Membaca sebagai Cara Diam-Diam Belajar Menulis

Bagi sebagian besar orang, membaca buku adalah aktivitas rekreasi yang pasif. Anda menarik selimut di malam hari, menyalakan lampu temaram di samping tempat tidur, lalu membiarkan diri Anda hanyut dibawa arus kalimat sang pengarang ke kota-kota asing yang belum pernah Anda jamah, ke medan perang abad pertengahan yang berdebu, atau ke kedalaman batin tokoh utama yang sedang patah arang. Anda duduk manis di kursi penumpang, sementara si penulis memegang kemudi mobil, menginjak pedal gas, dan mengarahkan Anda ke mana pun ia suka.

Itu adalah kenikmatan membaca tingkat pertama: membaca sebagai penikmat sulap. Anda terpukau saat melihat burung merpati tiba-tiba mengepakkan sayap dari balik topi pesulap, bertepuk tangan kagum saat saputangan sutra merah mendadak lenyap menjadi kepulan asap tipis, dan pulang ke rumah dengan dada dipenuhi rasa takjub yang manis.

Namun, bagi seorang kutubuku yang diam-diam memendam rasa gelisah—seorang calon perajin kata yang batinnya terus berbisik ingin menciptakan dunianya sendiri—cara membaca semacam itu lambat laun terasa tidak lagi memadai.

Ada saatnya Anda harus berhenti menjadi penonton yang duduk manis di deretan kursi depan bioskop. Anda perlu menyelinap diam-diam ke balik panggung teater, mengintip tali-temali kawat yang menggantung dekorasi awan buatan, memeriksa lampu sorot yang disamarkan di balik pilar kayu, dan memperhatikan bagaimana si pesulap menyembunyikan burung merpati itu di balik lipatan lengan jas hitamnya sebelum pertunjukan dimulai.

Di titik itulah, membaca bermutasi dari sekadar sarana hiburan menjadi sebuah bentuk spionase kreatif: cara paling purba, paling sunyi, dan paling ampuh untuk belajar menulis tanpa perlu mendaftar ke kelas menulis daring bertarif jutaan rupiah.

Perbedaan Membaca Pasif dan Membaca Berbahaya

Stephen King, dalam buku pegangannya yang tanpa kompromi, On Writing, melontarkan satu pernyataan tegas yang pantas dipahat di dinding kamar setiap calon pengarang: “Jika Anda tidak punya waktu untuk membaca, Anda tidak punya waktu (atau alat) untuk menulis. Sesederhana itu.”

Namun, persoalannya bukan sekadar menghitung berapa lusin buku yang berhasil Anda tamatkan dalam satu tahun demi pamer statistik di media sosial. Seseorang bisa saja melahap seratus judul buku dalam setahun tetapi gaya kepenulisannya tetap kaku seperti instruksi perakitan lemari plastik, sementara orang lain hanya membaca dua puluh judul buku namun mampu menulis esai yang tajamnya mengiris urat leher.

Kuncinya terletak pada cara kerja mata batin Anda saat halaman demi halaman dibalik.

Membaca pasif adalah menelan semangkuk sup lezat dengan rakus karena perut Anda sedang lapar. Anda kenyang, lidah Anda terpuaskan oleh gurihnya kaldu, lalu Anda pergi tidur.

Sebaliknya, membaca sebagai calon penulis adalah tindakan membedah rasa: Anda menyeruput kuah sup itu perlahan-lahan, membiarkannya singgah beberapa detik di ujung lidah, lalu mulai menebak dengan cermat: kuah ini gurihnya tidak berasal dari penyedap instan. Ada aroma pala yang samar di ujung tenggorokan, ada sentuhan jahe bakar yang diiris tipis, dan kaldu sapinya jelas direbus dengan api kecil selama minimal enam jam.

Ketika Anda membaca dengan cara ini, Anda tidak sekadar bertanya apa yang terjadi selanjutnya pada nasib si tokoh, melainkan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berbahaya:

  • Mengapa bab ini dibuka dengan deskripsi sebuah jam dinding tua yang berdentang lambat, bukan dengan teriakan panik tokohnya?
  • Bagaimana cara penulis membuat saya mendadak membenci tokoh paman yang baru muncul tiga paragraf lalu tanpa sekalipun menyebut kata “jahat”?
  • Mengapa transisi dari suasana pesta ke kesunyian kamar tidur di halaman empat puluh dua terasa begitu mulus tanpa ada hentakan yang canggung?

Anda sedang membongkar mesin arloji yang indah menjadi puluhan roda gerigi kecil di atas meja kerja Anda. Dan hanya dengan melihat susunan roda gerigi itulah, Anda kelak bisa merakit arloji Anda sendiri yang jarumnya berdetak dengan presisi.

Mencuri Diksi dan Menakar Arsitektur Kalimat

Menulis pada hakikatnya adalah seni menyusun arsitektur dari bata-bata kecil bernama kosakata. Banyak calon penulis merasa minder karena merasa simpanan kata di kepalanya sangat miskin: kalimatnya selalu berulang memakai kata “sangat”, “kemudian”, “lalu”, atau metafora usang seperti “wajahnya pucat pasi laksana mayat”.

Kamus Besar Bahasa Indonesia memang menyediakan puluhan ribu lema resmi, tetapi menghafal kamus secara berurutan adalah cara tercepat untuk membuat tulisan Anda berbau formalin—kaku, mati, dan tidak enak dihirup. Kosakata baru hidup ketika ia ditempatkan di dalam habitat alaminya: sebuah buku yang ditulis oleh seorang maestro bahasa.

Ketika Anda membaca dengan mata seorang penyelidik, Anda akan menangkap bagaimana penulis-penulis hebat memperlakukan bahasa bukan sebagai pajangan museum, melainkan sebagai organisme yang bernapas:

  • Anda melihat bagaimana Pramoedya Ananta Toer menggunakan kalimat-kalimat yang bertenaga, maskulin, dan menggelegak dengan amarah sejarah yang dingin, menolak segala macam kelemahan cengeng.
  • Anda mengamati bagaimana Iqbal Aji Daryono memadukan kepekaan sosiologis yang tajam dengan kelenturan bahasa harian yang jenaka, melompat dari persoalan filsafat hidup yang rumit menuju perumpamaan tukang tambal ban di pinggir jalan tanpa kehilangan marwah argumentasinya.
  • Anda mempelajari bagaimana Gabriel García Márquez menyelipkan hal-hal yang mustahil secara akal sehat ke dalam rangkaian kalimat berita yang datar, sehingga mukjizat terasa laksana peristiwa lumrah di siang bolong.

Anda tidak membaca mereka untuk menjiplak gaya mereka mentah-mentah—menjadi tiruan murahan dari penulis besar adalah aib literatur yang memalukan. Anda membaca mereka untuk memperkaya bank rasa di dalam batin Anda.

Ibarat seorang musisi jazz yang mendengarkan ratusan piringan hitam klasik bukan untuk meniru setiap nada solonya, melainkan untuk melatih telinganya mengenali variasi ketukan ritme, progresi akord yang tak terduga, dan kapan saat terbaik untuk membiarkan sebuah nada melengking tinggi sebelum kembali jatuh ke dalam hening.

Belajar dari Buku yang Buruk

Ada satu keuntungan luar biasa yang jarang disadari saat kita meneliti buku: Anda sering kali belajar teknik menulis jauh lebih banyak dari buku yang buruk ketimbang dari mahakarya yang sempurna.

Buku-buku mahakarya dunia sering kali bekerja terlalu mulus. Seninya sedemikian tersembunyi dengan rapi di balik keanggunan cerita sehingga bagi pemula, karya itu justru terasa menakutkan dan tak terjangkau laksana mukjizat langit. Anda bingung bagaimana cara menirunya karena semua sambungan lemnya tak terlihat sama sekali.

Namun ketika Anda tersandung pada sebuah buku yang buruk—buku yang plotnya tersendat di bab lima, dialog antartokohnya terdengar kaku mirip percakapan buku panduan telepon genggam, atau buku nonfiksi yang argumennya melompat tanpa jembatan logika—berhentilah sejenak. Jangan buru-buru melemparnya ke tempat sampah dengan rasa dongkol.

Jadikan buku itu sebagai pasien di atas meja bedah otopsi Anda.

Ambil pensil, lalu tandai bagian-bagian yang membuat Anda muak atau bosan:

  • “Lihat paragraf ini, penulisnya menghabiskan tiga halaman hanya untuk menjelaskan silsilah keluarga tokoh pendukung yang sama sekali tidak mempengaruhi alur cerita. Pantas saja tensi ketegangannya mendadak layu.”
  • “Perhatikan dialog di halaman sembilan puluh ini: kedua tokoh berbicara memakai bahasa formal persis makalah ilmiah padahal mereka sedang bertengkar hebat di dapur sambil merebutkan kunci mobil. Terasa palsu sekali.”

Mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan dalam sebuah tulisan bernilai sama mahalnya dengan mengetahui apa yang harus dilakukan. Mengamati kecelakaan literer di buku orang lain adalah cara paling aman dan murah untuk menyelamatkan naskah Anda sendiri dari kecelakaan yang serupa.

Prometheus

Dalam mitologi Yunani Kuno, Prometheus dihukum berat oleh para dewa Olimpus bukan karena ia mengagumi keindahan api dari lembah bumi, melainkan karena ia nekat memanjat puncak gunung suci, menyalakan obor kecil dari api para dewa, lalu membawanya turun untuk menghangatkan pondok-pondok manusia fana yang kedinginan.

Membaca sebagai persiapan menulis memiliki etika yang sama dengan pencurian api Prometheus: Anda tidak mencuri abu atau arangnya, melainkan meminjam nyala apinya.

Plagiasi adalah tindakan mencuri kata-kata orang lain: menyalin baris kalimat, meminjam alur cerita yang identik, atau menjiplak karakter secara terang-terangan tanpa malu. Itu adalah tindakan pencuri amatir yang malas dan miskin jiwa.

Namun pembelajaran literer adalah tindakan menangkap getaran frekuensi:

  • Anda mencuri keberanian sang penulis saat ia berani membongkar tabu yang selama ini disembunyikan masyarakat.
  • Anda mencuri disiplin strukturalnya saat ia mampu menahan klimaks cerita hingga detik-detik terakhir tanpa kehilangan daya cengkeram.
  • Anda mencuri kejelian matanya saat ia mampu melihat keajaiban puitis pada genangan air hujan di jalanan rusak yang dilewati setiap pagi.

Ketika Anda membaca sebuah novel yang membuat bulu kuduk Anda meremang di bab penutup, tutuplah buku itu perlahan-lahan. Jangan langsung beralih ke buku berikutnya demi memburu kuota bacaan. Duduklah dalam keheningan selama sepuluh menit. Rasakan degup jantung Anda. Lalu tanyakan pada diri sendiri: teknik apa yang baru saja dia pakai untuk memicu ledakan emosi ini di dalam dada saya? Bagaimana ia menyusun dinamikanya sejak halaman pembuka hingga puncak ini?

Dekonstruksi emosi itu. Pahami mekanisme di baliknya. Dan simpan teknik tersebut di dalam kotak perkakas batin Anda, siap untuk Anda gunakan kembali dengan bahan cerita Anda sendiri suatu hari nanti.

Meja Tulis Anda Sudah Siap

Jika selama ini Anda menunda menulis dengan dalih bahwa Anda belum pernah kuliah di jurusan sastra, belum memiliki mentor penulis terkenal, atau belum membaca buku teori kepenulisan setebal bantal, anggapan itu runtuh sekarang juga.

Perpustakaan di rumah Anda, toko buku bekas di pinggir jalan yang sering Anda singgahi, atau tumpukan buku di atas meja kerja Anda sesungguhnya adalah ruang kuliah menulis paling lengkap yang pernah ada di muka bumi. Guru-guru terbaik dalam sejarah kemanusiaan sudah berbaris rapi di sana, menunggu dengan sabar untuk Anda buka dan Anda ajak bicara setiap malam tanpa memungut biaya sepeser pun.

Mereka sudah mewariskan seluruh rahasia, seluruh keberhasilan, dan seluruh kegagalan mereka ke dalam bentangan ratusan halaman bertinta hitam itu. Yang mereka tunggu hanyalah apakah Anda akan terus memperlakukan mereka sekadar sebagai dongeng pengantar tidur yang melenakan, atau mulai memandang mereka sebagai cetak biru sebuah petualangan baru.

Tutuplah buku yang sedang Anda baca malam ini. Tarik sebuah buku catatan kosong atau nyalakan layar laptop Anda. Ambil obor kecil yang apinya baru saja Anda curi dari halaman-halaman yang Anda kagumi itu, lalu mulailah menyalakan tungku api Anda sendiri.

Karena seorang pembaca yang sejati pada akhirnya tahu: penghormatan tertinggi yang bisa Anda berikan kepada buku-buku yang telah menyelamatkan hidup Anda bukanlah dengan terus-menerus memujinya di rak pajangan, melainkan dengan melahirkan satu karya baru yang kelak layak berdiri tegak di sebelahnya.