Beberapa hari yang lalu, saya mengunggah sebuah tulisan pendek di media sosial. Isinya agak panjang, mungkin sekitar tujuh paragraf, membahas tentang kerumitan etika dalam industri buku. Di paragraf ketiga, saya jelas-jelas menulis: “Saya tidak setuju jika buku bajakan dianggap sebagai solusi literasi bagi orang miskin.” Namun, apa yang terjadi di kolom komentar?
Hanya dalam hitungan menit, seorang netizen dengan profil foto kucing lucu menyerang saya dengan kalimat pedas: “Sombong amat Mas Iqbal, jadi orang miskin gak boleh baca buku ya? Harus beli yang asli terus?”
Saya menghela napas panjang, memandangi layar ponsel dengan perasaan gemas yang bercampur lucu. Si netizen ini jelas-jelas hanya membaca judul atau mungkin hanya memindai dua baris pertama, lalu langsung meluncur ke kolom komentar dengan jari yang sudah gatal ingin “menghajar” argumen yang sebenarnya tidak pernah saya buat. Inilah potret nyata masyarakat kita di tahun 2026: kita adalah bangsa yang (katanya) tidak suka membaca, tapi luar biasa rajin kalau urusan berkomentar di media sosial.
Paradoks Literasi di Negeri “Cerewet”
Data internasional sering kali menempatkan Indonesia di urutan buncit dalam hal minat baca. Kita sering merasa minder saat disebut sebagai bangsa yang malas membaca buku. Namun, coba lihat statistik penggunaan media sosial kita. Indonesia selalu masuk peringkat atas sebagai pengguna internet paling aktif, paling cerewet, dan paling hobi berdebat di jagat digital.
Ini adalah sebuah paradoks yang unik. Kita tidak punya stamina untuk menyelesaikan satu bab buku setebal sepuluh halaman, tapi kita punya energi yang seolah tak terbatas untuk membaca ribuan komentar di akun gosip atau bertengkar soal politik di Twitter (atau X) hingga subuh. Kita bukan malas membaca secara fisik; mata kita terus-menerus menatap teks di layar ponsel. Masalahnya adalah kita kehilangan kemampuan untuk “membaca dalam” (deep reading) dan beralih menjadi “pembaca reaktif”.
Budaya “Baca Judul Langsung Ngamuk”
Di era media sosial yang serba cepat ini, judul adalah segalanya. Celakanya, judul sering kali dibuat provokatif (klikbait) untuk memancing emosi. Orang Indonesia, dengan temperamen digitalnya yang tinggi, sering kali merasa sudah cukup memahami seluruh isi tulisan hanya dengan membaca judulnya saja.
Maka, lahirlah fenomena “komentar tanpa data”. Kolom komentar menjadi medan perang bagi orang-orang yang sebenarnya membicarakan hal yang berbeda karena masing-masing tidak benar-benar membaca naskah aslinya. Membaca naskah utuh dianggap membuang waktu, sedangkan berkomentar memberikan kepuasan instan. Ada semacam dopamin yang mengalir saat kita merasa telah berhasil “menang” dalam sebuah debat, meskipun perdebatan itu dasarnya hanya salah paham akibat malas membaca.
Dari Tekstual ke Komunal: Mengapa Kita Suka Komentar?
Mengapa kita lebih suka berkomentar daripada membaca? Karena membaca adalah aktivitas yang soliter dan menuntut keheningan, sementara berkomentar adalah aktivitas komunal. Orang Indonesia secara kultural sangat suka berkumpul dan mengobrol (nongkrong). Media sosial memindahkan budaya nongkrong ini ke ruang digital.
Berkomentar membuat kita merasa “eksis” dan diakui. Saat kita menulis komentar yang disukai banyak orang (mendapat banyak likes), kita merasa menjadi bagian dari sebuah kelompok. Sementara saat membaca buku, tidak ada yang memberi kita likes. Tidak ada validasi instan. Membaca membutuhkan kesabaran untuk mendengarkan pemikiran orang lain, sedangkan berkomentar adalah cara kita untuk berteriak agar suara kita sendiri didengar. Kita lebih suka bicara daripada mendengar; kita lebih suka menghakimi daripada memahami.
Matinya Nuansa di Tangan Jempol yang Cepat
Tragedi dari rendahnya minat baca yang dibarengi tingginya minat komentar adalah matinya “nuansa”. Tulisan yang bagus biasanya penuh dengan nuansa, posisi yang tidak hitam-putih, dan argumen yang berlapis. Namun, di media sosial, nuansa adalah musuh. Orang ingin segala sesuatu menjadi sederhana: kamu kawan atau lawan? Kamu setuju atau tidak setuju?
Ketika orang malas membaca secara utuh, mereka akan kehilangan konteks. Mereka gagal menangkap sarkasme, gagal memahami analogi, dan gagal melihat sisi lain dari sebuah argumen. Akibatnya, perdebatan kita di media sosial sering kali sangat dangkal dan hanya berputar-putar di permukaan. Kita membuang-buang energi untuk meributkan hal-hal yang sebenarnya sudah dijelaskan di dalam teks, andai saja kita mau bersabar membacanya sampai tuntas.
Penulis yang Menjadi Sasaran Tembak “Buta Huruf Fungsional”
Bagi penulis, kondisi ini sangat menantang. Kita menghadapi audiens yang secara teknis bisa membaca (melek aksara), tapi secara fungsional malas mencerna makna (buta huruf fungsional). Kita menulis dengan hati-hati agar tidak terjadi salah paham, tapi tetap saja “disidang” di kolom komentar oleh orang-orang yang hanya membaca potongan tangkapan layar.
Ada kecenderungan penulis sekarang harus menulis dengan gaya yang makin sederhana, bahkan cenderung “didiktekan”, agar tidak memicu kemarahan netizen yang malas baca. Ini adalah kemunduran bagi kualitas literasi kita. Seharusnya pembaca yang naik level untuk memahami tulisan yang kompleks, bukan penulis yang dipaksa turun level agar bisa dipahami oleh jempol-jempol yang tidak sabaran.
Menuju Literasi yang Lebih Sabar
Tahun 2026 seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk mulai melakukan “diet digital”. Kita perlu melatih kembali otot-otot otak kita untuk bisa bersabar menghadapi teks yang panjang. Kita perlu menyadari bahwa tidak semua hal harus dikomentari saat itu juga. Ada kalanya, diam dan membaca secara mendalam jauh lebih berharga daripada memberikan komentar pedas yang hanya akan menambah kebisingan digital.
Mari kita ubah kebiasaan kita. Sebelum jari Anda menyentuh tombol “Balas” atau mulai mengetik makian di kolom komentar, tanyakan pada diri sendiri: “Sudahkah saya membaca tulisan ini sampai kata terakhir? Sudahkah saya benar-benar memahami apa yang ingin disampaikan penulisnya?”
Berhenti Menjadi “Hakim” Digital
Dunia akan menjadi tempat yang jauh lebih baik jika kita semua mau sedikit lebih banyak membaca dan sedikit lebih sedikit berkomentar. Literasi bukan soal berapa banyak buku yang kita koleksi di rak, tapi soal seberapa mampu kita mencerna pemikiran orang lain dengan kepala dingin sebelum kita memutuskan untuk membuka suara.
Jangan jadi netizen yang jempolnya lebih cepat daripada otaknya. Bacalah dengan khusyuk, pahami dengan jernih, baru bicaralah dengan bijak. Sebab, pada akhirnya, suara yang paling keras di kolom komentar sering kali adalah suara dari mereka yang sebenarnya paling sedikit membaca. Mari kita berhenti merayakan ketidaktahuan kita dengan keriuhan komentar, dan mulailah merayakan ilmu pengetahuan dengan kesunyian membaca yang sungguh-sungguh.




