Beberapa waktu lalu, saya melintasi area clearance sale di sebuah toko buku besar. Di sana, di dalam tumpukan buku-buku berdiskon 70 hingga 90 persen, saya menemukan pemandangan yang cukup mengharukan. Judul-judul yang setahun—atau bahkan hanya enam bulan—lalu nangkring dengan gagahnya di rak New Arrival dan dibicarakan semua orang di media sosial, kini bertumpuk layaknya rongsokan intelektual yang tak lagi diinginkan.
Kejadian ini membuat saya merenung. Kita sedang hidup di zaman yang serba cepat, di mana popularitas bisa diraih hanya dengan satu jentikan jari algoritma, namun bisa hilang secepat hembusan angin. Inilah yang saya sebut sebagai Fenomena Buku Viral: ia meledak dalam semalam, namun sering kali sudah dilupakan bahkan sebelum cicilan pertama royaltinya cair.
Kekuatan Momentum Digital yang Semu
Dulu, sebuah buku menjadi populer melalui proses yang panjang dan melelahkan. Ia harus melewati kurasi editor, dibedah oleh para kritikus di surat kabar Minggu, hingga tersebar lewat testimoni mulut ke mulut yang tulus. Sekarang, proses itu telah dipangkas habis oleh kekuatan media sosial. Sebuah buku bisa viral hanya karena seorang influencer mengunggah foto estetik sampulnya, atau karena ada sebuah kutipan galau dari dalamnya yang cocok dijadikan latar lagu sedih di TikTok.
Ledakan ini luar biasa dahsyat. Ribuan eksemplar ludes dalam hitungan jam. Penerbit kalang kabut melakukan cetak ulang kedua, ketiga, hingga kelima. Penulisnya mendadak jadi narasumber di mana-mana. Namun, sering kali ledakan ini adalah momentum yang semu. Orang membeli bukan karena butuh isinya, melainkan karena takut merasa tertinggal dari tren yang sedang berlangsung. Mereka tidak membeli buku; mereka membeli tiket untuk ikut serta dalam keriuhan digital.
Isi yang Hanya Sebatas Kulit
Masalah utama dari buku-buku yang viral secara instan ini biasanya terletak pada kedalamannya. Karena banyak buku ini lahir dari rahim tren media sosial, isinya sering kali hanya berupa perluasan dari konten-konten singkat yang sudah ada. Jika asalnya adalah utas Twitter yang viral, maka bukunya sering kali hanya berupa kumpulan utas yang diberi tambahan sedikit narasi agar tebalnya mencapai 200 halaman.
Hasilnya? Sebuah karya yang tidak memiliki daya tahan. Ia enak dibaca sekali duduk, seperti makan mi instan yang gurih di lidah tapi tidak memberikan gizi bagi pikiran. Begitu tren media sosial tersebut berganti—dan kita tahu tren berubah secepat cuaca di pegunungan—buku tersebut kehilangan relevansinya. Ia tidak memiliki “nyawa” yang mampu membuatnya tetap dibaca sepuluh tahun lagi. Ia hanyalah artefak dari sebuah tren yang sudah basi.
Tragedi Penulis yang Terjebak Momentum
Bagi penulisnya sendiri, fenomena ini bisa menjadi jebakan yang mematikan kreatifitas. Ketika buku pertama meledak karena viral, muncul tekanan luar biasa dari penerbit dan pembaca untuk segera mengeluarkan buku kedua yang “serupa”. Penulis dipaksa mengeksploitasi momentum tersebut sebelum mendingin.
Akibatnya, proses perenungan yang mendalam ditinggalkan. Riset yang serius dianggap membuang waktu. Penulis bukan lagi berkarya, melainkan berproduksi untuk memenuhi selera pasar yang sangat haus tapi mudah bosan. Ketika pasar akhirnya jenuh, sang penulis sering kali ikut terhempas. Ia dilupakan bersama bukunya, karena publik tidak benar-benar mencintai tulisannya, melainkan hanya menyukai “keviralan”-nya.
Rak Buku yang Menjadi Kuburan Tren
Jika Anda berkunjung ke rumah seorang teman dan melihat rak bukunya, Anda akan menemukan jejak-jejak tren yang sudah lewat. Ada buku tentang cara cepat kaya yang viral dua tahun lalu, buku motivasi dari tokoh yang sekarang sudah terlupakan, hingga novel-novel remaja yang judulnya nyaris seragam.
Buku-buku ini kini hanya menjadi pajangan yang berdebu. Mereka pernah menjadi “bintang” di masanya, namun sekarang tidak lagi sanggup memicu percakapan. Ini adalah peringatan bagi kita semua bahwa buku sebagai benda fisik mungkin bisa bertahan puluhan tahun, tapi buku sebagai gagasan bisa mati hanya dalam hitungan hari jika ia tidak memiliki akar yang kuat pada nilai-nilai kemanusiaan yang abadi.
Belajar dari Buku-Buku “Sunyi”
Di sisi lain, kita melihat buku-buku yang saat terbitnya sunyi-sunyi saja. Tidak ada peluncuran mewah, tidak ada dukungan influencer ternama, dan tidak pernah viral. Namun, buku-buku ini terus dicetak ulang tahun demi tahun. Mengapa? Karena mereka menawarkan sesuatu yang melampaui tren: kejujuran, kedalaman, dan keindahan bahasa yang tak lekang oleh waktu.
Buku-buku sunyi ini adalah pelari maraton, sementara buku viral adalah pelari sprint. Dalam jangka panjang, pelari maratonlah yang akan tetap diingat dan terus memberikan pengaruh. Mereka tidak butuh ledakan di media sosial untuk membuktikan kualitasnya; kualitasnyalah yang secara perlahan namun pasti menciptakan pasarnya sendiri.
Menuju Literasi yang Lebih Waras
Kita tidak bisa melarang buku untuk viral. Viralitas adalah berkah jika ia membawa pesan yang penting ke khalayak luas. Namun, kita perlu menjadi pembaca yang lebih waras. Jangan membeli buku hanya karena ia sedang ramai dibicarakan. Tanyakan pada diri sendiri: “Apakah buku ini akan tetap berarti bagi saya setahun dari sekarang?”
Bagi penerbit dan penulis, tantangannya adalah bagaimana menggunakan momentum viralitas sebagai pintu masuk untuk menyajikan karya yang tetap berbobot. Jangan jadikan viralitas sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat distribusi.
Pada akhirnya, sebuah buku yang baik adalah buku yang meskipun sudah kita baca berkali-kali, ia tetap memberikan sesuatu yang baru. Ia adalah teman yang setia, bukan sekadar kenalan yang datang saat kita pesta lalu menghilang saat kita berduka. Mari kita berhenti mengejar ledakan semalam, dan mulailah membangun warisan pemikiran yang mampu bertahan melintasi zaman. Sebab, apa gunanya meledak di media sosial jika di hati pembaca ia hanya lewat sekejap mata?




