Ini fenomena yang bikin saya sering mengelus dada, atau kalau sedang kumat gemasnya, pengin rasanya saya ketok pintu rumah mereka satu-satu. Di media sosial, kita sering melihat orang pamer rak buku yang penuh, berderet rapi, estetik sekali kalau difoto pakai filter kekinian. Tapi begitu kamera di-zoom sedikit, ketahuanlah belangnya. Kertasnya putih keabu-abuan, jilidannya miring, dan cetakan huruf di sampulnya agak pudar. Itu buku bajakan. Dan yang punya? Bukannya malu, malah dengan bangga kasih takarir: “Borong buku murah meriah, stok bacaan setahun!”
Lalu ada lagi kaum “pemburu PDF”. Di grup-grup WhatsApp atau Telegram, mereka ini seperti pahlawan kesiangan. Begitu ada yang tanya judul buku bagus, mereka langsung menyambar, “Ini ada file PDF-nya, gratis buat yang mau.” Lalu puluhan orang menyahut, “Mau dong, Gan!”, “Izin sedot, Suhu!”, seolah-olah mereka baru saja dapat bagi-bagi sembako gratis dari pemerintah. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada rasa kalau mereka sedang menenggak barang curian.
Kenapa kita, orang Indonesia, bisa se-santai itu—bahkan bangga—mengonsumsi karya palsu dan ilegal? Mari kita bedah pelan-pelan, jangan sampai ada yang tersinggung, tapi kalau tersinggung ya syukur, berarti nuraninya masih ada.
Alasan pertama, dan ini yang paling mendasar, adalah rusaknya definisi “pencurian” di kepala kita. Di kultur kita, mencuri itu kalau Anda ambil motor orang, ambil jemuran tetangga, atau rampok bank. Itu jahat. Tapi kalau membajak buku atau menyebar PDF? Ah, itu kan “berbagi ilmu”. Ada semacam pembenaran moral yang sesat bahwa pengetahuan itu harus gratis dan milik bersama. Mereka merasa sedang melakukan amal jariyah dengan menyebarkan file ilegal, padahal mereka sedang merampok dapur penulisnya. Kita belum sampai pada level peradaban yang menghargai “ide” sebagai sebuah aset yang punya nilai ekonomi. Bagi kita, kalau barangnya tidak kelihatan hilang secara fisik, berarti bukan mencuri.
Kedua, kita ini bangsa yang sangat memuja “murah”. Semboyan “kalau ada yang murah/gratis, kenapa beli yang mahal?” sudah mendarah daging. Di marketplace, orang lebih pilih beli buku bajakan harga 20 ribu daripada buku asli 100 ribu karena merasa “menang banyak”. Mereka merasa pintar karena bisa hemat 80 ribu. Mereka bangga bisa mengalahkan sistem. Rasa bangga karena “berhasil dapat harga miring” ini mengalahkan rasa hormat pada hak cipta. Kita lebih takut rugi uang daripada rugi harga diri.
Ketiga, ada faktor “FOMO” (Fear of Missing Out) alias takut ketinggalan tren tapi modalnya cekak. Anak muda sekarang ingin terlihat intelektual, ingin ikut bahas buku yang lagi viral, tapi uang jajannya habis buat nongkrong atau beli skin gim online. Akhirnya, mereka lari ke buku bajakan atau PDF ilegal. Yang penting punya bukunya, yang penting bisa difoto buat konten, urusan asli atau palsu itu urusan nomor dua ratus. Buku di sini fungsinya sudah bergeser dari sumber ilmu menjadi sekadar “properti gaya hidup”. Dan properti gaya hidup itu yang penting kelihatan dari luar, tidak perlu asli asal gaya.
Lalu, mari kita bicara soal lingkungan sosial kita yang sangat permisif. Di kantor, di sekolah, bahkan di kampus-kampus, memfotokopi buku satu jilid penuh itu dianggap biasa. Dosen tidak marah, guru tidak melarang, teman malah titip. Karena lingkungan menganggap itu normal, maka individu tidak merasa melakukan kesalahan. Tidak ada sanksi sosial bagi pembeli buku bajakan. Anda tidak akan dikucilkan dari pergaulan hanya karena ketahuan baca buku palsu. Berbeda kalau Anda ketahuan pakai sepatu KW yang mereknya mentereng, mungkin Anda akan malu kalau ketahuan teman yang tahu barang asli. Tapi buku? Ah, siapa yang peduli sama keaslian kertas?
Selain itu, literasi digital kita ini aneh. Kita jago pakai HP buat macam-macam, tapi kita gagap memahami etika digital. Banyak orang merasa kalau sebuah file sudah ada di internet, berarti itu sudah jadi milik publik. “Lho, kan saya cuma download dari Google, berarti legal dong?” Begitu pikirnya. Mereka tidak paham bahwa ada proses distribusi ilegal di baliknya. Ketidaktahuan ini dipelihara oleh kemalasan untuk mencari tahu, karena ya itu tadi, ketidaktahuan itu menguntungkan kantong mereka.
Ada juga pembelaan yang sering saya dengar: “Penulis kan sudah kaya, masa berbagi PDF saja pelit?” Ini adalah puncak dari segala kesesatan berpikir. Mereka tidak tahu kalau royalti penulis itu cuma 10 persen. Kalau buku harga 100 ribu, penulis cuma dapat 10 ribu. Itu pun kalau bukunya asli. Kalau bajakan? Penulis dapat nol rupiah. Penulis itu juga manusia yang butuh makan, butuh bayar listrik, dan butuh modal buat riset buku selanjutnya. Membajak karya mereka sama saja dengan menyuruh mereka berhenti menulis. Dan kalau mereka berhenti menulis, yang rugi siapa? Ya kita semua.
Bangga beli buku palsu itu sebenarnya adalah bentuk pengakuan bahwa kita belum menghargai otak kita sendiri. Kita ingin memasukkan ilmu ke kepala, tapi caranya lewat jalur kriminal. Bagaimana mungkin ilmu yang didapat dari hasil menzalimi orang lain bisa membawa berkah atau membuat kita benar-benar pintar?
Kita perlu revolusi mental dalam urusan literasi. Kita butuh gerakan “Malu Pakai Barang Bajakan” yang masif. Mulailah dari diri sendiri. Kalau memang tidak punya uang, pergi ke perpustakaan. Sekarang banyak perpustakaan digital gratis yang legal seperti iPusnas. Pakailah itu. Itu jauh lebih terhormat daripada bangga menyebar PDF ilegal di grup-grup obrolan.
Industri buku kita tidak akan pernah sehat kalau konsumennya masih bermental penadah. Jangan bangga jadi orang yang “pintar cari gratisan” kalau cara carinya itu merugikan orang lain. Mari kita bangun kebanggaan baru: bangga beli buku asli, bangga menghargai penulis, dan bangga menjadi bagian dari ekosistem literasi yang jujur.
Ingat, setiap kali Anda membeli buku bajakan atau mengunduh PDF ilegal, Anda sedang membantu memaku peti mati bagi kreativitas di negeri ini. Jangan sampai suatu saat nanti kita cuma punya rak buku yang penuh, tapi isinya sampah semua karena tidak ada lagi penulis waras yang mau berkarya. Hargailah buku, karena di dalam setiap lembarannya, ada harga diri seorang penulis yang sedang Anda pegang. Jangan diinjak-injak hanya demi penghematan yang tak seberapa.




