Begini, lho. Kalau Anda membayangkan menjadi penulis buku di Indonesia itu otomatis bakal punya rumah di Pondok Indah, mobil mewah berjejer, dan tiap sore tinggal duduk manis di balkon sambil nunggu transferan uang masuk yang jumlahnya ratusan juta, mending Anda bangun sekarang. Cuci muka dulu. Atau kalau perlu, guyur sekalian pakai air es supaya sadar sesadar-sadarnya.
Dunia kepenulisan kita itu romantis, iya. Terlihat mentereng, betul. Tapi kalau kita bicara dapur, alias urusan isi piring dan bayar cicilan motor, ceritanya bisa jadi horor yang lebih menyeramkan daripada novel-novelnya mendingan Mas pengarang horor itu. Kita ini sering terjebak pada bayangan bahwa “Penulis adalah Intelektual Kaya Raya”. Padahal, kenyataannya, banyak penulis kita yang kalau mau makan enak di akhir bulan saja harus mikir berkali-kali apakah royaltinya sudah cair atau belum.
Mari kita buka-bukaan. Jangan ada rahasia di antara kita. Saya mau ajak Anda menghitung pakai kalkulator yang jujur, bukan kalkulator mimpi.
Standar royalti di Indonesia untuk penerbit mayor—ingat ya, penerbit mayor yang bukunya ada di rak-rak depan toko buku besar itu—rata-rata cuma sepuluh persen. Ya, Anda tidak salah baca. Angka keramatnya adalah 10%. Itu pun dari harga jual buku, bukan dari keuntungan bersih. Kelihatannya gede? Coba kita hitung pelan-pelan supaya tidak emosi.
Misalnya, Anda menulis buku yang tebalnya lumayan. Dijual dengan harga 100 ribu rupiah. Angka yang cukup standar buat kantong mahasiswa sekarang yang kalau jajan kopi susu kekinian saja habis 40 ribu. Dari 100 ribu itu, jatah Anda sebagai penulis adalah 10 ribu per buku. Sampai sini masih terasa masuk akal? Oke, lanjut.
Berapa banyak buku yang dicetak untuk cetakan pertama? Biasanya, kalau Anda bukan artis, bukan selebgram dengan pengikut jutaan, atau bukan tokoh politik yang sedang kampanye, penerbit cuma berani cetak 2.000 sampai 3.000 eksemplar. Anggaplah nasib Anda cukup baik, buku Anda dicetak 3.000 eksemplar dan—ajaibnya—semuanya laku terjual habis dalam setahun.
Maka, penghasilan Anda adalah 3.000 eksemplar dikali 10 ribu rupiah. Totalnya 30 juta rupiah. Kelihatannya banyak ya? Eits, tunggu dulu. 30 juta itu untuk kerja berapa lama? Menulis buku itu bukan sulap bukan sihir. Butuh waktu riset, begadang, revisi yang bikin darah tinggi, sampai debat kusir sama editor. Anggaplah proses itu memakan waktu enam bulan. Lalu, nunggu buku terbit butuh waktu lagi enam bulan. Jadi, 30 juta itu adalah hasil kerja keras Anda selama setahun.
Kalau dibagi 12 bulan, jatuhnya cuma 2,5 juta per bulan. Masih di bawah UMR Jakarta, Kawan. Dan itu dengan asumsi bukunya sold out. Bagaimana kalau bukunya cuma laku 500 eksemplar setahun? Hitung sendiri deh, saya nggak tega lanjutinnya. Belum lagi kalau kita bicara soal pajak. Penulis itu warga negara yang taat pajak. Royalti kita langsung dipotong pajak penghasilan yang aturannya sering bikin penulis pengin garuk-garuk tembok karena merasa tidak adil.
Kenapa sih cuma 10 persen? Kok pelit amat penerbitnya? Nah, di sinilah kita harus melihat anatomi sebuah buku. Dari harga 100 ribu tadi, 40 sampai 55 persen itu sudah habis “dimakan” oleh distributor dan toko buku. Ingat, toko buku itu butuh bayar sewa gedung di mall yang mahal, bayar AC supaya Anda nyaman numpang baca gratis, dan bayar pegawai. Sisanya? Ada biaya cetak yang harga kertasnya naik terus kayak tensi orang lagi marah. Ada biaya operasional penerbit, gaji editor, desainer cover, hingga biaya promosi.
Jadi, kalau Anda mau marah, jangan cuma marah ke penerbit. Marahlah pada sistem distribusi kita yang memang memakan porsi paling besar. Penulis, yang merupakan hulu dari segala proses kreatif ini, justru seringkali menjadi pihak yang mendapatkan potongan paling buncit. Ironis? Sangat. Tapi itulah realitas faktual industri buku kita.
Lalu, bagaimana dengan sistem beli putus? Ini biasanya terjadi di penulisan buku-buku teks atau pesanan khusus. Anda menulis, dibayar di depan, misalnya 10 juta atau 20 juta, setelah itu selesai. Mau bukunya laku sejuta eksemplar pun, Anda tidak akan dapat tambahan sepeser pun. Bagi sebagian penulis yang butuh uang cepat buat bayar kontrakan, ini solusi. Tapi bagi masa depan karya, ini seringkali terasa seperti menjual anak kandung demi sesuap nasi.
Sekarang, mari kita bandingkan dengan fenomena self-publishing atau menerbitkan sendiri. Di sini, Anda adalah bosnya. Anda yang menulis, Anda yang bayar desain cover, Anda yang cari percetakan, dan Anda yang jualan sendiri lewat Instagram atau TikTok. Keuntungannya bisa jauh lebih besar, bisa 30 persen sampai 50 persen dari harga jual. Menarik? Tentu.
Tapi, jangan bayangkan ini jalan tol yang mulus. Menerbitkan sendiri itu berarti Anda harus jadi “Superman”. Anda harus paham urusan manajemen stok, Anda harus rajin bungkus-bungkus paket pakai bubble wrap sampai tangan pegal, dan Anda harus siap jadi sales yang kalau tidak pintar jualan, bukunya cuma bakal jadi pajangan di gudang bawah tangga rumah Anda. Banyak penulis yang hebat menulis, tapi kalau disuruh jualan, mereka langsung mendadak pemalu.
Masalah lain yang membuat royalti penulis makin mengenaskan adalah monster bernama pembajakan. Ini musuh nyata yang lebih jahat daripada hantu mana pun. Bayangkan, Anda sudah susah payah menulis, hanya dapat jatah 10 ribu per buku, eh di marketplace ada yang jual buku bajakan versi PDF seharga 5 ribu rupiah atau versi cetak kertas buram seharga 20 ribu.
Penjual bajakan ini tidak perlu bayar royalti ke Anda. Mereka tidak perlu bayar pajak. Mereka tidak perlu riset. Mereka tinggal scan, cetak, dan ambil untung. Dan sedihnya, banyak pembaca kita yang merasa bangga bisa beli buku murah tanpa peduli kalau mereka sedang merampok keringat penulisnya. Setiap satu buku bajakan yang Anda beli, Anda sedang memperpendek umur kreativitas penulis idola Anda.
Mari kita bicara soal transparansi. Ini isu sensitif. Banyak penulis yang merasa curiga pada laporan royalti dari penerbit. “Kok bukunya di mana-mana ada, tapi laporannya cuma laku seratus?” tanya mereka. Memang, sistem pelaporan royalti di Indonesia ini masih sering terasa “gelap”. Belum ada sistem real-time yang membuat penulis bisa mengecek penjualannya secara langsung seperti kita mengecek saldo ATM. Penulis biasanya hanya dapat laporan setiap enam bulan sekali. Itu pun dalam bentuk lembaran kertas yang kita harus percaya saja apa adanya.
Bukan berarti semua penerbit nakal, ya. Banyak yang jujur dan profesional. Tapi ketidakterbukaan sistem ini seringkali menciptakan jarak dan ketidakpercayaan. Padahal, hubungan penulis dan penerbit itu kan harusnya kayak suami istri: harus terbuka soal keuangan supaya tidak ada keributan di dapur.
Lalu, ada lagi cerita soal royalti dari e-book. Katanya digital itu masa depan. Katanya biayanya murah karena tidak pakai kertas. Tapi faktanya, royalti e-book seringkali tidak jauh berbeda persentasenya dengan buku fisik. Padahal, logikanya, karena biaya produksinya rendah, jatah penulis harusnya bisa lebih besar, dong? Di sini jugalah tarik-ulur itu terjadi. Industri digital kita masih merangkak, dan seringkali skema pembagian hasilnya belum benar-benar memihak pada kreator konten.
Belum lagi kalau kita bicara soal buku-buku yang “hilang” dalam proses konsinyasi. Buku dikirim ke toko buku, tapi laporannya tidak jelas. Mau ditarik bukunya, ongkirnya mahal. Akhirnya dibiarkan saja sampai hilang atau rusak. Itu semua adalah potensi royalti yang menguap begitu saja.
Lantas, apakah menjadi penulis itu tidak ada harapan secara finansial? Jangan salah paham. Masih ada penulis-penulis yang sukses luar biasa. Mereka yang bukunya diadaptasi jadi film, mereka yang bukunya dicetak ulang puluhan kali, mereka yang namanya sudah jadi jaminan mutu. Tapi mereka itu jumlahnya sangat sedikit, mungkin cuma satu persen dari populasi penulis di Indonesia. Sisanya? Ya itu tadi, pejuang royalti 10 persen.
Maka, jangan heran kalau penulis di Indonesia itu biasanya punya “selingkuhan” profesi lain. Ada yang jadi dosen, ada yang jadi wartawan, ada yang jadi pegawai kantoran, atau ada yang jualan martabak. Menulis bagi banyak orang di sini masih menjadi pekerjaan sampingan—bukan karena mereka tidak cinta, tapi karena industrinya belum sanggup membuat mereka “hidup” hanya dari menulis.
Ini sebenarnya tantangan besar buat kita semua. Bagaimana membuat ekosistem perbukuan yang lebih manusiawi bagi penulis. Pemerintah harusnya punya peran lebih, misalnya dengan memberikan insentif pajak bagi penulis atau memperketat aturan main di marketplace agar buku bajakan tidak bisa dijual bebas seperti kacang goreng.
Buat Anda yang baru mau mulai menulis, jangan lantas jadi ciut nyali membaca tulisan saya ini. Saya tidak sedang menakut-nakuti. Saya hanya ingin Anda masuk ke dunia ini dengan mata terbuka. Menulislah karena Anda punya sesuatu untuk dibagikan, karena Anda punya kegelisahan yang harus dituangkan. Soal royalti, jadikan itu sebagai bonus dari kerja keras Anda.
Kalau niat Anda menulis hanya untuk kaya raya dalam waktu singkat, mending Anda main saham saja atau jadi affiliate marketing. Menulis buku itu jalan sunyi. Jalan yang membutuhkan kesabaran luar biasa. Royalti itu bukan sekadar angka di laporan keuangan, tapi bentuk penghargaan atas pemikiran Anda yang telah berkelana ke kepala orang lain.
Tapi, meski royaltinya kecil, ada satu kepuasan yang tidak bisa dibayar dengan uang miliaran. Yaitu ketika Anda melihat buku Anda ada di rak perpustakaan, atau ketika Anda menerima pesan dari pembaca asing yang bilang, “Buku Anda telah mengubah cara pandang saya tentang hidup.” Di titik itu, rasanya royalti 10 persen tadi jadi tidak terlalu menyakitkan lagi.
Namun, tetap saja, idealisme itu butuh asupan karbohidrat. Kita tidak bisa terus-menerus meminta penulis untuk “ikhlas” dan “berjuang demi literasi” sementara perut mereka keroncongan. Kita harus mulai menuntut sistem yang lebih transparan dan adil. Penulis harus mulai berani bertanya pada penerbitnya. Penulis harus mulai belajar manajemen keuangan. Dan yang paling penting, penulis harus mulai bersatu untuk memperjuangkan hak-haknya.
Mari kita jujur pada diri sendiri. Apakah kita sudah cukup menghargai buku? Jangan-jangan kita masih sering minta “harga teman” atau minta buku gratisan ke penulisnya. Padahal, harga teman yang paling benar adalah membeli karyanya dengan harga penuh, tanpa menawar, dan kalau perlu ikut mempromosikannya. Itu adalah dukungan nyata yang lebih berarti daripada sekadar pujian di kolom komentar.
Dunia perbukuan kita memang masih penuh lubang di sana-sini. Royalti yang kecil hanyalah salah satu gejalanya. Akar masalahnya lebih dalam: mulai dari rendahnya minat baca, mahalinya biaya distribusi, hingga kurangnya apresiasi terhadap kekayaan intelektual. Tapi, kita tidak boleh menyerah.
Buka-bukaan soal royalti ini bukan untuk bikin kita berhenti menulis. Justru sebaliknya, supaya kita tahu di mana posisi kita sekarang dan ke arah mana kita harus bergerak. Kita butuh lebih banyak penulis yang melek bisnis. Kita butuh lebih banyak penerbit yang transparan. Kita butuh lebih banyak pembaca yang anti-pembajakan.
Kalau semua pihak sudah punya kesadaran yang sama, saya yakin angka 10 persen itu bukan lagi harga mati. Kita bisa menciptakan model bisnis baru yang lebih adil. Entah itu lewat platform digital yang lebih transparan, atau lewat model-model kolaborasi baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.
Intinya, jadi penulis di Indonesia itu butuh nyali besar. Nyali untuk menghadapi kertas kosong, dan nyali untuk menghadapi laporan royalti yang seringkali jauh dari harapan. Tapi bagi mereka yang sudah jatuh cinta pada kata-kata, hambatan sebesar apa pun tidak akan pernah bisa menghentikan jari mereka untuk terus mengetik.
Jadi, berapa sih royalti penulis sebenarnya? Jawaban terjujurnya adalah: Tergantung seberapa kuat mental Anda menghadapi kenyataan. Dan seberapa besar cinta Anda pada dunia literasi ini. Karena pada akhirnya, buku adalah warisan. Dan warisan yang baik tidak selalu bisa dinilai dengan angka-angka rupiah semata. Tapi ya itu, kalau bisa angkanya juga dibanyakin, masa cuma cukup buat beli pulsa?
Kita semua punya tanggung jawab untuk memperbaiki ini. Mulai dari saya, Anda, dan semua orang yang masih percaya bahwa buku adalah guru yang paling sabar. Mari kita jadikan industri perbukuan kita tempat yang layak untuk ditinggali oleh para pemikir dan pencipta karya. Jangan biarkan mereka mati pelan-pelan karena royalti yang tidak seberapa.
Buka-bukaan sudah. Sekarang, silakan lanjutkan menulis. Atau silakan beli buku asli di toko buku terdekat. Dengan begitu, Anda sudah ikut andil dalam menyambung napas satu penulis di negeri ini. Dan siapa tahu, penulis itu sedang menyiapkan karya hebat berikutnya yang akan mengubah dunia—setidaknya dunia di dalam kepala Anda.




