Beberapa hari yang lalu, saya terlibat dalam sebuah obrolan yang agak sureal dengan seorang kawan lama yang kini bekerja di sebuah agensi kreatif papan atas di Jakarta. Dia bercerita dengan nada yang antara bangga dan cemas. Katanya, sekarang di kantornya, orang yang masih duduk melamun di depan kertas kosong untuk mencari ide kampanye iklan dianggap sebagai “beban perusahaan”.
“Kalau bisa pakai AI dan jadi dalam sepuluh menit, buat apa kamu semedi dua jam cuma buat cari satu headline?” begitu kira-kira sindiran yang sering dia dengar.
Kawan saya ini, yang sejak dulu saya kenal sebagai penulis yang sangat teliti dalam memilih diksi, kini merasa seperti dinosaurus yang sedang menatap meteor jatuh. Dia merasa kuno. Dia merasa ketinggalan zaman hanya karena dia masih ingin menggunakan otaknya sendiri untuk merangkai kalimat. Dia merasa berdosa karena masih ingin merasakan sensasi “sakit kepala” saat mencari metafora yang pas.
Inilah fenomena yang mulai menjangkiti banyak orang kreatif hari ini: ketakutan menjadi kuno hanya karena kita masih setia pada proses berpikir manual.
Standar Baru yang Serba Kilat
Kita sedang hidup di era di mana kecepatan dianggap sebagai satu-satunya indikator kecerdasan. Kalau Anda bisa menghasilkan sesuatu dengan cepat, Anda dianggap hebat. Tidak peduli apakah sesuatu itu punya “ruh” atau tidak, yang penting output-nya ada dan terlihat meyakinkan.
Kehadiran AI telah menciptakan standar baru yang sangat intimidatif. Bayangkan, mesin bisa menghasilkan esai, gambar, hingga kode pemrograman dalam hitungan detik. Sementara itu, kita manusia, butuh waktu untuk riset, butuh waktu untuk merenung, butuh waktu untuk salah dan memperbaiki kembali.
Ketakutan menjadi kuno ini muncul karena kita mulai membandingkan kecepatan prosesor dengan kecepatan sinapsis di otak kita. Itu adalah perbandingan yang tidak adil, sekaligus konyol. Namun, tekanan sosial dan industri memaksa kita untuk merasa malu jika kita tidak “berlari” secepat mesin. Kita merasa seperti tukang kayu manual di tengah pabrik furnitur masal; kita merasa produk kita tidak lagi dihargai karena prosesnya yang dianggap tidak efisien.
Ketika Proses Dianggap sebagai Pemborosan
Dalam logika kapitalisme digital, proses sering kali dianggap sebagai pemborosan jika ia tidak menghasilkan profit instan. Berpikir sendiri dianggap sebagai aktivitas yang membuang-buang waktu. “Kenapa harus capek-capek mikir kalau sudah ada alatnya?”
Ketakutan menjadi kuno ini sebenarnya adalah ketakutan akan kehilangan relevansi. Kita takut dianggap tidak kompeten hanya karena kita memilih jalan yang lebih panjang. Padahal, dalam dunia kepenulisan dan kreativitas, jalan yang panjang itulah yang membentuk karakter.
Saat kita menggunakan otak sendiri, kita sedang melakukan kurasi terhadap memori, emosi, dan pengetahuan yang kita miliki. Ada dialog batin yang terjadi. Ada perdebatan antara idealisme dan realitas. Proses ini lambat, memang. Tapi di sanalah letak otentisitas. AI tidak punya memori masa kecil, ia tidak punya dendam, ia tidak punya rasa cinta yang membara. Ia hanya punya statistik.
Jika kita menyerah pada ketakutan menjadi kuno dan mulai menyerahkan semua tugas berpikir pada mesin, kita sebenarnya sedang melakukan bunuh diri intelektual secara perlahan. Kita mungkin akan terlihat “modern” di mata orang lain, tapi di dalam diri, kita sebenarnya sedang mengosongkan identitas kita sendiri.
Ironi “Kuno” yang Sebenarnya Mewah
Mari kita balik logikanya. Di masa depan, ketika semua orang sudah menggunakan AI untuk memproduksi segala hal, apa yang akan menjadi barang mewah? Jawabannya bukan hasil yang sempurna, melainkan hasil yang “manusiawi”.
Sama seperti saat ini, di tengah gempuran baju-baju buatan pabrik yang murah dan sempurna jahitannya, selembar batik tulis yang dikerjakan dengan tangan selama berbulan-bulan justru harganya selangit. Kenapa? Karena ada jejak manusia di sana. Ada ketidaksempurnaan yang artistik. Ada cerita di setiap goresan cantingnya.
Begitu juga dengan tulisan atau ide. Di tengah banjir konten yang dipoles oleh AI, tulisan yang lahir dari pemikiran sendiri—yang mungkin agak berantakan, sedikit emosional, dan punya perspektif yang unik—justru akan menjadi barang langka. Menjadi “kuno” dengan tetap memakai otak sendiri di masa depan akan menjadi simbol kemewahan intelektual.
Orang-orang akan bosan dengan kesempurnaan yang seragam. Mereka akan rindu pada kalimat-kalimat yang terasa “bergetar” karena ditulis oleh seseorang yang benar-benar merasakannya. Jadi, kenapa kita harus takut menjadi kuno? Menjadi kuno dalam konteks ini berarti kita tetap menjaga api kemanusiaan kita di tengah dinginnya logika mesin.
Menghadapi Tekanan Industri dan Lingkungan
Saya mengerti bahwa tidak semua orang punya kemewahan untuk bisa tetap “lambat”. Ada tuntutan pekerjaan, ada tenggat waktu yang mencekik, dan ada bos yang tidak mau tahu soal “proses kreatif”.
Namun, menjaga kewarasan berarti kita harus punya ruang rahasia di mana kita tetap menggunakan otak kita secara penuh. Mungkin di kantor kita terpaksa menggunakan bantuan AI untuk tugas-tugas administratif yang membosankan, tapi jangan biarkan AI menyentuh inti dari kreativitas kita. Jangan biarkan ia menuliskan opini kita. Jangan biarkan ia merumuskan nilai-nilai hidup kita.
Ketakutan menjadi kuno adalah hantu yang diciptakan oleh tren. Dan kita tahu, tren itu datang dan pergi. Hari ini AI adalah segalanya, besok mungkin orang akan melakukan gerakan “Back to Human” karena sudah muak dengan segala sesuatu yang serba robotik. Jika kita tetap konsisten memakai otak sendiri, kita bukan sedang tertinggal; kita sebenarnya sedang menjaga fondasi yang paling dasar dari keberadaan kita sebagai manusia.
Menulis sebagai Tindakan Perlawanan
Bagi saya, menulis esai dengan tangan dan otak sendiri di era AI adalah sebuah tindakan perlawanan. Ini adalah cara saya mengatakan pada dunia bahwa saya masih punya kedaulatan atas pikiran saya. Saya tidak mau menjadi sekadar “mandor prompt” yang tugasnya cuma menyuruh-nyuruh mesin.
Saya ingin tetap merasakan pusingnya mencari penutup esai yang nendang. Saya ingin tetap merasakan kepuasan saat berhasil menemukan diksi yang tepat untuk menyindir sebuah fenomena. Perasaan-perasaan itu tidak bisa diberikan oleh aplikasi manapun.
Kalau itu disebut kuno, ya sudahlah. Saya lebih baik menjadi kuno tapi hidup, daripada menjadi modern tapi sebenarnya sudah mati rasa. Menjadi kuno berarti kita masih menghargai jerih payah. Menjadi kuno berarti kita masih percaya bahwa proses itu sama pentingnya dengan hasil.
Kembali ke Hakikat Manusia
Pembaca, jangan biarkan rasa takut ketinggalan zaman membuat Anda kehilangan hal yang paling berharga dalam diri Anda: kemampuan untuk berpikir secara independen.
Mesin boleh saja menjadi lebih pintar, lebih cepat, dan lebih efisien. Tapi mesin tidak akan pernah bisa menggantikan keunikan dari pengalaman hidup Anda. Hanya Anda yang tahu bagaimana rasanya patah hati di bawah hujan bulan Juni di Yogyakarta. Hanya Anda yang tahu bagaimana rasanya bangga melihat anak Anda pertama kali bisa naik sepeda. Masukkan semua rasa itu ke dalam karya-karya Anda.
Jangan malu kalau Anda butuh waktu lebih lama untuk menghasilkan sesuatu. Jangan rendah diri jika Anda masih memilih membaca buku fisik dan mencatat ide di buku saku daripada membiarkan algoritma menentukan apa yang harus Anda pikirkan.
Dunia mungkin bergerak sangat cepat menuju otomatisasi, tapi ingatlah bahwa hal-hal yang paling berharga dalam hidup ini—cinta, kepercayaan, persahabatan, dan seni—tidak pernah bisa diotomatisasi. Semuanya butuh waktu, butuh kesabaran, dan butuh otak yang benar-benar bekerja secara manual.
Tetaplah memakai otak sendiri, Pembaca. Biarpun orang bilang kita kuno, biarpun orang bilang kita lambat. Karena pada akhirnya, yang akan bertahan di panggung sejarah bukanlah mereka yang paling cepat mengikuti tren, melainkan mereka yang paling jujur menjaga kemanusiaannya.




