Beberapa pekan lalu, saya sempat berbincang dengan seorang kawan yang bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan raksasa di Jakarta. Ia bercerita dengan nada yang lebih mirip curhat seorang pesakitan daripada seorang profesional. Katanya, sekarang tugasnya bukan lagi memburu naskah dengan kedalaman filosofis atau eksperimen bahasa yang memukau, melainkan memburu “orang-orang ramai”.
“Mas,” katanya sambil menghela napas panjang, “sekarang kalau ada naskah bagus banget, tapi penulisnya cuma punya pengikut seribu di Instagram, manajemen bakal mikir seribu kali buat nerbitin. Tapi kalau ada selebgram atau TikToker yang mau bikin buku tentang tips mencuci piring, meski bahasanya berantakan, itu langsung kita kasih kontrak hari itu juga.”
Selamat datang di tahun 2026, sebuah era yang saya sebut sebagai Rezim Algoritma. Sebuah masa di mana kedaulatan sastra dan literasi kita tidak lagi ditentukan oleh selera kurator yang mumpuni atau ketajaman kritik sastra, melainkan oleh deretan angka di profil media sosial.
Standar Baru: Kualitas vs Popularitas
Dulu, kita percaya bahwa buku adalah sebuah monumen pemikiran. Penulis bekerja keras memeras keringat untuk menemukan satu diksi yang paling pas untuk menggambarkan kepedihan, atau menyusun majas yang paling segar untuk melukiskan jatuh cinta. Kualitas diksi adalah harga diri seorang penulis. Kita mengenal para maestro yang hidupnya habis hanya untuk mengabdi pada keindahan kalimat.
Namun, di bawah Rezim Algoritma, diksi hanyalah variabel sekian. Logika industri berubah secara radikal: Mengapa kita harus bersusah payah memasarkan tulisan bagus jika kita bisa menjual orang yang sudah punya pasar? Algoritma media sosial telah menciptakan sistem kasta baru. Di kasta tertinggi bukanlah mereka yang paling fasih berbahasa, melainkan mereka yang paling lincah berdansa dengan algoritma. Akibatnya, kualitas tulisan sering kali dikorbankan demi mengejar apa yang disebut sebagai marketable.
Ketika Penerbit Menjadi Budak Statistik
Penerbit buku, yang seharusnya menjadi benteng terakhir penjaga kualitas literasi, kini banyak yang terpaksa (atau dengan sukarela) menjadi budak statistik. Mereka tidak lagi bertanya, “Apakah buku ini memberikan perspektif baru bagi pembaca?” melainkan “Berapa persen dari follower-nya yang kira-kira akan melakukan pre-order?”
Logika ini memang sangat masuk akal secara bisnis, namun sangat mematikan bagi masa depan pemikiran. Jika jumlah pengikut menjadi syarat mutlak untuk menerbitkan buku, maka kita sedang menutup pintu rapat-rapat bagi para pemikir sunyi, para peneliti yang tekun di laboratorium, atau para sastrawan yang lebih memilih bertapa di perpustakaan daripada pamer kegiatan di Instagram Story. Kita sedang membangun peradaban literasi yang gaduh di permukaan, namun keropos di kedalaman.
Matinya Kritik, Lahirnya Pemujaan
Dalam Rezim Algoritma, kritik buku hampir tidak lagi memiliki taji. Jika seorang kritikus mengatakan bahwa sebuah buku viral itu dangkal dan buruk secara struktur, ia tidak akan dianggap sebagai pemberi masukan yang berharga. Sebaliknya, ia akan segera diserang oleh pasukan digital atau fanbase si penulis viral tersebut. Di era ini, kualitas buku tidak lagi diukur lewat perdebatan intelektual, melainkan lewat jumlah likes dan testimoni emosional para pengikut setia.
Pemujaan massal terhadap sosok (persona) jauh lebih kuat daripada apresiasi terhadap teks. Pembaca tidak lagi membeli buku untuk membaca gagasan, tapi untuk memiliki “bagian” dari idola mereka. Ironisnya, banyak buku yang lahir dari rahim algoritma ini hanya berakhir sebagai properti foto estetik di atas meja kafe, tanpa pernah benar-benar tuntas dibaca hingga halaman terakhir.
Nasib Penulis yang Tak “Instagenic”
Lalu, bagaimana nasib para penulis yang benar-benar peduli pada kualitas diksi namun enggan atau tidak mampu berakrobat di media sosial? Mereka menjadi yatim piatu di negeri sendiri. Mereka harus berjuang sepuluh kali lebih keras hanya untuk mendapatkan perhatian yang sama dengan seorang pembuat konten yang mengunggah video konyol berdurasi 15 detik.
Ada tekanan psikologis yang sangat berat bagi penulis masa kini untuk menjadi “selebritas dadakan”. Mereka dipaksa untuk terus-menerus tampil, membuat konten, dan menjaga engagement, yang sebenarnya sangat bertolak belakang dengan sifat dasar proses kreatif menulis yang membutuhkan kesunyian dan perenungan. Akibatnya, energi mereka habis untuk mengurusi bungkus (algoritma), sementara isinya (tulisan) menjadi hambar dan terburu-buru.
Algoritma sebagai Kurator Tunggal
Masalah terbesar dari Rezim Algoritma adalah sifatnya yang homogen. Algoritma hanya menyodorkan apa yang kita “sukai”, bukan apa yang kita “butuhkan”. Jika pasar sedang gemar dengan tema-tema tertentu, maka algoritma akan terus memutar tema itu berulang-ulang. Penulis yang mencoba keluar dari pola tersebut akan dihukum dengan jangkauan yang rendah.
Ini adalah bentuk penyensoran halus. Tidak ada yang melarang Anda menulis hal berbeda, tapi algoritma akan memastikan tidak ada yang melihat tulisan Anda. Kita terancam menjadi bangsa yang hanya bisa membaca variasi dari hal yang sama terus-menerus. Literasi kita tidak lagi memperluas cakrawala, tapi justru mempersempitnya ke dalam gelembung-gelembung minat yang dangkal.
Mencari Jalan Pulang ke Kedalaman
Apakah kita harus menyerah pada keadaan ini? Tentu tidak. Kita perlu menyadari bahwa algoritma hanyalah mesin, dan jumlah pengikut hanyalah angka fana yang bisa hilang dalam sekali klik hapus akun. Kualitas diksi dan kedalaman pemikiran, di sisi lain, memiliki sifat yang abadi.
Tugas pembaca hari ini adalah menjadi pembaca yang memberontak. Beranilah mencari buku dari penulis yang pengikutnya sedikit namun pikirannya jernih. Tugas penerbit adalah tetap menyisakan ruang bagi idealisme—menerbitkan buku karena ia memang berharga untuk dicetak, bukan hanya karena ia berpotensi laku. Dan tugas penulis adalah tetap menjaga martabat kata-katanya, meski godaan untuk menjadi budak algoritma begitu besar.
Pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat berapa banyak follower yang kita miliki di tahun 2026. Sejarah hanya akan mengingat apakah tulisan kita mampu menggerakkan hati manusia, mengubah cara pandang, dan bertahan melampaui zaman. Jangan biarkan algoritma yang dingin itu menentukan sejauh mana pikiran kita boleh terbang. Kembalikan literasi ke tempatnya yang terhormat: pada kekuatan gagasan, bukan pada keriuhan angka-angka.




