Apakah Buku Fisik Akan Benar-benar Punah Suatu Saat Nanti?

Setiap kali ada toko buku besar di Jakarta atau Surabaya mengumumkan penutupan gerainya, media sosial langsung ramai. Isinya seragam: ucapan duka cita yang mendalam seolah-olah kita baru saja kehilangan pahlawan nasional. Lalu, muncul ramalan-ramalan kiamat dari para pengamat dadakan. “Inilah akhir dari era kertas,” kata mereka. “Sepuluh tahun lagi, buku fisik cuma bakal ada di museum, bersanding dengan kapak batu dan kaset pita.”

Ramalan bahwa buku fisik akan punah itu sebenarnya lagu lama. Sudah diputar sejak dekade sembilan puluhan ketika internet mulai masuk ke rumah-rumah. Lalu makin kencang suaranya saat e-book reader muncul dan tablet pintar jadi barang sejuta umat. Tapi anehnya, sampai hari ini, tahun 2026, buku fisik masih ada. Ia masih dicetak, masih dijual, dan masih dicintai. Jadi, apakah ramalan kepunahan itu cuma gertak sambal, atau memang kita sedang menunggu waktu eksekusinya saja?

Mari kita bedah secara jujur, pakai kacamata realitas industri kita di Indonesia.

Kalau kita bicara soal efisiensi, buku fisik memang sudah kalah telak. Ia boros kertas, boros tinta, berat di ongkir, dan butuh ruang penyimpanan yang luas. Di dunia yang makin sesak dan serba cepat ini, membawa-bawa benda seberat setengah kilogram hanya untuk membaca satu judul cerita itu rasanya tidak praktis. Secara logika ekonomi dan teknologi, e-book harusnya sudah membunuh buku fisik sejak lama. Tapi kenapa itu tidak terjadi?

Jawabannya: karena buku bukan sekadar media penyampai informasi.

Di sinilah letak kekeliruan para peramal kiamat perbukuan. Mereka menganggap buku itu sama seperti CD lagu atau kaset film. Begitu muncul format digital (MP3 atau Netflix), benda fisiknya langsung ditinggalkan karena fungsinya memang cuma buat menyalurkan konten. Tapi buku? Buku itu benda sensorik. Membaca buku adalah pengalaman yang melibatkan panca indra. Ada aroma kertas yang khas, ada tekstur yang kasar atau halus saat jemari membalik halaman, dan ada berat yang mantap saat digenggam. Pengalaman “fisik” ini tidak bisa dikonversi menjadi barisan piksel di layar, secanggih apa pun teknologinya.

Selain itu, ada faktor psikologis yang sangat kuat: rasa kepemilikan. Membeli e-book itu rasanya seperti menyewa lisensi. Anda tidak benar-benar punya barangnya. Tapi membeli buku fisik itu membangun perpustakaan pribadi. Rak buku di rumah kita adalah peta pemikiran kita. Ia adalah monumen sejarah intelektual kita. Kita bangga melihat deretan punggung buku yang sudah kita baca. Ada kepuasan batin saat kita meminjamkan buku favorit ke teman, atau saat kita mewariskannya ke anak. “Ini buku yang mengubah hidup Bapak dulu,” kata kita sambil menyerahkan benda nyata, bukan mengirimkan tautan unduhan.

Namun, kita tidak boleh menutup mata pada tekanan isu lingkungan. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, kertas itu berasal dari pohon. Dan dunia makin cerewet soal kelestarian hutan. Tekanan ini nyata. Di masa depan, harga kertas akan makin mahal karena regulasi lingkungan yang makin ketat. Buku fisik mungkin tidak akan punah karena teknologinya kalah, tapi karena harganya jadi tidak terjangkau bagi massa.

Maka, ramalan saya—dan ini gaya saya kalau lagi sok tahu—buku fisik tidak akan punah, tapi ia akan berubah status. Ia akan menjadi barang mewah. Barang koleksi. Collectible items.

Masa depan perbukuan akan terbagi dua jalur. Jalur pertama adalah jalur konsumsi massal yang serba digital. Buku-buku teks sekolah, buku panduan teknis, novel-novel picisan yang sekali baca habis, atau berita-berita ringan, semuanya akan bermigrasi total ke layar. Ini efisien dan ramah lingkungan. Tidak perlu lagi menebang hutan hanya untuk mencetak buku “Cara Cepat Kaya dalam 7 Hari” yang bulan depan sudah basi teorinya.

Jalur kedua adalah jalur buku fisik yang berkualitas tinggi. Penerbit tidak akan lagi asal cetak ribuan eksemplar naskah medioker. Mereka akan sangat selektif. Buku yang dicetak adalah karya-karya yang benar-benar berharga, yang layak disimpan selamanya. Kertasnya pilihan, sampulnya dirancang oleh seniman, dan penjilidannya kuat. Membeli buku fisik nantinya akan terasa seperti membeli lukisan atau jam tangan analog yang mahal. Ia dibeli bukan cuma untuk dibaca, tapi untuk diapresiasi sebagai karya seni.

Di Indonesia, tantangan utamanya adalah akses. Kalau buku fisik jadi barang mewah, bagaimana dengan literasi di daerah pelosok yang internetnya masih “mati segan hidup tak mau”? Di sinilah peran negara dan komunitas. Buku fisik mungkin akan punah di rak-rak toko buku mall yang mewah, tapi ia harus tetap hidup di perpustakaan-perpustakaan desa sebagai sarana pemerataan ilmu.

Ada satu hal lagi yang membuat buku fisik sulit mati: fenomena digital fatigue atau kelelahan digital. Kita ini sudah terlalu lelah menatap layar untuk kerja, untuk belanja, untuk cari jodoh, sampai untuk bayar pajak. Pada titik tertentu, manusia butuh jeda. Membaca buku fisik adalah bentuk pelarian paling sempurna dari “penjara layar”. Ia adalah kegiatan yang luring (offline) secara total. Di depan buku fisik, tidak ada algoritma yang memantau mata kita, tidak ada iklan yang mendadak muncul. Hanya ada Anda dan pikiran penulis. Ketenangan ini adalah komoditas yang akan makin mahal harganya di masa depan.

Jadi, kalau ada yang tanya: “Apakah buku fisik akan punah?” Jawaban saya adalah: Tidak selama manusia masih punya tangan untuk memegang dan hidung untuk mencium aroma kertas. Ia mungkin tidak akan lagi mendominasi pasar seperti dulu. Ia mungkin tidak akan lagi menjadi media utama bagi semua orang. Tapi ia akan tetap ada sebagai pilihan bagi mereka yang menghargai kedalaman, keheningan, dan keabadian.

Buku fisik akan bertahan sebagai pengingat bahwa di tengah dunia yang serba virtual ini, kita masih butuh sesuatu yang nyata untuk dipegang. Sesuatu yang tidak butuh baterai, tidak butuh sinyal, dan tidak akan lenyap hanya karena listrik padam atau server pusat meledak.

Penutupan toko-toko buku fisik belakangan ini bukanlah tanda kematian buku, melainkan tanda pergeseran cara kita mengonsumsinya. Toko buku yang hanya sekadar jualan kertas memang akan mati, tapi toko buku yang menjual “pengalaman”, komunitas, dan kurasi yang cerdas akan tetap dicari.

Pada akhirnya, format digital dan fisik akan hidup berdampingan secara hibrida. Kita baca e-book untuk kecepatan dan kemudahan, tapi kita beli buku fisiknya untuk penghormatan pada karya tersebut. Kita butuh keduanya. Jadi, jangan terburu-buru memesan karangan bunga duka cita untuk buku fisik. Simpan saja uangnya untuk beli satu judul buku bermutu di toko buku terdekat. Selama kita masih mau membeli dan membacanya, kiamat buku fisik itu hanya akan jadi fiksi ilmiah yang tidak pernah jadi kenyataan.