Beberapa malam yang lalu, saya sedang melakukan ritual yang sebenarnya sangat tidak sehat bagi kesehatan mental seorang penulis: berselancar di marketplace. Niat awalnya sederhana, saya hanya ingin mencari suku cadang mesin kopi yang mulai rewel. Namun, entah kenapa—mungkin karena algoritma jahat yang bisa membaca kegelisahan bawah sadar saya—jempol saya malah mengetikkan judul buku saya sendiri di kolom pencarian. Begitu tombol “Cari” saya tekan, sebuah kenyataan pahit menghantam wajah saya lebih keras daripada tagihan pajak tahunan.
Di sana, di antara deretan produk pembersih lantai dan kaus kaki murah, nampang foto sampul buku saya. Judulnya jelas, nama penulisnya jelas “Iqbal Aji Daryono”, tapi harganya bikin saya ingin segera mematikan laptop dan pindah ke planet lain: Rp5.000. Ya, Anda tidak salah baca. Lima ribu rupiah. Harga yang bahkan tidak cukup untuk membeli segelas es kopi susu kekinian yang rasanya lebih banyak gula daripada kafeinnya. Di titik itulah, saya merasa ada sesuatu yang hancur di dalam dada saya. Rasanya bukan sekadar sedih, tapi sebuah percampuran antara terhina, marah, dan ingin tertawa sedu-sedan meratapi nasib literasi kita di tahun 2026 ini.
Harga Diri yang Lebih Murah dari Parkir Mobil
Mari kita bedah secara dingin. Rp5.000 itu angka yang sangat menghina logika. Bayangkan, saya menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk meriset setiap kalimat, begadang sampai mata panda untuk menyusun argumen dalam esai-esai tersebut, dan memeras keringat intelektual agar setiap diksi terasa pas di hati pembaca. Belum lagi proses perdebatan sengit dengan editor, revisi yang berulang-ulang, hingga proses desain sampul yang memakan waktu lama. Semua jerih payah itu, ketika sampai di tangan pedagang marketplace yang entah dari mana asalnya, dihargai setara dengan tarif parkir mobil di mal-mal Jakarta selama satu jam.
Fenomena buku seharga “nasi bungkus tanpa lauk” ini sebenarnya bukan barang baru, tapi kehadirannya yang makin masif di tahun 2026 ini menunjukkan ada yang sangat rusak dalam ekosistem perbukuan kita. Buku yang saya lihat itu jelas-jelas buku bajakan. Kertasnya mungkin buram, tintanya mungkin luntur, dan lemnya mungkin gampang lepas. Tapi bagi pembeli yang hanya peduli pada “isi”, harga Rp5.000 adalah magnet yang tak tertahankan. Mereka tidak peduli bahwa di balik harga murah itu, ada hak penulis yang dirampok habis-habisan.
Tragedi Pembajakan yang Terstruktur dan Masif
Menangis melihat buku sendiri dibajak adalah fase yang hampir pasti dilalui oleh semua penulis di Indonesia yang karyanya lumayan dikenal. Awalnya kita mungkin merasa bangga, “Wah, buku saya dibajak, berarti buku saya dianggap penting.” Tapi kebanggaan itu adalah jebakan batman yang sangat bodoh. Pembajakan bukan tanda kesuksesan; pembajakan adalah tanda bahwa industri kita sedang dijarah oleh para parasit yang tidak pernah mau keluar keringat tapi ingin untung besar.
Para penjual di marketplace ini bekerja dengan sangat profesional dalam ketidakprofesionalannya. Mereka mencaplok file PDF ilegal, mencetaknya dengan mesin seadanya, dan menjualnya secara massal. Mereka tidak perlu membayar pajak, tidak perlu membayar royalti kepada saya, dan tidak perlu memberikan jatah keuntungan kepada penerbit resmi. Bagi mereka, buku hanyalah tumpukan kertas yang bisa diuangkan. Mereka tidak peduli jika penulisnya harus makan nasi aking demi menyelesaikan naskah selanjutnya. Yang mereka tahu, selama ada permintaan buku murah, mereka akan terus memproduksi sampah-sampah cetakan tersebut.
Konsumen yang Bangga dengan “Kecerdasannya” Membeli Murah
Namun, musuh yang sebenarnya bukan hanya si penjual bajakan. Musuh yang paling menyakitkan bagi saya adalah para pembeli yang dengan bangganya memberikan ulasan bintang lima di lapak tersebut. Saya pernah membaca salah satu ulasan di buku bajakan saya: “Barang bagus, meski kertas agak buram tapi tulisan masih kebaca. Lumayan buat nambah ilmu dengan harga ekonomis. Rekomen banget buat yang mau pintar tapi budget pas-pasan!”
Membaca ulasan itu, rasanya saya ingin menangis dua kali. Pertama, karena hak saya dirampas. Kedua, karena logika berpikir masyarakat kita yang sangat bengkok. Bagaimana mungkin Anda ingin menjadi “pintar” dengan cara mencuri? Bagaimana mungkin ilmu yang Anda serap bisa menjadi berkah jika ia berasal dari produk hasil penjarahan karya orang lain? Ini adalah ironi literasi yang sangat akut. Kita ingin bangsa ini cerdas, tapi kita membiarkan pondasi kecerdasan itu dibangun di atas tindakan kriminal yang merugikan para pemikir dan kreatif.
Marketplace: Polisi yang Tidur Nyenyak
Lalu, di mana peran marketplace besar yang katanya punya sistem pengawasan ketat itu? Di sinilah letak kemarahan saya yang ketiga. Marketplace ini sering kali bertindak seperti polisi yang sedang tidur nyenyak di tengah pasar yang sedang dijarah. Mereka memang punya fitur “Laporkan Produk”, tapi prosesnya sering kali berbelit-belit. Kita harus membuktikan kepemilikan hak cipta, mengisi formulir ini-itu, dan setelah produk tersebut dihapus, besoknya penjual yang sama akan muncul kembali dengan akun yang berbeda.
Bagi marketplace, yang penting adalah trafik dan transaksi. Selama ada orang yang bertransaksi, mereka dapat bagian, tak peduli apakah barang yang dijual itu hasil curian atau bukan. Mereka seolah-olah lepas tangan dengan dalih bahwa mereka hanyalah platform, bukan penjualnya. Padahal, secara moral, mereka telah menyediakan lapak bagi para penadah barang curian untuk berjualan dengan bebas di bawah lampu terang benderang digital.
Dampak Psikologis bagi Penulis Lokal
Melihat buku sendiri dihargai Rp5.000 memiliki dampak psikologis yang sangat merusak bagi seorang penulis. Muncul sebuah pertanyaan besar: “Untuk apa saya menulis lagi?” Jika hasil pemikiran saya hanya dianggap seharga kerupuk, buat apa saya bersusah payah menjaga kualitas tulisan? Muncul godaan untuk menulis secara asal-asalan saja, toh nantinya juga akan dibajak dan dijual murah.
Inilah yang saya takutkan akan menjadi lonceng kematian bagi kreativitas di Indonesia. Jika para penulis, musisi, dan seniman mulai merasa bahwa karya mereka tidak dihargai secara ekonomi, mereka akan pelan-pelan meninggalkan dunia kreatif. Kita akan kekurangan pemikir, kekurangan pencerita yang jujur, dan kekurangan orang-orang yang berani bersuara lewat tulisan. Yang tersisa hanyalah orang-orang yang menulis demi konten sesaat atau demi pesanan politik, karena hanya itu yang mungkin masih bisa menghasilkan uang di tengah badai pembajakan.
Romantisasi “Buku Murah untuk Rakyat” yang Menyesatkan
Sering kali, para pendukung buku bajakan berlindung di balik tameng romantisasi yang menyesatkan: “Buku itu harus murah agar rakyat kecil bisa baca. Penulis jangan pelit ilmu dong!” Kalimat ini terdengar sangat mulia, tapi sebenarnya sangat busuk. Membantu rakyat kecil untuk mendapatkan akses bacaan adalah tugas negara lewat perpustakaan dan subsidi, bukan dengan cara membiarkan maling menjarah karya penulis.
Jika Anda benar-benar peduli pada literasi rakyat kecil, tuntutlah pemerintah untuk memperbanyak perpustakaan desa yang koleksinya mutakhir. Tuntutlah agar pajak buku dihapus total agar harga buku resmi bisa turun. Jangan membebankan “kedermawanan” itu kepada penulis yang untuk membayar tagihan internetnya saja masih megap-megap. Penulis juga manusia yang butuh makan, butuh bayar sekolah anak, dan butuh kopi untuk tetap terjaga saat menulis esai yang kalian bajak itu.
Penulis yang Harus Menjadi Marketer Sekaligus Detektif
Di tahun 2026, menjadi penulis di Indonesia mengharuskan kita punya keahlian tambahan yang melelahkan. Kita harus jadi marketer agar buku asli laku, dan kita harus jadi detektif untuk melacak lapak-lapak bajakan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk merenung dan menulis, habis digunakan untuk mengirim email protes ke marketplace atau mengedukasi pembaca di media sosial agar tidak membeli buku bajakan.
Ini adalah pemborosan energi yang luar biasa. Kita seperti sedang mencoba menguras air laut dengan sendok teh. Selama sistem hukum kita tidak tegas dan masyarakat kita masih merasa bangga dengan “kelicikan” membeli barang murah hasil bajakan, perjuangan ini akan terus terasa melelahkan dan sering kali berakhir dengan tangisan di depan layar laptop.
Masa Depan yang Muram atau Sebuah Titik Balik?
Apakah kita akan terus membiarkan pemandangan buku seharga Rp5.000 ini menjadi hal yang lumrah? Jika iya, maka bersiaplah untuk masa depan di mana toko buku asli hanya akan menjadi museum. Bersiaplah untuk masa depan di mana buku-buku baru yang berkualitas makin sulit ditemukan karena para penulisnya sudah beralih profesi menjadi pedagang online atau pengemudi ojek daring demi menyambung hidup.
Namun, saya masih ingin punya sedikit harapan. Mungkin, tangisan saya dan para penulis lain saat melihat karya kami dihargai sangat rendah ini bisa menjadi pemicu sebuah gerakan kesadaran baru. Sebuah gerakan di mana pembaca mulai merasa malu memiliki buku bajakan. Sebuah gerakan di mana marketplace dipaksa secara hukum untuk bertanggung jawab penuh atas barang ilegal di platform mereka.
Harga Sebuah Pemikiran
Pada akhirnya, buku seharga Rp5.000 di marketplace itu bukan hanya menghina saya sebagai penulis, tapi menghina kita semua sebagai sebuah bangsa. Ia menunjukkan seberapa rendah kita menghargai isi kepala kita sendiri. Jika sebuah pemikiran hanya dihargai lima ribu rupiah, maka jangan heran jika kualitas perdebatan publik kita juga sering kali hanya selevel harga tersebut: murah, dangkal, dan mudah rusak.
Saya menutup laptop saya malam itu dengan perasaan hampa. Buku Rp5.000 itu masih nampang di sana, dengan keterangan “Terjual 500+”. Ada 500 orang di luar sana yang merasa telah mendapatkan ilmu dari saya dengan cara merampas hak saya. Kepada mereka, saya tidak benci, saya hanya merasa kasihan. Kasihan karena mereka tidak pernah tahu nikmatnya menghargai sebuah karya dengan cara yang terhormat. Dan bagi saya, saya akan tetap menulis, meskipun mungkin besok saya akan menangis lagi. Karena bagi seorang penulis, berhenti menulis karena karyanya dibajak adalah kekalahan yang paling memalukan. Kami akan terus menulis, sampai suatu saat nanti, kata-kata kami sendiri yang akan menyadarkan kalian bahwa harga sebuah pemikiran tidak akan pernah bisa diukur dengan uang lima ribu perak.




