Mengapa Semakin Kita Ingin Tulisan Sempurna, Semakin Sulit Kita Menulis?

Ada sebuah tragedi sunyi yang berulang kali terjadi di kamar-kamar para pencinta buku: seseorang duduk tegak menghadap laptop yang menyala, jari-jarinya terangkat anggun di atas papan ketik, napasnya dihela perlahan, lalu… tidak terjadi apa-apa.

Sepuluh menit berlalu. Kursor berkedip malas di sudut kiri atas layar putih yang menyilaukan. Tiga puluh menit kemudian, sebuah kalimat akhirnya lahir: Pagi itu, rintik hujan turun membasahi aspal jalanan kota yang dingin.

Penulisnya berhenti. Mencondongkan badan. Matanya menyipit menatap kalimat itu dengan tatapan penuh selidik, mirip seorang detektif yang baru saja menemukan puntung rokok mencurigakan di tempat kejadian perkara.

“Klise banget,” batinnya mendesis. “Kenapa harus hujan? Kenapa aspalnya harus dingin? Kenapa nggak pakai metafora yang lebih segar, yang aromanya mirip novel pemenang penghargaan internasional?”

Jari telunjuknya yang malang lantas bergerak ke kanan atas papan ketik, menekan tombol backspace berulang-ulang sampai layar kembali bersih tanpa noda. Nafas panjang diembuskan lagi. Kopi yang tadi diseduh mengepul kini sudah suam-suam kuku. Dua jam kemudian, laptop ditutup dengan bunyi ketukan lesu yang familier. Tidak ada satu paragraf pun yang selamat.

Bila Anda pernah terjebak dalam lingkaran setan yang melelahkan ini, sambutlah kenyataan yang sedikit menampar namun menyehatkan: musuh nomor satu yang sedang mencekik kreativitas Anda bukanlah kebuntuan ide, bukan keterbatasan kosakata, dan jelas bukan ketiadaan laptop mahal. Musuh Anda adalah sebuah berhala tak kasatmata yang Anda sembah sendiri dengan penuh takzim: kesempurnaan.

Membunuh Bayi Sebelum Belajar Merangkak

Bagi para penikmat literatur berbobot, perfeksionisme kerap disalahartikan sebagai tanda standar estetika yang tinggi. Kita merasa bangga saat menolak menulis kalimat-kalimat hambar. Kita merasa sedang menjaga marwah dunia sastra dengan cara menolak melahirkan karya yang medioker.

Namun, mari kita jujur pada diri sendiri: ada perbedaan mendasar antara menghargai mutu dan lumpuh karena rasa takut.

Ketika Anda menuntut sebuah draf pertama harus langsung sempurna sejak ketukan kibor pertama, Anda sesungguhnya sedang melakukan sebuah tindakan brutal: Anda membawa pisau bedah ke dalam ruang bersalin.

Gagasan yang baru lahir ke atas kertas itu ibarat bayi yang baru saja menghirup udara bumi untuk pertama kalinya. Ia merah, keriput, basah oleh lendir, dan menangis dengan suara parau yang sama sekali tidak merdu. Yang ia butuhkan saat itu hanyalah kehangatan dekapan, ruang aman untuk bernapas, dan waktu untuk tumbuh.

Namun alih-alih memberinya selimut, Anda yang perfeksionis justru langsung berdiri tegak di hadapannya dengan jas lab putih, menatapnya lewat kacamata tebal, lalu memvonis dengan dingin: “Bayi ini jalannya belum tegak. Larinya belum secepat pelari maraton olimpiade. Kosakatanya belum sefasih pidato kenegaraan. Bayi ini cacat logika, buang saja ke tempat sampah!”

Tentu saja Anda tidak akan pernah memiliki tulisan. Setiap tunas gagasan yang hendak menyembul dari tanah imajinasi Anda langsung Anda babat habis sebelum sempat membentuk daun pertama. Anda menyunting sebelum menciptakan. Anda menghakimi sebelum mendengar. Anda bertindak sebagai algojo yang membantai potensi kreatif Anda sendiri, lalu bersedih sambil mengeluh kepada kawan-kawan bahwa Anda sedang terkena kutukan writer’s block.

Kesenjangan Antara Selera dan Kemampuan

Mengapa jebakan kesempurnaan ini paling ganas memangsa orang-orang yang gemar membaca buku?

Ira Glass, seorang produser dan pencerita ulung asal Amerika Serikat, pernah merumuskan sebuah konsep brilian yang dinamakan The Taste Gap—jurang pemisah antara selera dan kemampuan.

Sebagai pembaca yang tekun, Anda telah menghabiskan ribuan jam menikmati karya-karya terbaik peradaban. Anda sudah menamatkan tulisan Gabriel García Márquez yang magis, prosa Dostoevsky yang menghunjam psikologi terdalam manusia, argumen Yuval Noah Harari yang melompat lintas peradaban, atau keanggunan kalimat para esais kawakan di tanah air.

Akibat dari jam terbang membaca yang tinggi ini, selera literatur Anda sudah berada di tingkat dewa. Selera Anda tajam luar biasa. Anda bisa seketika mengendus mana analogi yang murahan, mana dialog yang kaku seperti robot, dan mana transisi paragraf yang dipaksakan.

Tetapi masalahnya, keterampilan teknis jemari Anda masih berada di tingkat pemula.

Dan di sinilah penderitaan itu bermula: ketika Anda mulai menulis, mata batin Anda yang berkelas dunia itu langsung melihat betapa buruknya tulisan yang sedang Anda buat. Anda tahu persis naskah itu payah. Selera Anda berteriak jijik melihat apa yang baru saja Anda hasilkan.

Penulis yang rapuh akan langsung menyerah pada titik ini. Mereka merasa bahwa jurang pemisah antara apa yang ada di kepala dengan apa yang mendarat di atas kertas membuktikan bahwa mereka memang tidak berbakat. Mereka lupa satu hukum alam yang paling mendasar: satu-satunya jembatan untuk menutup jurang antara selera dan kemampuan adalah dengan terus menghasilkan karya yang buruk sampai perlahan-lahan karya itu membaik.

Semua penulis besar yang bukunya Anda pajang dengan bangga di rak kamar pernah melewati fase memalukan ini. Pramoedya Ananta Toer tidak lahir dari rahim ibunya dengan kemampuan menulis Bumi Manusia. Ernest Hemingway harus menulis ulang akhir dari A Farewell to Arms sebanyak tiga puluh sembilan kali hanya demi mendapatkan ritme kata yang pas. Jika Hemingway menuntut kesempurnaan sejak ketikan pertama, novel itu barangkali tidak akan pernah mendarat di meja percetakan.

Bukan Cinta Mutu, Melainkan Teror Ego

Kita sering mempercantik perfeksionisme sebagai bentuk dedikasi, idealisme, atau profesionalisme tanpa kompromi. Kita suka menyebut diri kita “orangnya memang agak perfeksionis sih” dengan nada bangga terselubung, seolah-olah sifat itu adalah medali kehormatan seorang intelektual sejati.

Mari robek topeng palsu itu. Jika kita menguliti perfeksionisme sampai ke tulangnya yang terdalam, kita tidak akan menemukan cinta pada keindahan kata. Yang akan kita temukan hanyalah satu hal yang sangat purba dan memalukan: rasa takut yang luar biasa terhadap penghakiman orang lain.

Perfeksionisme sesungguhnya bukanlah tentang bagaimana membuat tulisan itu menjadi karya terbaik. Perfeksionisme adalah tentang bagaimana melindungi ego Anda yang rapuh dari rasa malu.

Batin Anda berbisik dengan cemas:

  • “Kalau tulisanku ini biasa-biasa saja, apa kata lingkaran kawan-kawan literatorku?”
  • “Nanti kalau kritikus membaca argumenku yang bolong ini, reputasiku sebagai orang pintar akan runtuh seketika!”
  • “Bagaimana kalau mereka menertawakan metaforaku yang canggung?”

Perfeksionisme adalah tameng pelindung psikologis. Selama naskah itu masih tersimpan rapi di dalam kepala Anda sebagai sebuah konsep abstrak, ia tetap berada dalam wujud yang sempurna, agung, dan tak bercela. Di dalam kepala Anda, ia adalah mahakarya abadi.

Namun begitu gagasan itu Anda tuangkan ke atas kertas nyata, ia harus tunduk pada hukum keterbatasan: ia menjadi rentan, ia memiliki kelemahan, dan ia bisa dikritik oleh dunia luar. Demi menghindari rasa sakit akibat kritik tersebut, otak bawah sadar Anda memilih sebuah jalan keluar yang tampak masuk akal: membuat proses menulis itu menjadi sedemikian rumit, berat, dan mustahil, sehingga Anda akhirnya punya alasan sah untuk tidak pernah menyelesaikannya.

Lebih aman menjadi orang yang “sedang dalam proses mematangkan sebuah ide buku mahakarya selama lima tahun” daripada menjadi orang yang menerbitkan buku setebal seratus lima puluh halaman yang ternyata dinilai lumayan saja oleh pembaca. Perfeksionisme adalah kepengecutan yang berdandan rapi memakai jas akademisi.

Tulisan yang Baik Butuh Ketidaksempurnaan

Ada sebuah paradoks estetika yang sangat menarik dalam dunia penulisan: tulisan yang terlalu berusaha tampak sempurna justru sering kali terasa dingin, kaku, dan membosankan untuk dibaca.

Pernahkah Anda membaca sebuah buku yang tata bahasanya begitu rapi tanpa cela, struktur argumennya simetris seperti cetak biru gedung perkantoran, diksinya dipilih dari kata-kata baku paling anggun, tetapi anehnya Anda sama sekali tidak tersentuh? Tidak ada getaran emosi yang menjalar ke dada Anda. Naskah itu terasa seperti patung lilin: indah dipandang dari kejauhan, tetapi tidak memiliki denyut nadi, tidak memancarkan hawa hangat, dan jika disentuh terasa kenyal tanpa nyawa.

Sebaliknya, tulisan-tulisan yang terus membekas di relung ingatan kita selama bertahun-tahun selalu memiliki semacam keliaran alami. Ada sedikit retakan di sana-sini. Ada kalimat yang melompat dengan napas terengah-engah, ada pengakuan akan kebodohan diri yang jujur, ada humor gelap yang menyeruak tanpa diundang, dan ada kerentanan manusiawi yang tumpah ruah.

Kehidupan manusia itu sendiri pada hakikatnya berantakan, membingungkan, dan penuh kontradiksi. Jika Anda mencoba menangkap denyut kehidupan itu menggunakan kerangka penulisan yang serba steril, simetris, dan sempurna, Anda justru sedang membunuh esensi dari hal yang ingin Anda ceritakan.

Menulis yang bertenaga menuntut Anda untuk merelakan kendali. Anda harus berani membiarkan tokoh cerita Anda mengambil keputusan bodoh di bab empat. Anda harus berani membiarkan esai Anda mengembara ke sudut-sudut pemikiran yang belum Anda temukan kesimpulannya saat mulai mengetik. Jika Anda sudah tahu persis setiap jengkal kata dan reaksi pembaca dari awal hingga akhir, proses menulis bukan lagi sebuah petualangan penemuan jati diri, melainkan sekadar tugas menyalin data yang membosankan.

Menghidupkan Budaya Draf Sampah

Lalu, bagaimana cara melepaskan diri dari jeratan kutukan perfeksionisme ini agar jari-jemari Anda bisa kembali menari lincah di atas papan ketik?

Jalan keluarnya bukan dengan menurunkan apresiasi Anda terhadap karya bermutu tinggi, melainkan dengan mengubah aturan main pada fase produksi. Anda harus menerapkan pemisahan kekuasaan yang tegas dan radikal dalam proses kerja kreatif Anda:

Pertama, turunkan ambisi draf pertama sampai ke tingkat yang memalukan.

Jangan pernah duduk di depan komputer dengan niat menghasilkan karya brilian. Niatkan sejak awal untuk membuat draf yang berantakan, canggung, dan penuh lubang logika. Beri diri Anda izin tertulis untuk menulis kalimat-kalimat yang buruk. Katakan pada kursor yang berkedip itu: “Malam ini saya hanya bertugas mengeluarkan sampah dari kepala ke atas layar. Urusan membersihkan dan mendaur ulang sampahnya adalah tugas saya besok pagi.” Begitu beban untuk menjadi brilian itu Anda letakkan di lantai, aliran kreativitas yang tadinya tersumbat akan langsung memancar deras kembali.

Kedua, larang tangan Anda menyentuh tombol koreksi saat sedang menulis.

Terapkan aturan ketat: saat tombol penciptaan ditekan, tombol penghakiman harus dicabut dari soketnya. Jika saat mengetik Anda tiba-tiba menyadari ada kalimat yang sumbang, jangan dihapus. Tandai saja dengan huruf tebal atau beri tanda kurung besar, lalu lanjutkan menulis kalimat berikutnya. Biarkan momentum gerak maju itu bekerja. Menulis draf pertama adalah olahraga lari maraton menembus hutan belantara; jika setiap kali kaki Anda tersandung ranting kecil Anda berhenti lalu kembali ke garis awal untuk berjalan lagi, Anda akan mati kedinginan sebelum matahari terbenam.

Ketiga, terimalah takdir keterbatasan manusia.

Tidak ada buku di muka bumi ini yang mampu memuaskan semua orang. Bahkan mahakarya terbesar dalam sejarah manusia sekalipun memiliki barisan pembenci yang siap menulis ulasan berbintang satu di internet. Buku Anda tidak akan pernah bisa mencakup seluruh kebenaran tentang dunia. Naskah Anda tidak akan pernah bisa menjawab semua pertanyaan eksistensial manusia. Dan itu sama sekali bukan kiamat.

Tugas Anda sebagai penulis bukanlah menjadi tuhan yang maha tahu dan maha sempurna. Tugas Anda hanyalah menjadi saksi yang jujur atas secuil pengalaman, sepenggal ide, atau segenggam kegelisahan yang kebetulan mampir dan hinggap di dalam dada Anda selama Anda hidup di bumi.

Berdamai dengan Debu di Bengkel Kerja

Rak buku di kamar Anda memang rapi, wangi, dan menuntut ketakziman. Namun tempat tidur tempat karya-karya itu dilahirkan tidak pernah berbau parfum ruangan; tempat itu berbau keringat dingin, cangkir kopi yang berkerak, kertas-kertas konsep yang diremas lalu dilempar ke sudut lantai, dan desah frustrasi di tengah malam yang buta.

Kesempurnaan adalah ilusi optik yang hanya ada di mata penonton yang berdiri di luar panggung. Di balik tirai tebal tempat para seniman bekerja, yang ada hanyalah pergulatan tiada henti dengan ketidaksempurnaan yang diolah berulang kali dengan penuh ketabahan.

Sebuah buku yang buruk namun selesai ditulis dan dicetak berwujud kertas nyata seribu kali lebih berharga daripada sepuluh buku brilian yang hanya mendekam selamanya di dalam kuburan angan-angan seorang perfeksionis.

Maka dari itu, tarik kursi Anda sekali lagi. Tatap kursor yang berkedip-kedip di layar itu bukan lagi dengan rasa gentar, melainkan dengan senyum geli seorang petualang yang siap berlumur lumpur. Ketiklah kalimat pembuka Anda yang canggung itu sekarang juga. Biarkan ia meluncur apa adanya: goyah, polos, dan belepotan.

Karena hanya dari tanah liat yang basah dan berantakan itulah, sebuah bentuk kehidupan yang indah kelak bisa mulai dipahat.