Kritik Sastra di Era AI: Siapa yang Menilai Siapa?

Saya terlibat dalam sebuah obrolan yang cukup alot dengan seorang kawan yang mengelola sebuah jurnal sastra digital. Dia bercerita dengan nada gusar tentang tumpukan naskah yang masuk ke mejanya belakangan ini. “Mas” katanya sambil memijat pelipis, “Masalah saya sekarang bukan lagi soal naskah yang buruk, tapi naskah yang ‘terlalu baik’ tapi tidak ada harganya. Semuanya rapi, metaforanya indah secara teknis, alurnya patuh pada teori struktur naratif, tapi saat dibaca… hambar. Saya curiga ini semua hasil olahan mesin.”

Kegelisahan kawan saya ini membawa saya pada sebuah pertanyaan yang lebih dalam dan mungkin agak mengerikan: Jika sebuah karya sastra—entah itu puisi, cerpen, atau esai—kini diproduksi dengan bantuan kecerdasan buatan, lantas bagaimana nasib kritik sastra? Jika penulisnya sudah mulai menggunakan AI untuk menulis, dan barangkali para kritikusnya juga mulai menggunakan AI untuk membedah karya, maka sebenarnya siapa yang sedang menilai siapa?

Apakah kita sedang menuju sebuah masa di mana dua buah sirkuit elektronik saling memuji dan mengkritik satu sama lain, sementara kita manusia hanya menonton di pinggir lapangan sebagai penonton yang kebingungan?

Runtuhnya Otoritas Kritikus Manusia

Dulu, kritik sastra adalah sebuah laku intelektual yang berat dan penuh wibawa. Seorang kritikus adalah sosok yang membaca dengan “mata batin”. Mereka tidak hanya melihat struktur kalimat, tapi juga menangkap konteks zaman, kegelisahan eksistensial sang penulis, hingga subteks yang tersembunyi di balik tanda baca. Kritik sastra adalah dialog antar-jiwa.

Namun, di era AI ini, otoritas itu mulai goyah. Sekarang, siapa pun bisa meminta bantuan mesin untuk melakukan bedah karya. Anda tinggal masukkan satu cerpen ke dalam AI, lalu berikan perintah: “Bedah cerpen ini menggunakan teori dekonstruksi Jacques Derrida.” Dalam hitungan detik, mesin akan memuntahkan analisis yang panjang, lengkap dengan istilah-istilah mentereng yang mungkin si pembuat perintah sendiri tidak paham artinya.

Masalahnya adalah, mesin melakukan kritik berdasarkan pola dan database, bukan berdasarkan “rasa”. Kritik sastra yang dihasilkan AI adalah kritik statistik. Ia menilai sebuah karya bagus jika karya itu memenuhi standar-standar yang umum ditemukan dalam bank datanya. Ia tidak bisa menangkap getaran amarah yang jujur atau kesedihan yang otentik. Bahayanya, ketika kita mulai mengandalkan penilaian mesin, kita secara tidak sadar sedang menyeragamkan standar keindahan sastra kita. Kita hanya akan menganggap sesuatu itu bagus jika mesin bilang itu bagus.

Ketika Mesin Menilai Mesin

Ini adalah skenario yang paling lucu sekaligus tragis. Bayangkan seorang penulis yang malas, dia meminta AI untuk membuatkan sebuah esai yang mendalam. Kemudian, esai itu dikirimkan ke sebuah lomba atau media. Karena dewan juri atau editornya juga kewalahan dengan tumpukan naskah, mereka menggunakan bantuan AI untuk melakukan penyaringan awal atau “skrining” naskah.

Maka terjadilah dialog absurd itu: Mesin A memproduksi teks, lalu Mesin B menilai teks tersebut. Mesin B akan berkata, “Oh, ini tulisan yang luar biasa karena strukturnya sangat logis,” tanpa menyadari bahwa logika itu adalah hasil kopian dari sistem yang serupa dengannya.

Dalam siklus ini, manusia benar-benar tereliminasi. Kita tidak lagi menjadi subjek yang berpikir dan merasa, melainkan hanya menjadi kurir yang mengantarkan data dari satu aplikasi ke aplikasi lainnya. Kritik sastra yang seharusnya menjadi alat untuk memajukan peradaban dan memperdalam kemanusiaan, kini berubah menjadi sekadar proses validasi perangkat lunak. Nilai-nilai subjektivitas yang mahal—seperti keunikan sudut pandang atau keberanian melawan arus—akan dianggap sebagai “noise” atau gangguan oleh sistem penilaian mesin.

Standardisasi Estetika yang Mematikan

Kritik sastra versi AI cenderung menyukai keteraturan. Ia akan memuji tulisan yang efisien, efektif, dan patuh pada kaidah-kaidah populer. Jika ada seorang penulis yang secara sengaja merusak struktur bahasa demi mencapai efek artistik tertentu—seperti yang dilakukan Sutardji Calzoum Bachri dengan kredo puisinya yang ingin membebaskan kata dari makna—AI mungkin akan menganggapnya sebagai kesalahan ketik atau kegagalan sintaksis.

Jika kritikus manusia mulai membebek pada cara pandang mesin, kita akan kehilangan keberagaman estetika. Kita akan takut menulis hal-hal yang “aneh” karena takut dinilai buruk oleh sistem penilaian digital. Kita akan memangkas semua sisi kasar dan liar dalam tulisan kita agar terlihat “sempurna” di mata algoritma.

Padahal, sastra justru hidup dari keanehan-keanehan itu. Sastra hidup dari retakan-retakan pikiran manusia yang tidak bisa diprediksi. Kritik sastra yang baik seharusnya mampu merayakan retakan itu, bukan malah menyarankan agar retakan itu ditambal dengan semen efisiensi buatan pabrik.

Mengembalikan Kritik Sastra sebagai Pengalaman Kemanusiaan

Lantas, bagaimana kita menyelamatkan kritik sastra?

Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa AI bisa membantu kita mengumpulkan data, tapi ia tidak boleh menggantikan fungsi “menilai”. Seorang kritikus harus tetap memiliki integritas untuk tidak menelan mentah-mentah analisis mesin. Menilai sebuah karya adalah sebuah tanggung jawab moral. Ia melibatkan empati, sejarah hidup, dan keberpihakan nilai. Sesuatu yang tidak akan pernah dimiliki oleh tumpukan kabel dan sensor.

Kedua, kita butuh kritik sastra yang lebih subjektif. Di era yang sangat memuja objektivitas semu AI ini, subjektivitas manusia adalah barang mewah. Saya ingin membaca kritik sastra yang berani bilang, “Saya benci tulisan ini karena ia terlalu sopan dan tidak jujur,” atau “Saya mencintai puisi ini karena ia mengingatkan saya pada aroma dapur ibu saya saat saya kecil.” Pernyataan-pernyataan emosional seperti inilah yang membuat sastra tetap membumi dan relevan bagi kehidupan.

Ketiga, kritikus harus mampu mendeteksi “bau manusia”. Kita harus melatih insting kita untuk membedakan mana karya yang lahir dari pergulatan batin yang berdarah-darah, dan mana karya yang hanya hasil rakitan “prompt” yang cerdik. Karya yang lahir dari AI biasanya memiliki semacam “permukaan yang terlalu licin”. Tugas kritikus adalah menemukan kembali karya-karya yang “kasar” tapi memiliki kedalaman jiwa.

Siapa yang Menilai Siapa?

Kembali ke pertanyaan di judul: Siapa yang menilai siapa?

Jika kita membiarkan diri kita terus hanyut dalam kemalasan teknologi, maka jawabannya adalah: Mesin sedang menilai kita, dan kita sedang dipaksa menjadi robot agar lulus penilaian mereka. Kita sedang dibentuk oleh alat yang kita buat sendiri.

Namun, jika kita tetap teguh pada kemandirian berpikir kita, maka jawabannya haruslah tetap: Manusia tetap menjadi penilai tertinggi. Kita menggunakan AI sebagai alat bantu teknis—seperti kita menggunakan mikroskop untuk melihat kuman—tapi keputusan apakah kuman itu berbahaya atau indah tetap ada di tangan kita, sang pengamat.

Kritik sastra di era AI seharusnya menjadi benteng terakhir untuk menjaga martabat manusia. Kritikus bertugas untuk memastikan bahwa di balik banjir teks digital hari ini, masih ada “manusia” yang tersisa. Kita harus menjadi orang yang paling cerewet saat melihat tulisan-tulisan yang kehilangan rasa. Kita harus menjadi orang yang paling galak terhadap penyeragaman selera yang dipaksakan oleh algoritma.

Penutup: Merayakan Kesalahan yang Indah

Pembaca, sastra bukanlah ilmu pasti. Ia bukan matematika yang jawabannya harus tunggal dan mutlak. Sastra adalah perayaan atas segala ketidakpastian hidup manusia. Oleh karena itu, kritiknya pun tidak boleh kaku dan dingin seperti bahasa pemrograman.

Jangan takut jika tulisanmu dikritik karena “tidak efisien” atau “terlalu emosional” oleh standar-standar modern yang terpengaruh AI. Bisa jadi, ketidakefisienan itulah yang menjadi keunggulanmu sebagai manusia. Bisa jadi, emosi yang meledak-ledak itulah yang membuat tulisanmu lebih berharga daripada sejuta artikel SEO yang paling rapi sekalipun.

Mari kita kembalikan kritik sastra ke atas meja warung kopi, ke dalam perdebatan-perdebatan jujur antar-kawan, dan ke dalam perenungan pribadi yang sunyi. Biarlah mesin mengurus data, tapi biarlah rasa tetap menjadi urusan kita.

Dunia mungkin akan dipenuhi oleh kecerdasan buatan, tapi jangan sampai kita kehilangan “kebijaksanaan alami” kita dalam merasakan keindahan. Tetaplah menjadi kritikus yang punya hati, tetaplah menjadi pembaca yang punya rasa.

Sebab pada akhirnya, yang membuat sebuah tulisan itu abadi bukan karena ia lolos sensor algoritma, tapi karena ia sanggup menyapa sisi manusiawi kita yang paling dalam—sesuatu yang tidak akan pernah dipahami oleh sirkuit elektronik mana pun, sampai kapan pun.