Bahaya Menyerahkan Selera Kita pada Rekomendasi Mesin

Saya terduduk di depan layar televisi pintar di ruang tamu. Saya sedang lelah, otak saya rasanya seperti cucian yang belum diperas setelah seharian bekerja. Saya tidak tahu ingin menonton apa. Maka, seperti kebanyakan manusia modern lainnya, saya membiarkan kursor berhenti di kolom “Rekomendasi Untuk Anda”.

Mesin itu, dengan segala keangkuhan algoritmanya, menyodorkan deretan film yang temanya seragam: detektif, misteri, dan sedikit bumbu komedi gelap. Memang benar, itu genre kesukaan saya. Tapi setelah tiga puluh menit menonton salah satu film rekomendasinya, saya merasa ada yang hambar. Saya merasa seperti sedang disuapi makanan yang nutrisinya pas, kalori dicatat, tapi rasanya hambar luar biasa. Saya tidak merasa tertantang. Saya tidak merasa menemukan sesuatu yang baru. Saya hanya sedang mengonsumsi pengulangan dari apa yang sudah pernah saya sukai sebelumnya.

Di situlah saya tersadar akan sebuah horor yang lebih ngeri daripada film horor mana pun: kita sedang perlahan-lahan menyerahkan kedaulatan selera kita pada mesin. Kita sedang membiarkan barisan kode biner mendikte apa yang harus kita tonton, apa yang harus kita baca, apa yang harus kita dengar, dan pada akhirnya, siapa diri kita.

Penjara Nyaman Bernama Algoritma

Dulu, selera manusia terbentuk lewat proses petualangan yang sering kali penuh dengan “salah pilih”. Kita pergi ke toko buku, melihat sampul yang menarik, membelinya, lalu mungkin kecewa karena isinya jelek. Tapi dalam proses “kecewa” itulah kita belajar membandingkan. Atau, kita meminjam kaset dari teman yang seleranya aneh, lalu tiba-tiba telinga kita terbuka pada jenis musik yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Ada elemen kejutan, ada proses “tersesat” yang indah.

Sekarang, mesin menghilangkan proses tersesat itu. Algoritma didesain untuk membuat kita merasa nyaman. Ia mempelajari pola kita, lalu menyodorkan hal-hal yang serupa secara terus-menerus. Jika Anda sekali saja mengeklik video tentang konspirasi bumi datar karena penasaran, besok pagi linimasa Anda akan penuh dengan orang-orang yang meragukan gravitasi.

Inilah bahaya pertama: kita terjebak dalam “ruang gema” (echo chamber) selera. Kita tidak pernah lagi diajak untuk keluar dari zona nyaman. Selera kita tidak lagi berkembang; ia hanya menebal di satu titik. Kita menjadi pribadi yang fanatik pada satu pola dan menjadi asing—bahkan takut—pada hal-hal yang berbeda dari kebiasaan kita. Mesin tidak ingin kita berevolusi; mesin ingin kita tetap menjadi konsumen yang bisa ditebak.

Matinya Serendipitas dan Keajaiban Kebetulan

Dalam dunia kreatif, ada istilah serendipitas—sebuah keajaiban saat kita menemukan sesuatu yang berharga secara tidak sengaja. Serendipitas adalah bumbu paling lezat dalam kehidupan intelektual manusia. Ia adalah saat Anda berniat mencari buku tentang sejarah kopi, tapi malah menemukan buku tentang filsafat eksistensialisme yang mengubah hidup Anda.

Mesin membunuh serendipitas. Rekomendasi mesin bersifat linear dan prediktif. Ia tidak akan menyodorkan sesuatu yang jauh melenceng dari data historis Anda karena itu dianggap “risiko tinggi” bagi retensi pengguna. Padahal, pertumbuhan mental manusia sering kali terjadi justru karena kita mengambil risiko untuk mencoba hal-hal yang asing.

Ketika kita menyerahkan selera pada mesin, kita sedang menutup pintu bagi keajaiban-keajaiban kecil itu. Kita menjadi manusia yang hidup dalam garis lurus yang membosankan. Kita tahu persis apa yang akan kita konsumsi besok, karena mesin sudah menyiapkannya berdasarkan apa yang kita konsumsi kemarin. Kita menjadi robot biologis yang selera makannya sudah diprogram oleh server di Silicon Valley.

AI dan Standarisasi “Rasa”

Bahaya ini menjadi semakin nyata di era AI generatif. Sekarang, bukan cuma kurasi konten yang dikendalikan mesin, tapi produksinya pun mulai didikte oleh apa yang disukai massa. Penulis, pemusik, dan seniman mulai menggunakan AI untuk membedah “apa yang sedang tren” agar karya mereka masuk ke dalam algoritma rekomendasi.

Akibatnya, kita mendapati sebuah dunia yang seleranya mengalami standardisasi massal. Tulisan-tulisan di internet memiliki nada bicara yang hampir sama karena semuanya mengejar parameter “keterbacaan” yang ditetapkan mesin. Musik-musik di platform streaming memiliki struktur yang serupa agar masuk ke dalam daftar putar (playlist) otomatis.

Kita sedang membunuh keunikan individu demi kepatuhan pada algoritma. Keberanian untuk menjadi “aneh” atau “sulit dipahami” perlahan menghilang karena hal-hal seperti itu tidak akan direkomendasikan oleh mesin. Kita dipaksa menjadi seragam dalam selera agar mesin mudah mengelola kita sebagai data pemasaran.

Kehilangan Kemampuan untuk Memilih

Pernahkah Anda merasa bingung saat melihat ribuan pilihan di platform streaming, lalu akhirnya menyerah dan memilih apa pun yang ada di baris pertama? Itulah tanda bahwa otot “pemilih” di otak kita mulai atrofi atau menyusut karena jarang digunakan.

Menentukan selera adalah kerja intelektual yang berat. Ia membutuhkan kemampuan untuk menilai, membandingkan, dan mengkritik. Saat kita menyerahkan tugas itu pada mesin, kita sebenarnya sedang membiarkan otak kita menjadi malas. Kita kehilangan kemampuan untuk berargumen kenapa kita menyukai sesuatu. Jawaban kita hanya akan menjadi, “Ya, karena ini muncul di beranda saya.”

Kemalasan memilih ini berdampak jauh pada kewarasan kita. Orang yang tidak bisa menentukan seleranya sendiri adalah orang yang paling mudah dimanipulasi secara ideologis maupun politik. Jika Anda sudah terbiasa menerima rekomendasi musik tanpa bertanya, Anda juga akan terbiasa menerima rekomendasi “kebenaran” tanpa verifikasi. Selera adalah latihan dasar bagi kedaulatan pikiran.

Mengambil Kembali Kemudi Selera

Lantas, bagaimana caranya kita melawan penjajahan algoritma ini? Caranya adalah dengan secara sengaja menjadi “nakal” di depan mesin.

Mulailah dengan mencari sesuatu yang benar-benar di luar kebiasaan Anda. Pergilah ke toko buku fisik, tutup mata, dan ambil satu buku secara acak dari rak yang tidak pernah Anda kunjungi. Mintalah rekomendasi dari manusia nyata—teman yang seleranya paling menjengkelkan atau paling aneh menurut Anda. Dengarkan musik dari negara yang bahasanya tidak Anda mengerti.

Kita perlu mengembalikan unsur “tersesat” dalam petualangan intelektual kita. Kita harus berani mencoba hal-hal yang kemungkinan besar tidak akan kita sukai. Kenapa? Agar kita tahu batas-batas diri kita. Agar kita punya pembanding. Mengetahui apa yang kita benci itu sama pentingnya dengan mengetahui apa yang kita sukai untuk membentuk karakter selera yang kuat.

Bagi para penulis dan kreator, berhentilah membuat karya hanya untuk menyenangkan algoritma. Buatlah sesuatu yang membuat mesin bingung untuk mengategorikannya. Jadilah anomali. Anomali adalah tanda bahwa Anda masih manusia, bukan sekadar titik koordinat di dalam peta data perusahaan teknologi.

Menghargai Kerumitan Manusia

Manusia itu makhluk yang rumit, penuh kontradiksi, dan sering kali berubah-ubah. Hari ini kita mungkin suka mendengarkan musik metal, besok kita mungkin ingin menangis mendengar keroncong. Mesin benci kontradiksi ini karena ia mengacaukan prediksi. Tapi kontradiksi inilah keindahan kita.

Jangan biarkan profil digital Anda yang kaku itu mendefinisikan siapa Anda. Jangan biarkan rekomendasi mesin menyempitkan dunia Anda yang seharusnya luas dan tak bertepi. Selera adalah manifestasi dari pengalaman hidup, pertemuan-pertemuan tak terduga, dan luka-luka yang kita bawa. Mesin tidak punya pengalaman hidup, ia hanya punya data penggunaan.

Maka, setiap kali mesin menyodorkan pilihan dengan label “Pasti Anda Suka”, cobalah untuk sesekali menjawab, “Belum tentu!” lalu carilah sesuatu yang lain dengan tangan dan pikiran Anda sendiri.

Kedaulatan di Balik Layar

Pembaca, di tengah kepungan kecerdasan buatan yang semakin efisien, menjaga selera pribadi adalah sebuah tindakan perlawanan yang heroik. Ia adalah upaya kita untuk tetap menjadi subjek yang berdaulat, bukan sekadar objek pemasaran.

Jangan biarkan dunia Anda hanya selebar algoritma ponsel Anda. Keluarlah dari ruang gema itu. Bacalah buku yang sulit, tontonlah film yang membingungkan, dan dengarkanlah musik yang awalnya terasa mengganggu telinga Anda. Di situlah Anda akan menemukan kembali diri Anda yang otentik—diri yang tidak bisa diprediksi oleh mesin mana pun.

Jadilah tuan atas keinginan Anda sendiri. Jangan menyerahkan “kunci” batin Anda pada barisan kode yang tidak punya jiwa. Sebab pada akhirnya, manusia diukur bukan dari seberapa efisien dia mengonsumsi apa yang disodorkan padanya, melainkan dari seberapa berani dia memilih jalannya sendiri di tengah hutan informasi yang lebat.

Tetaplah menjadi anomali. Tetaplah menjadi manusia yang sulit ditebak.