Mengapa Seseorang Sangat Suka Membeli Buku Meski Belum Sempat Dibaca

Fenomena tumpukan buku yang dibeli namun belum sempat dibaca adalah pemandangan yang sangat lumrah di rumah para pecinta literasi. Sering kali seseorang datang ke pameran buku, mengunjungi toko buku fisik, atau menjelajahi platform marketplace dengan niat awal hanya sekadar “melihat-lihat”. Namun, saat keluar dari toko atau menyelesaikan transaksi daring, mereka membawa pulang beberapa eksemplar buku baru. Sesampainya di rumah, buku-buku tersebut hanya ditata rapi di atas meja, ditaruh di dalam lemari, atau dibiarkan menumpuk di sudut kamar tanpa pernah dibuka plastik pembungkusnya.

Di Jepang, istilah untuk perilaku mengumpulkan bahan bacaan tanpa membacanya dikenal dengan sebutan Tsundoku (積ん読). Istilah ini menggabungkan kata tsumu (menumpuk) dan doku (membaca). Fenomena ini bukan sekadar bentuk pemborosan atau kebiasaan buruk tanpa alasan, melainkan sebuah perilaku psikologis yang kompleks dan menarik untuk dibedah. Ada dorongan emosional, harapan masa depan, pencarian identitas, hingga apresiasi seni yang melandasi mengapa seseorang sangat suka membeli buku meski tahu belum tentu memiliki waktu untuk membacanya dalam waktu dekat. Artikel ini menguraikan secara mendalam alasan-alasan psikologis dan sosiologis di balik kebiasaan unik tersebut.

Membeli Buku Adalah Membeli Harapan dan Waktu di Masa Depan

Salah satu alasan psikologis paling mendasar di balik kebiasaan membeli buku tanpa membacanya adalah adanya ilusi kontrol atas waktu dan masa depan. Ketika seseorang membeli sebuah buku, sebenarnya ia tidak sekadar membayar fisik tumpukan kertas dan tinta, melainkan sedang membeli harapan akan masa depan yang dibayangkan.

Saat melihat judul buku yang menarik—misalnya tentang pengembangan diri, sejarah, atau novel fiksi ilmiah—otak manusia secara otomatis membayangkan versi diri ideal yang sedang duduk tenang menikmati buku tersebut sambil menyerap ilmunya. Pembelian buku menjadi sebuah proyeksi harapan bahwa di masa depan sang pembeli akan memiliki waktu senggang, pikiran yang tenang, serta disiplin untuk membacanya.

Tabel di bawah ini menggambarkan perbedaan antara realitas emosional saat transaksi pembelian buku dengan realitas praktis yang dihadapi pembeli setelahnya.

Fase PembelianEkspektasi Emosional PembeliRealitas Praktis yang Terjadi
Momen PembelianMerasa telah mengambil langkah menuju versi diri yang lebih bijak dan berpengetahuan.Transaksi hanya memindahkan kepemilikan barang, bukan ilmu pengetahuan di dalamnya.
Pasca-PembelianMembayangkan waktu luang yang tenang untuk membaca di akhir pekan.Kesibukan harian, rutinitas kerja, dan kelelahan fisik menyita waktu luang yang direncanakan.
Jangka PanjangMenyakini buku tersebut akan dibaca “suatu saat nanti”.Buku tertumpuk oleh rilisan buku baru lainnya dan menjadi bagian dari dekorasi ruangan.

Sensasi Dopamin dari Perilaku Mengumpulkan (Collecting)

Secara neurobiologis, tindakan mencari, memilih, dan membeli buku memicu pelepasan hormon dopamin di dalam otak. Dopamin adalah zat kimia otak yang bertanggung jawab atas rasa senang, motivasi, dan pencarian imbalan (reward system).

Sensasi kepuasan terbesar justru sering kali terjadi pada fase pencarian dan pembelian, bukan pada fase membaca yang membutuhkan usaha mental dan waktu yang panjang. Proses mengendus bau kertas baru, memegang sampul buku yang indah, dan membawa pulang kantong belanjaan memberikan kepuasan instan (instant gratification) yang menyenangkan.

Bagi sebagian orang, perilaku ini mirip dengan dorongan mengumpulkan barang koleksi (collecting instinct). Keinginan untuk mengumpulkan barang-barang berharga atau indah adalah sifat alami manusia yang memberikan rasa aman dan pencapaian emosional.

Tabel berikut menyajikan perbandingan antara energi emosional yang dibutuhkan saat membeli buku dibandingkan dengan saat membaca buku.

AktivitasJenis KepuasanKebutuhan Energi & WaktuTingkat Aksesibilitas
Membeli BukuInstan (Dopamine Spike)Rendah (Hanya butuh beberapa menit dan transaksi).Sangat Mudah & Cepat.
Membaca BukuBertahap (Long-term Fulfillment)Tinggi (Butuh fokus, waktu berjam-jam, dan ketahanan emosional).Membutuhkan Komitmen Tinggi.

Konsep “Anti-Perpustakaan” (Antilibrary) dan Pengingat Kebodohan Diri

Pengarang dan pemikir terkenal Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya The Black Swan mempopulerkan konsep yang sangat menarik mengenai tumpukan buku yang belum dibaca, yang ia sebut sebagai Antilibrary (Anti-perpustakaan). Concept ini terinspirasi dari perpustakaan pribadi milik penulis Italia, Umberto Eco, yang mengoleksi puluhan ribu buku yang sebagian besar belum pernah ia baca.

Menurut Taleb, buku-buku yang sudah dibaca memang berharga, tetapi buku-buku yang belum dibaca jauh lebih berharga. Tumpukan buku yang belum dibaca berfungsi sebagai pengingat konstan bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas dan ada begitu banyak hal di dunia ini yang belum kita ketahui.

Tumpukan buku di rumah bertindak sebagai jangkar kerendahan hati. Setiap kali seseorang melihat tumpukan tersebut, ia diingatkan untuk tidak sombong atas apa yang sudah diketahui, melainkan tetap penasaran dan haus akan ilmu pengetahuan baru.

Tabel di bawah ini membandingkan pandangan konvensional terhadap tumpukan buku dengan sudut pandang Antilibrary.

Sudut PandangMakna Tumpukan Buku Belum DibacaEfek Psikologis pada Pemilik
Pandangan KonvensionalPemborosan uang, simbol rasa malas, dan tumpukan barang tidak terpakai.Merasa bersalah (guilt) karena belum menyelesaikannya.
Pandangan AntilibraryPengingat batas pengetahuan (curiosity anchor) dan sumber inspirasi tanpa batas.Merasa rendah hati (humble), terinspirasi, dan terus ingin belajar.

Estetika, Kenyamanan Lingkungan, dan Identitas Diri

Buku bukan hanya media penyimpan teks atau ilmu pengetahuan, melainkan juga objek seni dan simbol identitas. Bentuk fisik buku, desain sampul yang estetis, tekstur kertas, hingga tipografi tulisan memiliki daya tarik visual dan sensorik yang sangat kuat.

Banyak orang menyukai kehadiran buku di rumah mereka karena tumpukan buku menciptakan atmosfer yang hangat, tenang, dan intelektual. Keberadaan buku di sekitar tempat tinggal memberikan kenyamanan psikologis (psychological comfort) bahwa mereka dikelilingi oleh ide-ide besar dan kisah-kisah indah.

Selain itu, koleksi buku sering kali berfungsi sebagai pencerminan identitas diri (self-identity). Buku-buku yang dibeli mencerminkan minat, nilai-nilai, serta aspirasi pribadi pemiliknya. Seseorang membeli buku filsafat, seni, atau sejarah mungkin karena buku-buku tersebut mewakili hal-hal yang mereka kagumi dan ingin jadikan bagian dari identitas hidup mereka.

Tabel berikut menunjukkan elemen-elemen non-bacaan yang membuat sebuah buku fisik sangat menarik untuk dimiliki.

Elemen Non-Bacaan BukuBentuk Daya Tarik Sensorik / PsikologisDampak pada Keputusan Membeli
Desain Sampul (Cover Art)Keindahan visual dan karya seni grafis.Mendorong pembelian impulsif karena estetika fisik.
Aroma & Tekstur KertasSensasi aroma kertas dan taktil saat memegang halaman.Memberikan pengalaman relaksasi yang tidak bisa digantikan media digital.
Simbolisme RuanganDekorasi interior yang menciptakan nuansa hangat dan cerdas.Menciptakan lingkungan rumah yang terasa aman dan menginspirasi.

Takut Kehilangan Kesempatan (Fear of Missing Out / FOMO)

Dinamika industri penerbitan dan media sosial modern turut mendorong kebiasaan membeli buku tanpa sempat membacanya. Rilisan buku baru, edisi terbatas (special edition), edisi cetakan pertama, hingga buku-buku yang viral di platform media sosial seperti BookTok atau Bookstagram sering kali memicu fenomena Fear of Missing Out (FOMO).

Calon pembeli sering merasa cemas bahwa jika mereka tidak membeli buku tersebut sekarang, buku itu akan kehabisan stok, tidak dicetak ulang, atau mereka akan ketinggalan arus percakapan dan tren di komunitas literasi. Dorongan untuk “mengamankan” buku tersebut terlebih dahulu menjadi lebih dominan daripada pertimbangan apakah mereka memiliki waktu untuk membacanya saat ini.

Tabel di bawah ini menjelaskan pemicu eksternal yang mendorong fenomena Tsundoku akibat dinamika pasar modern.

Pemicu Eksternal PasarStrategi / Fenomena PemasaranDampak pada Perilaku Pembeli
Edisi Terbatas (Limited Edition)Penyediaan bonus pembatas kayu, sampul eksklusif, atau ttd penulis.Membeli secepatnya agar tidak kehilangan nilai eksklusivitas.
Tren Media Sosial (BookTok)Pembahasan masif dan rekomendasi visual yang menarik di media sosial.Membeli buku agar merasa menjadi bagian dari Komunitas global.
Diskon & Pameran BukuPotongan harga besar-besaran atau penawaran paket hemat.Membeli dalam jumlah banyak dengan alasan “mumpung murah”.

Mengubah Rasa Bersalah Menjadi Apresiasi Positif

Sering kali, orang-orang yang memiliki banyak tumpukan buku belum dibaca merasa bersalah (reader’s guilt). Mereka merasa telah membuang-buang uang atau menganggap diri mereka tidak disiplin. Namun, mengubah sudut pandang terhadap fenomena ini dapat membantu menjaga kesehatan emosional seorang pecinta buku.

Menyadari bahwa fenomena Tsundoku adalah bentuk kecintaan pada literasi dan dorongan untuk terus belajar dapat menghapus rasa bersalah tersebut. Membeli buku adalah bentuk dukungan finansial langsung kepada penulis, penerbit, penerjemah, dan seluruh rantai industri perbukuan agar terus berkarya. Selama pembelian buku tidak mengganggu stabilitas keuangan harian, tumpukan buku di rumah tidak perlu dipandang sebagai beban, melainkan sebagai toko buku pribadi yang siap menyambut kamu kapan saja ketika waktu luang itu akhirnya tiba.

Tabel berikut menyajikan langkah-langkah praktis untuk mengelola tumpukan buku dengan bijak dan tanpa rasa bersalah.

Langkah PengelolaanAksi Praktis yang Dapat DilakukanManfaat Psikologis & Praktis
Penataan Rapi (Curated Shelf)Menata buku secara estetik berdasarkan warna, genre, atau tingkat prioritas.Mengubah kesan “berantakan” menjadi instalasi seni ruangan yang indah.
Audit BerkalaMenyumbangkan atau menjual kembali buku yang benar-benar tidak lagi menarik minat.Memberikan ruang untuk buku baru dan membagikan manfaat pada orang lain.
Sikap Menerima (Acceptance)Menerima bahwa tidak semua buku harus dibaca habis dari awal hingga akhir.Menghilangkan beban mental dan rasa bersalah saat membaca secara acak.

Kesimpulan

Suka membeli buku meski belum sempat dibaca adalah fenomena manusiawi yang berakar pada kombinasi antara harapan masa depan, pencarian ketenangan emosional, keindahan estetika, serta apresiasi pada ilmu pengetahuan. Tumpukan buku di sudut ruangan bukanlah monumen kegagalan atau rasa malas, melainkan bukti nyata dari rasa ingin tahu yang tidak pernah padam dan impian untuk terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Ketika kamu melihat tumpukan buku yang belum dibaca di rumah, jangan biarkan rasa bersalah menghampiri. Pandanglah tumpukan tersebut sebagai sebuah perlindungan pribadi yang penuh dengan gagasan, petualangan, dan wawasan yang sedang sabar menunggu giliran untuk diselami. Membeli buku adalah perayaan atas harapan, dan harapan adalah hal indah yang patut terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari.