Saya terlibat perdebatan kecil namun cukup sengit dengan seorang kawan yang bekerja sebagai manajer konten di sebuah perusahaan rintisan. Kami berdebat tentang satu frasa yang tampaknya sederhana tapi mendasar: “Tulisan Bagus”.
Bagi kawan saya ini, tulisan bagus adalah tulisan yang “perform”. Artinya, ia memiliki angka keterbacaan yang tinggi, diklik oleh ribuan orang, ramah terhadap mesin pencari (SEO), dan syukur-syukur kalau bisa viral. Baginya, angka-angka di dasbor analitik adalah hakim yang paling adil. Kalau grafik penjualannya naik setelah artikel tayang, maka itulah tulisan yang bagus. Titik. Tak peduli apakah kalimatnya garing atau strukturnya kaku seperti kanebo kering.
Sementara saya, sebagai orang yang tumbuh besar dengan mengunyah esai-esai di koran Minggu, merasa definisi itu sangat melecehkan martabat bahasa. Bagi saya, tulisan bagus adalah tulisan yang punya “nyawa”. Tulisan yang setelah selesai dibaca, ia meninggalkan sesuatu di kepala dan di hati pembaca—entah itu rasa jengkel, rasa haru, atau keinginan untuk segera bangkit dan melakukan sesuatu.
Perdebatan kami berakhir seri karena kopi di cangkir sudah habis. Namun, di perjalanan pulang, saya terus berpikir: di era kepungan kecerdasan buatan (AI) dan algoritma yang maha tahu ini, masihkah kita memiliki standar yang waras untuk menyebut sebuah tulisan itu “bagus”? Ataukah kita sedang secara berjamaah menggugat definisi lama dan menggantinya dengan standar pabrikan yang membosankan?
Matinya Estetika di Tangan Statistik
Dulu, sebuah tulisan dianggap bagus jika ia memiliki kekuatan narasi, diksi yang segar, dan orisinalitas pemikiran. Penulis esai seperti Gunawan Mohamad atau Mahbub Djunaidi dihargai bukan karena tulisan mereka ramah algoritma (zaman itu algoritma mungkin baru dikenal oleh para profesor matematika), tapi karena mereka mampu merangkai kata menjadi sebuah pengalaman batin bagi pembaca.
Namun, di era modern ini, estetika tulisan mulai dipinggirkan oleh statistik. Kita mulai terbiasa dengan definisi tulisan bagus yang “mekanis”. Sebuah tulisan dianggap bagus kalau ia menggunakan kata kunci tertentu agar mudah ditemukan Google. Kalimat-kalimatnya dibuat pendek-pendek bukan karena alasan puitis, tapi karena katanya rentang perhatian manusia modern sudah sependek ikan mas koki.
Akibatnya, kita mendapati sebuah tragedi literasi: tulisan-tulisan yang secara teknis “benar” dan “perform”, tapi sebenarnya sampah secara rasa. Kita membaca ribuan kata setiap hari di layar ponsel, tapi tidak ada satu pun yang membekas. Semuanya hanya lewat seperti angin lalu. Kita kenyang informasi, tapi kelaparan makna.
AI dan Standar Kesempurnaan yang Menipu
Kehadiran AI memperparah keadaan ini. Mesin-mesin cerdas itu sekarang bisa memproduksi teks yang sangat rapi. Tidak ada salah ketik, tata bahasanya sempurna, dan strukturnya sangat logis. Banyak orang kemudian menyebut hasil kerja AI sebagai “tulisan bagus”.
Di sinilah letak masalahnya. Jika kita mendefinisikan tulisan bagus hanya sebagai tulisan yang rapi secara teknis, maka kita sebenarnya sedang merendahkan derajat tulisan itu sendiri menjadi sekadar produk manufaktur.
Tulisan bagus yang sesungguhnya justru sering kali lahir dari ketidaksempurnaan yang manusiawi. Ada kalanya sebuah kalimat yang sedikit berantakan justru lebih mampu menyampaikan emosi daripada kalimat yang disusun dengan logika algoritma. Kesempurnaan AI adalah kesempurnaan yang steril. Ia seperti ruangan operasi rumah sakit: bersih, putih, dingin, tapi tidak ada orang yang mau tinggal lama-lama di sana. Sementara tulisan manusia yang bagus itu seperti ruang tamu di rumah nenek: mungkin ada debu sedikit, ada tumpukan koran lama, tapi ada kehangatan yang membuat kita betah.
Menggugat Objektivitas Semu
Era modern sangat memuja objektivitas. Informasi harus netral, tidak boleh bias, dan harus didasarkan pada data. Namun, dalam dunia esai, objektivitas yang terlalu kaku justru sering kali membunuh karakter tulisan.
Esai yang bagus adalah esai yang subjektif. Ia adalah kacamata pribadi sang penulis dalam memandang dunia. Kita membaca esai bukan untuk mencari kebenaran mutlak seperti dalam rumus fisika, tapi untuk mencari “kebenaran rasa” dari sudut pandang manusia lain.
Ketika definisi tulisan bagus digugat oleh arus data, subjektivitas ini mulai dianggap sebagai “gangguan”. Penulis diminta untuk menulis secara netral agar tidak menyinggung siapa pun dan agar bisa diterima oleh pasar yang seluas-luasnya. Hasilnya adalah tulisan yang sopan tapi pengecut. Tulisan yang tidak berani mengambil posisi. Tulisan yang, pada akhirnya, tidak memiliki wibawa intelektual.
Tulisan Bagus Adalah Sebuah “Gangguan”
Bagi saya, di tengah banjir konten tanpa makna hari ini, kita perlu merumuskan kembali definisi tulisan bagus. Tulisan bagus bukan lagi sekadar tulisan yang enak dibaca atau yang mudah ditemukan di internet.
Tulisan bagus adalah sebuah “gangguan”.
Ia adalah tulisan yang mengganggu kemalasan berpikir kita. Ia adalah tulisan yang memaksa kita berhenti menggulir layar ponsel dan mulai merenung. Ia adalah tulisan yang membuat kita merasa tidak nyaman dengan kemapanan atau kebodohan kita sendiri.
Jika sebuah tulisan hanya membuat Anda manggut-manggut setuju tanpa memberi perspektif baru, atau hanya membuat Anda merasa senang sesaat lalu lupa, maka menurut saya itu bukanlah tulisan yang benar-benar bagus. Itu hanyalah “hiburan kata-kata”. Tulisan yang bagus harus memiliki daya ledak. Ia harus mampu mengubah struktur berpikir pembacanya, meskipun hanya sedikit.
Kedalaman sebagai Barang Mewah
Di era yang serba cepat ini, kedalaman menjadi barang mewah. Dan tulisan bagus adalah kendaraan menuju kedalaman itu.
Sayangnya, definisi modern tentang tulisan bagus sering kali justru memusuhi kedalaman. Kedalaman dianggap membosankan, terlalu berat, dan tidak ramah bagi “pembaca awam”. Penulis didorong untuk menyederhanakan segala hal sampai pada titik di mana maknanya justru hilang.
Kita harus menggugat ini. Menulis untuk pembaca awam bukan berarti kita harus menulis seperti sedang bicara dengan anak balita. Penulis yang baik adalah penulis yang mampu membawa hal-hal yang dalam menjadi bisa dirasakan oleh siapa saja tanpa harus mengorbankan bobot pemikirannya. Itulah standar tulisan bagus yang harus kita pertahankan: kedalaman yang bisa dijangkau, bukan kedangkalan yang dipoles.
Mempertahankan “Suara” Manusia
Definisi tulisan bagus di era modern harus tetap berpusat pada satu hal: suara manusia yang otentik. Di tengah kepungan teks buatan mesin, keunikan suara personal adalah benteng terakhir kita.
Tulisan bagus adalah tulisan yang ketika Anda membacanya, Anda bisa mendengar suara penulisnya di telinga Anda. Anda bisa merasakan kejengkelannya, tawanya, atau tarikan napas panjangnya di antara tanda koma dan titik. Inilah yang tidak bisa dilakukan oleh AI, dan inilah yang sering diabaikan oleh para pemuja SEO.
Jika kita menyerahkan definisi tulisan bagus kepada algoritma, maka kita sedang bersiap-siap menuju masa kegelapan literasi. Kita akan hidup di dunia di mana teks melimpah ruah tapi kita semakin terasing satu sama lain karena tidak ada lagi “jiwa” yang saling menyapa lewat kata-kata.
Kembali ke Marwah Bahasa
Pembaca, mari kita berhenti menjadi budak angka dan statistik dalam menilai sebuah karya tulis. Jangan mudah terpukau oleh tulisan yang hanya sekadar rapi atau yang viral di media sosial. Bertanyalah pada hati Anda sendiri setelah membaca sebuah artikel: “Apakah tulisan ini memberi saya sesuatu yang baru? Apakah tulisan ini membuat saya lebih manusiawi?”
Jika jawabannya “tidak”, maka setinggi apa pun angka pageview-nya, itu bukanlah tulisan yang bagus.
Tugas penulis hari ini adalah merebut kembali definisi tulisan bagus dari tangan mesin dan pasar. Kita harus berani menulis dengan gaya kita sendiri, dengan segala ketidaksempurnaan kita, asalkan itu jujur dan punya bobot pemikiran. Kita harus berani menjadi “lambat” demi mendapatkan kedalaman.
Dunia mungkin sedang bergerak ke arah otomatisasi segalanya, tapi biarlah dunia tulisan tetap menjadi domain bagi manusia-manusia yang gelisah, yang penuh kontradiksi, tapi yang tetap berani menyuarakan kebenaran lewat kata-kata.
Definisi tulisan bagus adalah definisi tentang siapa kita sebagai manusia. Dan itu terlalu berharga untuk diserahkan kepada barisan kode biner yang dingin.




