Beberapa waktu yang lalu, saya kedatangan seorang anak muda di rumah. Dia membawa segelas kopi susu kekinian dan sebuah keresahan yang tampaknya sudah mengendap lama di kepalanya. Dia mengaku sebagai seorang blogger yang sedang kehilangan gairah.
“Mas,” katanya dengan nada frustrasi, “Saya bingung. Setiap kali saya mau menulis, kepala saya penuh dengan pertanyaan: Apakah judul ini bakal diklik orang? Apakah topik ini ramah SEO? Apakah netizen bakal tersinggung kalau saya pakai diksi ini? Akhirnya, saya cuma mentok di draf pertama. Saya merasa tulisan saya nggak punya rasa lagi.”
Saya memandangi anak muda itu dengan rasa kasihan sekaligus rasa cemas yang mendalam. Keresahan dia bukanlah anomali, melainkan penyakit endemik yang sedang menyerang hampir seluruh kreator di era digital saat ini. Kita sedang hidup di zaman di mana tulisan diperlakukan seperti produk pabrikan: harus memenuhi selera pasar, harus patuh pada algoritma, dan harus ramah terhadap kenyamanan publik.
Kita terlalu sibuk menulis untuk memuaskan orang lain, memuaskan mesin pencari, atau memuaskan mandor digital bernama Artificial Intelligence. Kita lupa pada satu hakikat paling dasar yang membuat aktivitas mengetik atau menggoreskan pena menjadi sesuatu yang sakral: menulis, pada mulanya, adalah sebuah upaya menyelamatkan diri sendiri.
Maka, mari kita dudukkan kembali perkara ini pada tempatnya yang waras. Menulislah untuk diri sendiri dahulu, baru untuk orang lain.
Meluruskan Niat di Tengah Kebisingan Digital
Mari kita jujur pada diri sendiri. Kenapa dulu kita pertama kali ingin menulis? Sebelum ada urusan honor, sebelum ada angka statistik pageview, dan sebelum ada urusan panjat sosial di media sosial. Kita menulis karena ada sesuatu yang menyumbat di dalam dada kita. Ada rasa jengkel yang tidak tersampaikan, ada rasa sedih yang tidak tertampung oleh air mata, atau ada rasa heran yang membuat kita tidak bisa tidur di malam hari.
Menulis pada awalnya adalah proses terapi mandiri. Kita menulis untuk merapikan kekacauan yang ada di dalam kepala kita sendiri. Pikiran manusia itu berantakan, melompat-lompat, dan sering kali kontradiktif. Dengan menuliskannya menjadi barisan kalimat, kita sedang memaksa pikiran kita untuk duduk tertib, berdialog dengan jujur, dan mengenali siapa diri kita yang sebenarnya.
Ketika Anda mengubah urutan itu—menulis untuk orang lain dulu sebelum untuk diri sendiri—Anda sebenarnya sedang menyerahkan kunci kedaulatan batin Anda. Anda menjadi penulis kompromis yang penakut. Anda mulai memilah dan memilih kata bukan karena kata itu jujur, melainkan karena kata itu “aman”. Hasilnya? Tulisan Anda mungkin akan disukai oleh algoritma, tapi ia akan kehilangan “suara” yang otentik. Ia menjadi tulisan yang kering, steril, dan tanpa nyawa.
Jebakan “Menyenangkan Semua Orang”
Di era modern yang serba terhubung ini, godaan untuk menyenangkan semua orang sangatlah besar. AI memfasilitasi hal itu dengan sangat baik. Jika Anda meminta AI memoles tulisan Anda agar “aman dan profesional”, mesin akan membuang semua diksi yang tajam, menghapus humor yang sedikit getir, dan merapikan argumen Anda menjadi sesuatu yang diplomatis bin membosankan.
Jika Anda menelan mentah-mentah standar itu, Anda sedang menulis untuk menyenangkan semua orang. Dan di dunia literasi, menulis untuk menyenangkan semua orang adalah rumus paling mutakhir untuk menjadi tidak berarti bagi siapa pun.
Saat Anda menulis untuk diri sendiri dahulu, Anda tidak peduli apakah dunia akan setuju atau tidak. Anda hanya peduli pada satu hal: apakah kalimat ini sudah dengan jujur mewakili apa yang saya rasakan? Apakah diksi “nggateli” ini sudah pas untuk menggambarkan kekesalan saya melihat birokrasi yang ruwet? Keberanian untuk mengabaikan penilaian orang lain di draf pertama inilah yang melahirkan tulisan-tulisan besar yang bernyawa.
Pembaca itu cerdas, Pembaca. Mereka bisa mencium bau kepalsuan dari tulisan yang dibuat hanya demi menyenangkan pasar. Sebaliknya, mereka akan sangat menghargai sebuah tulisan yang meskipun berantakan, tapi ditulis dengan kejujuran yang telanjang. Ketika Anda berhasil jujur pada diri sendiri, secara ajaib, tulisan Anda justru akan menemukan pembacanya sendiri yang memiliki frekuensi jiwa yang sama.
Esai Bukan Brosur Hubungan Masyarakat
Esai yang bagus bukanlah brosur hubungan masyarakat yang bertugas memoles citra agar terlihat sempurna. Esai adalah rekaman pergulatan batin manusia yang penuh dengan cacat, salah, dan ragu.
Kalau saya menulis esai tentang kemunafikan, saya tidak memulainya dengan menuding muka orang lain. Saya memulainya dengan menertawakan kemunafikan yang ada di dalam diri saya sendiri—bagaimana saya sering kali mengkhotbahi orang lain tentang kesederhanaan tapi diam-diam masih tergoda membeli barang-barang yang tidak saya butuhkan.
Proses menertawakan diri sendiri itu hanya bisa terjadi jika kita menulis untuk diri kita dulu. Kita menempatkan diri kita sebagai objek bedah. Kita memeriksa borok-borok di dalam pikiran kita tanpa rasa takut.
AI tidak bisa melakukan ini. AI tidak punya diri untuk diperiksa. Ia tidak tahu rasanya merasa bersalah setelah berbohong. Ia tidak tahu rasanya rindu pada masa kecil yang miskin tapi bahagia. Jika Anda menyerahkan tulisan Anda pada logika mesin sejak awal, Anda sedang membuang seluruh bahan baku kemanusiaan yang berharga itu.
Menyembuhkan Diri dari Candu Validasi
Menulis untuk diri sendiri adalah obat penawar yang paling manjur dari penyakit candu validasi digital. Hari ini, banyak penulis yang kesehatan mentalnya naik-turun berdasarkan jumlah Like dan Share. Jika tulisan mereka sepi peminat, mereka merasa gagal, merasa bodoh, dan akhirnya berhenti menulis.
Itu terjadi karena mereka menggantungkan kebahagiaan berkarya pada respons orang lain. Kalau Anda menulis untuk diri sendiri, proses menulis itu sendiri sudah menjadi upah yang lunas. Ketika Anda berhasil menyelesaikan satu esai yang jujur, ketika Anda berhasil merumuskan kegelisahan Anda menjadi paragraf-paragraf yang jernih, ada rasa lega yang luar biasa di dalam dada. Rasa lega itulah upah sesungguhnya. Apakah nanti setelah diunggah ada yang baca atau tidak, itu urusan nomor dua puluh tujuh.
Dengan mentalitas seperti ini, Anda tidak akan pernah kehabisan energi untuk menulis. Anda tidak akan pernah mengalami writer’s block yang disebabkan oleh ketakutan akan penilaian orang lain. Anda menulis karena Anda butuh menulis untuk menjaga kewarasan Anda, bukan karena Anda butuh tepuk tangan dari netizen yang besok pagi juga sudah lupa pada nama Anda.
Menjadi Egois yang Bertanggung Jawab
Apakah ini berarti kita boleh menjadi penulis yang egois dan tidak peduli pada pembaca? Ya dan tidak.
Egois di sini diperlukan pada tahap proses penciptaan. Di draf pertama, jadilah orang yang paling egois di dunia. Jangan biarkan ada bayangan wajah editor, wajah bos, atau komentar netizen masuk ke dalam kepala Anda. Tumpahkan semuanya secara kasar, jujur, dan berani. Biarkan darah dan air mata Anda membasahi draf pertama itu.
Baru setelah draf pertama selesai, pada tahap penyuntingan (editing), Anda boleh mulai memikirkan orang lain. Di sinilah profesionalisme bekerja. Periksalah apakah kalimat Anda terlalu membingungkan bagi orang awam? Apakah alur logikanya sudah bisa diikuti? Apakah ada salah ketik yang mengganggu? Di tahap inilah Anda boleh menggunakan bantuan teknologi, seperti AI, untuk merapikan hal-hal teknis yang sifatnya administratif.
Ingat urutannya: draf pertama adalah milik jiwa Anda, draf kedua baru dipoles untuk mata pembaca. Jangan dibalik. Kalau dibalik, tulisan Anda akan lahir sebagai bayi prematur yang cacat karakter sejak dalam kandungan pikiran.
Merebut Kembali Meja Tulis Kita
Pembaca, dunia luar sana sudah terlalu bising dengan segala tuntutan dan ekspektasi. Jangan biarkan meja tulis Anda—tempat paling suci di mana Anda bisa menjadi diri sendiri secara utuh—juga ikut dijajah oleh kebisingan itu.
Kembalilah ke esensi awal. Menulislah sebagai cara untuk mengobrol dengan diri sendiri. Menulislah untuk memahami kenapa Anda mudah marah belakangan ini. Menulislah untuk merayakan kenangan-kenangan kecil yang membuat Anda tersenyum sendirian di pojok ruangan.
Jangan biarkan prompt AI, target SEO, atau ketakutan akan algoritma menentukan batas kejujuran Anda. Jika Anda berhasil memenangkan perdebatan dengan diri sendiri di atas kertas kosong, maka Anda sudah memenangkan pertempuran yang sesungguhnya. Dan tulisan yang lahir dari kemenangan batin seperti itu akan selalu memiliki tempat yang abadi di hati pembaca yang tulus.
Mari kita ambil kembali pena kita, matikan sejenak notifikasi gawai, dan mulailah menulis untuk diri kita sendiri. Biarkan kata-kata kita mengalir dengan bebas, sedikit berantakan, tapi benar-benar milik kita. Selamat mengobrol dengan diri sendiri, Pembaca. Tetaplah waras di tengah dunia yang semakin otomatis ini.




