Punya Banyak Buku Tidak Selalu Berarti Banyak Membaca

Ada aroma khas yang langsung menyergap hidung ketika kita melangkah masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh deretan rak buku dari lantai hingga menyentuh langit-langit. Aroma itu adalah perpaduan menenangkan antara serat selulosa kering, lignin yang menua pelan, dan sisa tinta cetak yang membeku di atas lembaran kertas putih atau krem. Di bawah siraman lampu meja berwarna kuning temaram, punggung-punggung buku berjajar laksana dinding benteng intelektual. Siapa pun yang berdiri di hadapan pemandangan seperti itu hampir pasti akan dilanda rasa kagum seketika. Di benak kita, pemilik ruangan tersebut langsung terbayang sebagai sosok pertapa ilmu: seorang kutu buku yang tekun, menghabiskan malam-malam panjang dengan kacamata bertengger di batang hidung, menyelami samudra filsafat, sains, dan sastra dunia.

Kesan megah itu wajar lahir dari asosiasi purba peradaban kita. Sejak perpustakaan Aleksandria didirikan ribuan tahun silam, kepemilikan atas tumpukan gulungan naskah dan jilidan buku selalu disetarakan dengan kekayaan pengetahuan. Namun, jika Anda diizinkan untuk melangkah mendekat, mengulurkan tangan, lalu mengambil beberapa jilid secara acak dari barisan rak tersebut, Anda mungkin akan menemukan sebuah kenyataan lain yang teramat sunyi.

Banyak di antara punggung buku itu masih begitu kaku, pertanda ia belum pernah dibuka melebar lebih dari sudut empat puluh lima derajat. Lembaran-lembaran halamannya masih menempel rapat tanpa noda minyak dari ujung jari, sudut-sudut kertasnya masih runcing presisi, dan di beberapa bagian rak atas, segel plastik tipis transparan bahkan masih membungkus tubuh buku secara utuh tanpa pernah disobek. Di sanalah kita dihadapkan pada sebuah paradoks modern yang sangat nyata: memiliki banyak buku ternyata tidak selalu berarti banyak membaca.

“Membeli buku akan menjadi hal yang menyenangkan jika kita juga bisa membeli waktu untuk membacanya; tetapi kebanyakan orang mencampuradukkan tindakan membeli buku dengan ilusi bahwa mereka telah menyerap isinya.” — Arthur Schopenhauer

Kecenderungan manusia untuk menimbun buku jauh melampaui kapasitas membacanya sesungguhnya bukanlah fenomena baru yang lahir kemarin sore. Masyarakat Jepang bahkan telah merumuskan sebuah kata khusus yang sangat elegan untuk menggambarkan perilaku ini: tsundoku (積ん読). Istilah yang lahir pada era Meiji ini merupakan peleburan puitis dari kata tsunde-oku (menumpuk barang untuk dibiarkan) dan dokusho (membaca buku). Tsundoku merujuk pada seni mengumpulkan dan menumpuk bahan bacaan di rumah, di meja tidur, atau di sudut ruang tamu, hanya untuk membiarkannya teronggok menunggu giliran yang tak kunjung tiba.

Di era modern, perilaku ini mengalami amplifikasi yang luar biasa akibat dorongan konsumerisme digital dan kemudahan bertransaksi. Jika puluhan tahun lalu seseorang harus bersusah payah mengayuh sepeda atau naik angkutan umum ke toko buku fisik di pusat kota, memilah satu per satu di rak berdebu, lalu menenteng tas belanjaan berat pulang ke rumah, hari ini benteng hambatan itu telah runtuh seutuhnya. Cukup dengan beberapa ketukan jempol di atas layar kaca ponsel pintar saat rebahan larut malam, lima atau sepuluh judul buku baru langsung terbeli melalui keranjang lokapasar daring.

Ketika kurir ekspedisi mengetuk pagar rumah dua hari kemudian dan menyerahkan paket cokelat tebal berlapis gelembung plastik, ada lonjakan hormon dopamin yang meledak instan di dalam otak kita. Tindakan mengoyak bungkus paket, meraba sampul baru yang licin, dan menata buku tersebut di rak pribadi menghadirkan sensasi kemenangan yang nyata. Otak kita tertipu oleh ilusi kepemilikan material: kita merasa telah melangkah maju menjadi pribadi yang lebih bijak hanya karena telah membayar harga seonggok kertas bertinta.

“Buku adalah cermin: jika seorang bodoh menatap ke dalamnya, Anda tidak bisa mengharapkan seorang yang bijak akan melihat kembali keluar.” — Georg Christoph Lichtenberg

Di sinilah letak jebakan psikologis paling licik yang kerap memperdaya para pencinta buku: percampuradukan antara hasrat memiliki dengan kemauan belajar. Membeli buku adalah tindakan transaksi ekonomi yang hanya menuntut ketersediaan saldo uang dan waktu beberapa detik. Sebaliknya, membaca buku adalah tindakan asketis yang menuntut komitmen kognitif tingkat tinggi: ia menuntut kesabaran duduk diam berjam-jam, kemampuan mengurung rentang perhatian dari godaan gawai, energi mental untuk memecah kalimat-kalimat rumit, serta kerendahan hati untuk mengakui ketidaktahuan diri sendiri.

Banyak orang yang secara finansial mampu membeli tiga puluh buku baru dalam satu bulan kalender, namun kapasitas waktu dan energi mental mereka dalam kurun waktu yang sama mungkin hanya cukup untuk menuntaskan separuh dari satu buku tipis. Akibatnya, jurang pemisah antara jumlah buku yang dibeli dengan jumlah buku yang benar-benar dicerna melebar secara eksponensial dari tahun ke tahun.

Rak buku di rumah perlahan bertransformasi fungsi: dari yang awalnya diniatkan sebagai lumbung pangan intelektual bagi jiwa, bergeser menjadi monumen penimbunan materi (bibliomania). Buku-buku yang belum terbaca itu menatap pemiliknya dengan bisu dari atas rak, seolah memancarkan rasa bersalah yang mengendap setiap kali sang pemilik melewatinya begitu saja dalam perjalanan menuju tempat tidur.

“Tidak ada kebiasaan yang lebih mahal dan tidak ada ambisi yang lebih menipu selain hasrat menimbun buku yang tidak akan pernah sempat kita baca seumur hidup.” — Seneca

Fenomena ini semakin diperkeruh oleh dinamika budaya pamer di panggung media sosial kontemporer. Di platform berbasis visual seperti Instagram dan TikTok, rak buku megah dengan pencahayaan estetis telah diubah menjadi simbol status sosial dan intelektual (cultural capital). Memiliki dinding penuh buku tebal tentang filsafat eksistensialisme, teori ekonomi makro, atau novel sastra kanonik dunia sering kali diperlakukan setara dengan memamerkan mobil mewah atau tas jenama ternama di ruang publik digital.

Buku tidak lagi dibeli terutama untuk dibaca kata demi kata dalam keheningan kamar pribadi; buku dibeli untuk dijadikan properti foto. Orang berpose memegang cangkir keramik berisi kopi berbusa dengan latar belakang punggung-punggung buku yang tertata rapi sesuai gradasi warna pelangi (shelfie). Pesan terselubung yang ingin disampaikan kepada khalayak maya sangat jelas: “Lihatlah diriku, aku adalah manusia yang berpendidikan tinggi, berwawasan luas, dan memiliki selera hidup yang mendalam.”

Ini adalah bentuk kemunafikan intelektual yang sangat halus. Ketika citra diri sebagai “seorang pembaca” dinilai jauh lebih penting daripada tindakan membaca itu sendiri, buku telah kehilangan martabat hakikinya. Ia telah didegradasi statusnya dari sebuah sarana pembebasan akal budi menjadi sekadar batu bata pajangan untuk membangun ego dan memancing tanda suka (likes) dari orang-orang asing di internet.

“Banyak orang menyukai ide tentang membaca buku, membayangkan dirinya menjadi seorang pembaca yang bijak, tetapi jauh lebih sedikit yang bersedia menanggung rasa sepi dan lelah saat harus bergulat dengan sebuah halaman teks.” — Samuel Johnson

Namun, apakah ini berarti bahwa setiap orang yang memiliki ratusan buku yang belum terbaca di rumahnya otomatis bersalah dan patut dicap sebagai orang yang gemar pamer? Di sinilah kita harus bersikap adil dan melihat sisi lain yang lebih filosofis dari fenomena timbunan buku. Ada sudut pandang alternatif yang sangat membebaskan yang diajukan oleh pemikir dan esais terkemuka, Nassim Nicholas Taleb, melalui konsep yang ia populerkan sebagai anti-perpustakaan (antilibrary).

Mengambil inspirasi dari perpustakaan pribadi milik novelis dan semiotikus legendaris Italia, Umberto Eco—yang menyimpan lebih dari tiga puluh ribu jilid buku di rumahnya—Taleb mengingatkan bahwa nilai tertinggi dari sebuah perpustakaan pribadi justru tidak terletak pada buku-buku yang sudah selesai kita baca. Nilai tertingginya justru terpancar dari tumpukan buku-buku yang belum pernah kita baca sama sekali.

Dalam kacamata konsep anti-perpustakaan, buku-buku yang belum tersentuh bukanlah bukti kemalasan atau pemborosan uang belaka. Mereka adalah pengingat visual yang sangat rendah hati tentang betapa luasnya rimba pengetahuan dunia dan betapa kerdilnya apa yang telah kita ketahui hingga detik ini. Seseorang yang hanya menyimpan buku-buku yang sudah ia tamatkan cenderung terperangkap dalam kepuasan diri yang sempit (hubris); ia merasa telah menguasai segalanya karena seluruh raknya adalah saksi dari apa yang sudah ia pelajari.

Sebaliknya, seseorang yang dikelilingi oleh ribuan halaman yang belum terselami akan selalu disadarkan akan kebodohannya sendiri setiap kali ia melayangkan pandangan ke sudut ruangan. Buku-buku yang belum terbaca itu berdiri layaknya penjaga gerbang misteri peradaban; mereka menantang kita untuk tidak cepat berpuas diri, menjaga rasa penasaran anak-anak tetap membara di dalam dada, dan mengingatkan bahwa hidup ini terlalu singkat untuk berhenti belajar.

“Perpustakaan pribadi bukanlah pajangan piala untuk membanggakan apa yang sudah Anda ketahui; ia adalah laboratorium kerendahan hati yang mengingatkan Anda tentang seberapa banyak hal yang belum Anda pahami.” — Nassim Nicholas Taleb

Perbedaan mendasar antara seorang kolektor pamer dengan seorang pemilik anti-perpustakaan yang tulus terletak pada sikap batin dan intensi intelektualnya. Seorang kolektor pamer memandang tumpukan bukunya sebagai tujuan akhir: cukup dibeli, dipajang, difoto, lalu ditinggalkan demi mendapatkan pengakuan sosial. Sementara bagi seorang pencari ilmu sejati, tumpukan buku yang belum terbaca adalah sebuah peta jelajah masa depan yang dinamis (horizon of possibilities).

Buku-buku yang menunggu gilirannya di rak adalah janji rahasia. Kita mungkin belum membacanya hari ini karena kesibukan hidup yang mendesak, tetapi kita tahu bahwa di sana, di bab ketiga dari buku sejarah kuno yang bersampul abu-abu itu, ada jawaban atas pertanyaan eksistensial yang mungkin baru akan menghantui hidup kita lima tahun mendatang. Memiliki buku-buku tersebut di dekat kita memberikan rasa aman bahwa ketika badai krisis pemikiran melanda pada suatu tengah malam yang sepi, perahu penyelamat itu telah siap bersandar di dermaga rumah kita, siap dinaiki kapan saja tanpa perlu mencari ke luar.

Kendati demikian, pengakuan atas nilai filosofis anti-perpustakaan tidak boleh dijadikan alasan pembenaran yang cengeng untuk terus menimbun buku secara membabi buta tanpa pernah meluangkan waktu nyata untuk membacanya. Keseimbangan batin menuntut kejujuran praktis dalam mengelola relasi kita dengan bahan bacaan.

Jika Anda menyadari bahwa Anda telah membeli lima puluh buku baru dalam enam bulan terakhir tetapi hanya sanggup menuntaskan sepuluh halaman pertama dari satu judul, maka langkah paling bijak bukanlah menambah rak buku baru di kamar tidur. Langkah paling bijak adalah menekan tombol jeda. Berhentilah mengunjungi festival diskon buku untuk sementara waktu, hapus aplikasi lokapasar dari layar depan ponsel Anda, dan mulailah moratorium belanja buku secara sadar.

“Membaca sedikit buku tetapi mencernanya hingga menjadi daging dan darah di dalam diri Anda jauh lebih berharga daripada menimbun seribu jilidan tetapi membiarkan pikiran Anda tetap kelaparan.” — Desiderius Erasmus

Kembalilah ke esensi paling murni dari hubungan antara manusia dan kata-kata. Ambil satu buku saja dari tumpukan yang telah berdebu itu. Jangan pedulikan apakah buku itu sedang viral di internet atau tidak. Bawalah ia ke sudut ruangan yang paling tenang, matikan sambungan data internet di ponsel pintar Anda, dan mulailah membaca bab pertamanya dengan napas yang teratur dan pikiran yang lapang.

Bacalah sepuluh halaman sehari, tetapi bacalah dengan kesungguhan jiwa. Biarkan kalimat-kalimatnya meresap, catat gagasan-gagasannya di buku saku, debatkan argumennya di dalam batin, dan biarkan pemikiran sang penulis mengubah sedikit demi sedikit cara Anda memandang persoalan hidup sehari-hari.

Pada akhirnya, ukuran kematangan intelektual dan kedalaman batin seseorang tidak pernah dihitung dari berapa meter panjang papan rak kayu yang ia miliki di rumahnya, apalagi dari berapa juta rupiah saldo yang telah ia tukarkan dengan kuitansi toko buku. Ukuran kematangan itu terpancar dari bagaimana ia bersikap, bagaimana ia berbicara, bagaimana ia mendengar orang lain, dan bagaimana ia mengambil keputusan moral di tengah himpitan kenyataan hidup.

Seratus buku yang dibeli namun hanya membeku di atas rak kayu tidak akan pernah mampu menyinari satu sudut gelap pun di dalam jiwa Anda. Namun, satu buku sederhana yang lusuh, yang halamannya terlipat karena sering dibaca ulang, dan yang kalimat-kalimatnya telah menyatu ke dalam denyut nadi kehidupan Anda sehari-hari, memiliki kekuatan yang jauh lebih dahsyat untuk mengubah hidup Anda menjadi pribadi yang utuh, bijaksana, dan bermakna bagi sesama.