Beberapa hari lalu, saya tidak sengaja membaca sebuah naskah pidato yang disusun oleh seorang kawan. Dia bangga sekali. Katanya, naskah itu sudah “dibersihkan” oleh teknologi terbaru. Dan memang, saat saya baca, kalimat-kalimatnya sungguh luar biasa. Subjek, predikat, dan objeknya berdiri tegak seperti barisan Paskibraka di Istana Negara. Tidak ada satu pun kata yang mubazir. Tanda bacanya diletakkan dengan presisi yang membuat guru Bahasa Indonesia saya di SMP mungkin akan menangis terharu.
Tapi, setelah membaca tiga paragraf, saya justru merasa sesak napas. Bukannya tercerahkan, saya malah merasa seperti sedang dipaksa mendengarkan pengumuman keberangkatan kereta api di Stasiun Tugu. Jelas, informatif, tapi sama sekali tidak ada “getarannya”.
Di sinilah letak ironi besar dalam dunia tulis-menulis era sekarang: kenapa kalimat yang terlalu sempurna justru sering kali terasa sangat salah?
Jebakan Robot yang Terlalu Sopan
Kita harus sadar bahwa kesempurnaan teknis adalah domainnya mesin. Kalau kita menyuruh AI menulis tentang “pentingnya kejujuran”, dia akan mengeluarkan kalimat seperti: “Kejujuran merupakan pilar fundamental dalam membangun integritas personal dan stabilitas sosial yang berkelanjutan.”
Kalimat itu benar? Jelas. Sempurna? Secara tata bahasa, iya. Tapi apakah itu kalimat yang akan diucapkan oleh seorang manusia kepada sahabatnya sambil menyeruput wedang ronde? Tentu tidak. Kalimat itu terlalu “bersih”. Ia tidak punya tekstur. Ia tidak punya bau keringat. Ia seperti lantai mal yang baru saja dipel dengan cairan disinfektan; mengilap, tapi licin dan dingin.
Ketika kita menulis, kita sebenarnya sedang membangun hubungan. Dan hubungan antarmanusia tidak pernah dibangun di atas kesempurnaan. Kita jatuh cinta pada seseorang sering kali bukan karena dia sempurna, tapi karena caranya tertawa yang sedikit aneh, atau caranya salah mengucapkan satu kata tertentu yang justru terasa manis. Begitu juga dengan tulisan. Kita menyukai seorang penulis karena “cacat” khasnya—caranya memilih metafora yang nyeleneh, atau keberaniannya menggunakan kalimat pendek-pendek yang meledak seperti petasan.
Tulisan Adalah Jejak Pikiran yang Berantakan
Pikiran manusia itu tidak pernah lurus. Pikiran kita itu melompat, berputar, kadang berhenti mendadak karena teringat cicilan, lalu lanjut lagi. Maka, tulisan yang jujur biasanya mencerminkan kegelisahan itu. Ada jeda yang tidak terduga. Ada penekanan yang mungkin secara teknis agak berlebihan, tapi secara emosional sangat pas.
Kalimat yang terlalu sempurna justru terasa salah karena ia menghilangkan “proses” itu. Ia menyajikan hasil akhir yang sudah dipoles sedemikian rupa sehingga kita tidak lagi bisa melihat siapa manusia di baliknya. Ia menjadi anonim. Dan dalam dunia yang semakin sesak oleh konten, hal yang paling menakutkan bagi seorang penulis bukanlah salah ketik (typo), melainkan menjadi anonim dan tidak punya karakter.
Saya lebih memilih membaca esai yang sedikit berantakan, yang mungkin ada satu dua kalimat yang terlalu panjang sampai bikin napas tersengal, tapi saya tahu bahwa penulisnya sedang benar-benar berjuang menyampaikan isi kepalanya. Ada perjuangan di sana. Ada emosi yang tumpah.
Menolak Menjadi Brosur Berjalan
Masalah lain dari kalimat yang terlalu sempurna adalah ia cenderung terdengar seperti brosur pemasaran atau instruksi manual mesin cuci. Semuanya serba terukur. Tidak ada ruang bagi humor yang getir, tidak ada tempat untuk sindiran halus, dan tidak ada celah untuk kontradiksi.
Padahal, hidup manusia itu penuh kontradiksi. Kita bisa sangat mencintai negeri ini sekaligus ingin mengumpat habis-habisan saat terjebak macet karena pengaturan jalan yang ngawur. Kalimat yang sempurna akan berusaha merapikan kontradiksi itu menjadi kalimat yang diplomatis dan membosankan. Kalimat yang “hidup” justru akan menonjolkan tabrakan-tabrakan perasaan itu.
Kalimat yang terlalu rapi sering kali justru menyembunyikan kebenaran. Ia membungkus borok dengan kain sutra. Sebagai pembaca, kita sering kali punya insting untuk mencium bau amis di balik diksi-diksi yang terlalu muluk itu. Kita merasa ada yang tidak beres ketika seseorang berbicara atau menulis dengan gaya yang terlalu “tertata”, karena kita tahu, di dunia nyata, kebenaran sering kali datang dengan wajah yang kusam dan kata-kata yang terbata-bata.
Mengembalikan “Cacat” ke Dalam Tulisan
Jadi, apakah kita boleh menulis sembarangan? Tentu tidak. Itu namanya malas. Tapi, kita harus berani mempertahankan “suara” kita sendiri, meskipun suara itu tidak sehalus algoritma.
Jangan takut untuk menggunakan kata-kata yang mungkin tidak ada di kamus besar, tapi sangat pas untuk menggambarkan suasana di kampung Anda. Jangan ragu untuk membuat kalimat yang sedikit menabrak aturan formal jika itu memang diperlukan untuk memberi penekanan emosional yang tepat. Tulisan adalah soal rasa, bukan soal skor ujian nasional.
Kalimat yang benar-benar “benar” adalah kalimat yang sampai ke hati pembaca, bukan sekadar kalimat yang tidak disalahkan oleh aplikasi penyunting bahasa. Kita butuh tulisan yang terasa seperti jabat tangan yang erat, sedikit kasar karena kapalan, tapi hangat dan nyata. Bukan jabat tangan dari tangan plastik yang lembut tapi mati rasa.
Pada akhirnya, Pembaca, mari kita lebih berani menjadi manusia dalam tulisan-tulisan kita. Biarkan kalimat kita punya detak jantung. Biarkan ia punya sedikit noda, asalkan ia jujur. Karena di tengah dunia yang semakin dipenuhi oleh kesempurnaan palsu buatan mesin, ketidaksempurnaan manusia adalah satu-satunya barang mewah yang masih tersisa.




