Beberapa malam lalu, saya terjebak dalam sebuah eksperimen kecil yang agak mengerikan. Saya membuka salah satu platform bacaan digital populer tahun 2026, lalu mencoba mencari bacaan baru. Hanya dalam hitungan detik, aplikasi itu menyodorkan lima judul yang seolah-olah bisa membaca isi pikiran saya yang paling rahasia sekalipun. Temanya pas, gaya bahasanya cocok, bahkan tingkat ketegangannya sesuai dengan detak jantung saya malam itu. Saya merasa senang, tapi sekaligus ngeri. Di titik itu saya bertanya: apakah saya memilih buku ini karena keinginan bebas saya, atau karena sebuah mesin di awan-awan sana sudah memutuskan bahwa inilah yang “harus” saya baca?
Kita sekarang berada di sebuah persimpangan jalan yang sangat krusial dalam sejarah literasi Indonesia. Pertanyaannya bukan lagi tentang “apa” yang kita baca, tapi “siapa” yang sebenarnya mengendalikan apa yang kita baca. Apakah masa depan literasi kita masih dipegang oleh jemari para penulis yang memeras otak hingga kering, ataukah sudah pindah ke barisan kode matematika dingin yang kita sebut sebagai algoritma?
Mari kita lihat kenyataan di lapangan. Algoritma adalah kurator paling rajin sekaligus paling kejam di abad ini. Di platform digital, algoritma bekerja seperti makelar yang sangat agresif. Ia mengamati apa yang Anda klik, berapa lama Anda berhenti di satu paragraf, dan kapan Anda memutuskan untuk menutup aplikasi. Hasil pengamatan ini kemudian diolah untuk menyajikan bacaan yang “serupa”. Jika Anda suka cerita tentang perselingkuhan yang bikin emosi, algoritma akan membombardir Anda dengan ribuan cerita serupa sampai Anda merasa dunia ini isinya hanya orang berselingkuh saja.
Inilah bahaya pertama dari dominasi algoritma: gelembung literasi. Algoritma tidak peduli pada kualitas sastra atau kedalaman makna; ia hanya peduli pada engagement. Ia ingin Anda tetap berada di dalam aplikasi selama mungkin. Akibatnya, keberagaman bacaan kita terancam. Penulis yang menulis sesuatu yang baru, yang segar, atau yang menantang arus, sering kali terkubur karena mesin menganggap karya mereka “berisiko” tidak disukai massa. Literasi kita terancam menjadi homogen, seragam, dan membosankan karena semua orang dipaksa membaca hal yang itu-itu saja demi memuaskan statistik.
Lalu, bagaimana dengan nasib penulis? Di tangan algoritma, penulis Indonesia tahun 2026 sering kali merasa seperti buruh pabrik kata-kata. Banyak penulis muda yang kini tidak lagi bertanya “apa pesan moral yang ingin saya sampaikan?”, melainkan “bagaimana cara saya menulis agar disukai algoritma?”. Mereka mulai menghitung jumlah kata per bab agar pas dengan durasi baca rata-rata pengguna ponsel. Mereka membuat judul yang mengandung kata kunci tertentu agar mudah muncul di pencarian. Di titik ini, penulis kehilangan kedaulatannya. Mereka bukan lagi pencipta, melainkan penyedia konten bagi mesin.
Namun, jangan terburu-buru menyalahkan mesin sepenuhnya. Algoritma juga punya sisi “malaikat” jika kita pandai memanfaatkannya. Bagi penulis berbakat yang tidak punya modal besar atau koneksi di penerbitan Jakarta, algoritma adalah jembatan emas. Tanpa algoritma, mungkin kita tidak akan pernah mengenal penulis-penulis hebat dari pelosok daerah yang karyanya mendadak viral karena mesin melihat ada sekelompok orang yang sangat menyukai tulisan mereka. Algoritma bisa menjadi alat pendemokrasian literasi yang paling ampuh, di mana naskah yang bagus punya kesempatan yang sama untuk ditemukan, tanpa peduli siapa bapaknya atau di mana sekolahnya.
Masa depan literasi Indonesia seharusnya bukan tentang memilih salah satu, melainkan tentang bagaimana penulis merebut kembali kendali dari algoritma. Penulis tidak boleh menyerah pada angka. Literasi yang sehat adalah literasi yang mampu mengejutkan pembaca. Algoritma bisa memprediksi apa yang kita inginkan, tapi ia tidak pernah bisa memberikan apa yang kita butuhkan secara spiritual dan intelektual. Seorang penulis sejati harus berani menulis sesuatu yang tidak diprediksi oleh mesin. Kita butuh tulisan yang mampu merusak algoritma, yang mampu membuat pembaca berhenti sejenak dan berpikir, “Wah, saya tidak menyangka akan menyukai bacaan seberat ini.”
Tantangan bagi pembaca Indonesia di tahun 2026 juga tidak kalah berat. Kita harus menjadi pembaca yang nakal. Sesekali, carilah buku yang sama sekali tidak direkomendasikan oleh aplikasi Anda. Pergilah ke perpustakaan fisik, acak-acak rak buku yang paling pojok, dan temukan kejutan di sana. Literasi di tangan algoritma adalah literasi yang pasif. Literasi di tangan manusia adalah literasi yang aktif, yang mencari, dan yang meragukan.
Jika kita membiarkan algoritma berkuasa penuh, maka masa depan literasi Indonesia akan menjadi sangat dangkal. Kita akan menjadi bangsa yang hanya bisa melahap informasi remeh-temeh yang sudah dikunyah oleh mesin. Tapi jika penulis tetap teguh pada integritas karyanya, dan pembaca tetap mau membuka diri pada keberagaman, maka algoritma hanyalah pelayan bagi kemajuan berpikir kita, bukan tuan atas pikiran kita.
Pada akhirnya, masa depan literasi kita tetap berada di tangan manusia—di tangan penulis yang berani jujur dan pembaca yang berani penasaran. Algoritma hanyalah alat, seperti pulpen atau mesin cetak di masa lalu. Jangan biarkan alat yang mengatur penggunanya. Literasi Indonesia harus tetap punya “nyawa”, sesuatu yang tidak bisa diproduksi oleh deretan angka nol dan satu. Nyawa itu ada pada empati, pada keresahan sosial, dan pada keindahan bahasa yang sering kali tidak logis namun sangat menyentuh kalbu.
Mari kita pastikan bahwa di tahun-tahun mendatang, ketika seseorang membuka buku atau layar ponselnya, ia masih bisa menemukan suara manusia yang otentik di sana. Bukan sekadar hasil kalkulasi mesin yang dingin, tapi sebuah bisikan dari jiwa ke jiwa. Karena pada titik itulah, literasi benar-benar menemukan tujuannya yang hakiki: menjadikan kita manusia yang lebih utuh, bukan sekadar data yang lebih akurat bagi perusahaan teknologi. Teruslah menulis dengan hati, dan teruslah membaca dengan kritis, agar algoritma tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa sepenuhnya menguasai imajinasi bangsa ini.




