis, hingga buku tips sukses jadi kaya di usia remaja. Fenomena ini memicu perdebatan panas di warung kopi hingga grup WhatsApp penulis senior: Apakah ini sebuah peluang baru bagi industri literasi kita, atau justru sebuah tragedi yang menandai runtuhnya standar kualitas buku di Indonesia?
Gerbang Masuk yang Tak Lagi Sunyi
Dulu, menjadi penulis adalah jalan sunyi yang penuh siksaan. Anda harus mengirim naskah ke penerbit, menunggu tiga hingga enam bulan hanya untuk mendapatkan surat penolakan, lalu mencoba lagi sampai jari keriting. Sekarang, gerbang itu seolah runtuh. Jika Anda punya satu juta pengikut, penerbitlah yang akan datang mengetuk pintu rumah Anda, membawakan kontrak, dan menawarkan uang muka yang jumlahnya mungkin setara dengan royalti sepuluh tahun seorang penulis esai seperti saya.
Secara industri, ini adalah peluang emas. Kita harus jujur bahwa industri buku sedang tidak baik-baik saja. Toko buku banyak yang tutup, dan minat baca sering dituduh sedang sekarat. Kehadiran influencer sebagai penulis membawa angin segar berupa “kepastian pasar”. Fans mereka yang biasanya hanya melihat layar ponsel, tiba-tiba mau mengeluarkan uang seratus ribu rupiah demi memegang benda fisik bernama buku. Ini adalah suntikan dana segar yang menjaga napas penerbitan agar tetap bisa menggaji karyawannya.
Tragedi Diksi yang Terpinggirkan
Namun, di balik angka penjualan yang menggiurkan itu, ada tragedi yang sedang mengintai. Tragedi itu bernama “dangkalnya konten”. Banyak buku karya influencer yang—mohon maaf—terasa sangat dipaksakan. Naskahnya sering kali hanya berupa kumpulan konten media sosial yang dijilid. Kedalaman riset digantikan oleh keriuhan visual, dan kekuatan diksi dikalahkan oleh kekuatan branding.
Bagi penulis yang benar-benar mendedikasikan hidupnya pada seni mengolah kata, fenomena ini terasa seperti penghinaan. Ada perasaan bahwa “kualitas” tidak lagi berharga di hadapan “popularitas”. Kita khawatir jika rak-rak toko buku terus dipenuhi oleh karya-karya instan ini, standar selera pembaca kita akan ikut-ikutan turun. Buku tidak lagi menjadi alat untuk mengasah nalar, melainkan hanya menjadi salah satu jenis merchandise atau pelengkap konten foto estetika di meja kafe.
Penulis Bayangan di Balik Layar
Rahasia umum yang sering kali menjadi bagian dari tragedi ini adalah keterlibatan ghostwriter atau penulis bayangan. Banyak influencer yang sebenarnya tidak punya waktu, bahkan mungkin tidak punya kemampuan untuk menyusun 200 halaman narasi yang koheren. Maka, disewalah penulis profesional untuk “menangkap suara” si pesohor tersebut dan mengubahnya menjadi buku.
Di sini letak ironinya. Sang penulis asli tetap berada dalam kegelapan, sementara sang pesohor mendapatkan tepuk tangan sebagai “penulis”. Literasi kita berubah menjadi industri kosmetik: yang dipajang adalah wajahnya, sementara isinya adalah hasil racikan orang lain yang tak pernah disebut namanya. Jika proses kreatif sudah didelegasikan seperti ini, masihkah kita bisa menyebut buku itu sebagai sebuah karya jujur dari sang penulis yang namanya terpampang di sampul?
Peluang Literasi bagi Generasi Z
Meskipun terdengar suram, saya mencoba untuk tetap optimis. Mungkin kita perlu melihat ini sebagai “pintu masuk”. Banyak anak muda yang sebelumnya tidak pernah menyentuh buku, mulai datang ke toko buku demi idola mereka. Ini adalah langkah awal yang krusial. Tugas kita selanjutnya—penerbit, kritikus, dan penulis senior—adalah memastikan bahwa setelah mereka selesai membaca buku sang idola, mereka juga “terpancing” untuk membaca buku-buku lain yang lebih berbobot.
Jika influencer bisa menjadi pemicu orang untuk mulai gemar membaca, maka itu adalah peluang besar. Masalahnya, apakah setelah membaca buku tersebut, si pembaca merasa mendapatkan sesuatu yang bermakna, atau justru merasa tertipu karena isinya ternyata hanya omong kosong yang dikemas cantik? Kekecewaan pembaca pemula adalah tragedi yang lebih besar daripada sekadar buku yang buruk.
Mencari Titik Tengah yang Bermartabat
Sebenarnya, tidak salah jika seorang influencer ingin menulis buku. Masalahnya bukan pada status mereka, tapi pada prosesnya. Jika sang pesohor mau serius belajar menulis, melakukan riset, dan benar-benar mencurahkan pikirannya ke dalam kertas, maka karya mereka bisa menjadi sangat kuat karena mereka punya jangkauan suara yang luas.
Tragedi terjadi ketika semua pihak—penerbit, penulis, dan pembaca—hanya mengejar keuntungan jangka pendek tanpa peduli pada warisan intelektual. Kita butuh kolaborasi yang lebih bermartabat. Penerbit jangan hanya mengejar angka follower, tapi juga harus berani menagih kualitas konten kepada sang influencer.
Akhir Kata: Seleksi Alam Literasi
Pada akhirnya, waktu akan melakukan seleksi alamnya sendiri. Buku-buku yang hanya mengandalkan keviralan sesaat akan berakhir di gudang loakan atau menjadi pembungkus gorengan dalam waktu singkat. Sebaliknya, buku yang ditulis dengan hati dan pemikiran yang dalam, siapa pun penulisnya—apakah dia seorang profesor atau seorang selebritas TikTok—akan tetap bertahan melintasi zaman.
Jadi, influencer mendadak jadi penulis itu tragedi atau peluang? Jawabannya ada di tangan Anda sebagai pembaca. Jika Anda tetap kritis dan tidak hanya membeli buku karena sampulnya yang glowing, maka industri literasi kita akan tetap sehat. Namun jika kita semua hanya memuja popularitas tanpa mempedulikan isi, maka bersiaplah melihat literasi kita pelan-pelan mati dalam keriuhan yang dangkal. Mari kita tetap menagih “daging” dalam setiap lembaran buku, bukan sekadar “remah-remah” konten yang dijilid dengan sampul mahal.




