Efektifkah Menjual Buku Melalui Pameran Buku Saat Ini?

Dulu, pameran buku itu ibarat “lebaran” bagi para pecinta literasi di Indonesia. Kalau sudah dengar ada pameran buku besar di Jakarta, Jogja, atau Surabaya, orang-orang bakal datang berbondong-bondong pakai ransel kosong, siap memborong apa saja sampai kantong jebol. Penerbit pun pesta pora. Mereka membawa stok buku dari gudang pakai truk-truk besar, menyewa stan yang luas, dan menyiapkan tenaga sales yang suaranya sampai habis buat teriak-teriak menawarkan diskon. Pameran buku adalah ajang pamer taring, ajang jualan massal, sekaligus ajang silaturahmi paling akbar antara penulis dan pembacanya.

Tapi sekarang, di tahun 2026 ini, ceritanya sudah bergeser jauh. Kita lihat pameran buku belakangan ini sering kali terasa “adem-ayem” kalau tidak mau dibilang sepi. Stan-stannya mungkin masih ada, spanduknya masih meriah, tapi gregetnya beda. Pengunjung datang, tapi tangannya tidak lagi menenteng kresek besar. Mereka lebih banyak foto-foto, tanya-tanya, lalu pulang dengan tangan hampa. Fenomena ini bikin banyak penerbit garuk-garuk kepala: “Masih efektifkah kita keluar uang puluhan juta buat sewa stan kalau hasilnya cuma begini?”

Mari kita bedah secara jujur, pakai logika pasar yang sedang bergejolak.

Alasan pertama mengapa efektivitas pameran buku menurun drastis adalah “Diskon yang Tak Lagi Eksklusif”. Dulu, orang ke pameran karena cuma di sanalah mereka bisa dapat diskon 50 sampai 70 persen. Itu daya tarik magisnya. Sekarang? Anda buka ponsel sambil rebahan di kasur pun, toko buku online atau marketplace setiap hari kasih diskon yang sama, bahkan sering kali ditambah gratis ongkir. Jadi, buat apa orang jauh-jauh macet-macetan ke lokasi pameran, bayar tiket masuk, bayar parkir, kalau harga bukunya sama saja dengan harga di layar HP? Pameran buku kehilangan senjata utamanya, yaitu harga yang sangat kompetitif.

Kedua, masalah logistik dan kenyamanan. Mari kita akui, membawa tumpukan buku fisik itu berat. Capek. Di zaman serba instan ini, orang lebih suka barangnya yang datang ke rumah daripada mereka yang harus memanggul beban. Di pameran, Anda harus keliling stan yang luasnya minta ampun, berdesakan dengan orang lain, lalu antre di kasir yang panjangnya seperti ular naga. Bagi generasi instan, ini adalah siksaan yang tidak perlu. Mereka lebih pilih klik “Check Out” lalu besok paginya kurir datang teriak “Paket!” di depan pagar. Kepraktisan digital telah membunuh romantisme belanja fisik di lantai pameran.

Ketiga, biaya operasional yang makin mencekik penerbit. Sewa stan di gedung pameran itu tidak murah. Belum lagi biaya transportasi buku, gaji lembur karyawan, dekorasi stan, sampai urusan makan-minum tim di lapangan. Banyak penerbit mengeluh, omzet yang didapat di pameran sering kali cuma cukup buat bayar sewa stan dan biaya operasional. Profitnya? Habis buat bayar lelah. Kalau hitung-hitungannya cuma buat “buang stok” atau clearing sale, mungkin masih masuk akal. Tapi kalau tujuannya cari untung besar dari buku baru, pameran buku fisik mulai terasa seperti judi yang hasilnya tidak pasti.

Lantas, apakah pameran buku sudah benar-benar mati fungsinya? Tunggu dulu. Jangan buru-buru bilang tidak efektif. Ia masih efektif, tapi bukan lagi sebagai “mesin jualan” murni, melainkan sebagai “ajang branding” dan “pengalaman”.

Penerbit yang pintar sekarang tidak lagi cuma menaruh buku di atas meja dan nunggu pembeli. Mereka bikin acara yang menarik. Mereka undang penulis-penulis populer buat bedah buku atau sekadar meet and greet. Di sinilah nilai jual pameran buku fisik yang tidak bisa digantikan oleh algoritma marketplace: interaksi manusia. Pembaca datang bukan cuma buat beli kertas, tapi buat ketemu “nyawa” di balik buku itu. Mereka ingin tanda tangan, ingin foto bareng, dan ingin merasakan atmosfer komunitas. Kalau pameran buku cuma isinya jualan barang, ya jelas kalah sama internet. Tapi kalau isinya adalah “pengalaman”, ia tetap punya tempat di hati pembaca.

Keempat, pameran buku sekarang fungsinya bergeser jadi tempat kurasi manual. Di tengah jutaan judul di internet yang bikin kita bingung, pameran buku memberikan kesempatan bagi pembaca untuk “menyentuh” dan “merasakan” fisik bukunya sebelum beli. Banyak orang yang datang ke pameran cuma buat lihat-lihat, lalu mereka beli secara online di stan itu juga melalui QR code agar bukunya dikirim ke rumah. Ini yang disebut model bisnis omnichannel. Penerbit tetap jualan, tapi pameran fungsinya cuma jadi etalase. Apakah ini efektif? Secara promosi iya, secara hitungan penjualan fisik di tempat mungkin tidak.

Selain itu, pameran buku masih sangat efektif untuk segmen tertentu, misalnya buku anak. Orang tua biasanya lebih suka membelikan buku anak secara langsung. Mereka ingin lihat kualitas gambarnya, ketebalan kertasnya (biar tidak gampang sobek), dan ingin melibatkan anak dalam memilih. Buku-buku pop-up, buku bersuara, atau buku kain masih sangat laku di pameran fisik karena sensasi fisiknya tidak bisa diwakili oleh video di layar. Begitu juga dengan buku-buku langka atau buku koleksi yang butuh pengecekan kondisi fisik secara mendetail.

Jadi, kalau ditanya efektif atau tidak, jawabannya adalah: Tergantung apa tujuannya. Kalau tujuan penerbit cuma mau cari angka penjualan yang meledak seperti sepuluh tahun lalu, siap-siap kecewa. Tapi kalau tujuannya adalah membangun loyalitas pembaca, memperkenalkan brand penerbit baru, atau meluncurkan naskah yang sangat dinantikan, pameran buku masih sangat relevan.

Pameran buku di masa depan harus berubah wajah. Tidak perlu lagi terlalu luas sampai bikin kaki gempor, tapi harus lebih intim. Lokasinya tidak harus di gedung megah yang sewanya mahal, bisa di ruang-ruang kreatif, di kafe, atau di kampus yang lebih dekat dengan target pembacanya. Pameran buku harus jadi festival budaya, bukan sekadar pasar tumpah.

Kita sebagai pembaca juga merindukan pameran buku yang “bernyawa”. Kita ingin pameran yang tidak cuma tumpukan buku diskon sisa gudang, tapi pameran yang punya tema kuat, yang punya diskusi-diskusi bermutu, dan yang membuat kita merasa bangga menjadi bagian dari dunia literasi. Pameran buku adalah satu-satunya momen di mana kita bisa melihat bahwa kita tidak sendirian; bahwa masih banyak orang gila buku lainnya di negeri ini. Dan rasa kebersamaan itu tidak ada harganya.

Kesimpulannya, menjual buku lewat pameran saat ini adalah tantangan besar. Efektivitasnya menurun sebagai jalur distribusi, tapi meningkat sebagai jalur komunikasi. Penerbit yang masih bertahan di pameran buku bukan lagi sekadar pedagang, tapi mereka adalah pejuang literasi yang sedang menjaga agar api pertemuan fisik antar manusia tidak padam.

Kalau Anda lewat pameran buku, mampirlah. Jangan cuma lihat harganya, tapi nikmati suasananya. Belilah satu atau dua buku di sana sebagai bentuk dukungan agar tradisi ini tidak punah. Karena secanggih apa pun belanja online, rasa senang saat memegang buku yang baru saja kita beli dari stan pameran, lalu membawanya pulang dengan rasa bangga, adalah sensasi yang tidak akan pernah bisa dikirim lewat paket ekspres mana pun. Pameran buku masih efektif, selama kita masih menghargai pertemuan di antara lembaran kertas dan tatap muka manusia.