Mengapa Kita Membeli Buku tetapi Tidak Membacanya?

Ada sebuah pemandangan yang hampir pasti bisa ditemukan di sudut kamar setiap orang yang mengaku mencintai dunia literatur: tumpukan buku yang masih terbungkus rapi oleh plastik segel bening yang mengilap.

Tumpukan itu biasanya berdiri tegak di atas nakas samping tempat tidur, berjejer rapat di rak kayu yang mulai melengkung menahan beban, atau menggunung pasrah di lantai dekat meja kerja. Buku-buku itu tampak suci, mulus, wangi khas aroma kertas baru, dan belum pernah sekalipun dibuka melewati halaman prakata.

Masyarakat Jepang, dengan ketelitian kulturalnya yang masyhur, bahkan memiliki istilah khusus yang sangat puitis sekaligus menusuk untuk melukiskan tabiat ini: tsundoku (積ん読). Kata ini lahir dari perpaduan cerdas antara tsunde-oku (menumpuk barang untuk nanti) dan dokusho (membaca buku). Secara harfiah, ia berarti seni mengumpulkan bahan bacaan yang dibiarkan menumpuk begitu saja tanpa pernah sempat dibaca.

Setiap kali Anda berdiri di depan kasir toko buku atau menekan tombol konfirmasi pembayaran di keranjang belanja lokapasar, sebuah ikrar suci tak tertulis diucapkan dalam hati: “Mulai minggu depan, saya akan meluangkan waktu satu jam setiap malam untuk menyelesaikan buku filsafat politik ini.”

Namun ketika minggu depan tiba, buku itu hanya digeser ke sisi meja agar tidak tertumpah cangkir kopi. Anda kembali menghabiskan sisa malam dengan menggulir layar ponsel tanpa henti, menonton potongan video pendek berdurasi tiga puluh detik sampai kelopak mata perih, lalu tidur dengan membawa sedikit rasa bersalah yang menggelitik ulu hati.

Mengapa kita berulang kali melakukan ritual boros ini? Benarkah kita sekadar pemalas yang hobi menghamburkan uang, ataukah ada mekanisme psikologis yang jauh lebih rumit dan manusiawi di balik tumpukan buku yang membisu tersebut?

Membeli Waktu yang Tidak Pernah Ada di Keranjang Belanja

Penulis esai terkemuka asal Jerman-Swiss, Arthur Schopenhauer, pernah melontarkan sindiran yang luar biasa menohok pada abad kesembilan belas: “Ketika kita membeli buku, kita sering kali salah mengira bahwa kita juga sedang membeli waktu untuk membacanya.”

Inilah ilusi kognitif nomor satu yang menjerat para pembeli buku kronis.

Membeli buku adalah sebuah tindakan yang sangat instan. Anda hanya butuh waktu tiga puluh detik: gesek kartu debit, pindai kode QR pembayaran, atau masukkan nomor sandi perbankan digital. Proses transaksinya mudah, cepat, dan memberi ledakan hormon kepuasan seketika di otak.

Namun membaca buku adalah urusan yang sama sekali berbeda. Membaca menuntut komitmen waktu yang lambat, konsentrasi yang tenang, ketahanan mental dari distraksi, dan energi otak yang segar.

Ketika Anda membeli sebuah buku sejarah setebal enam ratus halaman, alam bawah sadar Anda secara licik menyamakan dua hal yang tidak setara: Anda merasa bahwa keberhasilan Anda memiliki buku fisik itu sudah setara dengan menyerap isi pengetahuannya ke dalam kepala. Otak kita merasa telah menuntaskan separuh perjalanan, padahal kaki kita bahkan belum melangkah dari garis awal.

Kita mengoleksi buku seolah-olah waktu luang bisa dibeli dalam kemasan per seratus halaman. Padahal, seiring bertambahnya usia, tagihan pekerjaan kantor semakin menumpuk, urusan rumah tangga menyita perhatian, dan sisa energi mental kita di malam hari sering kali hanya cukup untuk merebahkan punggung sambil menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Buku-buku itu tetap berdiri di atas rak, setia menunggu waktu luang yang kita janjikan—waktu luang fiktif yang tidak pernah benar-benar ada dalam kalender hidup orang dewasa modern.

Toko Buku sebagai Apotek Jiwa untuk Diri Idaman

Pernahkah Anda memperhatikan buku jenis apa yang paling sering berakhir menjadi monumen pajangan tanpa pernah ditamatkan?

Jarang sekali novel misteri yang seru atau komedi santai teronggok di tumpukan tsundoku. Yang paling awet menumpuk biasanya adalah buku-buku berbobot: analisis ekonomi makro, riset psikologi perilaku yang padat rujukan, karya sastra klasik abad pertengahan dengan terjemahan kaku, atau panduan produktivitas dan spiritualitas tingkat tinggi.

Hal ini membuka tabir tentang fungsi psikologis lain dari membeli buku: upaya menyuap Diri Idaman (The Ideal Self).

Di dalam benak setiap manusia, selalu ada dua kepribadian yang bertolak belakang:

  • Diri Nyata (Actual Self): Manusia fana yang bangun kesiangan, mudah terdistraksi notifikasi pesan di ponsel, malas berpikir berat setelah seharian berkutat dengan rapat dinas, dan lebih suka menonton serial drama sambil makan gorengan hangat.
  • Diri Idaman (Ideal Self): Sosok manusia sempurna versi masa depan yang bangun pukul lima pagi, berolahraga secara teratur, bertutur kata anggun, menguasai geopolitik global, dan melahap esai-esai filsafat berat sebagai santapan sore.

Ketika Anda berada di toko buku, sosok yang sedang memegang kendali atas dompet Anda bukanlah Diri Nyata, melainkan sang Diri Idaman.

Buku yang Anda beli adalah proyeksi dari manusia seperti apa yang Anda cita-citakan. Membeli buku sejarah peradaban terasa seperti membeli tiket masuk ke dalam golongan manusia cerdas dan terpelajar. Membeli buku tentang ketenangan batin terasa seperti langkah awal menuju kedewasaan emosional yang matang.

Membeli buku, dengan kata lain, adalah bentuk pelarian yang sangat terhormat. Kita merasa sedang memperbaiki kualitas hidup hanya dengan cara menimbun alat-alat perbaikannya di sekitar tempat tidur. Rak buku kita akhirnya berubah fungsi menjadi sebuah etalase cita-cita: galeri yang memajang siapa diri kita seandainya dunia ini tidak terlalu melelahkan dan konsentrasi kita tidak gampang buyar.

Budaya Cepat dan Pendek

Alasan berikutnya mengapa buku-buku itu kian sulit dibuka bermuara pada peperangan neurologis yang sedang berlangsung sengit di dalam tengkorak kepala kita setiap hari.

Kita hidup di sebuah era peradaban yang secara sistematis merusak kemampuan otak untuk membaca secara mendalam (deep reading). Kita terbiasa mengonsumsi informasi dalam takaran sendok teh: cuitan seratus empat puluh karakter, rangkuman berita lima baris, dan video vertikal sepuluh detik yang terus melompat dari satu sensasi ke sensasi berikutnya tanpa jeda kontemplasi.

Membaca buku fisik yang bermutu adalah kebalikan mutlak dari seluruh ekosistem digital tersebut.

Buku menuntut kesabaran purba. Sebuah paragraf yang baik menuntut Anda untuk memperlambat ritme napas, mengunyah hubungan antarklausa, membayangkan metafora yang tidak berwujud gambar bergerak, dan membiarkan sebuah argumen meresap perlahan ke dalam relung akal.

Ketika seseorang yang seharian otaknya dihujani ratusan notifikasi mencoba membuka halaman buku tebal di malam hari, yang terjadi adalah penolakan fisik secara halus. Otak kita merasa lapar akan dopamin instan. Kalimat-kalimat di atas kertas itu terasa lambat, sunyi, dan menjemukan. Setelah membaca dua halaman, jemari tangan kita secara otomatis meraba meja mencari ponsel pintar—bukan karena kita tidak menyukai isi bukunya, melainkan karena sirkuit perhatian kita sudah terbiasa dicekoki rangsangan instan.

Tumpukan buku yang belum dibaca itu adalah saksi bisu dari pertarungan yang timpang antara hasrat literer kita yang luhur melawan algoritma korporasi teknologi yang sengaja dirancang untuk mencuri rentang perhatian manusia demi kepentingan iklan.

Mengubah Rasa Bersalah

Lalu, apakah kita harus merasa berdosa setiap kali melirik tumpukan buku yang belum tersentuh itu? Haruskah kita berhenti membeli buku sama sekali sampai buku terakhir di rak kamar rampung dibaca?

Nassim Nicholas Taleb, dalam bukunya yang termasyhur The Black Swan, menawarkan sebuah sudut pandang yang sangat menyegarkan dan membebaskan mengenai tabiat ini melalui konsep yang ia sebut Antiperpustakaan (Antilibrary).

Taleb mengisahkan tentang perpustakaan pribadi milik novelis dan intelektual besar Italia, Umberto Eco. Perpustakaan Eco konon menampung lebih dari tiga puluh ribu jilid buku. Banyak tamu yang berkunjung ke rumah Eco melontarkan pertanyaan naif yang lazim diajukan orang awam: “Luar biasa, Profesor! Apakah semua buku ini sudah Anda baca?”

Bagi orang seperti Eco dan Taleb, pertanyaan itu menunjukkan kekeliruan mendasar dalam memandang esensi perpustakaan.

Rak buku yang hanya berisi buku-buku yang sudah Anda baca hanyalah sebuah museum pameran ego pribadi. Ia ada di sana sekadar untuk menepuk dada Anda sendiri seraya berkata: “Lihat, betapa pintarnya saya, betapa luasnya wawasan yang sudah saya tamatkan.”

Sebaliknya, Antiperpustakaan—kumpulan buku-buku yang belum Anda baca—memiliki nilai filosofis yang jauh lebih mahal: ia adalah pengingat visual yang konstan akan betapa kerdilnya pengetahuan kita di hadapan luasnya semesta gagasan.

Setiap kali Anda melewati tumpukan buku yang masih bersegel itu, buku-buku itu tidak sedang menghakimi Anda sebagai pemalas. Mereka sedang berbisik dengan ramah dan rendah hati: “Ada begitu banyak hal di dunia ini yang belum kamu ketahui. Ada ribuan sudut pandang yang belum pernah kamu pikirkan. Jangan sombong, tetaplah lapar akan kebenaran.”

Buku yang belum dibaca menjaga kita dari bahaya arogansi intelektual. Ia memastikan bahwa rumah batin kita tidak pernah merasa telah menjadi benteng yang selesai dibangun, melainkan tetap berupa ruang eksplorasi yang pintunya selalu terbuka lebar bagi hal-hal baru.

Menikmati Perjalanan

Membeli buku tanpa langsung membacanya bukanlah sebuah kejahatan moral, apalagi tanda kebodohan. Itu adalah tanda bahwa Anda masih memiliki harapan, rasa penasaran pada dunia, dan apresiasi terhadap kerja keras peradaban manusia dalam mengikat gagasan di atas lembaran kertas.

Tentu saja, kita tidak perlu membiarkan tumpukan itu berubah menjadi gangguan penimbunan barang yang patologis (hoarding). Namun kita bisa membebaskan diri dari beban kewajiban yang kaku:

  • Berhentilah memperlakukan membaca sebagai perlombaan target angka. Membaca bukan ujian sertifikasi di mana Anda harus menamatkan lima puluh judul setahun demi mendapatkan lencana virtual. Membaca satu bab dengan perenungan mendalam jauh lebih bergizi bagi jiwa daripada menelan lima buku secara terburu-buru hanya demi mencentang daftar bacaan.
  • Beri diri Anda izin untuk membaca secara acak. Anda tidak selalu harus membaca buku dari halaman satu sampai halaman terakhir laksana tentara yang berbaris rapi. Buka halaman tengahnya, baca dua halaman esai yang menarik minat Anda sore ini, tandai kalimat yang berbobot, lalu letakkan kembali. Buku bukan majikan yang kejam; buku adalah kawan duduk yang santai.
  • Terimalah bahwa sebagian buku memang ditakdirkan hanya untuk menemani ruang hidup Anda. Kadang-kadang, kehadiran sebuah buku di atas meja kerja memberikan aura ketenangan tersendiri, menjadi pengingat estetika bahwa di balik bisingnya urusan harian, ada ruang pemikiran yang agung dan tenang yang siap menyambut kita kapan pun kita bersedia melangkah masuk.

Maka, tataplah tumpukan buku di sudut kamar Anda malam ini dengan senyuman yang hangat, bukan dengan rasa bersalah yang menyesakkan dada.

Belai punggung buku-buku yang masih tersegel plastik itu layaknya menyapa kawan-kawan lama yang sedang menginap di rumah Anda. Mereka tidak akan pergi ke mana-mana. Mereka tidak akan marah jika malam ini Anda lebih memilih untuk tidur pulas karena kelelahan bekerja.

Mereka akan tetap sabar menunggu di sana, berdiri tegak dalam keheningan yang anggun, sampai suatu malam nanti—ketika riak duniawi sedang reda dan hati Anda sedang rindu pada keheningan—tangan Anda akhirnya terulur, merobek plastik segelnya pelan-pelan, dan membiarkan kata-kata di dalamnya mulai bernapas di dalam jiwa Anda.