Saya terjebak dalam sebuah percakapan yang agak melelahkan dengan seorang kenalan yang mengaku diri sebagai “pakar konten digital”. Dengan nada bicara yang cepat—secepat jempolnya menggulir layar ponsel—ia memberi saya kuliah singkat tentang bagaimana dunia tulis-menulis bekerja hari ini.
“Mas,” katanya sambil membetulkan letak kacamata bingkai tebalnya, “Zaman sekarang itu tidak butuh tulisan yang mikirnya sampai berdarah-darah. Yang penting itu speed. Posting sekarang, viral sekarang. Kalau Mas masih mikir diksi sampai seminggu, ya momentumnya sudah hilang. Tulisan Mas itu sudah basi sebelum dibaca.”
Saya terdiam. Bukan karena saya setuju, tapi karena saya sedang membayangkan betapa malangnya nasib sebuah gagasan jika ia hanya dianggap sebagai barang pecah belah yang punya tanggal kedaluwarsa dalam hitungan jam. Sejak kapan kedalaman berpikir kalah telak oleh kecepatan unggah? Sejak kapan kualitas sebuah argumen harus bertekuk lutut di bawah kaki dewa yang bernama “Momentum”?
Inilah horor baru dalam dunia literasi kita: ketika kualitas tulisan dikalahkan oleh kecepatan posting.
Perlombaan Menuju Kedangkalan
Kita sedang hidup di era yang menyembah kecepatan. Segala sesuatu harus instan. Mi instan, jodoh instan lewat aplikasi, sampai opini instan. Di media sosial, ada semacam kompetisi tidak tertulis: siapa yang paling cepat berkomentar tentang sebuah isu yang sedang hangat, dialah yang dianggap paling cerdas atau paling “update”.
Masalahnya, untuk menjadi cepat, ada sesuatu yang harus dikorbankan. Dan biasanya, yang pertama kali dibuang ke tempat sampah adalah ketelitian dan perenungan.
Penulis zaman sekarang, terutama mereka yang hidup di bawah bayang-bayang target traffic, sering kali tidak punya waktu untuk membaca ulang tulisannya. Mereka tidak punya waktu untuk memeriksa apakah logika yang mereka bangun sudah kokoh atau masih keropos. Yang penting, artikel tersebut sudah tayang dua menit setelah kejadian berlangsung. Hasilnya? Kita dibanjiri oleh tulisan-tulisan yang permukaannya tampak berkilau tapi isinya kosong melompong.
Tulisan yang lahir dari kecepatan posting biasanya hanya berisi “kulit”. Ia hanya mengulang apa yang sudah dikatakan orang lain, dibungkus dengan judul yang provokatif, lalu dilempar ke hadapan pembaca. Tidak ada proses pengendapan ide. Padahal, ide itu seperti tape singkong; kalau tidak diendapkan, ia tidak akan pernah manis. Ia hanya akan menjadi singkong rebus yang hambar.
Algoritma: Sang Mandor yang Kejam
Kenapa kita menjadi begitu terobsesi dengan kecepatan? Jawabannya ada pada algoritma. Mesin-mesin di Silicon Valley itu telah diprogram untuk menyukai keteraturan dan kecepatan. Akun yang posting setiap hari akan “disayang” oleh algoritma dan jangkauannya diperluas. Sebaliknya, penulis yang hanya posting sekali sebulan karena ingin menjaga kualitas tulisannya, akan “dihukum” dengan cara ditenggelamkan ke dasar sumur digital yang paling dalam.
Penulis akhirnya berubah menjadi buruh konten. Mereka menulis bukan karena punya sesuatu yang penting untuk disampaikan, tapi karena mereka harus memenuhi kuota posting agar tidak dilupakan oleh algoritma. Ini adalah bentuk perbudakan intelektual yang sangat halus. Kita dipaksa memproduksi teks seperti mesin pabrik yang tidak boleh berhenti beroperasi.
Ketika kuantitas menjadi panglima, maka kualitas otomatis akan menjadi jelata. Penulis tidak lagi peduli dengan estetika bahasa. Mereka tidak lagi peduli apakah kalimat mereka bisa menggetarkan hati pembaca. Yang mereka pedulikan hanyalah statistik: berapa banyak yang klik, berapa banyak yang share. Tulisan tidak lagi menjadi karya seni, melainkan hanya menjadi sekadar “bahan bakar” untuk mesin periklanan digital.
Hilangnya Wibawa Penulis
Saat kecepatan posting menjadi segalanya, wibawa seorang penulis pun mulai luntur. Dulu, seorang penulis adalah sosok yang didengarkan karena ia dianggap telah melakukan kontemplasi yang mendalam sebelum bicara. Suaranya adalah suara kejernihan di tengah kebisingan.
Sekarang? Penulis sering kali justru menjadi sumber kebisingan itu sendiri. Karena ingin cepat, mereka sering kali terpeleset pada hoaks atau disinformasi. Mereka tidak lagi melakukan verifikasi karena takut kehilangan momentum. Akhirnya, posisi penulis tidak ada bedanya dengan tukang gosip di pasar; bedanya hanya pada media yang digunakan.
Pembaca pun mulai kehilangan kepercayaan. Mereka membaca tulisan-tulisan cepat itu dengan sikap skeptis. “Ah, paling cuma cari clickbait,” begitu gumam mereka. Ketidakpercayaan ini adalah racun bagi dunia literasi. Jika pembaca tidak lagi percaya pada kedalaman sebuah tulisan, maka fungsi tulisan sebagai alat pencerah peradaban pun akan berakhir. Kita hanya akan menjadi masyarakat yang gemar bertukar kata-kata tanpa pernah benar-benar berkomunikasi.
Menolak Menjadi “Fast Food” Literasi
Kita harus berani mengambil jarak dari kegilaan ini. Kita harus berani mengatakan bahwa tidak semua hal harus dikomentari saat itu juga. Ada hal-hal yang butuh waktu berhari-hari, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun untuk dipahami dan dituliskan.
Tulisan yang berkualitas adalah tulisan yang awet. Ia tidak basi dalam satu hari. Ia adalah tulisan yang jika dibaca sepuluh tahun lagi, masih terasa relevan dan memberikan pencerahan. Itulah yang disebut sebagai literasi klasik, bukan “fast food” literasi yang enak di mulut tapi merusak kesehatan mental kita.
Menjaga kualitas di tengah gempuran kecepatan memang butuh nyali yang besar. Anda mungkin akan kehilangan beberapa ribu follower. Anda mungkin tidak akan pernah viral. Tapi, Anda akan memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh para pengejar momentum itu: kehormatan intelektual.
Seorang penulis yang baik adalah seorang kurator bagi pikirannya sendiri. Ia tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam untuk mendengarkan. Ia tidak akan membiarkan jempolnya bergerak lebih cepat daripada otaknya. Ia lebih baik terlambat posting asalkan apa yang ia sampaikan adalah sebuah kebenaran yang sudah diuji dalam tungku perenungan.
Kembali ke Marwah Esai
Bagi saya, esai adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap kecepatan. Menulis esai adalah upaya untuk mengajak pembaca berhenti sejenak, duduk tenang, dan berpikir bersama. Esai yang baik adalah esai yang mengajak kita melihat sisi lain dari sebuah peristiwa, sisi yang sering kali luput dari pandangan orang-orang yang terlalu terburu-buru.
Jika kita membiarkan kualitas dikalahkan oleh kecepatan, maka kita sebenarnya sedang membunuh esai itu sendiri. Kita sedang mengubah seni berpikir menjadi sekadar aktivitas mengetik.
Pembaca, mari kita mulai menghargai kembali proses yang lambat. Jangan terlalu kagum pada orang yang bisa posting sepuluh kali sehari tapi isinya hanya sampah. Berikanlah apresiasi pada mereka yang mungkin jarang muncul, tapi sekali muncul, mereka memberikan perspektif yang membuat kita terdiam dan berpikir ulang tentang hidup.
Dunia ini sudah terlalu bising. Kita tidak butuh lebih banyak orang yang bicara cepat. Kita butuh lebih banyak orang yang bicara dengan makna. Dan makna, seperti halnya anggur yang berkualitas, selalu membutuhkan waktu untuk mencapai kematangannya.
Jangan Mau Menjadi Budak Momentum
Tugas penulis bukan untuk melayani algoritma, tapi untuk melayani kebenaran dan keindahan bahasa. Jangan mau didikte oleh rasa takut kehilangan momentum. Momentum itu fana, tapi makna itu abadi.
Biarlah mereka berlari mengejar viralitas. Biarlah mereka bangga dengan angka-angka di layar monitornya. Kita, tetaplah di sini, di meja tulis kita, menimang-nimang kata, memperbaiki alur, dan memastikan bahwa setiap kalimat yang kita kirimkan ke hadapan pembaca adalah kalimat yang punya tanggung jawab moral.
Kualitas tulisan adalah benteng terakhir kita sebagai manusia yang berpikir. Jika benteng itu runtuh hanya karena kita ingin terlihat cepat, maka kita sebenarnya tidak lebih dari sekadar mesin fotokopi yang kebetulan punya nama.
Tetaplah menulis dengan hati, Pembaca. Tetaplah menjaga kualitas, biarpun dunia di luar sana sedang berlari kesetanan mengejar kecepatan yang semu. Karena pada akhirnya, sejarah hanya akan mencatat mereka yang menulis dengan kedalaman, bukan mereka yang hanya sekadar cepat memencet tombol “publish”.




