Saat Tulisan Kita Terasa Seperti Plastik yang Dipoles

Halo, Pembaca.

Beberapa waktu lalu, saya duduk di sebuah warung kopi di pinggiran Jakarta. Di meja sebelah, ada seorang anak muda yang tampak sangat produktif. Jari-jarinya menari di atas keyboard laptop dengan kecepatan yang membuat saya—yang sering macet di satu paragraf selama dua jam—merasa seperti mesin ketik karatan. Saya penasaran. Bukan karena iri, tapi karena ia tampak tidak pernah berhenti untuk melamun. Padahal, bagi penulis esai, melamun adalah kerja keras yang paling nyata.

Belakangan saya tahu rahasianya: di layar monitornya, ada sebuah kolom percakapan dengan kecerdasan buatan. Dia tidak sedang menulis; dia sedang “memanen”. Dia memberikan satu perintah pendek, dan—wush!—dalam hitungan detik, layar itu penuh dengan paragraf-paragraf yang rapi, tertata, dan tanpa cela secara gramatikal.

Saya kemudian membaca sekilas apa yang dia hasilkan. Dan di sanalah saya menemukan keresahan yang membuat saya menulis esai ini. Tulisan itu bagus. Sangat bagus. Tapi entah kenapa, rasanya seperti memakan buah semangka yang terbuat dari plastik. Warnanya merah merekah, bentuknya sempurna, tapi saat digigit, tidak ada sari buah yang mengalir di tenggorokan. Tidak ada rasa manis yang tertinggal. Hanya ada rasa hambar yang mengganggu.

Inilah masalah besar kita hari ini: kita sedang menuju era di mana tulisan-tulisan kita terasa seperti plastik yang dipoles.

Kesempurnaan yang Menjemukan

Mari kita jujur. Kita ini manusia yang penuh dengan cacat. Kita sering salah ketik, sering menggunakan diksi yang agak “ndeso”, atau kadang-kadang struktur kalimat kita melompat-lompat karena pikiran kita memang sedang ruwet. Namun, dalam tulisan esai yang manual, cacat-cacat itulah yang menjadi sidik jari kita. Di situlah letak “nyawa”-nya.

Tulisan yang dihasilkan atau terlalu banyak dipoles oleh AI cenderung kehilangan tekstur. Ia menjadi terlalu mulus. Kalimat-kalimatnya mengalir dengan logika yang sangat patuh pada buku teks, tapi kehilangan kejutan. Seperti jalan tol yang lurus dan rata sejauh ratusan kilometer; efisien, memang, tapi bikin ngantuk. Berbeda dengan jalanan kampung yang berkelok, ada lubang di sana-sini, tapi di setiap tikungan kita bisa menemukan penjual bakso atau pemandangan sawah yang tak terduga.

Dalam dunia literasi, kejutan adalah segalanya. Esai bukan sekadar transfer informasi. Kalau cuma mau informasi, kita baca ensiklopedia saja. Esai adalah transfer rasa, transfer kegelisahan, dan transfer perspektif yang personal. Ketika tulisan dipoles menjadi sangat “sempurna” oleh algoritma, ia kehilangan kepribadiannya. Ia menjadi anonim. Ia menjadi tulisan yang bisa ditulis oleh siapa saja, dan akhirnya, tidak bermakna bagi siapa-siapa.

Menulis Bukan Sekadar Menyusun Kata

Banyak orang mengira bahwa menulis adalah proses teknis merangkai kata-kata menjadi kalimat, lalu menjadi paragraf. Kalau definisinya cuma itu, ya jelas kita kalah telak dari mesin. Mesin punya bank data triliunan kata. Tapi, menulis—terutama esai—sebenarnya adalah proses berpikir.

Saat saya menulis sebuah opini, saya biasanya mulai dengan rasa jengkel atau rasa heran. Misalnya, jengkel melihat orang yang hobi pamer kekayaan di media sosial tapi pelit sama tetangga. Rasa jengkel itu adalah energi. Saat saya mengetik, energi itu ikut mengalir. Kadang saya berhenti sejenak untuk mencari kata yang pas untuk menggambarkan betapa “nggateli”-nya kelakuan itu. Proses mencari kata “nggateli” ini melibatkan memori saya tentang percakapan di pasar, tentang bau aspal setelah hujan, atau tentang raut muka orang-orang yang saya temui.

AI tidak punya itu. AI tidak pernah merasa jengkel. Ia tidak pernah merasakan bau aspal. Ia tidak tahu rasanya sakit hati karena ditagih utang. Jadi, ketika ia menulis tentang “kesenjangan sosial”, ia hanya merangkai definisi. Hasilnya adalah tulisan yang dingin. Seperti robot yang mencoba menjelaskan apa itu cinta: secara teknis benar (pelepasan dopamin, oksitosin, dsb), tapi secara rasa, nol besar.

Ketika kita sebagai penulis mulai terlalu bergantung pada polesan mesin, kita sebenarnya sedang melakukan kebiri terhadap proses berpikir kita sendiri. Kita hanya ingin hasil akhirnya. Padahal, nilai dari sebuah tulisan seringkali terletak pada “keringat” yang keluar selama proses pembuatannya.

Bahaya Estetika Seragam

Satu hal lagi yang membuat saya ngeri adalah penyeragaman selera. Algoritma bekerja berdasarkan rata-rata. Ia akan menyarankan diksi yang paling populer, struktur yang paling umum diterima, dan nada bicara yang paling “aman”.

Bayangkan jika semua penulis di Indonesia menggunakan alat yang sama untuk memoles tulisannya. Maka, gaya bahasa Pramoedya Ananta Toer yang meledak-ledak, gaya Ahmad Tohari yang puitis-pedesaan, atau gaya esai yang jenaka-sinis, semuanya akan lumat menjadi satu gaya yang seragam: Gaya Bahasa Standar Perusahaan.

Tulisan kita akan menjadi sopan, tertib, tapi mati. Kita akan kehilangan dialek, kehilangan slanga, kehilangan keberanian untuk menjadi “salah” yang artistik. Padahal, keindahan bahasa itu ada pada keberagamannya. Ada keindahan dalam kalimat yang sedikit berantakan tapi jujur. Ada wibawa dalam opini yang tajam meski mungkin tata bahasanya tidak sesempurna buatan Silicon Valley.

Plastik itu awet, Pembaca. Ia tidak bisa busuk. Tapi ia juga tidak bisa tumbuh. Ia mati sejak lahir. Sementara tulisan yang manusiawi itu seperti tanaman. Ia mungkin layu, ia mungkin punya daun yang bolong dimakan ulat, tapi ia hidup. Ia bernapas.

Kembali ke Warung Kopi, Kembali ke Manusia

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus membuang semua teknologi ini dan kembali memakai mesin ketik manual di bawah lampu minyak? Tentu saja tidak. Itu namanya romantisasi yang konyol.

Teknologi adalah alat. Tapi alat jangan sampai menjadi tuan. Masalahnya muncul ketika kita membiarkan alat itu mengambil alih peran “subjek” dalam tulisan kita. Kita harus tetap menjadi sopirnya, bukan cuma penumpang yang duduk manis sambil membiarkan navigasi otomatis membawa kita ke tujuan yang sama dengan jutaan orang lainnya.

Kita perlu kembali ke pengalaman-pengalaman yang tidak bisa dirasakan oleh mesin. Kita perlu lebih banyak jalan kaki, lebih banyak mendengar gosip di tukang sayur, lebih banyak merasakan perihnya kegagalan, dan lebih banyak menertawakan diri sendiri. Semua itu adalah bahan baku esai yang tidak akan pernah dimiliki oleh AI manapun.

Kalau Anda merasa tulisan Anda mulai terasa seperti plastik, cobalah untuk lebih jujur. Tulislah sesuatu yang membuat Anda merasa malu kalau orang tua Anda membacanya. Tulislah sesuatu yang membuat Anda merasa berani. Masukkan kembali “diri Anda” ke dalam paragraf-paragraf itu. Jangan takut dengan ketidaksempurnaan. Justru dalam ketidaksempurnaan itulah, pembaca menemukan bahwa ada manusia di balik layar, bukan sekadar barisan kode biner.

Jangan biarkan tulisan kita menjadi seperti buah-buahan pajangan di meja ruang tamu yang hanya bagus dilihat tapi tak layak dikonsumsi. Biarlah tulisan kita sedikit kotor terkena tanah, sedikit kecut, tapi ia benar-benar dipetik dari pohon kehidupan kita sendiri.

Sebab, pada akhirnya, pembaca tidak mencari kesempurnaan. Pembaca mencari kawan bicara. Dan kawan bicara yang baik bukanlah sebuah mesin yang sudah diprogram untuk selalu berkata benar, melainkan manusia yang punya hati, punya salah, dan punya cerita yang benar-benar nyata.

Mari kita tetap menjadi manusia, Pembaca. Biarpun lambat, biarpun belepotan. Karena hanya manusia yang tahu caranya menulis dengan air mata dan tawa. Mesin? Mereka cuma tahu caranya memproses data.

Salam waras.