Saya iseng menelusuri beberapa portal berita dan blog opini di internet. Saya membaca satu artikel, lalu pindah ke artikel lain, lalu ke blog berikutnya. Setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam, saya merasakan sebuah gejala aneh: saya merasa seperti sedang memakan nasi kotak masal di acara seminar kelurahan yang menu dan rasanya sama persis dari depan sampai belakang. Semuanya rapi, nasinya pulen, ayamnya matang, tapi tawar. Tidak ada sambal yang terlalu pedas hingga membuat keringat bercucuran, tidak ada sayur yang agak keasinan karena koki yang sedang jatuh cinta.
Semuanya seragam. Struktur kalimatnya serupa, pilihan katanya sopan dan terukur, dan kesimpulannya selalu diplomatis dengan bumbu-bumbu “di satu sisi… namun di sisi lain…”. Saya yakin, sebagian besar dari tulisan itu lahir dari rahim yang sama: sebuah kotak dialog bernama Artificial Intelligence.
Inilah krisis baru kita. Di era di mana mesin bisa memproduksi jutaan kata dalam sekejap, kita sedang dijebak dalam sebuah estetika keseragaman yang membosankan. Dan di tengah situasi seperti ini, hal paling radikal yang bisa dilakukan seorang penulis bukan lagi menjadi paling pintar atau paling cepat, melainkan memiliki keberanian untuk menjadi berbeda.
Penjara Rata-Rata yang Nyaman
Kenapa output AI itu seragam? Jawabannya sederhana: karena ia adalah mesin statistik. Ia dilatih untuk mencari nilai tengah, mencari apa yang paling mungkin diterima oleh mayoritas orang. Ia adalah perangkum selera massal. Jika Anda meminta AI menulis tentang “kopi”, ia akan memberikan narasi tentang aroma, ketenangan, dan inspirasi. Ia tidak akan menulis tentang bagaimana kopi hitam yang terlalu pahit mengingatkan Anda pada pahitnya cicilan motor yang belum lunas, kecuali Anda menyuruhnya—dan bahkan jika Anda menyuruhnya, rasanya akan tetap terasa seperti “akting”.
Masalahnya, banyak penulis hari ini merasa “aman” di dalam penjara rata-rata itu. Mereka takut kalau menulis dengan gaya yang terlalu meledak-ledak, mereka akan dianggap tidak profesional. Mereka takut kalau menggunakan istilah daerah atau slanga yang nyeleneh, mereka akan dianggap tidak intelek. Akhirnya, mereka menyerahkan “suara” mereka kepada mesin agar terlihat standar.
Padahal, standar adalah musuh utama kreativitas. Standar adalah jalan pintas menuju kelupaan. Sesuatu yang standar mungkin tidak akan dihujat, tapi ia juga tidak akan pernah dicintai. Keberanian menjadi berbeda berarti berani keluar dari zona nyaman “rata-rata” yang ditawarkan oleh algoritma.
Keunikan Adalah Benteng Terakhir
Saya sering merenung, apa yang membuat esai-esai lama dari para pendahulu kita tetap enak dibaca sampai sekarang? Kenapa tulisan Mahbub Djunaidi tetap terasa segar meski situasi politiknya sudah lewat puluhan tahun? Jawabannya karena mereka punya “suara”. Mereka punya karakter yang begitu kuat sehingga tanpa melihat nama penulisnya pun, kita tahu itu tulisan siapa.
Karakter itu lahir dari keberanian untuk menjadi subjektif. Subjektivitas adalah sesuatu yang dihindari oleh AI karena dianggap bias. Padahal, dalam dunia literasi, bias adalah bumbu. Kita ingin tahu apa yang Anda pikirkan, bukan apa yang internet pikirkan secara kolektif.
Di tengah banjir output AI yang seragam, keunikan personal adalah satu-satunya benteng pertahanan terakhir kita sebagai penulis. Jika tulisan kita bisa digantikan oleh satu perintah di ChatGPT, maka sebenarnya kita tidak sedang menulis; kita sedang melakukan administrasi kata-kata. Keberanian menjadi berbeda adalah cara kita menegaskan bahwa ada manusia yang masih bernapas, yang masih punya prasangka, dan yang masih punya rasa humor yang aneh di balik setiap paragraf yang kita susun.
Menolak Estetika “Plastik”
Ada sebuah kecenderungan di era modern ini untuk menyukai segala sesuatu yang mulus. Wajah yang mulus karena filter, kehidupan yang mulus di Instagram, dan tulisan yang mulus tanpa cacat tata bahasa. AI adalah penyedia kemulusan itu. Ia akan merapikan semua kalimat Anda yang berantakan, menghilangkan pengulangan kata yang dianggap tidak perlu, dan memastikan alurnya logis.
Namun, kemulusan itu sering kali terasa seperti plastik. Mengkilap tapi mati.
Keberanian menjadi berbeda adalah keberanian untuk mempertahankan “cacat” yang manusiawi. Kadang, sebuah pengulangan kata yang dilakukan secara sengaja justru memberikan penekanan emosional yang dahsyat. Kadang, sebuah kalimat yang sengaja dibuat panjang dan berkelok-kelok justru mampu menggambarkan keruwetan pikiran penulisnya dengan lebih jujur daripada kalimat pendek yang rapi.
Kita harus berani menolak estetika plastik ini. Jangan biarkan AI menghaluskan semua “gerigi” dalam tulisan Anda. Gerigi itulah yang membuat tulisan Anda bisa “menggigit” pikiran pembaca. Tulisan yang terlalu licin hanya akan masuk ke telinga kiri dan keluar ke telinga kanan tanpa meninggalkan bekas luka atau kenangan apa pun.
Menulis dengan “Daging” dan “Darah”
Seorang penulis yang berani menjadi berbeda adalah penulis yang berani memasukkan “daging” dan “darah” ke dalam tulisannya. Maksudnya, ia menyertakan pengalaman hidup yang nyata, yang tidak ada dalam database digital mana pun.
AI bisa menjelaskan tentang “kesedihan”, tapi ia tidak tahu bagaimana rasanya melihat piring kosong di meja makan saat anak-anak sedang lapar. Ia bisa mendeskripsikan “kemarahan”, tapi ia tidak tahu bagaimana rasanya dikhianati oleh sahabat karib demi uang sepeser. Pengalaman-pengalaman yang berdarah-darah inilah yang harus kita tonjolkan untuk melawan keseragaman output mesin.
Jangan takut untuk menjadi emosional. Jangan takut untuk menjadi personal. Dunia saat ini sudah terlalu penuh dengan informasi yang dingin dan objektif. Yang sedang kita butuhkan adalah kehangatan subjektivitas manusia. Jadilah penulis yang berani menunjukkan kerentanan Anda, karena di situlah letak kekuatan sejati yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh prosesor secanggih apa pun.
Risiko Menjadi Berbeda
Tentu saja, menjadi berbeda itu ada risikonya. Anda mungkin akan dianggap aneh. Anda mungkin tidak akan mendapatkan angka “readability” yang sempurna di aplikasi penyunting teks. Anda mungkin akan didebat oleh orang-orang yang sudah terbiasa mengonsumsi konten-konten “fast food” yang seragam.
Tapi, bukankah itu harga yang layak dibayar untuk menjaga kewarasan dan harga diri intelektual?
Penulis yang hanya membebek pada standar AI adalah penulis yang sedang menyiapkan pemakamannya sendiri. Jika tugas kita hanya untuk menghasilkan tulisan yang standar, maka mesin akan melakukannya jauh lebih baik, lebih cepat, dan lebih murah daripada kita. Satu-satunya alasan kenapa kita masih layak dibayar dan dibaca adalah karena kita bisa memberikan sesuatu yang tidak standar. Sesuatu yang hanya bisa lahir dari kombinasi unik antara sejarah hidup, cara pandang, dan imajinasi kita sebagai individu.
Membangun Selera yang Merdeka
Salah satu dampak paling mengerikan dari seragamnya output AI adalah penumpulan selera publik. Jika setiap hari pembaca disuguhi tulisan yang seragam, mereka akan mulai menganggap itulah standar tulisan yang “benar”. Mereka akan mulai merasa terganggu saat membaca tulisan yang sedikit “berisik” atau tidak biasa.
Tugas kita sebagai penulis adalah menjaga agar selera pembaca tetap merdeka. Kita harus terus-menerus memberikan kejutan. Kita harus berani mengguncang kenyamanan mereka dengan diksi-diksi yang tak terduga dan argumen-argumen yang menantang arus utama.
Jangan mau didikte oleh apa yang disukai oleh algoritma media sosial. Algoritma menyukai keseragaman karena keseragaman mudah dipetakan dan dijual. Keunikan manusia adalah anomali bagi algoritma, dan sebagai penulis, kita harus bangga menjadi anomali tersebut.
Merayakan Ketidaksempurnaan Manusia
Pembaca, di tengah kepungan kecerdasan buatan yang semakin hebat dalam meniru kita, mari kita rayakan ketidaksempurnaan kita. Mari kita rayakan keberanian untuk menjadi berbeda.
Jangan malu jika tulisan Anda masih terasa “mentah” atau punya gaya bahasa yang mungkin dianggap kuno oleh anak-anak zaman sekarang. Selama itu adalah suara jujur dari dalam kepala Anda, maka itu memiliki nilai yang jauh lebih tinggi daripada jutaan kata yang dihasilkan oleh mesin.
Menjadi berbeda di era AI bukan lagi soal gaya-gayaan, melainkan soal keberlangsungan hidup kita sebagai makhluk yang berpikir. Jangan biarkan dunia ini menjadi tempat yang membosankan karena semua orang menulis dengan gaya yang sama. Tetaplah menjadi pribadi yang unik, tetaplah memiliki keberanian untuk menjadi subjektif, dan tetaplah menulis dengan seluruh jiwa Anda.
Dunia mungkin sedang bergerak menuju otomatisasi, tapi biarlah dunia literasi tetap menjadi milik para pemberontak yang berani memegang kendali atas pikirannya sendiri.
Tetaplah berani tampil beda, Pembaca. Karena hanya dengan begitulah, kita tetap bisa disebut sebagai manusia yang benar-benar hidup.




