Di era digital saat ini, menonton video jauh lebih diminati dibanding membaca teks. Dari TikTok, YouTube Shorts, hingga Instagram Reels, konten visual dan audiovisual menjadi bagian utama hiburan sehari-hari. Sementara itu, membaca, yang dulu menjadi aktivitas utama untuk mencari informasi dan hiburan, kini banyak tergeser. Artikel ini membahas secara menyeluruh penyebab fenomena ini, dampaknya, serta cara menyeimbangkan kebiasaan membaca dan menonton di era modern.
1. Dominasi Konten Visual yang Cepat dan Menarik
Salah satu alasan utama orang lebih suka menonton daripada membaca adalah konten visual yang lebih cepat diterima otak. Video pendek menyajikan cerita atau informasi hanya dalam beberapa detik. Mata dan telinga menerima rangsangan sekaligus—visual, audio, hingga efek animasi—yang membuat otak tidak perlu banyak bekerja.
Berbeda dengan membaca, di mana kita harus memproses kata demi kata, memahami struktur kalimat, serta membayangkan situasi yang diceritakan. Video sudah menyajikan semua hal tersebut secara instan. Akibatnya, otak menjadi terbiasa pada hiburan yang cepat dan mudah diterima, membuat membaca terasa lambat dan melelahkan.
2. Efek Algoritma yang Membentuk Kebiasaan Menonton
Platform video menggunakan algoritma yang sangat efektif dalam membuat pengguna tetap betah menonton. Algoritma menyesuaikan konten berdasarkan minat, menampilkan video yang relevan, lucu, atau kontroversial sehingga pengguna cenderung menonton lebih lama tanpa sadar.
Kebiasaan menonton ini terbentuk secara otomatis. Setiap klik dan tonton akan memperkuat pola otak untuk mencari kepuasan instan. Sementara membaca tidak memiliki mekanisme instant reward sekuat itu. Perlu waktu lebih lama untuk merasakan manfaat membaca, sehingga aktivitas ini cenderung kalah bersaing dengan video yang memberi kepuasan cepat.
3. Kelelahan Membaca dan Fokus yang Terbatas
Membaca membutuhkan fokus penuh. Mata bergerak mengikuti baris demi baris, otak memproses makna kata, dan imajinasi dibutuhkan untuk membayangkan cerita atau konsep. Aktivitas ini membuat sebagian orang merasa cepat lelah, terutama jika terbiasa dengan stimulasi cepat dari video pendek.
Sebaliknya, menonton video memungkinkan otak menerima banyak informasi tanpa usaha ekstra. Visual dan audio bekerja sama menyampaikan pesan, sehingga tidak diperlukan imajinasi yang kompleks. Proses ini terasa lebih ringan, membuat orang lebih memilih menonton daripada membaca.
4. Gaya Hidup Serba Cepat dan Praktis
Hidup modern menuntut efisiensi waktu. Banyak orang ingin mendapatkan informasi dengan cepat. Video singkat menawarkan solusi instan—hanya beberapa detik, pesan tersampaikan. Membaca membutuhkan lebih banyak waktu dan konsentrasi, sehingga sering dianggap tidak praktis.
Kebiasaan ini diperkuat oleh gaya hidup yang serba cepat: pekerjaan, aktivitas sosial, dan hiburan yang bersaing untuk menarik perhatian. Akibatnya, membaca dianggap aktivitas yang memakan waktu, sementara menonton menjadi pilihan lebih “efisien”.
5. Pengaruh Sosial dan Tren Media
Menonton video juga didorong oleh faktor sosial. Banyak orang ingin mengikuti tren, viral challenge, atau diskusi online. Media sosial memberikan tekanan halus agar pengguna tetap up-to-date. Konten video menjadi medium cepat untuk memahami tren tersebut.
Sementara membaca, terutama buku atau artikel panjang, cenderung tidak memiliki efek sosial instan. Informasi dari buku atau artikel memerlukan waktu untuk dipahami dan jarang menjadi bahan percakapan yang cepat viral. Hal ini membuat orang lebih termotivasi menonton daripada membaca.
6. Video Memberikan Hiburan yang Lebih Menyenangkan
Video bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menghibur. Efek visual, musik, humor, dan editing membuat pengalaman menonton menjadi sensasi menyenangkan. Otak menerima rangsangan yang memuaskan secara instan.
Membaca membutuhkan imajinasi dan interpretasi. Sensasi hiburan dari membaca cenderung lebih lambat muncul. Hal ini membuat banyak orang lebih memilih menonton karena memberi kepuasan emosional lebih cepat.
7. Kebiasaan Digital yang Sulit Diubah
Sejak smartphone menjadi bagian hidup sehari-hari, kebiasaan menonton video terbentuk dari kecil hingga dewasa. Banyak anak tumbuh dengan menonton video sebagai hiburan utama, sehingga membaca dianggap sebagai aktivitas “lama” atau “membosankan”.
Kebiasaan ini sulit diubah karena otak sudah terbiasa menerima rangsangan instan. Membaca membutuhkan latihan fokus, kesabaran, dan disiplin, sedangkan menonton memberikan kepuasan langsung. Perubahan kebiasaan membutuhkan kesadaran, motivasi, dan strategi khusus.
8. Gangguan dari Notifikasi dan Multitasking
Selain konten video, faktor ponsel lain juga mempengaruhi minat membaca. Notifikasi pesan, media sosial, dan game membuat perhatian mudah terpecah. Membaca memerlukan konsentrasi yang tinggi; ketika fokus terus terganggu, pengalaman membaca menjadi tidak nyaman.
Menonton video lebih toleran terhadap gangguan. Kita bisa menonton sambil membuka media sosial atau melakukan aktivitas lain. Otak tidak merasa “terganggu” karena stimulasi visual dan audio tetap diterima. Hal ini membuat menonton menjadi pilihan yang lebih mudah dan nyaman dibanding membaca.
9. Kurangnya Motivasi dan Tujuan Membaca
Banyak orang kehilangan motivasi membaca karena tidak memiliki tujuan jelas. Mereka membaca buku atau artikel tanpa arah, sehingga cepat bosan. Sementara menonton video memberikan tujuan instan: tertawa, terhibur, atau mengikuti tren tertentu.
Motivasi yang jelas sangat penting agar membaca menjadi kebiasaan. Misalnya membaca untuk belajar keterampilan baru, memperluas wawasan, atau meningkatkan karier. Tanpa tujuan, membaca terasa berat, dan orang cenderung kembali ke video yang memberi kepuasan cepat.
10. Dampak dari Kebiasaan Menonton Terhadap Membaca
Terlalu banyak menonton video pendek dapat memengaruhi kemampuan membaca dan fokus jangka panjang. Beberapa dampaknya antara lain:
- Menurunnya Daya Konsentrasi – Otak terbiasa dengan rangsangan cepat, sulit fokus membaca teks panjang.
- Kemampuan Analisis Berkurang – Membaca membantu berpikir kritis; menonton terlalu banyak bisa membuat pemikiran cenderung dangkal.
- Berkurangnya Kosakata – Membaca buku atau artikel panjang memperkaya bahasa, sementara video sering kali menggunakan bahasa sederhana atau slang.
- Mengurangi Kemampuan Imajinasi – Video memberikan visual siap pakai, sehingga imajinasi tidak diasah seperti saat membaca.
Dampak ini tidak terjadi instan, tetapi muncul perlahan jika kebiasaan menonton tidak diimbangi dengan membaca.
11. Cara Menyeimbangkan Menonton dan Membaca
Meskipun menonton video lebih mudah dan menyenangkan, membaca tetap penting. Beberapa strategi bisa diterapkan agar keduanya seimbang:
- Batasi Waktu Menonton – Misalnya tidak lebih dari 30–60 menit per hari untuk video pendek.
- Tetapkan Waktu Membaca – Mulai dari 10–15 menit per hari, lalu tingkatkan secara bertahap.
- Pilih Bacaan Ringan – Buku tipis, artikel menarik, atau novel pendek agar nyaman dibaca.
- Gunakan Video untuk Motivasi – Misalnya menonton video edukasi yang relevan, kemudian membaca lebih dalam topik tersebut.
- Ciptakan Lingkungan Tenang – Ruangan nyaman, pencahayaan cukup, dan jauh dari distraksi ponsel membantu fokus membaca.
Dengan strategi ini, menonton dan membaca tidak saling meniadakan, tetapi saling melengkapi.
12. Mengubah Perspektif Terhadap Membaca
Menyukai menonton tidak harus menjadi penghalang membaca. Kuncinya adalah mengubah persepsi: membaca tidak harus membosankan, menantang, atau berat. Banyak buku yang menyenangkan, inspiratif, dan mudah dipahami. Membaca bisa dijadikan hiburan, bukan hanya tugas.
Selain itu, membaca memberikan kepuasan yang berbeda: pemahaman mendalam, kemampuan berpikir kritis, dan imajinasi yang lebih luas. Kesadaran ini membantu seseorang menyeimbangkan kedua aktivitas dengan lebih sadar.
13. Menggunakan Teknologi untuk Membaca
Ironisnya, teknologi yang membuat orang lebih suka menonton juga bisa membantu membaca. Aplikasi membaca digital, e-book, dan audio book bisa menjadi alternatif menarik. Bahkan membaca melalui smartphone atau tablet bisa dilakukan sambil tetap memanfaatkan kenyamanan teknologi.
Audio book membantu mereka yang sulit fokus membaca teks panjang. Mereka bisa mendengar buku sambil melakukan aktivitas ringan. E-book menyediakan akses mudah ke banyak buku tanpa harus membeli fisik. Dengan teknologi, membaca bisa lebih fleksibel dan adaptif terhadap gaya hidup modern.
14. Peran Pendidikan dan Lingkungan Sosial
Minat membaca juga dipengaruhi oleh pendidikan dan lingkungan sosial. Anak-anak dan remaja yang terbiasa membaca sejak dini cenderung tetap membaca meskipun ada video pendek. Sekolah dan keluarga bisa membentuk kebiasaan membaca dengan menyediakan waktu khusus, kegiatan literasi, atau diskusi buku.
Lingkungan sosial juga berpengaruh. Teman atau komunitas yang gemar membaca dapat memotivasi orang lain untuk ikut membaca. Ketika membaca menjadi hal biasa dan dihargai dalam lingkungan sekitar, orang akan lebih mudah memilih membaca daripada sekadar menonton.
15. Kesimpulan
Fenomena lebih suka menonton daripada membaca terjadi karena kombinasi beberapa faktor: konten video yang cepat dan menarik, algoritma media sosial, gaya hidup serba cepat, gangguan ponsel, serta kurangnya motivasi membaca. Video memberikan kepuasan instan, sedangkan membaca membutuhkan fokus dan kesabaran.
Namun, membaca tetap memiliki nilai yang tidak tergantikan: memperluas kosakata, melatih konsentrasi, mengasah imajinasi, dan meningkatkan pemikiran kritis. Agar keseimbangan tercapai, penting untuk membatasi waktu menonton, menetapkan waktu membaca, memilih bacaan menarik, dan menciptakan lingkungan yang mendukung.
Menyukai video bukan masalah, tetapi jika ingin tetap cerdas, kreatif, dan kritis, membaca harus tetap menjadi bagian dari rutinitas. Menonton dan membaca bisa saling melengkapi jika kita mampu menyeimbangkannya. Dengan kesadaran, motivasi, dan strategi yang tepat, membaca tidak lagi terasa berat dan tetap menjadi sumber pengetahuan dan hiburan yang berharga di era modern.




