Mengapa Kita Butuh Tulisan yang Sedikit “Kotor” dan Berantakan

Beberapa hari yang lalu, saya menerima draf tulisan dari seorang mahasiswa yang sedang magang di sebuah proyek penulisan. Begitu dokumen itu terbuka di layar laptop, kesan pertama saya adalah: ini luar biasa. Tampilannya begitu bersih. Alurnya berbaris rapi dari pengantar, analisis, sampai kesimpulan. Tidak ada satu pun kata yang keliru ketik (typo). Subjek dan predikatnya saling mengunci dengan patuh, seperti sepasang pengantin baru di depan penghulu.

Namun, setelah saya membaca sampai halaman ketiga, saya mulai merasakan ada gejala aneh di dalam dada saya. Saya mengantuk. Bukan karena saya lelah, tapi karena tulisan itu terlalu steril. Kalimat-kalimatnya mengalir tanpa hambatan, tapi juga tanpa kejutan. Ia terasa seperti ruangan hotel bintang lima yang baru saja dirapikan oleh pelayan: seprainya kencang, bantalnya simetris, baunya harum disinfektan, tapi terasa dingin dan asing. Tidak ada “bau manusia” di sana.

Saya lalu bertanya kepada anak muda itu, “Kamu pakai bantuan AI ya untuk merapikan ini?” Dia tersenyum malu-malu lalu mengangguk. “Iya, Mas. Biar kelihatan sempurna dan profesional.”

Di situlah saya menghela napas panjang. Fenomena ini adalah penyakit baru di era literasi modern kita. Kehadiran teknologi kecerdasan buatan telah membuat kita terobsesi pada kesempurnaan yang instan. Kita menjadi takut salah, takut dianggap tidak intelek, dan takut terlihat keliru. Akibatnya, kita berbondong-bondong menyetorkan draf kita ke mesin agar dipoles menjadi mengilap.

Padahal, di tengah kepungan teks-teks steril hasil cetakan pabrik algoritma hari ini, saya justru ingin mengajukan sebuah pembelaan yang radikal: kita sedang sangat membutuhkan tulisan yang sedikit “kotor” dan berantakan.

Estetika Plastik versus Retakan Dinding Rumah

Mari kita bedah dulu apa yang dimaksud dengan tulisan yang “kotor” dan berantakan. Ini tentu bukan pembelaan bagi para penulis malas yang tidak tahu bedanya tanda titik dan koma, atau mereka yang malas melakukan riset data dasar. Bukan itu. Tulisan yang kotor dan berantakan dalam konteks esai adalah tulisan yang mempertahankan tekstur kemanusiaannya.

Manusia itu makhluk yang penuh dengan gejolak. Pikiran kita tidak pernah berjalan lurus seperti jalan tol. Pikiran kita itu melompat, berputar, kadang berhenti mendadak karena teringat utang, lalu lanjut lagi dengan emosi yang berbeda. Maka, tulisan yang jujur biasanya merekam kegelisahan yang berantakan itu.

Ada kalanya seorang penulis menggunakan satu diksi yang agak kasar atau “ndeso” karena hanya kata itulah yang sanggup mewakili rasa dongkol di dadanya. Ada kalanya sebuah kalimat dibuat agak panjang dan terengah-engah karena si penulis sedang mengejar luapan ide yang berkejaran di kepalanya. Cacat-cacat kecil inilah—lompatan logika yang emosional, pilihan metafora yang nyeleneh, atau gaya bahasa yang sedikit menabrak pakem formal—yang menjadi “sidik jari” otentik seorang penulis.

AI, dengan segala keluhuran algoritma sopannya, bertugas untuk membunuh cacat-cacat tersebut. Ia akan menghaluskan semua bagian yang kasar. Ia akan mengganti kata-kata slanga Anda dengan kosakata baku yang ada di kamus besar. Hasilnya adalah sebuah estetika plastik. Ia sempurna, tapi mati rasa. Ia seperti buah pajangan di meja ruang tamu: warnanya merah merekah tanpa pori-pori, tapi saat digigit, ia hanya menawarkan rasa hambar dari bahan karet.

Menulis dengan “Darah”, Bukan dengan “Listrik”

Kenapa kita butuh tulisan yang sedikit kotor? Karena tulisan yang kotor itu memiliki “darah”, sedangkan tulisan yang terlalu rapi buatan mesin hanya memiliki “listrik”.

Saat seorang manusia menulis esai tentang kemiskinan, misalnya, dia tidak memulainya dengan membeberkan barisan angka statistik yang dingin. Dia mungkin memulainya dengan cerita tentang baunya bumbu mi instan yang menyengat dari dapur tetangga kosnya yang miskin, atau tentang suara batuk bapaknya yang tak kunjung sembuh karena tidak punya biaya ke rumah sakit. Proses mengingat bau dan suara itu adalah proses yang melibatkan emosi, memori, dan luka. Dan ketika emosi itu tumpah ke atas kertas, bentuknya sering kali tidak rapi.

Ada kemarahan di sana, ada kesinisan yang getir, atau ada humor gelap yang mungkin terasa sedikit menyinggung bagi sebagian orang yang hidupnya terlalu nyaman. Tulisan seperti ini terasa “kotor” karena ia berani menyentuh borok-borok realitas tanpa dibungkus oleh kain sutra eufemisme yang diplomatis.

Mesin benci kemarahan. Mesin benci kesinisan. Jika Anda memasukkan draf yang penuh amarah itu ke dalam AI, mesin akan menyensornya dengan sopan. Ia akan mengubah tulisan Anda menjadi sebuah laporan analisis sosial yang sangat tertib, objektif, dan… tidak berguna untuk menggerakkan hati siapa pun. Orang tidak akan pernah tergerak oleh barisan kalimat yang ditulis oleh sesuatu yang tidak pernah bisa merasakan perih.

Keindahan dalam Ketidaksempurnaan

Ada sebuah filosofi kuno di Jepang yang disebut Wabi-Sabi—sebuah cara pandang yang menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan, keretakan, dan kefanaan sebuah benda. Sebuah mangkuk keramik tua yang retak lalu direkatkan kembali dengan sekerat emas justru dianggap jauh lebih berharga dan indah daripada mangkuk kaca buatan pabrik yang mulus tanpa cela. Kenapa? Karena retakan itu menceritakan sebuah perjalanan, sebuah sejarah, dan sebuah kehidupan.

Sudah saatnya kita membawa filosofi Wabi-Sabi ini ke dalam meja tulis kita. Tulisan yang memiliki sedikit keretakan di dalamnya justru adalah tulisan yang memiliki wibawa. Pembaca zaman sekarang, yang setiap harinya sudah kelelahan dijejali oleh ribuan artikel “fast food” yang rapi di media sosial, sebenarnya sedang rindu pada retakan-retakan itu.

Ketika pembaca menemukan sebuah kalimat yang agak berantakan tapi jujur, mereka akan berhenti menggulir layar ponselnya. Mereka akan merasakan sebuah kehangatan. Mereka tahu bahwa di balik layar biner yang dingin itu, ada manusia asli yang sedang berbicara pada mereka. Manusia yang bisa salah, manusia yang punya prasangka, manusia yang kadang-kadang frustrasi, tapi manusia yang nyata. Pertemuan antardua jiwa manusia lewat perantara kata-kata yang tidak sempurna inilah yang menjadi puncak tertinggi dari aktivitas literasi.

Risiko Menjadi “Terlalu Bersih”

Apa bahayanya jika kita semua menjadi penulis yang terobsesi pada kebersihan dan kerapian tulisan? Bahayanya adalah matinya keberagaman bahasa.

Jika semua penulis menggunakan aplikasi penyunting bahasa atau AI untuk memoles karyanya, maka lambat laun kita akan kehilangan dialek, kita akan kehilangan slanga lokal, dan kita akan kehilangan cara-cara unik orang daerah dalam mengekspresikan gagasannya. Bahasa Indonesia yang kaya akan nuansa rasa ini akan diperas menjadi satu gaya bahasa yang seragam: Gaya Bahasa Brosur Hubungan Masyarakat.

Kita akan menjadi masyarakat yang berbicara dengan sangat sopan tapi tidak mengatakan apa-apa. Kita menjadi penakut untuk mengambil posisi dalam sebuah perdebatan batin karena takut kalimat kita dinilai “tidak baku” atau “terlalu emosional” oleh sistem digital. Kita sedang menjinakkan pikiran kita sendiri demi kepatuhan pada teknologi yang kita ciptakan.

Maka, menghadirkan tulisan yang sedikit kotor dan berantakan adalah sebuah tindakan perlawanan. Ini adalah cara kita untuk berteriak di tengah keheningan pabrik robot: “Saya bukan mesin! Saya punya cara sendiri untuk mengumpat, saya punya cara sendiri untuk merindu, dan saya tidak butuh izin dari algoritma untuk merangkai kalimat saya!”

Mengembalikan “Rasa” ke Atas Meja Tulis

Bagi rekan-rekan penulis yang hari ini sedang merasa cemas karena tulisannya tidak secepat atau serapi buatan AI, saya ingin menyarankan satu hal: berhentilah mengejar kesempurnaan mesin. Anda tidak akan pernah bisa menang bersaing melawan prosesor yang bisa memproses triliunan data dalam sedetik.

Gantilah target Anda. Jangan mengejar kesempurnaan, kejarlah “kejujuran”.

Saat Anda menulis draf pertama, biarkan tangan Anda bergerak tanpa beban. Jika ada kata kunci daerah yang muncul, pakai saja. Jika struktur kalimat Anda melompat karena pikiran Anda sedang menggebu-gebu, biarkan saja. Jangan buru-buru membuka aplikasi penyunting atau AI untuk merapikannya. Biarkan tulisan itu berdebu, biarkan ia sedikit berantakan, asalkan ia merekam dengan akurat apa yang sedang berkecamuk di dalam kepala Anda.

Tugas kita setelah menulis bukan memoles draf itu sampai menjadi plastik yang mengilap, melainkan memastikan apakah kejujuran rasa di dalamnya tidak hilang saat kita merapikan tata bahasanya. Sisakan ruang bagi ketidaksempurnaan itu. Biarkan pembaca Anda menemukan “retakan-retakan emas” di dalam esai Anda.

Mencintai Manusia yang Retak

Pembaca, dunia luar sana sudah terlalu penuh dengan kepalsuan yang dikemas secara rapi dan profesional. Kita sudah kenyang dengan janji-janji manis politik yang kalimatnya disusun oleh konsultan komunikasi terbaik, kita sudah muak dengan klarifikasi-klarifikasi pesohor yang teksnya dibuat oleh tim hukum agar terlihat tanpa cacat.

Di tengah kepalsuan yang higienis itu, sebuah tulisan yang sedikit kotor, berantakan, tapi ditulis dengan ketulusan yang telanjang akan selalu tampil memikat seperti oase di tengah gurun pasir. Ia mungkin tidak akan mendapatkan nilai sempurna di sekolah tata bahasa, ia mungkin tidak akan ramah terhadap penilaian SEO, tapi ia akan menetap lama di dalam ingatan manusia.

Jangan takut menjadi berantakan dalam berkarya, Pembaca. Manusia itu indah justru karena kita memiliki kemampuan untuk retak, salah, dan belajar kembali. Jangan serahkan keindahan yang mahal itu pada barisan kode biner yang tidak akan pernah tahu rasanya menjadi berantakan setelah patah hati.

Tetaplah menulis dengan keringat dan darah Anda sendiri. Biarpun blepotan, asalkan itu hidup.