Cara Membiasakan Membaca di Era Video Pendek

Di era sekarang, hampir setiap orang merasa lebih mudah menghabiskan waktu dengan menonton video pendek di TikTok, YouTube Shorts, atau Instagram Reels dibandingkan membaca. Konten video pendek yang cepat, lucu, menarik, dan penuh visual membuat otak terbiasa ingin selalu mendapatkan rangsangan instan. Akibatnya, membaca—yang membutuhkan fokus lebih lama—menjadi terasa berat dan membosankan. Padahal, kebiasaan membaca adalah fondasi penting untuk meningkatkan pengetahuan, memperkaya bahasa, dan mempertajam kemampuan berpikir.

Artikel ini secara sederhana menjelaskan bagaimana cara membiasakan membaca di tengah derasnya arus video singkat. Isinya disusun dengan jelas, runtut, dan mudah dipahami siapa pun.

1. Tantangan Membaca di Era Video Pendek

Sebelum membahas solusi, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang membuat membaca terasa semakin sulit saat ini. Video pendek memiliki keunggulan: cepat, menarik, dan penuh visual. Dalam beberapa detik saja, kita sudah bisa memahami inti ide yang kadang dalam teks memerlukan beberapa menit untuk dipahami.

Video pendek juga sengaja dirancang agar membuat penonton terus menonton. Algoritma menyajikan konten yang sesuai minat, sehingga pengguna betah berlama-lama tanpa sadar waktu berlalu. Ketika otak terbiasa menerima informasi yang cepat dan instan, aktivitas membaca yang memerlukan konsentrasi lebih lama terasa tidak semenarik menonton.

Distraksi-distraksi dari ponsel juga membuat membaca menjadi semakin sulit. Notifikasi yang berbunyi, keinginan untuk mengecek media sosial, hingga terbiasa melakukan multitasking membuat banyak orang sulit untuk duduk tenang membaca satu atau dua halaman buku.

2. Memahami Kelebihan Membaca dibanding Video Pendek

Untuk membiasakan diri membaca, kita perlu menyadari bahwa membaca memberi manfaat yang tidak dapat digantikan oleh video. Video memang menyenangkan, tetapi membaca melatih otak pada level yang berbeda.

Membaca memperluas kosakata, meningkatkan daya konsentrasi, dan memperdalam pemahaman. Buku memberi kesempatan berpikir—sesuatu yang jarang terjadi ketika kita hanya menonton video pendek. Informasi dari buku lebih terstruktur dan mendalam, sementara video pendek sering kali hanya menampilkan permukaan informasi.

Selain itu, membaca membantu kita melatih imajinasi. Ketika membaca cerita atau penjelasan, otak menciptakan gambaran visualnya sendiri, sehingga kemampuan berpikir kreatif semakin terasah. Kemampuan ini penting dalam karier, pendidikan, maupun kegiatan sehari-hari.

Dengan menyadari manfaat ini, motivasi untuk membaca akan tumbuh pelan-pelan. Orang yang memahami nilai membaca akan lebih mudah membangun kebiasaan tersebut dibanding yang sekadar memaksa diri tanpa mengetahui alasan kuat di baliknya.

3. Mulai dari Durasi Pendek: 5–10 Menit Per Hari

Banyak orang gagal membangun kebiasaan membaca karena terlalu memaksakan diri membaca terlalu lama sejak awal. Biasanya mereka memulai dengan target tinggi seperti membaca 30 menit atau satu jam per hari. Akhirnya mereka merasa berat dan berhenti di tengah jalan.

Mulailah dari yang paling sederhana: membaca 5–10 menit per hari. Durasi ini sangat pendek sehingga hampir tidak mungkin terasa “berat”. Begitu terasa ringan, barulah durasinya bisa dinaikkan sedikit demi sedikit.

Ketika membaca dilakukan setiap hari, meskipun hanya sebentar, otak pelan-pelan terbiasa. Fokus meningkat, rasa nyaman membaca tumbuh, dan kegiatan membaca terasa tidak lagi membosankan. Konsistensi jauh lebih penting daripada berapa lama waktu yang dihabiskan dalam satu sesi.

Jika perlu, setel alarm atau pengingat harian. Bisa di pagi hari sebelum beraktivitas, saat istirahat siang, atau malam hari sebelum tidur. Rutinitas kecil inilah yang nantinya berkembang menjadi kebiasaan besar.

4. Pilih Bacaan yang Ringan dan Menarik Terlebih Dahulu

Kesalahan umum lainnya saat memulai kebiasaan membaca adalah memilih buku yang terlalu berat atau tebal. Padahal, pembaca pemula sebaiknya memilih buku yang menjawab minat mereka dan ringan untuk dinikmati.

Jika suka cerita ringan, pilih novel tipis atau kumpulan cerpen. Jika lebih suka ilmu pengetahuan, pilih buku populer sains yang bahasanya mudah dipahami. Jika suka motivasi, banyak buku pengembangan diri yang ringkas dan sederhana.

Tujuannya bukan menunjukkan bahwa kita membaca buku “berkualitas tinggi” atau “bernilai akademis”, tetapi membangun kenyamanan terlebih dahulu. Ketika kita merasa nyaman, kita cenderung ingin membaca lebih banyak.

Bacaan ringan memberi pengalaman positif. Ketika selesai membaca satu buku, meski tipis, kita merasa bangga dan puas. Rasa puas inilah yang memotivasi kita untuk mencari bacaan berikutnya. Seiring waktu, barulah kita bisa menjelajah buku yang lebih tebal atau lebih kompleks.

5. Kurangi Distraksi dari Ponsel

Tidak dapat dipungkiri bahwa ponsel adalah musuh terbesar bagi kebiasaan membaca. Setiap kali notifikasi muncul, fokus seperti terpotong. Bahkan tanpa notifikasi, jari terasa gatal ingin mengecek media sosial.

Agar membaca menjadi lebih mudah, penting untuk menciptakan lingkungan bebas distraksi. Salah satu cara paling efektif adalah mengaktifkan mode “do not disturb” atau mematikan koneksi internet selama membaca. Ponsel bisa juga disimpan di luar jangkauan: di tas, di laci, atau bahkan di ruangan lain.

Jika membaca menggunakan buku digital di ponsel, pastikan notifikasi dimatikan agar tidak terganggu. Gunakan aplikasi membaca khusus yang memiliki mode fokus.

Mengurangi distraksi tidak hanya membuat membaca lebih nyaman, tetapi juga melatih otak untuk lebih lama berkonsentrasi. Kebiasaan fokus ini akan membawa manfaat pada pekerjaan, belajar, dan aktivitas lain yang membutuhkan perhatian penuh.

6. Buat Lingkungan yang Mendukung Kebiasaan Membaca

Lingkungan sangat berpengaruh terhadap kebiasaan seseorang. Jika rumah atau tempat kerja tidak mendukung kegiatan membaca, maka sangat sulit untuk membangun kebiasaan tersebut. Karena itu, penting untuk menciptakan lingkungan yang ramah literasi.

Mulailah dengan menyediakan sudut baca sederhana. Tidak perlu mewah; cukup kursi nyaman, meja kecil, dan pencahayaan yang baik. Letakkan beberapa buku yang menarik di sana. Dengan cara ini, setiap kali melihat sudut baca, kita teringat untuk membaca.

Jika tinggal bersama keluarga, ajak anggota keluarga lain membaca bersama, meskipun hanya 10 menit. Aktivitas bersama menciptakan suasana positif dan saling mendukung.

Selain itu, meletakkan buku di tempat-tempat strategis bisa meningkatkan kemungkinan seseorang untuk membaca. Misalnya di samping tempat tidur, di meja makan, di meja kerja, atau di ruang tamu. Ketika buku mudah dijangkau, membaca akan lebih sering terjadi secara spontan.

Lingkungan yang mendukung juga termasuk bergabung dengan komunitas membaca, baik offline maupun online. Diskusi buku, rekomendasi bacaan, dan tantangan membaca membuat kita lebih termotivasi.

7. Membaca sebagai Pengganti Sebagian Waktu Menonton Video Pendek

Tidak ada yang salah dengan menonton video pendek. Masalahnya adalah ketika kegiatan tersebut memakan waktu terlalu banyak sehingga menggeser kegiatan lain yang lebih bermanfaat, termasuk membaca.

Salah satu cara efektif memulai kebiasaan membaca adalah menggantikan sebagian kecil waktu menonton video dengan membaca. Misalnya, jika biasanya Anda menonton video 1 jam sebelum tidur, kurangi menjadi 45 menit dan gunakan 15 menit sisanya untuk membaca.

Cara lain yang cukup efektif adalah “aturan satu video dibalas satu halaman buku”. Setiap selesai menonton satu video, bacalah minimal satu halaman. Tanpa terasa, halaman akan bertambah dan membaca menjadi lebih sering dilakukan.

Membatasi waktu menonton bukan berarti berhenti total, tetapi mengatur agar konsumsi konten lebih seimbang. Dengan keseimbangan tersebut, membaca tidak lagi terasa jauh dari rutinitas harian kita.

8. Tumbuhkan Rasa Senang dan Bangga Setelah Membaca

Salah satu kunci membangun kebiasaan jangka panjang adalah perasaan positif. Jika membaca selalu diasosiasikan sebagai tugas atau kewajiban, minat membaca sulit tumbuh. Sebaliknya, jika kita merasa senang dan bangga setelah membaca, otak akan menginginkannya lagi.

Cobalah membuat jurnal membaca. Setiap selesai membaca beberapa halaman atau satu bab, tulis catatan singkat. Catatan tersebut bisa berupa ringkasan, hal menarik yang dipelajari, atau perasaan setelah membaca. Melihat perkembangan ini secara visual bisa menumbuhkan motivasi.

Selain itu, beri penghargaan kecil untuk diri sendiri. Misalnya setelah menyelesaikan satu buku, izinkan diri membeli camilan favorit atau buku baru. Kebiasaan kecil ini membuat membaca terasa menyenangkan, bukan beban.

9. Jadikan Membaca Sebagai Bagian dari Identitas Diri

Manusia cenderung melakukan hal yang sesuai dengan identitas yang ia tanamkan pada dirinya sendiri. Misalnya seseorang yang melihat dirinya sebagai “orang yang suka olahraga” akan lebih mudah rajin berolahraga.

Begitu juga dengan membaca. Cobalah mengidentifikasi diri sebagai “orang yang suka membaca” atau “orang yang ingin belajar hal baru setiap hari”. Ketika identitas ini tertanam, tindakan membaca akan datang lebih alami.

Cara memperkuat identitas membaca bisa melalui membagikan rekomendasi buku di media sosial, ikut klub buku, atau sekadar bercerita kepada teman mengenai buku yang sedang dibaca. Semakin sering identitas ini diperkuat, semakin besar kemungkinan membaca menjadi kebiasaan permanen.

10. Membaca adalah Investasi Jangka Panjang untuk Masa Depan

Pada akhirnya, perlu disadari bahwa membaca bukan sekadar hobi. Membaca adalah investasi. Melalui membaca, kita memperluas pengetahuan, membuka cara berpikir baru, dan meningkatkan kualitas hidup. Kebiasaan membaca memberi pengaruh dalam pekerjaan, pendidikan, hingga hubungan sosial.

Di era video pendek yang penuh distraksi, membiasakan membaca mungkin terasa sulit. Namun, dengan langkah kecil, konsisten, dan bertahap, kebiasaan ini bisa kembali tumbuh. Yang terpenting adalah memulai dari hal paling sederhana dan menjalaninya setiap hari.

Perjalanan membiasakan membaca memang tidak instan seperti menonton video, tetapi hasilnya jauh lebih bernilai dan bertahan lama. Jika terus dipraktikkan, membaca akan kembali menjadi kebiasaan yang menyenangkan dan bermanfaat di tengah derasnya budaya video singkat.