Mengapa Banyak Penulis Indonesia Gagal di Babak Pertama?

Menulis buku itu ibarat lari maraton, tapi banyak penulis pemula kita yang memperlakukannya seperti lari lari dikejar anjing: kencang di awal, napas habis di tengah, lalu tumbang sebelum garis finis terlihat. Fenomena ini nyata sekali. Kalau Anda main ke penerbit-penerbit mayor atau melihat folder di laptop para calon penulis, Anda akan menemukan ribuan naskah yang nasibnya “mati muda”. Ada yang baru sampai bab tiga sudah buntu, ada yang sudah jadi tapi ditolak sekali langsung depresi, dan ada yang sudah terbit tapi penulisnya kapok menulis lagi.

Mengapa babak pertama ini begitu mematikan bagi penulis kita? Apakah karena orang Indonesia kurang berbakat? Oh, jelas tidak. Bakat kita melimpah, kegelisahan kita tumpah-tuah. Masalahnya bukan di otak, tapi di mentalitas dan manajemen ekspektasi yang sering kali lebih tinggi daripada kenyataan faktual industri buku kita.

Alasan pertama, dan ini yang paling sering saya temui, adalah penyakit “Perfeksionisme Prematur”. Banyak penulis pemula kita yang ingin kalimat pertamanya langsung seindah sajak Sapardi Djoko Damono atau sekuat narasi Pramoedya Ananta Toer. Baru nulis satu paragraf, dihapus lagi. Ganti kata sifat, hapus lagi. Begitu terus sampai dua jam, dan hasilnya cuma tiga baris. Mereka lupa bahwa draf pertama itu tugasnya cuma satu: selesai. Bukan bagus. Karena mengejar kesempurnaan di babak awal itulah, energi kreatif mereka habis untuk mengedit, bukan bercerita. Akhirnya, naskah itu tidak pernah punya bab kedua karena bab pertamanya tidak pernah dianggap “cukup sempurna”.

Kedua, adalah “Gegar Budaya Industri”. Menulis itu romantis, tapi menerbitkan buku itu bisnis yang dingin. Banyak penulis muda kita yang mabuk kepayang dengan bayangan peluncuran buku yang meriah, tanda tangan di toko buku, dan viral di media sosial. Tapi begitu naskah selesai dan dikirim ke penerbit, realitas menampar mereka. Naskah ditolak tanpa alasan jelas, atau kalaupun diterima, proses edisinya panjang dan menyakitkan. Begitu terbit, royaltinya cuma cukup buat beli pulsa. Di sinilah banyak yang gagal. Mereka tidak siap dengan kenyataan bahwa industri buku di Indonesia itu keras, marginnya tipis, dan pembajakannya sadis. Mereka yang hanya modal semangat tanpa daya tahan mental biasanya langsung balik kanan setelah “patah hati” di pengalaman pertama.

Ketiga, minimnya tradisi riset. Menulis itu mengeluarkan isi kepala, tapi kalau kepala tidak pernah diisi, ya cepat kosong. Penulis kita banyak yang jago merangkai kata-kata puitis, tapi lemah dalam membangun struktur cerita yang logis atau data yang akurat. Akibatnya, tulisan mereka sering kali terasa “dangkal”. Begitu masuk ke babak pertengahan, cerita jadi melantur kemana-mana karena penulisnya sendiri bingung mau dibawa ke mana alurnya. Kegagalan di babak pertama sering kali terjadi karena penulisnya kehabisan bahan bakar informasi. Mereka terlalu sibuk curhat, lupa kalau pembaca butuh pengetahuan atau pengalaman baru yang lebih dari sekadar keluh kesah pribadi.

Keempat, adalah godaan “Instanisme Digital”. Di zaman platform baca daring yang serba cepat ini, penulis dituntut untuk update setiap hari. Ini jebakan batman. Banyak penulis pemula yang tergiur mengejar jumlah klik dan pembaca harian, sehingga kualitas tulisan jadi nomor sekian. Begitu jumlah pembaca turun atau ada komentar pedas dari netizen, mental mereka langsung anjlok. Mereka merasa gagal total karena standar kesuksesannya adalah jumlah likes, bukan kualitas karya. Padahal, membangun nama di dunia literasi itu butuh waktu tahunan, bukan cuma satu-dua kali postingan viral. Kegagalan di babak pertama sering kali adalah kegagalan menghadapi ego sendiri di media sosial.

Kelima, kurangnya komunitas yang sehat. Banyak penulis kita yang merasa menjadi “pertapa”. Mereka menanggung beban kreativitas sendirian. Padahal, menulis itu butuh “sparring partner”. Tanpa komunitas, penulis tidak punya cermin untuk melihat kekurangan karyanya. Mereka jadi merasa paling hebat atau paling buruk sedunia sendirian. Penulis yang menutup diri biasanya akan lebih cepat menyerah saat menghadapi kendala teknis atau mental. Mereka tidak tahu bahwa penulis senior pun sering mengalami kebuntuan yang sama. Rasa “asing” dan “sendirian” inilah yang sering kali mematikan api kreativitas di tahun-tahun awal karir mereka.

Lalu, bagaimana caranya agar tidak gugur di babak pertama?

Kuncinya adalah menurunkan ego dan menaikkan daya tahan. Sadarilah bahwa buku pertama Anda mungkin tidak akan langsung jadi mahakarya. Itu adalah proses belajar. Jangan terlalu keras pada diri sendiri di draf awal. Selesaikan saja dulu, sejelek apa pun itu. Urusan mempercantik adalah tugas tahap revisi.

Selain itu, bersiaplah untuk “ditolak”. Penolakan bukan berarti tulisan Anda sampah, tapi mungkin belum berjodoh dengan selera pasar atau visi penerbit saat itu. Penulis yang sukses bukan mereka yang tidak pernah ditolak, tapi mereka yang tetap mengetik setelah ditolak keseratus kalinya.

Terakhir, menulislah karena Anda memang butuh bicara, bukan cuma karena ingin pamer nama di sampul buku. Jika motifnya adalah berbagi gagasan, maka rintangan teknis dan ekonomi tidak akan pernah bisa menghentikan Anda. Babak pertama memang penuh kerikil, tapi bagi mereka yang kakinya sudah kapalan karena terus berjalan, kerikil itu cuma bumbu perjalanan.

Jangan jadi bagian dari ribuan file “Untitled” yang terkubur di folder komputer. Selesaikan bab pertama, lanjut ke bab kedua, dan teruskan sampai kata “Tamat”. Dunia literasi Indonesia tidak butuh lebih banyak orang yang baru “ingin” jadi penulis; kita butuh lebih banyak orang yang “selesai” menulis bukunya. Selamat berjuang melewati babak pertama, karena babak-babak selanjutnya jauh lebih menantang dan, percayalah, jauh lebih membahagiakan.