Menulis Sebagai Warisan, Bukan Sekadar Konten Harian

Saya tidak sengaja melihat profil media sosial seorang anak muda yang mencantumkan profesi mentereng di biodatanya: Content Creator & Daily Wordsmith. Iseng-iseng, saya melihat apa yang dia hasilkan setiap hari. Luar biasa produktif. Dalam sehari, dia bisa mengunggah lima hingga sepuluh tulisan pendek. Ada tips motivasi pagi, ada ulasan tren siang hari, hingga kutipan puitis menjelang tidur malam.

Namun, saat saya mencoba membaca ulang apa yang dia unggah tiga hari lalu, saya mendapati kenyataan yang getir: tulisan-tulisan itu sudah menguap tanpa bekas. Jangankan membekas di hati saya sebagai pembaca, si pembuatnya pun mungkin sudah lupa apa yang dia ketik 72 jam yang lalu. Tulisan-tulisan itu diperlakukan seperti es batu di pinggir jalan trans-Jawa pada siang hari bolong; ada saat ditaruh, lalu mencair dan hilang dalam hitungan menit, digantikan oleh balok es yang baru.

Inilah potret buram dunia literasi kita hari ini. Kita sedang terjebak dalam industri yang memaksa kita memperlakukan kata-kata sebagai “konten harian”—sebuah komoditas fana yang dibuat hanya untuk memberi makan algoritma yang kelaparan. Kita lupa bahwa menulis, pada marwahnya yang paling suci, adalah aktivitas menanam pohon yang buahnya bisa dipetik oleh anak cucu kita.

Kita harus berani berhenti sejenak dari kegilaan ini dan mulai memposisikan kembali aktivitas mengetik kita: menulis sebagai warisan, bukan sekadar konten harian.

Jebakan “Kejar Tayang” di Pabrik Digital

Mari kita tengok bagaimana ekosistem digital hari ini mendikte para penulis. Ada tekanan konstan yang bernama consistency of posting. Jika Anda tidak mengunggah tulisan setiap hari, Anda dianggap mati oleh algoritma. Jangkauan akun Anda akan dikebiri, dan nama Anda akan ditenggelamkan ke dasar sumur digital yang paling gelap.

Demi bertahan hidup dalam kompetisi yang absurd ini, penulis manusia mulai mengadopsi cara kerja mesin. Apalagi sekarang ada AI yang siap sedia memberikan ratusan draf artikel dalam hitungan detik. Penulis tidak lagi punya waktu untuk mengendapkan gagasan. Hari ini ada isu hangat, jam ini juga harus jadi tulisan, menit ini juga harus dipasang di linimasa.

Hasilnya adalah apa yang saya sebut sebagai “Fast Food Literasi”. Ia instan, ia mengenyangkan rasa penasaran sesaat, tapi ia tidak memiliki nutrisi intelektual. Ia tidak dirancang untuk bertahan lama. Konten harian seperti ini hanya berumur 24 jam—setelah itu, ia akan terkubur oleh jutaan konten harian lain yang diproduksi oleh operator prompt lainnya. Kita sedang melelahkan diri untuk menciptakan sesuatu yang fana.

Perbedaan Konten dan Warisan

Lantas, apa bedanya konten harian dan sebuah warisan? Bedanya ada pada “daya hidup” (daya tahan).

Konten harian dibuat untuk melayani tren. Ia sangat bergantung pada apa yang sedang dibicarakan orang hari ini. Jika hari ini orang sedang ribut soal gaya hidup seorang pesohor, maka konten harian akan membahas itu. Begitu isu pesohor itu basi, maka tulisan tersebut tidak lagi memiliki nilai guna. Ia mati.

Sementara itu, warisan dibuat untuk melayani hakikat kemanusiaan. Seorang penulis yang berniat meninggalkan warisan tidak akan sudi membuang energinya hanya untuk ikut-ikutan berteriak di tengah riuh rendahnya gosip mingguan. Ia akan memilih untuk menulis tentang hal-hal yang sifatnya asasi: tentang ketakutan manusia menghadapi usia tua, tentang getirnya perjuangan seorang ayah di pasar tradisional, atau tentang kemunafikan berlapis yang sering kali dibungkus oleh kesopanan formal.

Tulisan yang diposisikan sebagai warisan tidak akan basi dalam waktu seminggu, sebulan, atau bahkan seabad. Esai-esai yang ditulis oleh Mahbub Djunaidi puluhan tahun lalu, misalnya, masih sangat renyah dan menampar wajah kita hari ini karena yang dia potret bukan sekadar peristiwa politik zamannya, melainkan watak jenaka dan bebalnya manusia Indonesia yang tidak berubah lintas generasi. Itulah warisan.

AI Bisa Membuat Konten, Tapi Tidak Bisa Mewariskan Jiwa

Di era modern yang serba otomatis ini, AI adalah raja dari segala konten harian. Jika Anda meminta mesin untuk membuat sepuluh artikel tips produktivitas kerja untuk diposting setiap hari selama sebulan, ia akan memberikannya dengan senang hati, lengkap dengan tagar-tagar yang disukai algoritma. Mesin sangat ahli dalam membuat tulisan yang “layak tayang”.

Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh AI: “warisan batin”.

AI tidak memiliki sejarah hidup. Ia tidak tahu rasanya tumbuh besar di sebuah gang sempit di pinggiran kota, mendengar suara bapak yang batuk-batuk karena rokok kretek, sambil menatap langit-langit kamar yang bocor saat hujan. Pengalaman hidup yang spesifik, personal, dan penuh dengan aroma keringat manusia itulah yang menjadi bahan bakar utama sebuah warisan.

Saat Anda menulis dengan memasukkan seluruh memori, luka, dan kejujuran Anda, Anda sedang memindahkan sebagian dari eksistensi Anda ke dalam barisan kalimat. Tulisan itu menjadi hidup karena ia memiliki “pemilik” yang nyata. Pembaca di masa depan tidak mencari tulisan yang sempurna secara SEO, mereka mencari jejak-jejak kemanusiaan dari masa lalu yang bisa membuat mereka merasa dipahami.

Menolak Menjadi Buruh Kasar Algoritma

Menulis sebagai warisan menuntut kita untuk memiliki keberanian bersikap “kikir” terhadap waktu kita di media sosial. Kita harus berani mengatakan “tidak” pada tuntutan kejar tayang harian yang melelahkan otak.

Lebih baik Anda menulis satu esai dalam sebulan—atau bahkan satu esai dalam tiga bulan—tapi esai itu dikerjakan dengan proses kontemplasi yang mendalam. Anda membaca buku-buku tua sebagai referensi, Anda berjalan kaki ke pasar untuk melakukan observasi, dan Anda membiarkan draf tulisan Anda mengendap selama seminggu di dalam laptop untuk kemudian dibongkar lagi bagian-bagian yang dirasa kurang jujur.

Proses yang lambat dan berdarah-darah ini memang tidak disukai oleh algoritma Silicon Valley. Anda mungkin akan dianggap “tidak aktif” oleh sistem. Tapi ingatlah, Pembaca, Anda adalah seorang penulis, seorang pemikir yang merdeka, bukan buruh pabrik konveksi digital yang dibayar per potong kain konten.

Kehormatan Anda tidak ditentukan oleh seberapa sering nama Anda muncul di linimasa orang lain hari ini, melainkan oleh seberapa dalam pemikiran Anda mampu menetap di kepala seseorang setelah mereka mematikan gawai mereka.

Meninggalkan Kompas bagi Generasi Masa Depan

Kenapa kita harus berpikir tentang warisan? Karena dunia saat ini sedang mengalami krisis kedalaman. Banjir konten tanpa makna membuat generasi muda tumbuh dalam lingkungan yang serba instan dan dangkal. Mereka terbiasa mendapatkan kesimpulan dalam durasi video lima belas detik.

Jika para penulis yang waras juga ikut-ikutan terjun menjadi produsen konten instan, maka siapa lagi yang akan menyediakan “ruang tenang” bagi pikiran mereka? Tulisan yang diposisikan sebagai warisan berfungsi seperti kompas batin. Ia memberikan arah di tengah badai informasi yang membingungkan.

Menulislah dengan bayangan bahwa tulisan Anda akan dibaca oleh anak cucu Anda suatu hari nanti, saat Anda sudah menyatu dengan tanah. Buatlah mereka tahu bagaimana cara kakek buyutnya berpikir menghadapi era transisi teknologi yang gila-gilaan ini. Wariskan pada mereka sebuah keberanian untuk tetap menjadi manusia yang utuh, yang tidak membebek pada tren massa.

Penutup

Pembaca, mari kita evaluasi kembali niat kita setiap kali meletakkan jari di atas keyboard. Apakah kita sedang mengetik karena dikejar setoran harian media sosial, atau karena kita benar-benar memiliki sebuah kebenaran yang mendesak untuk dibagikan kepada dunia?

Jangan mau dijinakkan oleh angka-angka views dan likes yang sifatnya semu dan fana itu. Semua angka itu akan hilang saat server perusahaan media sosial itu mati atau saat trennya berganti. Namun, tulisan yang ditulis dengan kejujuran batin dan kedalaman intelektual akan terus hidup, mengembara dari satu kepala ke kepala lain, melintasi sekat-sekat zaman.

AI boleh saja membanjiri internet dengan triliunan konten harian gratisan yang memusingkan kepala. Biarkan saja. Tugas kita bukan menyaingi kecepatan mereka. Tugas kita adalah menjaga agar marwah bahasa tetap luhur, tetap memiliki bobot, dan tetap mampu menjadi tempat berteduh bagi jiwa-jiwa yang lelah.

Menulislah untuk keabadian, Pembaca. Wariskan pikiran Anda dengan bangga, biarpun prosesnya lambat dan melelahkan. Karena pada akhirnya, yang akan diingat oleh sejarah bukanlah mereka yang paling bising setiap hari, melainkan mereka yang suaranya mampu menembus batas waktu. Selamat menanam pohon pikiran Anda. Tetaplah waras di tengah kepungan konten-konten instan.