Beberapa waktu lalu, saya sedang iseng memandangi rak buku di ruang kerja saya. Pandangan saya tertuju pada deretan sampul belakang buku, di mana foto-foto profil penulis biasanya dipampang. Saya perhatikan satu per satu: ada yang menopang dagu dengan tatapan kosong ke arah jendela, ada yang melirik tajam ke kamera tanpa senyum sedikit pun seolah-olah kamera itu adalah musuh bebuyutannya, dan ada yang sengaja difoto hitam-putih dengan latar belakang rak buku berdebu yang suram.
Saya lantas bercermin. Saya lihat foto profil saya sendiri di beberapa esai. Ya Tuhan, saya pun sama. Di sana, wajah saya tampak seperti orang yang baru saja kehilangan kunci motor di tengah hujan deras—murung, getir, dan sedikit misterius yang dipaksakan. Mengapa kita, para penulis di Indonesia tahun 2026 ini, seolah-olah punya kesepakatan tidak tertulis bahwa untuk terlihat sebagai “penulis yang serius,” kita dilarang keras untuk tersenyum lebar layaknya bintang iklan pasta gigi?
Mitos Kedalaman: Senyum Itu Dangkal, Murung Itu Intelek
Ada sebuah beban sejarah dan sosiologis yang menghimpit wajah para penulis. Sejak zaman dahulu, ada semacam stigma bahwa keceriaan adalah musuh dari kedalaman pemikiran. Tersenyum lebar di foto profil buku dianggap sebagai tanda bahwa Anda tidak cukup menderita untuk menghasilkan sebuah mahakarya. Seolah-olah, jika seorang penulis terlihat bahagia, maka tulisannya pasti ringan, cetek, dan tidak punya bobot filosofis.
Kita hidup dalam bayang-bayang romantisasi penderitaan. Penulis yang “berhasil” adalah mereka yang mampu memotret kegelisahan dunia, dan kegelisahan itu harus terpancar di wajah. Jika wajah Anda terlihat segar bugar dan ceria, pembaca mungkin akan ragu: “Masak orang sebahagia ini bisa menulis tentang tragedi kemanusiaan?” Maka, murung adalah seragam intelektual. Kita sengaja melipat dahi dan menyembunyikan gigi agar orang percaya bahwa di balik tengkorak itu, ada jutaan beban peradaban yang sedang kita pikul sendirian.
Pose “Menatap Masa Depan yang Suram”
Salah satu pose favorit penulis adalah menatap ke arah yang tidak jelas—biasanya sedikit ke atas atau ke samping kamera. Pose ini bertujuan menciptakan kesan bahwa sang penulis sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang awam. Kita ingin terlihat sedang menangkap inspirasi dari awan-awan atau sedang meratapi nasib bangsa yang tak kunjung usai masalahnya.
Di tahun 2026, di tengah kepungan konten media sosial yang serba ceria dan penuh warna, pose murung penulis adalah bentuk pemberontakan visual. Saat semua orang berlomba-lomba terlihat paling bahagia di Instagram, penulis memilih untuk terlihat paling menderita. Ini adalah cara kita berkata: “Dunia sedang tidak baik-baik saja, dan wajah saya adalah buktinya.” Murung menjadi sebuah pernyataan politik, sebuah bentuk solidaritas kepada para karakter di dalam buku kita yang sering kali hidupnya juga tidak kalah merana.
Hitam-Putih: Filter Melankolia Abadi
Jangan lupakan penggunaan filter hitam-putih yang menjadi senjata wajib. Mengapa penulis sangat menggemari filter ini? Karena hitam-putih mampu menghapus keceriaan warna kulit dan menggantinya dengan tekstur drama. Filter ini mampu mengubah jerawat menjadi “kerutan pemikiran” dan kantung mata menjadi “saksi bisu begadang demi naskah”.
Wajah penulis dalam format hitam-putih secara otomatis akan terasa lebih “klasik”. Ada semacam keinginan bawah sadar untuk segera disandingkan dengan foto-foto sastrawan besar masa lalu seperti Pramoedya atau Chairil Anwar. Kita ingin terlihat abadi sebelum waktunya. Masalahnya, kadang filter ini justru membuat kita terlihat lebih mirip orang hilang di koran daripada seorang pemikir besar. Tapi demi marwah literasi, kegelapan visual ini harus tetap dipertahankan.
Beban Ekspektasi Pembaca
Ada juga faktor ekspektasi pembaca yang cukup unik. Pembaca sering kali memiliki imajinasi tertentu tentang sosok di balik kata-kata yang mereka baca. Jika sebuah esai atau novel ditulis dengan nada yang tajam, kritis, atau melankolis, pembaca akan merasa dikhianati jika melihat foto penulisnya sedang tertawa terbahak-bahak sambil memegang es krim.
Foto profil murung adalah bentuk “manajemen reputasi”. Kita ingin menjaga konsistensi antara brand tulisan dan brand wajah. Jika tulisan kita berat, maka wajah kita harus terlihat berat. Kita takut dianggap tidak autentik. Akibatnya, banyak penulis yang sebenarnya di kehidupan nyata sangat jenaka dan hobi melucu, mendadak berubah menjadi manusia paling sinis sedunia saat harus berhadapan dengan kamera fotografer penerbit.
Menulis Itu Memang Melelahkan, Bukan Akting
Namun, mari kita berbaik sangka. Mungkin saja raut murung itu bukan hasil akting yang dibuat-buat. Menulis di Indonesia tahun 2026—dengan segala drama pembajakan, royalti yang kecil, dan harga kebutuhan pokok yang naik—memang secara alami akan membuat wajah siapa pun menjadi murung.
Kantung mata hitam itu nyata, hasil dari begadang mengejar deadline sambil menghitung cicilan motor. Kerutan di dahi itu asli, hasil dari memikirkan bagaimana caranya agar naskah tidak dibajak di marketplace seharga lima ribu perak. Jadi, jika penulis terlihat murung di foto profilnya, bisa jadi itu adalah ekspresi paling jujur dari kondisi kesejahteraannya. Kita tidak sedang bergaya intelek; kita hanya sedang menunjukkan lelahnya menjadi pengabdi aksara di negeri yang lebih suka nonton video pendek daripada baca buku.
Bolehkah Penulis Tersenyum?
Sudah saatnya kita meruntuhkan tembok “kemurungan wajib” ini. Literasi tidak harus selalu identik dengan wajah yang ditekuk. Gagasan yang dalam bisa tetap lahir dari hati yang gembira, dan kritik yang tajam bisa disampaikan dengan senyum yang tulus.
Mungkin di buku selanjutnya, saya akan mencoba berfoto sambil tertawa lebar, atau mungkin sambil mengedipkan mata ke kamera. Tapi saya khawatir, editor saya akan langsung menelepon dan bertanya: “Bal, kamu sehat? Ini buku esai sosial, bukan brosur taman bermain!” Akhirnya, kita kembali lagi ke pose lama: menopang dagu, tatapan kosong, dan filter hitam-putih. Karena pada akhirnya, di dunia literasi kita, murung adalah mata uang yang paling laku untuk membeli kepercayaan pembaca atas sebuah “kedalaman”.
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda lebih percaya pada tulisan dari orang yang wajahnya murung, atau Anda lebih suka penulis yang terlihat bisa diajak nongkrong sambil makan martabak? Mari kita jujur pada selera visual kita masing-masing.




