Menjaga Kewarasan di Tengah Banjir Konten Tanpa Makna

Beberapa waktu lalu, saya iseng melakukan sebuah eksperimen kecil yang berakhir dengan rasa pening di kepala. Saya mencoba menggulirkan layar ponsel saya (scrolling) di sebuah media sosial populer selama tepat lima belas menit tanpa henti. Hasilnya? Saya merasa seperti baru saja dipaksa menelan sepuluh piring hidangan prasmanan yang isinya dicampur aduk antara rendang, es krim, potongan kayu, hingga baut berkarat. Semuanya masuk dalam satu waktu, tanpa sempat dikunyah, apalagi dinikmati.

Dalam lima belas menit itu, saya melihat orang menari dengan baju minim, lalu sedetik kemudian melihat berita kecelakaan maut, berganti lagi ke iklan judi online, lalu masuk ke potongan video ceramah agama yang dipotong-potong secara serampangan, dan ditutup dengan sebuah kutipan motivasi dari seseorang yang tampaknya belum pernah mencicipi pahitnya hidup tapi sudah berani menasihati dunia.

Fenomena ini adalah apa yang saya sebut sebagai “Banjir Konten Tanpa Makna”. Kita sedang hidup di era di mana produksi informasi jauh melampaui kemampuan otak kita untuk mencernanya. Kita tidak lagi membaca atau menonton untuk mencari kedalaman; kita hanya sedang “mengonsumsi” agar tidak merasa ketinggalan. Dan jika kita tidak hati-hati, arus deras konten yang dangkal ini akan menyeret kewarasan kita ke dasar palung kekosongan yang paling dalam.

Banjir Bandang Informasi di Gawai Kita

Dulu, informasi itu seperti air sumur. Kalau kita butuh, kita harus menimba. Ada usaha yang dikeluarkan, dan karena ada usaha, kita menghargai setiap tetesnya. Kita membaca koran di pagi hari, mendengarkan radio di sore hari, atau membaca buku di malam hari. Informasi yang masuk terbatas, namun bermakna.

Sekarang, informasi sudah seperti banjir bandang. Ia datang tanpa diminta, merembes lewat celah-celah notifikasi ponsel, bahkan saat kita sedang berada di kamar mandi sekalipun. Celakanya, sebagian besar air banjir itu adalah air keruh. Konten-konten yang dibuat hanya demi mengejar angka view, like, dan share. Konten yang dirancang oleh algoritma untuk memicu emosi primitif kita: rasa marah, rasa iri, atau rasa takut.

Mengapa saya katakan tanpa makna? Karena konten-konten ini tidak punya tujuan untuk membuat kita lebih bijak. Ia hanya ingin kita bertahan di layar ponsel selama mungkin. Maka, lahirlah tulisan-tulisan yang judulnya bombastis tapi isinya kosong melompong. Lahirlah video-video pendek yang isinya cuma pengulangan tren yang sudah basi. Kita sedang mengonsumsi “sampah digital” setiap hari, dan kita heran kenapa jiwa kita merasa lapar dan hampa.

Kehilangan Kemampuan untuk Fokus

Dampak pertama yang paling terasa dari banjir konten ini adalah rontoknya kemampuan kita untuk fokus. Otak kita dipaksa untuk berpindah-pindah konteks dalam hitungan detik. Kita tidak lagi sanggup membaca tulisan yang panjangnya lebih dari tiga paragraf. Jika ada video yang durasinya lebih dari satu menit, jari kita sudah gatal untuk menggesernya.

Ini adalah bencana bagi kewarasan. Kewarasan membutuhkan ketenangan. Berpikir jernih membutuhkan ruang dan waktu. Bagaimana kita bisa merenungkan makna hidup atau solusi atas masalah bangsa, jika perhatian kita terus-menerus terfragmentasi oleh notifikasi diskon belanja atau video kucing lucu yang tidak ada habisnya?

Kita menjadi generasi yang tahu banyak hal di permukaan, tapi tidak paham satu hal pun secara mendalam. Kita tahu ada perang di sana, ada skandal di sini, ada tren itu di situ, tapi semuanya hanya lewat begitu saja seperti bayangan di jendela kereta api yang melaju kencang. Kita menjadi “dangkal secara massal”. Dan orang yang dangkal adalah orang yang paling mudah diprovokasi dan diadu domba.

Candu Validasi dan Perbandingan Sosial

Banjir konten tanpa makna ini juga membawa serta penyakit kejiwaan lainnya: kecanduan validasi. Di tengah lautan konten, setiap orang merasa harus ikut “berteriak” agar dianggap ada. Kita memotret makanan kita bukan untuk mengenang rasanya, tapi untuk menunjukkan pada dunia bahwa kita mampu membelinya. Kita menulis status galau bukan karena butuh solusi, tapi karena butuh “Like” yang berfungsi sebagai morfin digital untuk ego kita yang rapuh.

Lalu muncul pula perbandingan sosial yang tidak sehat. Kita melihat kehidupan orang lain yang dipoles sedemikian rupa melalui layar ponsel. Kita melihat “kesuksesan” yang tampak instan, wajah yang tampak sempurna tanpa pori-pori, dan kebahagiaan yang tampak tanpa cela. Padahal, itu semua hanyalah konten. Itu hanyalah potongan kecil dari realitas yang sudah difilter sedemikian rupa.

Namun, otak kita yang sudah kelelahan karena banjir informasi tidak sanggup lagi membedakan mana realitas dan mana polesan. Akibatnya, kita merasa hidup kita sendiri begitu malang, begitu membosankan, dan begitu gagal. Kewarasan kita mulai goyah saat kita mulai membenci diri sendiri hanya karena tidak bisa menyamai standar hidup palsu yang ada di layar ponsel.

Melawan Arus dengan “Diet Digital”

Lantas, bagaimana cara menjaga kewarasan di tengah kekacauan ini? Jawabannya mungkin terdengar kuno, tapi sangat efektif: kita harus mulai melakukan diet digital yang ketat.

Diet digital bukan berarti kita harus membuang ponsel dan pergi bertapa di puncak Merapi. Itu ekstrem yang tidak perlu. Diet digital berarti kita harus menjadi kurator yang kejam bagi diri kita sendiri. Kita harus memilih apa yang layak masuk ke dalam pikiran kita.

Mulailah dengan berhenti mengikuti (unfollow) akun-akun yang hanya memicu emosi negatif atau akun yang kontennya hanya sekadar pamer kemewahan tanpa nilai tambah. Bersihkan linimasa kita dari sampah-sampah visual yang tidak membuat kita lebih pintar. Kita punya hak penuh atas apa yang kita lihat di ponsel kita. Jangan biarkan algoritma yang mendikte selera dan pikiran kita.

Kita juga perlu mengembalikan tradisi “keheningan”. Cobalah untuk duduk diam selama lima belas menit saja dalam sehari tanpa memegang ponsel. Rasakan kegelisahan yang muncul—itu adalah gejala sakau digital. Hadapi rasa gelisah itu sampai ia hilang dan berganti dengan ketenangan. Dalam keheningan itulah, pikiran-pikiran yang jernih biasanya mulai muncul ke permukaan.

Mencari Kedalaman, Bukan Kecepatan

Sebagai penulis, saya sering merasa miris melihat orang lebih memilih membaca kutipan singkat di media sosial daripada membaca satu bab buku yang utuh. Padahal, kutipan singkat sering kali menyesatkan karena kehilangan konteks. Kedalaman adalah obat bagi kekosongan jiwa.

Mari kita kembali membaca tulisan-tulisan yang panjang, yang menuntut kita untuk berpikir, yang mengajak kita untuk berdebat secara batin. Bacalah buku-buku yang sudah teruji oleh waktu, bukan sekadar buku yang sedang viral minggu ini. Buku yang bagus akan memberikan Anda kacamata untuk melihat dunia dengan lebih luas, sementara konten tanpa makna justru akan memakaikan Anda kacamata kuda.

Menjaga kewarasan juga berarti berani untuk “tidak tahu” terhadap hal-hal yang memang tidak perlu diketahui. Kita tidak perlu tahu siapa selebriti yang sedang selingkuh hari ini. Kita tidak perlu tahu tren tari-tarian apa yang sedang hits di Jakarta. Tidak tahu hal-hal sampah tersebut justru akan menyisakan ruang di otak kita untuk hal-hal yang lebih esensial: keluarga, pekerjaan, hobi, dan Tuhan.

Menulis sebagai Terapi Makna

Bagi Anda yang juga suka menulis, gunakanlah tulisan sebagai cara untuk mengikat makna. Jangan ikut-ikutan membuat konten tanpa nyawa hanya demi algoritma. Menulislah karena Anda punya kegelisahan yang nyata. Menulislah untuk manusia, bukan untuk mesin pencari.

Saat kita menulis dengan jujur, kita sebenarnya sedang merapikan kekacauan di dalam kepala kita sendiri. Kita sedang menyaring banjir informasi itu menjadi tetesan-tetesan hikmah yang bisa kita minum sendiri dan mungkin bisa memberi kesegaran bagi orang lain. Tulisan yang punya makna adalah tulisan yang lahir dari perenungan yang dalam, bukan dari instruksi cepat yang diberikan kepada kecerdasan buatan.

Penutup: Menjadi Tuan atas Teknologi

Pembaca, teknologi adalah pelayan yang baik tapi tuan yang sangat kejam. Jika kita membiarkan diri kita hanyut dalam banjir konten tanpa makna, kita sebenarnya sedang menyerahkan kemudi hidup kita kepada perusahaan teknologi di Silicon Valley yang hanya peduli pada pertumbuhan saham mereka, bukan pada kesehatan mental kita.

Jagalah kewarasan Anda dengan cara tetap menjadi manusia yang otentik. Manusia yang mau berpikir lambat, manusia yang mau merasakan kesedihan tanpa harus membagikannya di Instagram, dan manusia yang berani berbeda dari arus massa.

Dunia mungkin sedang semakin gila dengan segala kebisingan digitalnya, tapi kita tetap punya pilihan untuk membangun sebuah “pulau kecil ketenangan” di dalam diri kita. Pulau itu dibangun dengan buku yang bagus, kopi yang hangat, percakapan yang jujur dengan kawan di dunia nyata, dan keberanian untuk mematikan layar ponsel saat hari sudah mulai malam.

Tetaplah waras, Pembaca. Karena di era banjir konten ini, kewarasan adalah sebuah tindakan perlawanan yang paling berani.