Mengapa Budaya Membaca Kita Sering Disebut “Rendah”?

Setiap kali ada rilis survei internasional soal literasi, telinga kita seperti dijewer. Skor PISA kita rendah, peringkat literasi kita katanya nomor sekian dari bawah, pokoknya suram. Lalu, muncul narasi yang sudah seperti kaset kusut: “Orang Indonesia itu malas baca.” Kalimat ini sakti sekali. Ia dipakai oleh pejabat untuk berpidato, dipakai guru untuk memarahi murid, bahkan dipakai kita sendiri untuk merutuki nasib bangsa.

Tapi, benarkah kita semalas itu? Benarkah urusan “rendah” ini cuma soal kemauan, atau ada sesuatu yang lebih sistemik, lebih njelimet, yang selama ini luput dari pembahasan kita di warung kopi? Mari kita bedah dengan kepala dingin, tanpa perlu merasa paling berdosa sedunia.

Pertama-tama, kita harus adil sejak dalam pikiran. Kalau dibilang orang Indonesia malas baca, coba lihat media sosial kita. Wah, itu jempol dan mata kita sanggup melototi layar berjam-jam. Kita baca status tetangga, baca keributan di Twitter, baca grup WhatsApp yang isinya perdebatan politik nggak habis-habis. Artinya, kita itu membaca. Masalahnya, apa yang dibaca dan bagaimana cara membacanya? Di sinilah letak persoalannya. Kita lebih suka membaca “potongan” daripada “keutuhan”. Kita lebih suka baca judul berita yang bombastis daripada isi beritanya yang membosankan.

Namun, menuduh orang malas baca tanpa melihat aksesnya itu ibarat memarahi orang yang nggak mau berenang padahal kolam renangnya nggak ada. Ini masalah faktual kita: distribusi buku. Di Jakarta atau Jogja, Anda mungkin merasa buku itu gampang dicari. Tapi coba pergi ke pelosok Kalimantan atau pulau-pulau kecil di NTT. Harga satu buku novel mungkin setara dengan jatah makan sekeluarga untuk dua hari. Belum lagi ongkos kirimnya yang seringkali lebih mahal dari harga bukunya.

Negara kita ini luas sekali, Kawan. Membangun budaya baca di negara kepulauan itu tantangannya bukan cuma soal mental, tapi soal logistik. Kalau buku fisik masih jadi barang mewah yang sulit dijangkau, ya wajar kalau angka literasi kita jalan di tempat. Kita nggak bisa mengharapkan anak desa jadi kutu buku kalau perpustakaan sekolahnya cuma berisi buku paket kurikulum yang gambarnya sudah pudar dan kertasnya sudah rapuh dimakan rayap.

Lalu, mari bicara soal sistem pendidikan kita. Jujur-jujuran saja, sejak sekolah dasar, kita ini jarang sekali diajarkan untuk “mencintai” buku. Kita lebih sering dipaksa untuk “menelan” buku. Ada perbedaan besar di sana. Membaca buku di sekolah seringkali identik dengan tugas, identik dengan hafalan, dan identik dengan ujian. Tidak ada ruang bagi imajinasi atau diskusi yang merdeka.

Di negara-negara dengan literasi tinggi, anak-anak sekolah diwajibkan membaca sekian judul buku sastra dalam setahun, lalu mereka diminta bercerita atau berdebat tentang isinya. Di kita? Kita disuruh baca satu bab, lalu menjawab soal pilihan ganda: “Siapakah nama tokoh utama dalam cerita di atas?” Pertanyaannya teknis sekali, tidak menyentuh substansi, tidak memancing rasa penasaran. Akhirnya, membaca jadi kegiatan yang melelahkan, bukan menyenangkan. Membaca jadi beban, bukan kebutuhan.

Efeknya panjang sampai dewasa. Kita jadi bangsa yang lebih suka mendengar daripada membaca. Budaya tutur kita memang kuat—dan itu bagus—tapi dalam dunia modern, budaya tutur harus didampingi budaya baca yang kuat agar kita tidak gampang kena tipu. Karena kita malas baca yang utuh, kita jadi sasaran empuk hoaks. Kita cuma baca judul, emosi langsung naik, jempol langsung membagikan. Kita kehilangan kemampuan untuk memverifikasi, untuk bersikap skeptis yang sehat, karena otot literasi kita jarang dilatih untuk membaca teks yang panjang dan mendalam.

Belum lagi soal harga buku yang sering dianggap mahal. Saya sering mendengar orang mengeluh, “Buku kok harganya seratus ribu, mending buat beli kuota.” Ya, kuota internet memang penting buat hidup zaman sekarang. Tapi coba kita bandingkan, seratus ribu untuk kopi kekinian yang habis dalam lima belas menit kita rela, tapi untuk buku yang bisa mengubah cara pandang hidup seumur hidup kita merasa sayang. Ini soal skala prioritas. Memang benar pajak kertas dan biaya produksi buku kita tinggi, tapi apresiasi kita terhadap karya intelektual memang masih perlu dipupuk lagi.

Selain itu, ada faktor lingkungan sosial. Di Indonesia, orang yang hobi baca buku di tempat umum seringkali dianggap aneh, dianggap sok pintar, atau malah dianggap kuper (kurang pergaulan). Budaya pamer kita lebih ke arah barang-barang fisik: baju, kendaraan, atau makanan mahal. Jarang sekali ada orang bangga pamer, “Eh, saya baru selesai baca buku sejarah yang keren banget.” Membaca belum menjadi gaya hidup yang dianggap “keren” secara massal. Padahal, kalau artis-artis atau influencer kita lebih sering pamer buku daripada pamer isi saldo ATM, mungkin ceritanya akan beda.

Lalu, apakah e-book atau digitalisasi jadi solusi? Harusnya iya. Tapi faktanya, layar gadget kita lebih banyak dipakai untuk hiburan daripada untuk membaca buku digital. Membaca di layar itu godaannya luar biasa. Baru baca dua halaman, muncul notifikasi diskon belanja online. Baru mau merenungi isi bab, ada panggilan masuk. Gadget kita itu didesain untuk membuat kita terdistraksi, bukan untuk membuat kita fokus. Maka, perpindahan dari buku fisik ke digital di Indonesia tidak serta-merta menaikkan minat baca secara signifikan.

Tantangan lainnya adalah ketersediaan konten yang relevan. Banyak anak muda kita yang merasa buku-buku yang ada itu “nggak gue banget”. Bahasanya terlalu kaku, temanya terlalu jauh dari kenyataan sehari-hari. Untungnya, sekarang mulai banyak penulis-penulis baru yang berani mendobrak gaya penulisan formal. Munculnya platform seperti Wattpad menunjukkan bahwa minat baca itu ada, bahkan besar sekali. Anak-anak muda sanggup membaca ratusan bab cerita di ponsel mereka. Masalahnya, industri perbukuan kita seringkali terlambat menangkap fenomena ini dan masih asyik dengan standar-standar lama yang membosankan bagi generasi baru.

Jadi, kalau ditanya mengapa budaya membaca kita rendah, jawabannya adalah sebuah lingkaran setan yang saling mengunci. Distribusi yang sulit bikin buku jadi mahal. Buku yang mahal bikin orang jarang baca. Jarang baca bikin literasi rendah. Literasi rendah bikin industri buku sulit berkembang. Industri sulit berkembang bikin harga buku tetap mahal. Begitu terus sampai kucing bertanduk.

Tapi, saya tidak mau mengakhiri tulisan ini dengan pesimisme. Saya melihat ada secercah cahaya di ujung terowongan. Komunitas-komunitas baca mulai tumbuh di mana-mana. Ada pustaka bergerak yang bawa buku pakai motor, pakai kuda, bahkan pakai perahu demi sampai ke tangan anak-anak pelosok. Ada anak-anak muda di media sosial yang giat mengulas buku dengan gaya bahasa yang seru. Ini adalah perlawanan kecil yang bermakna besar.

Kita tidak butuh survei internasional untuk tahu bahwa kita harus berubah. Kita hanya butuh sedikit lebih peduli pada apa yang masuk ke kepala kita. Mulailah dari yang kecil. Belilah satu buku asli (jangan yang bajakan!) setiap bulan. Sempatkan membaca lima belas menit sebelum tidur tanpa memegang ponsel. Ceritakan isi buku yang Anda baca kepada teman atau anak.

Budaya membaca itu bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Ia harus dijemput, dirawat, dan diperjuangkan. Jangan lagi kita cuma bisa mengeluh “literasi rendah” sambil terus-menerus membiarkan diri kita hanyut dalam arus informasi yang dangkal. Mari kita tunjukkan bahwa orang Indonesia itu bukan malas baca, kita hanya sedang mencari jalan kembali menuju buku. Dan jalan itu, dimulai dari halaman pertama yang Anda buka hari ini.