Beberapa waktu lalu, saya meluangkan waktu untuk mengunjungi salah satu toko buku paling hits di sebuah mal mewah di Jakarta. Begitu menginjakkan kaki di depan pintu masuknya, saya langsung disambut oleh pemandangan yang membuat dahi saya berkerut. Alih-alih aroma kertas atau keheningan yang khusyuk, saya justru disambut oleh kilatan lampu flash kamera ponsel dan suara tawa sekelompok anak muda yang sedang sibuk mengatur posisi berdiri.
Mereka tidak sedang mendiskusikan isi buku atau mencari referensi untuk tugas akhir. Tidak. Mereka sedang sibuk berpose di depan rak buku raksasa yang tingginya mencapai plafon—sebuah rak yang didesain sedemikian rupa agar terlihat sangat fotogenik, sangat “Instagrammable”, dan sangat menggoda untuk dijadikan latar belakang konten media sosial. Di tahun 2026 ini, saya menyaksikan sebuah pergeseran fungsi yang cukup tragis: toko buku telah berubah menjadi tempat “wisata” foto, sementara fungsi asalnya sebagai tempat membeli ilmu perlahan mulai memudar.
Estetika Visual yang Mengalahkan Substansi
Mari kita bicara jujur tentang desain toko buku masa kini. Penerbit dan pengelola toko buku tampaknya telah menemukan rumus baru untuk bertahan hidup: jika buku tidak laku dijual sebagai bacaan, maka juallah tempatnya sebagai latar belakang foto. Kita melihat toko buku yang desainnya lebih mirip museum seni kontemporer atau perpustakaan fiksi dalam film Harry Potter. Tangga-tangga melingkar yang dramatis, pencahayaan yang temaram nan estetik, dan tumpukan buku yang disusun berdasarkan gradasi warna pelangi, bukan lagi berdasarkan kategori subjek atau abjad penulis.
Semua keindahan ini tentu saja menarik massa. Namun, massa yang datang bukanlah para pembaca yang haus akan gagasan, melainkan para pemburu konten yang haus akan likes. Mereka datang dengan pakaian terbaik, membawa kamera profesional atau ponsel pintar terbaru, lalu menghabiskan waktu berjam-jam di sela-sela rak hanya untuk mendapatkan satu foto yang sempurna. Buku dalam hal ini hanyalah properti, tak ada bedanya dengan patung plastik atau tanaman hias di kafe-kafe kekinian.
Tragedi Buku yang Hanya Jadi Pajangan
Di toko-toko buku “wisata” ini, sering kali saya menemukan pemandangan yang ironis. Buku-buku yang diletakkan di rak paling tinggi—yang menjadi latar foto paling favorit—sering kali adalah buku-buku kosong atau buku contoh yang sudah rusak. Mereka tidak dimaksudkan untuk dibaca. Mereka hanya dimaksudkan untuk ada di sana, mengisi ruang kosong, dan menciptakan kesan bahwa tempat itu adalah kuil ilmu pengetahuan, padahal sebenarnya ia hanyalah studio foto berkedok literasi.
Banyak pengunjung yang datang, berfoto dengan memegang sebuah buku tebal yang judulnya mungkin tidak sanggup mereka eja, lalu meletakkan kembali buku itu secara sembarangan begitu urusan dokumentasi selesai. Tidak ada transaksi di kasir. Tidak ada buku yang berpindah tangan untuk dibawa pulang dan dibedah isinya. Toko buku penuh sesak oleh manusia, tapi angka penjualannya tetap saja mengenaskan. Ini adalah keriuhan yang kosong, sebuah pesta literasi yang tidak dihadiri oleh literasi itu sendiri.
Perilaku Konsumen: Cek Harga di Toko, Beli di Marketplace
Fenomena toko buku sebagai tempat wisata foto ini juga diperparah oleh perilaku konsumen yang pragmatis namun mematikan industri. Banyak pengunjung yang benar-benar mencari buku, menggunakan toko buku fisik hanya sebagai tempat untuk “melihat-lihat” atau “memastikan fisik buku”. Mereka memegang bukunya, membaca sinopsisnya, mungkin sedikit membolak-balik halamannya, lalu apa yang mereka lakukan kemudian? Mereka mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi marketplace, dan membeli buku yang sama di sana karena harganya lebih murah dua puluh ribu rupiah.
Toko buku fisik akhirnya hanya menjadi ruang pamer gratisan. Mereka menanggung biaya sewa mal yang selangit, biaya listrik AC yang dingin, dan gaji karyawan, hanya untuk dijadikan tempat orang berfoto dan membandingkan harga. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika pengelola toko buku akhirnya menyerah dan memilih untuk lebih menonjolkan sisi “wisata” agar setidaknya mereka bisa mendapatkan pemasukan dari kafe atau penjualan pernak-pernik yang margin keuntungannya lebih besar daripada buku.
Matinya Interaksi Intelektual
Dulu, toko buku adalah tempat di mana kita bisa bertemu dengan orang-orang sejenis—mereka yang memiliki kegelisahan intelektual yang sama. Kita bisa berdiri berjam-jam di depan rak filsafat dan tak sengaja memulai percakapan dengan orang asing tentang pemikiran Nietzsche atau Pramoedya. Ada sebuah aura sakral yang menuntut ketenangan, yang memfasilitasi dialog batin antara pembaca dan teks.
Sekarang, aura itu telah hilang digantikan oleh kebisingan instruksi gaya: “Eh, geser dikit, cahayanya belum pas!” atau “Ayo dong, pose yang lebih kelihatan kayak lagi baca beneran!” Ruang yang seharusnya menjadi tempat perenungan telah berubah menjadi panggung sandiwara. Orang yang benar-benar ingin membaca atau mencari buku justru merasa terganggu dan terasing di tengah kerumunan para pemburu konten. Toko buku bukan lagi tempat mencari ilmu, tapi tempat memamerkan diri seolah-olah kita adalah orang yang berilmu.
Dampak bagi Penulis dan Peradaban
Bagi penulis, fenomena ini adalah sebuah penghinaan yang halus. Karya yang ditulis dengan perasan keringat dan air mata hanya dijadikan pelengkap dekorasi agar foto seseorang terlihat lebih intelek. Tidak ada rasa hormat terhadap gagasan. Yang ada hanyalah pemanfaatan estetika demi validasi sosial di dunia maya.
Jika kondisi ini terus berlanjut, kita akan menjadi bangsa yang sangat mahir dalam memoles “bungkus” luar namun keropos di bagian dalam. Kita punya ribuan foto di toko buku yang indah, tapi kita tidak punya pemikiran yang lahir dari sana. Kita membangun monumen literasi yang megah namun sepi dari aktivitas membaca yang sungguh-sungguh. Ini adalah bentuk kemajuan yang sebenarnya adalah kemunduran.
Tantangan bagi Pengelola Toko Buku
Tentu saja, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pengelola toko buku. Mereka harus bertahan hidup di tengah gempuran digital dan rendahnya minat beli buku fisik. Menjadikan toko buku sebagai tempat yang estetik adalah strategi bertahan hidup agar orang masih mau berkunjung. Namun, tantangannya adalah bagaimana mengonversi para “wisatawan foto” ini menjadi “pembeli ilmu”.
Mungkin sudah saatnya toko buku menerapkan sistem yang lebih tegas, atau mungkin mengintegrasikan teknologi yang lebih bersahabat dengan marketplace mereka sendiri. Namun yang lebih penting adalah membangun kembali budaya bahwa buku adalah sesuatu yang harus dikonsumsi secara intelektual, bukan sekadar dipajang secara visual. Toko buku harus kembali menjadi tempat yang menantang pikiran, bukan sekadar memanjakan mata.
Mengembalikan Kesakralan Toko Buku
Toko buku yang indah itu tidak salah. Keindahan bisa menjadi pintu masuk yang baik untuk menarik minat masyarakat. Namun, jangan sampai keindahan itu menjadi satu-satunya alasan keberadaan sebuah toko buku. Kita butuh toko buku yang fungsional, yang koleksinya lengkap, yang karyawannya paham tentang literasi, dan yang suasananya mendukung untuk lahirnya gagasan-gagasan baru.
Sudah saatnya kita, sebagai pembaca, juga melakukan refleksi. Jika kita masuk ke toko buku, masuklah dengan niat untuk memperkaya pikiran, bukan sekadar memperindah feed media sosial. Belilah buku karena Anda memang ingin membacanya, hargailah upaya penulis dan penerbit dengan transaksi yang nyata, bukan sekadar dengan tagar di Instagram. Jangan biarkan toko buku menjadi fosil dari sebuah era yang hanya mementingkan tampilan luar, sementara ilmu pengetahuan di dalamnya perlahan mati karena tak pernah ada yang benar-benar mau membacanya. Ilmu itu berat, Kawan, ia butuh dibaca dan dipahami, bukan sekadar dijadikan latar belakang foto dengan senyum yang dipaksakan.




