Seni Menghilang dari Media Sosial Demi Tulisan yang Fokus

Saya mengambil sebuah keputusan yang oleh sebagian kawan agensi di Jakarta dianggap sebagai tindakan “bunuh diri karir”. Saya mematikan semua notifikasi aplikasi media sosial di ponsel saya, mengunci akun, lalu meletakkan gawai tersebut di dalam laci meja kerja yang paling bawah. Kunci laci itu saya titipkan pada istri saya dengan pesan yang sangat dramatis: “Jangan berikan kunci ini kepada saya, kecuali rumah kita kebakaran atau ada keadaan darurat keluarga.”

Awalnya, tiga hari pertama terasa seperti neraka jahanam bagi jempol saya. Ada rasa gatal yang luar biasa, sebuah kecemasan neurotik yang dalam dunia modern disebut FOMOFear of Missing Out. Saya merasa cemas jangan-jangan ada tren baru yang terlewat, jangan-jenis ada gosip politik yang belum saya komentari, atau jangan-jangan dunia sudah kiamat dan saya adalah orang terakhir yang tahu karena tidak membuka linimasa.

Namun, setelah seminggu berlalu, sebuah keajaiban yang sudah lama hilang dari hidup saya tiba-tiba kembali datang. Kamar kerja saya yang biasanya bising oleh interupsi digital mendadak berubah menjadi sebuah biara yang tenang. Kepala saya, yang biasanya penuh dengan remah-remah informasi sampah, perlahan-lahan mulai menjernih. Dan yang paling penting: saya bisa menyelesaikan satu esai panjang dalam sekali duduk tanpa sekalipun tergoda untuk melirik berapa jumlah Like yang masuk.

Di era di mana semua penulis dipaksa untuk selalu “tampil” dan berteriak di media sosial, saya ingin menawarkan sebuah tesis yang mungkin terdengar puritan tapi sangat mendesak: kita perlu belajar seni menghilang demi mengembalikan fokus tulisan kita.

Ekosistem Media Sosial adalah Musuh Alami Kedalaman

Mari kita bedah secara jujur apa yang dilakukan media sosial terhadap otak seorang penulis. Media sosial dirancang oleh para insinyur paling jenius di Silicon Valley dengan satu tujuan tunggal: mencuri perhatian Anda sedetik demi sedetik, lalu menjual perhatian tersebut kepada pengiklan. Mereka menggunakan dopamin—zat kimia di otak yang memicu rasa senang—setiap kali Anda menerima notifikasi, komentar, atau retweet.

Bagi seorang penulis, ini adalah racun yang mematikan otot-otot kontemplasi. Menulis esai yang berbobot itu menuntut proses yang bertolak belakang dengan logika media sosial. Menulis butuh waktu yang lama, butuh keheningan, butuh kesabaran untuk duduk diam menghadapi kertas kosong, dan butuh stamina mental untuk mempertahankan satu alur argumen selama berjam-jam.

Sementara itu, media sosial melatih otak kita untuk menjadi pelompat yang gelisah. Kita terbiasa berpindah dari satu isu ke isu lain dalam durasi lima detik. Akibatnya, saat kita mencoba duduk di depan laptop untuk menulis draf esai yang dalam, otak kita menolak. Otak kita merasa bosan jika tidak ada rangsangan visual atau validasi instan dalam waktu lima menit. Kita menjadi generasi penulis yang memiliki rentang perhatian (attention span) sependek ikan mas koki. Kita bisa menulis cuitan yang viral, tapi kita gagap saat disuruh merangkai argumen yang kokoh dalam seribu lima ratus kata.

AI dan Ilusi Kreativitas di Tengah Kebisingan

Kehadiran AI memperparah situasi ini dengan cara yang sangat halus. Karena otak kita sudah telanjur malas berpikir akibat kecanduan media sosial, ketika kita menemui jalan buntu saat menulis, kita tidak lagi mau memeras otak. Kita tidak lagi mau melamun dua jam untuk mencari satu metafora yang pas. Kita langsung mengambil jalan pintas: membuka aplikasi AI, memasukkan prompt, lalu membiarkan mesin yang melanjutkan sisa kalimatnya.

Media sosial membuat kita bising, dan AI membuat kita malas. Kombinasi keduanya adalah resep paling mujarab untuk melahirkan karya-karya yang dangkal. Kita mengira kita sedang produktif karena bisa posting setiap hari di media sosial dengan bantuan polesan kecerdasan buatan, padahal kita sebenarnya sedang menjadi mandor dari sebuah pabrik teks yang tidak memiliki jiwa.

Seni menghilang dari media sosial bukan berarti kita menjadi anti-teknologi atau menjadi manusia gua yang kuper. Menghilang adalah sebuah tindakan defensif untuk menyelamatkan sisa-sisa kedaulatan pikiran kita. Kita keluar dari kebisingan massal agar kita bisa kembali mendengarkan suara batin kita sendiri. Sebab, esai yang baik tidak pernah lahir dari ruang rapat yang bising, ia selalu lahir dari kamar sunyi tempat seorang manusia berdebat secara jujur dengan dirinya sendiri.

Menghilang untuk Menemukan Kembali “Suara”

Ketika Anda menghilang dari linimasa, sesuatu yang menarik akan terjadi pada tulisan Anda. Gaya bahasa Anda yang sempat larut dalam keseragaman diksi netizen akan pelan-pelan kembali. Anda tidak lagi menulis dengan kosakata yang sedang tren minggu ini hanya agar terlihat relevan. Anda kembali memilih kata karena kata itu jujur dan tepat secara rasa.

Saat berada di media sosial, kita secara tidak sadar selalu menulis dengan bayangan “sensor penonton”. Kita takut dihujat, kita takut tidak mendapatkan Like, kita takut dianggap tidak berpihak pada kubu yang benar. Ketakutan-ketakutan ini membuat tulisan kita menjadi penakut dan penuh kompromi. Kita menulis seperti seorang diplomat yang sedang membuat nota kesepahaman—sopan, hati-hati, dan hambar luar biasa.

Dengan menghilang, kita mematikan sensor penonton itu di draf pertama. Kita menjadi orang yang merdeka di depan laptop kita sendiri. Kita berani menulis hal-hal yang kontroversial secara jujur, kita berani menggunakan analogi yang kasar tapi pas, dan kita berani menertawakan kemunafikan dunia tanpa perlu khawatir akun kita akan dilaporkan massal oleh netizen yang tersinggung. Keberanian dan kebebasan inilah yang memberikan “wibawa” pada sebuah esai.

Kurasi Pengalaman, Bukan Kurasi Konten

Menulis esai butuh bahan baku berupa pengalaman hidup yang nyata. Dan media sosial adalah tempat di mana pengalaman hidup dipalsukan dan dipoles demi pencitraan. Orang-orang di media sosial sibuk mengurasi konten tentang hidup mereka agar terlihat bahagia, sukses, dan bijaksana.

Penulis yang terlalu lama nongkrong di media sosial akan mulai kehilangan kemampuan untuk menangkap realitas yang kusam di dunia nyata. Mereka mengira dunia ini hanya sebatas apa yang sedang tren di fyp atau linimasa Jakarta. Mereka lupa bahwa ada realitas lain yang jauh lebih jujur di pasar-pasar tradisional, di antrean semen Puskesmas desa, atau di warung burjo tempat para mahasiswa perantauan menghitung sisa uang saku dengan muka masygul.

Seni menghilang memberikan kita waktu untuk kembali turun ke bumi. Alih-alih menghabiskan tiga jam menggulir layar untuk melihat liburan orang lain, kita bisa menggunakan waktu itu untuk berjalan kaki tanpa tujuan, mengamati kerutan di dahi tukang rongsok, atau mendengarkan debat kusir bapak-bapak di pos ronda tentang harga pupuk yang naik. Pengalaman-pengalaman sensorik yang berdebu dan nyata inilah yang akan memberi nutrisi pada imajinasi kita—sesuatu yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh database algoritma AI mana pun.

Membangun Kemewahan Bernama “Fokus”

Di abad ke-21 ini, fokus adalah sebuah kemampuan langka yang harganya jauh lebih mahal daripada langganan aplikasi AI premium. Siapa pun yang bisa mempertahankan fokusnya selama tiga jam tanpa terdistraksi oleh ponsel adalah penguasa sejati di bidang kreatif.

Ketika Anda memutuskan untuk menghilang dari media sosial selama proses penulisan sebuah karya, Anda sedang berinvestasi pada kualitas. Anda memberikan ruang bagi ide-ide Anda untuk bertabrakan, mengendap, dan matang di dalam tungku perenungan. Anda tidak lagi mengejar kecepatan tayang, melainkan mengejar kedalaman makna.

Biarlah orang lain menganggap Anda kuno atau ketinggalan zaman karena jarang memperbarui status. Kehormatan seorang penulis tidak diukur dari seberapa sering namanya muncul di layar ponsel orang lain hari ini, melainkan dari seberapa lama tulisannya mampu menetap di kepala seseorang setelah mereka menutup bukunya. Menghilang sementara dari keriuhan adalah cara kita memastikan bahwa saat kita kembali mempublikasikan sebuah tulisan, tulisan itu adalah sebuah menara kejernihan, bukan sekadar tambahan kebisingan baru di internet.

Mengambil Kembali Kemudi Pikiran

Pembaca, gawai di tangan kita adalah alat yang hebat, tapi ia adalah tuan yang sangat kejam jika kita tidak memiliki nyali untuk mematikan layarnya. Jangan biarkan algoritma media sosial dan kepraktisan instan AI menjinakkan keliaran berpikir Anda.

Cobalah untuk mengambil jeda. Praktikkan seni menghilang ini secara bertahap. Mulailah dengan mematikan ponsel Anda selama dua jam setiap pagi khusus untuk menulis draf dengan otak Anda sendiri. Rasakan kembali pusingnya mencari kalimat pembuka, nikmati kembali kepuasan spiritual saat berhasil menyelesaikan satu paragraf yang utuh tanpa bantuan mesin.

Dunia luar sana mungkin akan terus berlari kesetanan mengejar viralitas dan otomatisasi. Biarkan saja mereka berlari. Tugas kita sebagai penulis esai adalah tetap diam di tempat, menjaga kewarasan, mengamati arus dengan jernih, dan mencatat hakikat kemanusiaan dengan jujur. Dan hal itu hanya bisa dilakukan jika kita berani menutup pintu dari kebisingan dunia luar.

Kembalilah ke meja sunyi Anda, Pembaca. Tarik napas dalam-dalam, matikan linimasa Anda, dan mulailah menulis dengan seluruh jiwa Anda yang merdeka.