Saya Ingin Menulis Buku, tetapi Tidak Tahu Harus Memulai dari Mana

Ada sebuah adegan klise yang barangkali pernah mampir di kepala Anda, terutama jika Anda seorang kutubuku yang diam-diam menyimpan hasrat menjadi pencipta semesta: Anda duduk di sudut kedai kopi yang temaram, hujan rintik-rintik mengetuk kaca jendela, secangkir kopi hitam mengepul di sebelah laptop tipis atau buku catatan bersampul kulit, dan jari-jemari Anda menari dengan lincah di atas papan ketik. Kata-kata meluncur deras laksana wahyu yang turun tanpa jeda. Tiga bulan kemudian, sebuah naskah utuh rampung, dikirim ke penerbit ternama, dicetak ribuan eksemplar, lalu nama Anda terpampang gagah di rak depan toko buku favorit Anda.

Adegan itu manis sekali. Terlalu manis, bahkan, sampai-sampai terasa seperti fiksi murahan yang lupa diberi bumbu realitas.

Kenyataannya, ketika Anda benar-benar menarik kursi, membuka dokumen kosong di layar komputer, dan menatap kursor hitam kecil yang berkedip-kedip ritmis, yang terjadi bukanlah ilham mistis. Yang terjadi adalah kepanikan senyap. Kursor itu berkedip seolah mengejek: lalu apa? Mau nulis apa? Mulai dari mana? Anda mengetik satu kalimat pembuka, membacanya ulang, merasa kalimat itu terdengar bodoh, menghapusnya lagi, lalu melamun sambil melirik rak buku di seberang ruangan.

Di rak itu berjejer karya Pramoedya Ananta Toer, Gabriel García Márquez, Haruki Murakami, atau Dee Lestari. Tiba-tiba saja, buku-buku tebal dengan jilidan rapi itu tidak lagi tampak seperti kawan akrab, melainkan monster raksasa yang menatap Anda dengan cibiran dingin: kamu pikir kamu bisa bikin sesuatu yang pantas bersanding di sini?

Akhirnya, dokumen ditutup. Anda membuka media sosial, membaca kabar burung teranyar, atau memesan camilan. Dan keinginan untuk menulis buku kembali tersimpan rapi di laci angan-angan, bersama rencana olahraga teratur dan tekad tidur sebelum jam sebelas malam.

Jika Anda pernah atau sedang berada dalam fase ini, tarik napas panjang. Duduklah dengan santai. Anda sama sekali tidak sendirian, dan Anda tidak sedang mengalami krisis bakat. Anda hanya sedang mengalami hal paling manusiawi yang dialami setiap pencinta buku ketika hendak menyeberang jurang dari pembaca pasif menjadi penulis aktif.

Pecinta Buku Justru Lebih Takut Menulis

Ada ironi yang cukup getir di kalangan penggemar buku: semakin banyak dan semakin bermutu buku yang Anda baca, sering kali semakin sulit bagi Anda untuk mulai menulis. Mengapa bisa begitu? Bukankah seharusnya orang yang kenyang melahap ribuan halaman lebih mudah menumpahkan kembali apa yang sudah dicernanya?

Masalahnya terletak pada standar estetika Anda. Sebagai pembaca yang terlatih, selera literatur Anda sudah terlanjur melambung tinggi. Anda tahu persis mana metafora yang renyah dan mana yang murahan. Anda bisa membedakan plot yang dijalin dengan kecerdasan tingkat tinggi dari jalinan cerita yang bolong-bolong laksana jaring ikan rusak. Anda peka terhadap ritme kalimat, keanggunan diksi, dan kedalaman karakter.

Namun, di situlah letak jebakannya. Anda membandingkan draf pertama Anda yang masih berantakan, basah, dan belepotan dengan produk akhir dari para penulis kawakan yang sudah melewati enam kali revisi mandiri, dua kali perombakan editor profesional, dan polesan akhir tim penyelaras aksara.

Membaca buku di rak toko sama halnya dengan mendatangi galeri seni mewah. Anda melihat patung marmer yang mulus tanpa cacat, terpoles sempurna di bawah lampu sorot museum. Yang tidak pernah Anda lihat adalah bengkel kerja sang pematung: lantai yang kotor berlumur debu, serpihan batu yang pecah berantakan, tangan yang lecet terhantam palu, dan tumpukan bongkahan marmer rusak yang dibuang ke tempat sampah karena salah pahat.

Buku yang Anda kagumi di toko adalah patung marmer di museum. Sementara draf pertama Anda adalah bongkahan batu kasar yang baru saja diangkut dari tambang. Jika Anda menuntut bongkahan batu itu harus langsung memancarkan kilau marmer pada ketukan pertama, Anda tidak akan pernah mengayunkan palu sama sekali.

Menulis draf pertama sejatinya bukanlah proses menjadi pintar atau puitis. Menulis draf pertama adalah proses mengizinkan diri Anda menjadi ceroboh, mentah, dan tidak sempurna. Anne Lamott, dalam bukunya yang termasyhur tentang kepenulisan, Bird by Bird, menyebut fase ini tanpa tedeng al-ing-aling sebagai shitty first drafts—draf pertama yang buruk rupa. Tanpa draf pertama yang buruk itu, tidak akan pernah ada draf kedua yang lumayan, apalagi buku cetak yang cemerlang.

Mitos Wahyu dan Hantu Rangka Cerita

Pertanyaan abadi yang selalu menjegal langkah pemula adalah: apakah saya harus merencanakan semuanya sampai tuntas dulu, atau langsung menulis saja mengalir seperti air?

Dalam dunia kepenulisan, perdebatan ini membelah para pengarang menjadi dua kutub purba: kaum plotter (perencana garis besar) dan kaum pantser (penulis yang mengandalkan intuisi atau gerak spontan).

Bagi orang yang baru hendak memulai, perdebatan ini sering kali justru melumpuhkan. Kaum perencana yang terlalu kaku biasanya terjebak dalam apa yang disebut worldbuilding disease atau penyakit sibuk menyusun kerangka naskah. Mereka bisa menghabiskan waktu enam bulan untuk menggambar peta dunia fantasi, menyusun silsilah keluarga tokoh utama hingga generasi keenam belas, merancang garis waktu peristiwa per jam, atau menyusun daftar isi buku nonfiksi yang tampak begitu ilmiah dan megah. Semuanya rapi di atas kertas konsep, tetapi ketika diminta menulis bab pertama, mereka membeku. Rangka cerita yang terlalu kaku justru menjelma kurungan penjara yang mematikan kegembiraan eksplorasi.

Sebaliknya, kaum pengalir murni yang nekat menulis tanpa rencana sama sekali kerap kali mengalami tabrakan hebat di halaman kelimapuluh. Mereka memulai dengan energi yang meledak-ledak di bab pertama, lalu mulai kehilangan arah di bab ketiga, tersesat di bab kelima, dan akhirnya menyerah di bab ketujuh karena jalan cerita yang buntu atau argumen yang berputar-putar tanpa kesimpulan.

Lantas, bagaimana jalan tengahnya bagi Anda yang baru mau melangkah?

Bayangkan Anda hendak berkendara di malam hari dari Jakarta menuju Yogyakarta melalui jalan darat. Lampu depan mobil Anda hanya mampu menerangi jalan sejauh lima puluh atau seratus meter ke depan. Anda tidak bisa melihat wujud Tugu Yogya dari gerbang tol Cikampek. Tetapi apakah Anda harus menunggu seluruh bentang jalan dari Jakarta sampai Yogyakarta diterangi lampu merkuri sebelum menyalakan mesin? Tentu tidak. Anda cukup menyalakan mobil, menginjak pedal gas, dan melaju sejauh lampu depan Anda menyorot jalan. Selama Anda tahu arah umumnya—yakni mengarah ke timur dan selatan—Anda akan sampai di tempat tujuan, seratus meter demi seratus meter.

Menulis buku bekerja dengan cara yang persis sama. Anda tidak perlu tahu kata demi kata yang akan menutup naskah Anda di halaman dua ratus. Yang Anda butuhkan hanyalah mengetahui ke mana arah kasarnya, apa ide sentral yang ingin Anda bicarakan, dan apa adegan atau argumen berikutnya yang harus selesai malam ini.

“Satu Hal” yang Layak Diperjuangkan

Buku yang baik tidak pernah lahir dari keinginan abstrak seperti saya ingin dianggap keren sebagai penulis, melainkan dari sebuah obsesi kecil yang tidak mau pergi dari kepala Anda.

Bisa jadi obsesi itu adalah sebuah pertanyaan yang terus mengusik batin Anda: mengapa orang-orang di kota besar tampak begitu sibuk tetapi sekaligus merasa sangat kesepian?

Atau sebuah pengalaman personal yang unik: bagaimana rasanya tumbuh besar di sebuah desa terpencil yang tidak ada di peta Google?

Atau sebuah pengamatan sederhana di kantor Anda: kenapa sistem birokrasi selalu berhasil mengubah orang-orang paling idealis menjadi manusia yang pasrah menunggu jam pulang?

Jika Anda berniat menulis fiksi, mulailah dari ketegangan terkecil. Bukan lanskap perang antar-galaksi, melainkan satu orang tokoh yang menginginkan sesuatu dengan sangat mendesak, tetapi ada rintangan besar yang menghalanginya.

Jika Anda berniat menulis nonfiksi atau esai reflektif, mulailah dari argumen yang membuat dada Anda berdesir saat membicarakannya dengan sahabat karib di meja makan. Carilah satu topik di mana Anda bisa mengoceh tanpa henti selama dua jam tanpa perlu melihat catatan. Di situlah energi buku Anda tersimpan.

Menulis buku adalah sebuah maraton mental yang panjang. Jika ide dasarnya tidak membuat Anda penasaran atau gelisah, Anda akan kehabisan bahan bakar di tengah jalan. Jangan menulis buku tentang cara berinvestasi saham hanya karena topik itu sedang laku di pasar, sementara hati Anda sesungguhnya bergetar ketika mengamati tingkah laku kucing liar di komplek perumahan. Tulislah hal-hal yang membuat Anda rela bangun satu jam lebih awal atau tidur satu jam lebih lambat demi memikirkannya.

Memotong Gajah Menjadi Steak Siap Santap

Ada pepatah kuno yang sangat relevan untuk calon penulis: bagaimana cara memakan seekor gajah utuh? Jawabannya: potong kecil-kecil, makan satu gigitan setiap kali.

Ketika Anda memikirkan kata “Buku”, otak Anda secara refleks membayangkan tumpukan 250 halaman, sekitar 50.000 hingga 70.000 kata. Angka sebesar itu secara psikologis sangat menakutkan. Bagi siapa pun yang belum pernah melakukannya, 50.000 kata tampak seperti mendaki Gunung Everest dengan sandal jepit.

Namun, mari kita gunakan matematika sederhana untuk meredakan teror tersebut.

Satu halaman naskah standar biasanya memuat sekitar 250 sampai 300 kata. Jika Anda berkomitmen untuk menulis 300 kata saja dalam sehari—panjangnya tidak lebih dari satu atau dua status panjang di media sosial, atau sekitar tiga paragraf padat—maka dalam waktu satu bulan Anda sudah mengantongi 9.000 kata. Dalam waktu enam bulan, Anda sudah mengumpulkan 54.000 kata.

Enam bulan. Dan Anda sudah memiliki draf kasar sebuah novel atau buku nonfiksi utuh.

Tiga ratus kata sehari bukanlah beban yang menuntut Anda untuk mengasingkan diri ke villa terpencil di kaki gunung selama berbulan-bulan. Anda tidak perlu mengundurkan diri dari pekerjaan Anda, tidak perlu menunggu anak-anak Anda lulus kuliah, dan tidak perlu menunggu cuti tahunan tiba. Tiga ratus kata bisa diselesaikan dalam waktu tiga puluh hingga empat puluh lima menit di sela-sela rutinitas harian.

Kunci utamanya terletak pada desakralisasi proses menulis. Banyak pemula gagal karena menganggap menulis sebagai aktivitas sakral yang membutuhkan kondisi sempurna: ruangan harus hening tanpa suara, lilin aromaterapi harus menyala, teh melati harus tersaji hangat, dan suasana hati harus ceria bebas beban. Di dunia nyata yang penuh tagihan listrik, kemacetan jalan raya, dan tenggat pekerjaan kantor, momen sempurna semacam itu hampir tidak pernah ada.

Jika Anda menunggu kondisi sempurna tiba, naskah Anda tidak akan pernah tertulis. Menulislah di tengah ketidaksempurnaan. Menulislah di meja dapur sebelum anggota keluarga bangun. Menulislah di kereta komuter saat berangkat kerja. Menulislah selama tiga puluh menit saat jam istirahat makan siang. Perlakukan menulis bukan sebagai ritual pemanggilan arwah, melainkan sebagai rutinitas biasa—seperti menggosok gigi atau menyiram tanaman.

Menyumpal Mulut Sang Editor Batin

Musuh terbesar seorang penulis pemula bukanlah kurangnya ide atau keterbatasan kosakata. Musuh terbesarnya adalah suara rewel di dalam kepalanya sendiri: Sang Editor Batin.

Editor batin ini adalah polisi moral literatur yang bertengger di bahu Anda. Setiap kali jari Anda mengetik satu kalimat, dia berbisik dengan nada sinis: kalimat itu jelek sekali. Metaforanya klise. Tata bahasanya kacau. Orang pintar tidak akan menulis kalimat seringkih itu.

Jika Anda menuruti bisikan polisi ini, Anda akan terjebak dalam lingkaran setan yang melelahkan: mengetik satu kalimat, menghapusnya, mengetik ulang dengan variasi lain, merasa masih kurang puitis, lalu menekan tombol backspace sampai layar kembali putih bersih. Setelah duduk di depan laptop selama satu jam penuh, Anda hanya menghasilkan dua kalimat yang lelah dan sebuah sakit kepala sebelah.

Anda harus belajar memisahkan dua kepribadian yang berbeda di dalam diri Anda: Pencipta dan Penyunting.

Saat Anda menyusun draf pertama, biarkan Sang Pencipta bekerja memimpin. Beri dia kebebasan penuh untuk bertindak liar, ceroboh, boros kata, dan melantur sesuka hati. Jika ada kalimat yang janggal, biarkan saja meluncur. Jika Anda lupa nama tokoh sampingan atau data statistik yang akurat, ketik saja tanda kurung atau tanda bintang besar-besar lalu lanjutkan cerita. Jangan pernah menoleh ke belakang. Tugas Sang Pencipta hanyalah satu: memindahkan bahan mentah dari dalam kepala ke atas kertas.

Simpan Sang Editor Batin di dalam lemari yang terkunci rapat. Beri tahu dia bahwa panggungnya belum tiba. Waktu bagi Sang Editor Batin untuk unjuk gigi adalah nanti, saat naskah mentah sudah selesai ditulis dari awal hingga akhir. Saat draf kasar sudah berwujud, barulah keluarkan sang editor dengan mata pisau bedahnya yang tajam untuk memotong bagian yang bertele-tele, merapikan struktur argumen, dan memoles diksi yang kusam.

Mencoba menulis sambil menyunting sekaligus sama konyolnya dengan mencoba membersihkan lantai rumah sementara anggota keluarga lain masih asyik berjalan bolak-balik dengan sepatu yang berlumur lumpur basah. Biarkan lumpurnya mengering dulu, barulah sapu dan pel sampai kinclong.

Langkah Pertama

Jadi, jika Anda membaca tulisan ini dan bertanya kembali dengan nada mendesak: secara konkret, apa yang harus saya lakukan hari ini juga untuk memulai?

Jawabannya sangat sederhana dan bisa Anda kerjakan dalam lima belas menit ke depan:

Pertama, ambil selembar kertas kosong atau buka aplikasi catatan paling sederhana di ponsel Anda. Jangan gunakan aplikasi pengolah kata yang rumit dengan puluhan menu tata letak yang membingungkan. Tuliskan di baris paling atas sebuah kalimat deklaratif sederhana: Buku ini bercerita tentang… atau Tujuan utama buku ini adalah membuktikan bahwa…

Lengkapi kalimat itu tidak lebih dari dua baris. Ini adalah kompas Anda. Setiap kali naskah Anda nanti terasa melenceng terlalu jauh, kalimat kompas inilah yang akan menarik Anda kembali ke jalan yang benar.

Kedua, buatlah daftar sepuluh hingga dua belas butir ide, peristiwa, atau bab kecil yang mendukung kompas tersebut. Jangan risaukan urutannya dulu. Cukup tumpahkan apa saja potongan peristiwa yang terlintas di benak Anda jika ini novel, atau poin-poin pelajaran terpenting jika ini buku nonfiksi. Anggap daftar ini sebagai daftar belanjaan sebelum Anda masuk ke pasar swalayan.

Ketiga—dan ini langkah yang paling menentukan segalanya—pilihlah satu butir saja dari daftar belanjaan tersebut. Tidak perlu butir pertama, pilihlah butir mana saja yang rasanya paling gampang, paling segar, atau paling menggoda untuk diceritakan saat ini.

Lalu, mulailah menulis tentang butir tersebut. Jangan pedulikan bagaimana nanti paragraf ini akan disambungkan ke bab pembuka. Jangan pedulikan apakah diksinya sudah seindah novelis peraih nobel sastra. Cukup ceritakan apa yang terjadi, apa yang Anda lihat, atau apa yang Anda pikirkan, sebanyak tiga ratus kata.

Setelah tiga ratus kata itu rampung, berhentilah. Jangan tergoda untuk menulis seribu kata sampai Anda kelelahan dan kapok untuk membuka dokumen itu lagi keesokan harinya. Berhentilah saat Anda merasa masih punya sedikit tenaga tersisa. Rasa penasaran yang belum tuntas itu akan menjadi magnet yang menarik Anda kembali ke meja tulis esok hari.

Antara Rak dan Meja Tulis

Di perpustakaan atau toko buku yang kerap Anda kunjungi, jarak antara rak pajangan dengan bangku tempat Anda duduk membaca barangkali hanya terpisah beberapa langkah kaki. Namun bagi batin seorang penggemar buku, jarak beberapa langkah itu sering kali terasa membentang laksana samudera antariksa yang mustahil diseberangi.

Kita terlalu mengagungkan buku sampai lupa bahwa setiap mahakarya sastra, setiap buku sains yang mengguncang dunia, dan setiap biografi inspiratif yang pernah kita dekap erat di dada, pada mulanya hanyalah setumpuk kertas berantakan yang ditulis oleh manusia biasa yang rapuh, sering ragu, dan berkali-kali merasa ingin menyerah.

Penulis bukanlah manusia pilihan dewata yang lahir dengan tinta emas di ujung jarinya. Penulis hanyalah pembaca biasa yang memutuskan untuk tidak lagi sekadar mendengarkan cerita, melainkan memberanikan diri untuk mulai berbicara. Penulis adalah orang yang bersedia menanggung rasa malu melihat draf pertamanya yang buruk rupa demi melahirkan sesuatu yang berharga ke muka bumi.

Layar kosong Anda tidak sedang menunggu kalimat genius. Ia hanya sedang menunggu keberanian Anda untuk mulai mengetik kata pertama, lalu kata kedua, lalu kata ketiga.

Nyalakan komputernya. Tarik kursinya. Mulailah dari mana saja—dari tengah cerita, dari pinggir argumen, dari ingatan masa kecil, atau dari adegan yang paling Anda sukai. Karena begitu kata pertama berhasil menjejakkan kakinya di halaman kosong itu, Anda bukan lagi orang yang sekadar “ingin menulis buku”.

Sejak detik itu, Anda sudah resmi menjadi seorang penulis yang sedang dalam perjalanan.