Kita semua barangkali pernah mengalami momen yang menguji ketahanan mental ini: Anda membeli sebuah buku baru, duduk manis di sudut baca favorit dengan secangkir kopi hangat, lalu membuka halaman pertama dengan antusiasme yang membubung. Anda siap menyerap wawasan baru, tersengat oleh kejernihan logika sang pengarang, atau hanyut dalam keindahan gagasan yang menjanjikan pencerahan.
Namun, baru menginjak halaman ketiga, dahi Anda mulai berkerut. Kalimat-kalimat yang tersaji di hadapan Anda mendadak berbaris seperti kawat berduri. Satu kalimat bisa membentang sepanjang delapan baris tanpa titik, sarat anak kalimat yang saling bertumpuk laksana gerbong kereta barang anjlok. Kosakata yang dipilih begitu arkais, penuh istilah akademis berbau bahasa asing yang dipaksakan masuk ke struktur bahasa Indonesia, dipadukan dengan konsep-konsep filsafat tinggi yang dihamburkan begitu saja tanpa konteks yang jelas.
Anda membaca ulang paragraf yang sama tiga kali. Mata Anda menyusuri tiap baris kata demi kata, tetapi pikiran Anda tetap hampa. Alih-alih merasa kenyang oleh gizi intelektual, Anda malah diserang kantuk yang luar biasa dan rasa rendah diri yang menyengat: apakah saya sebodoh ini sampai tidak sanggup memahami buku ini?
Tunggu dulu. Jangan buru-buru menyalahkan daya tangkap Anda sendiri.
Sering kali, masalahnya bukan terletak pada keterbatasan intelektual sang pembaca, melainkan pada ego sang penulis. Anda sedang berhadapan dengan sebuah fenomena literatur yang kerap menjangkiti dunia kepenulisan: penyakit tulisan yang “terlalu pintar”. Sebuah tulisan yang ditulis bukan demi memudahkan pembaca memahami sebuah gagasan, melainkan demi meyakinkan dunia bahwa sang penulis adalah sosok yang luar biasa cerdas, berwawasan luas, dan pantas dikagumi dari kejauhan.
Ketika Bahasa Berubah dari Jembatan Menjadi Benteng
Secara hakiki, bahasa diciptakan sebagai jembatan penyeberangan. Ada sebuah pikiran, rasa gelisah, atau pemahaman di dalam kepala saya, lalu saya merangkai kata-kata sedemikian rupa agar pikiran tersebut bisa menyeberang dengan utuh dan mendarat dengan selamat di dalam kepala Anda. Tulisan yang berhasil adalah tulisan yang membuat jembatan itu begitu kokoh, rata, dan nyaman dilalui oleh siapa pun.
Namun, di tangan penulis yang mengidap sindrom “terlalu pintar”, fungsi bahasa mengalami pergeseran radikal. Bahasa tidak lagi difungsikan sebagai jembatan penyeberangan yang ramah, melainkan disulap menjadi benteng pertahanan yang menjulang tinggi, lengkap dengan parit penuh buaya dan pagar duri di sekelilingnya.
Penulis jenis ini menggunakan bahasa bukan untuk mendekatkan diri kepada pembaca, melainkan untuk menegaskan kasta. Menggunakan kata-kata yang lazim dianggap sebagai tanda kedangkalan berpikir. Menyampaikan argumen dengan bahasa yang renyah dan gamblang ditakuti sebagai bentuk penurunan martabat intelektual.
Mereka lebih suka menulis:
“Manifestasi diskursus hegemoni kultural ini terefleksikan secara inheren melalui artikulasi praksis yang mendikotomi relasi kuasa antar-subjek komunal secara asimetris.”
Ketimbang menulis secara jujur dan lugas:
“Kelompok yang memegang kendali sosial kerap memperlakukan warga biasa secara tidak adil melalui aturan-aturan budaya yang mereka buat sendiri.”
Kalimat pertama tampak mentereng, cocok untuk dipajang di makalah seminar yang dihadiri oleh orang-orang berdasi yang sama-sama pura-pura paham demi menjaga gengsi. Namun kalimat kedua memiliki sesuatu yang jauh lebih bernilai: daya tembus. Kalimat kedua berbicara langsung pada akal sehat, menghadirkan gambaran konkret, dan mengundang pembaca untuk langsung menguji kebenaran argumen tersebut di kehidupan nyata.
Menulis dengan kerumitan yang dibuat-buat ibarat seorang pemandu wisata di sebuah hutan raya yang alih-alih menunjukkan jalur setapak paling aman dan indah kepada rombongannya, malah sengaja mengajak mereka melompati rawa-rawa penuh lintah hanya demi membuktikan bahwa ia menguasai teknik bertahan hidup di medan ekstrem. Itu bukan kepintaran; itu pamer keahlian yang menyusahkan orang lain.
Kutukan Pengetahuan
Mengapa banyak penulis—termasuk orang-orang terpelajar, akademisi, hingga esais berbakat—kerap terjebak dalam gaya tulisan yang menyiksa ini?
Penyebab utamanya berakar pada sebuah jebakan psikologis yang dikenal luas sebagai The Curse of Knowledge atau Kutukan Pengetahuan. Ketika seseorang sudah menguasai sebuah bidang secara mendalam selama bertahun-tahun, otaknya secara otomatis menganggap bahwa istilah-istilah teknis, logika dasar, dan asumsi-asumsi dalam bidang tersebut adalah sesuatu yang “pasti sudah diketahui semua orang”. Mereka lupa bagaimana rasanya menjadi orang yang baru pertama kali melangkahkan kaki ke dalam topik tersebut.
Namun, ada lapisan psikologis lain yang jauh lebih licik di balik fenomena ini: ketakutan akan dianggap biasa saja.
Di banyak lingkungan terpelajar, ada sebuah prasangka keliru yang mengakar kuat: sesuatu yang mudah dipahami pasti dangkal, sementara sesuatu yang rumit, gelap, dan sulit dicerna pasti menyimpan kearifan yang mendalam. Kerumitan lantas diagung-agungkan sebagai simbol kecerdasan tingkat tinggi.
Padahal kenyataannya sering kali berkebalikan seratus delapan puluh derajat. Mengaburkan gagasan yang sederhana di balik tabir jargon yang rumit adalah perkara yang sangat gampang. Siapa pun yang memiliki kamus istilah asing dan sedikit ketelatenan menyusun kalimat pasif bisa melakukannya dalam hitungan jam.
Sebaliknya, mengambil konsep yang maha rumit, abstrak, dan ruwet, lalu mengurainya menjadi analogi-analogi yang benderang, memikat, serta bisa dipahami oleh seorang siswa sekolah tanpa menghilangkan kedalaman maknanya—itulah kecerdasan sejati.
Albert Einstein konon pernah melontarkan pandangan tajam yang sangat relevan untuk konteks ini: jika Anda tidak bisa menjelaskan sebuah konsep kepada anak berusia enam tahun secara sederhana, itu artinya Anda sendiri belum benar-benar memahami konsep tersebut. Kerumitan bahasa acap kali hanyalah topeng tebal untuk menutupi kerancuan logika di kepala penulisnya sendiri.
Kedalaman Makna vs Kekaburan Bahasa
Tentu saja, kita perlu berhati-hati agar tidak jatuh pada kecerobohan yang sebaliknya: anti-intelektualisme atau mendewakan simplifikasi yang murahan.
Dunia ini memang rumit. Ada topik-topik filsafat murni, fisika kuantum, analisis hukum tata negara, atau kedokteran saraf yang memang membutuhkan ketepatan istilah teknis yang ketat. Mengganti istilah teknis yang presisi dengan kata-kata umum secara serampangan justru bisa mereduksi dan merusak kebenaran ilmiah yang sedang dibahas.
Namun, pembaca yang berpengalaman selalu bisa mencium perbedaan antara kedalaman gagasan dan kekaburan bahasa.
Perhatikan perbedaan karakteristik keduanya:
Kedalaman yang Otentik: Kalimatnya padat, jernih, dan tidak bertele-tele. Penulis menghormati waktu pembaca. Jika ia terpaksa menggunakan istilah teknis yang asing, ia menyediakannya bersama analogi yang membumi atau konteks yang menerangi maknanya. Kesulitan dalam memahami tulisan ini murni bersumber dari beratnya bobot pikiran yang sedang dibedah, bukan dari struktur kalimatnya yang berantakan. Saat membacanya, Anda merasa diajak mendaki bukit bersama seorang kawan yang tangguh: napas Anda terengah-engah karena jalurnya menanjak, tetapi pemandangan yang tersaji di puncak membuat seluruh lelah Anda terbayar lunas.
Kekaburan yang Dibuat-buat: Kalimatnya berbelit-belit, repetitif, dan boros kata sifat. Penulis tampak lebih sibuk memamerkan koleksi kosakata terbarunya ketimbang memecahkan masalah. Jika jargon-jargon mewah di dalam teks itu dikupas satu per satu, Anda akan mendapati bahwa pesan inti yang ingin disampaikan sesungguhnya sangat remeh, klise, atau bahkan kosong melompati logika dasar. Anda bukan sedang diajak mendaki bukit, melainkan sedang disesatkan di dalam labirin cermin yang penuh ilusi pantulan.
Penulis besar dunia selalu memilih kejernihan. Bacalah George Orwell. Esai-esainya tentang politik kekuasaan, bahasa propaganda, dan ketidakadilan sosial ditulis dengan bahasa Inggris yang sedemikian jernih, tajam, dan langsung menusuk ke jantung persoalan. Orwell tidak butuh bersembunyi di balik terminologi sosiologi yang rumit untuk membongkar kebohongan rezim totaliter; ia cukup menggunakan kata-kata harian yang dirangkai dengan kejujuran moral yang luar biasa.
Di Indonesia, kita bisa melihat kejernihan serupa pada tulisan-tulisan esais terkemuka seperti Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir-nya yang puitis namun tetap menyentuh rasa keadilan, atau para intelektual publik yang mampu membicarakan persoalan APBD daerah, korupsi birokrasi, dan kegelisahan kultural dengan gaya obrolan di pos ronda tanpa kehilangan ketajaman analisisnya sedikit pun. Mereka tidak perlu bersikap congkak agar tampak terpelajar; kepintaran mereka memancar dari cara mereka menyederhanakan hal-hal yang rumit menjadi santapan yang lezat bagi akal sehat.
Keringanan Tulisan adalah Bentuk Kemewahan
Sebuah tulisan yang memikat para penggemar buku sesungguhnya tidak pernah terasa berat saat dibaca, meskipun beban pikiran yang dibawanya sangat berbobot. Tulisan yang baik memiliki apa yang oleh para penyair disebut sebagai ritme atau musikalitas: ia bernapas.
Tulisan yang “terlalu pintar” biasanya macet karena kekurangan oksigen. Kalimat-kalimatnya terlalu panjang, kaku, dan monoton. Penulisnya tidak peduli pada kenyamanan telinga batin pembaca yang sedang menyuarakan kata-kata itu di dalam hati.
Cobalah perhatikan bagaimana variasi panjang kalimat mampu menghidupkan sebuah narasi:
Sebuah kalimat pendek memiliki kekuatan ledak. Ia tegas. Ia memukul tepat di ulu hati. Namun, jika Anda hanya menulis dengan kalimat pendek secara terus-menerus, tulisan Anda akan terdengar kaku laksana rentetan senapan mesin yang membosankan. Karena itu, Anda membutuhkan kalimat berukuran sedang untuk mengalirkan ide, merajut argumentasi, dan memberikan ruang bagi pembaca untuk mulai mencerna hubungan sebab-akibat dari peristiwa yang sedang Anda uraikan secara runtut. Sesekali, bila momennya tepat dan Anda ingin melukiskan sebuah suasana batin yang luas, sebuah pemandangan yang membentang dari ufuk ke ufuk, atau kepedihan mendalam yang bertumpuk seiring bergantinya musim, barulah Anda mengayunkan sebuah kalimat panjang yang mengalun anggun, berirama merdu, dan penuh rincian indrawi yang hidup, sebelum akhirnya Anda menutupnya kembali dengan sebuah hentakan kecil.
Jelas sekali bedanya.
Keringanan dalam menulis bukanlah kelemahan; ia adalah kemewahan tertinggi dalam seni merangkai kata. Keringanan bukan berarti dangkal, melainkan bebas dari beban-beban yang tidak berguna. Menulis dengan ringan dan santai menuntut disiplin tinggi untuk membuang segala macam lemak verbal, metafora basi, dan kepongahan intelektual yang hanya memperlambat langkah pembaca.
Kerendahan Hati di Hadapan Pembaca
Pada akhirnya, perdebatan tentang gaya penulisan ini selalu bermuara pada satu pertanyaan etis yang paling mendasar: untuk siapakah sesungguhnya Anda menulis?
Jika Anda menulis semata-mata untuk mengelus ego pribadi, memuaskan narsisme intelektual, atau mencari pengakuan dari segelintir lingkaran elit yang gemar saling memuji kecerdasan masing-masing, silakan teruskan menulis dengan gaya yang gelap, angkuh, dan tak tertembus. Dunia akademis dan menara gading barangkali akan memberi Anda panggung kecil untuk itu.
Namun jika Anda menulis karena Anda mencintai buku, mencintai gagasan, dan memiliki kepedulian yang tulus kepada pembaca—mereka yang bekerja keras seharian, menyisihkan waktu istirahat malamnya yang berharga, dan menyerahkan perhatian jiwanya ke lembaran halaman Anda—maka bersikaplah rendah hati.
Tanggalkan jubah kebesaran Anda saat duduk di depan meja tulis. Terangi lorong-lorong pikiran Anda yang gelap dengan bahasa yang hangat, bersahabat, dan terang benderang. Jadilah kawan bicara yang menyenangkan, bukan dosen penguji yang berdiri dengan wajah cemberut menuntut pembaca menghafal rumus-rumus rumit.
Buku-buku yang paling abadi dalam sejarah peradaban bukanlah buku-buku yang membuat pembacanya merasa kerdil dan dungu. Buku-buku terhebat adalah buku yang berhasil membicarakan hal-hal paling agung di muka bumi dengan cara yang sedemikian ramah dan bersahaja, sampai-sampai setelah menutup halaman terakhirnya, sang pembaca berdiri dengan mata yang berbinar seraya berbisik pelan pada dirinya sendiri:
“Sekarang aku paham, dan betapa menakjubkannya dunia ini.”




