Kenapa Buku Bagus Jarang Laku, Tapi Buku Viral Cepat Habis?

Beberapa waktu lalu, saya melipir ke sebuah toko buku besar di Jakarta. Seperti biasa, pemandangan di sana selalu berhasil membuat dada saya sedikit sesak sekaligus geli. Di rak “Best Seller” yang nangkring persis di depan pintu masuk, berjejer buku-buku dengan sampul warna-warni mentereng, yang isinya—kalau boleh jujur tanpa bermaksud sombong—sering kali hanya rangkuman kutipan-kutipan galau dari media sosial atau tips sukses instan yang metodenya lebih mirip ilmu sihir daripada logika bisnis. Sementara itu, di pojok belakang, di rak yang cahayanya agak temaram dan berdebu, buku-buku hasil riset mendalam selama sepuluh tahun atau novel sastra yang diksi-diksinya disusun dengan keringat darah, tampak diam kesepian menanti pembeli yang tak kunjung datang.

Fenomena ini sering kali membuat para penulis idealis meradang. Mereka menggerutu di balik layar laptop, “Kenapa sih selera masyarakat kita serendah ini? Kenapa buku yang isinya ‘daging’ semua malah tidak laku, sedangkan buku yang isinya ‘remah-remah kerupuk’ malah ludes dalam sekejap?” Sebagai orang yang sudah lama berkecimpung di dunia kata-kata, saya merasa perlu mendudukkan perkara ini dengan kepala dingin, sedikit tawa getir, dan tentu saja, tanpa perlu merasa lebih suci daripada pembaca buku viral.

Kenyataan pertama yang harus kita terima adalah bahwa di tahun 2026 ini, buku bukan lagi sekadar instrumen literasi, melainkan instrumen gaya hidup dan identitas sosial. Orang membeli buku bukan lagi semata-mata karena ingin tahu apa isi pemikiran si penulis, tapi karena ingin “terlihat” sedang memikirkan apa yang sedang ramai dibicarakan orang. Inilah yang saya sebut sebagai ekonomi atensi. Buku viral menang bukan karena kualitas intrinsik tulisannya lebih baik, tapi karena ia berhasil memenangkan pertempuran memperebutkan ruang di otak kita yang sudah penuh sesak dengan notifikasi WhatsApp dan video pendek TikTok.

Buku yang bagus sering kali menuntut sesuatu yang mahal dari pembacanya: waktu dan konsentrasi. Sebuah buku bagus biasanya mengajak kita berpikir, mempertanyakan kembali keyakinan kita, atau bahkan membuat otak kita sedikit keriting karena harus mencerna kalimat-kalimat kompleks. Di zaman sekarang, menuntut konsentrasi selama lebih dari sepuluh menit itu hampir setara dengan menuntut seseorang untuk puasa bicara sehari penuh. Sangat sulit! Kebanyakan dari kita sudah terbiasa dengan asupan informasi yang serba cepat, gampang dikunyah, dan langsung memberikan efek “senang” seketika.

Sedangkan buku viral? Ia bekerja dengan cara yang berbeda. Ia biasanya hadir sebagai jawaban atas keresahan massal yang sedang hangat. Ia tidak menuntut Anda berpikir keras; ia justru hadir untuk memvalidasi perasaan Anda. Kalau di media sosial sedang ramai soal “healing” atau “toxic relationship”, lalu muncul buku dengan judul mentereng soal itu yang ditulis oleh seseorang dengan pengikut jutaan, maka meledaklah ia. Orang membelinya bukan karena butuh isinya, tapi karena ingin merasa menjadi bagian dari gelombang percakapan tersebut. Membeli buku viral adalah cara termudah untuk merasa “up-to-date”.

Lalu, ada masalah teknis yang sering kali dilupakan oleh para penulis idealis: pemasaran. Penulis buku bagus sering kali merasa bahwa kalau karyanya sudah bagus, maka tugasnya selesai. Mereka percaya pada mitos lama bahwa “buku yang baik akan menemukan pembacanya sendiri”. Maaf, Kawan, di tahun 2026, itu adalah pemikiran yang sangat naif. Buku sebagus apa pun, jika hanya diam di rak tanpa ada orang yang membicarakannya di media sosial, maka ia akan mati dalam kesunyian.

Sebaliknya, penerbit buku viral sangat paham cara memainkan psikologi massa. Mereka menggunakan teknik “Fear of Missing Out” atau FOMO. Mereka menciptakan kesan bahwa kalau Anda belum baca buku ini, Anda adalah orang yang tertinggal zaman. Mereka bekerja sama dengan pembuat konten, menggunakan algoritma, dan menciptakan kemasan yang sangat “Instagrammable”. Hasilnya? Orang berebut beli. Urusan bukunya nanti dibaca sampai habis atau hanya jadi pajangan di meja kafe agar terlihat estetik saat difoto, itu urusan belakangan. Bagi penerbit dan toko buku, yang penting adalah angka di kasir.

Kita juga harus bicara soal distribusi informasi yang tidak merata. Buku bagus sering kali lahir dari lingkaran akademis atau komunitas sastra yang eksklusif. Bahasanya tinggi, diksinya melangit, dan promosinya hanya berputar-putar di lingkaran mereka sendiri. Akibatnya, masyarakat luas—yang sebenarnya haus bacaan—merasa terintimidasi. Mereka merasa buku bagus itu “bukan buat saya”. Akhirnya, mereka lari ke buku-buku viral yang bahasanya lebih “membumi”, meskipun isinya mungkin hanya pengulangan dari apa yang sudah mereka tahu.

Selain itu, ada faktor “siapa” yang menulis. Di Indonesia, otoritas penulis sering kali bergeser dari “apa yang ia tahu” menjadi “berapa banyak yang mengenalnya”. Seorang selebritas media sosial yang menulis buku tentang cara memasak air mungkin akan lebih laku daripada seorang profesor kuliner yang menulis tentang sejarah rempah-rempah Nusantara. Mengapa? Karena pembaca masa kini membeli “sosok”, bukan sekadar “teks”. Mereka merasa punya ikatan emosional dengan si penulis viral. Membeli bukunya adalah bentuk dukungan atau cara untuk merasa lebih dekat dengan idola mereka.

Fenomena “Buku Viral Cepat Habis” ini juga didorong oleh sistem toko buku kita yang makin kejam. Toko buku sekarang bekerja dengan sistem fast moving. Kalau dalam tiga bulan sebuah buku tidak menunjukkan performa penjualan yang bagus, ia akan segera didepak ke rak belakang, lalu masuk gudang, dan akhirnya berakhir di tempat loakan. Buku bagus yang sifatnya “slow burner”—yang butuh waktu untuk dikenal lewat omongan orang ke orang—sering kali tidak punya kesempatan untuk bertahan hidup di ekosistem yang serba cepat ini.

Namun, apakah ini berarti buku bagus tidak punya masa depan? Tidak juga. Kita harus belajar dari cara kerja buku viral tanpa harus kehilangan integritas. Penulis buku bagus harus mulai berani turun gunung. Jangan hanya menulis, tapi juga bicarakan tulisanmu dengan bahasa yang bisa dimengerti oleh orang awam tanpa mengurangi bobot isinya. Kita butuh lebih banyak “penerjemah” ide-ide besar menjadi percakapan sehari-hari.

Satu hal yang menarik adalah, buku viral biasanya punya umur yang pendek. Ia meledak hari ini, lalu setahun kemudian orang sudah lupa judulnya. Ia seperti kembang api: terang benderang sekejap, lalu hilang meninggalkan asap. Sementara buku bagus, meskipun lakunya pelan-pelan seperti kura-kura, ia punya nafas panjang. Ia akan tetap dicari sepuluh, dua puluh, bahkan lima puluh tahun kemudian. Ia menjadi klasik.

Masalahnya, penulis juga butuh makan sekarang, bukan lima puluh tahun lagi. Inilah dilema yang dialami banyak penulis di Indonesia. Mau jadi idealis tapi lapar, atau mau jadi oportunis tapi merasa berdosa pada ilmu pengetahuan? Jawabannya mungkin ada di tengah-tengah. Kita butuh buku yang “bagus sekaligus viral”. Buku yang isinya berbobot tapi dikemas dengan cara yang modern, relevan, dan tidak menjauhkan diri dari pembaca.

Dunia perbukuan kita memang sedang tidak baik-baik saja, tapi ia juga tidak sedang sekarat. Ia hanya sedang berganti kulit. Fenomena buku viral adalah pengingat bagi para penulis dan penerbit bahwa cara kita berkomunikasi dengan pembaca harus berubah. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan kualitas tulisan di atas kertas, tapi juga bagaimana tulisan itu berinteraksi dengan kebisingan dunia digital.

Pada akhirnya, laku atau tidaknya sebuah buku sering kali tidak mencerminkan kualitas intelektual pembacanya secara keseluruhan. Kadang-kadang, orang membeli buku viral hanya karena mereka sedang butuh hiburan ringan di tengah himpitan hidup yang makin berat. Dan itu sah-sah saja. Yang menjadi masalah adalah jika tidak ada lagi orang yang mau menerbitkan dan menulis buku bagus hanya karena takut tidak laku.

Kita butuh keseimbangan. Kita butuh buku viral untuk menjaga industri perbukuan tetap berputar secara finansial, tapi kita juga butuh buku bagus untuk menjaga kewarasan dan kedalaman berpikir bangsa ini. Jadi, jika suatu saat Anda melihat buku bagus yang kesepian di pojok toko buku, belilah. Bukan hanya untuk menambah ilmu, tapi sebagai bentuk sedekah untuk menjaga api literasi yang benar-benar bernyawa agar tidak padam ditelan tren sesaat.

Jangan membenci buku viral, tapi jangan juga mendewakannya. Dan bagi para penulis yang bukunya belum laku, jangan berkecil hati. Mungkin pembaca Anda belum lahir, atau mungkin mereka sedang sibuk mencari sinyal untuk memesan buku Anda di toko daring. Tetaplah menulis dengan jujur, karena pada akhirnya, sejarah hanya akan mencatat mereka yang menulis dengan hati, bukan mereka yang hanya sekadar mengejar statistik penjualan yang fana itu.

Perjalanan sebuah buku dari meja penulis hingga ke tangan pembaca adalah perjalanan yang penuh keajaiban sekaligus penuh tipu daya. Di tahun 2026, kita harus makin cerdas memilah, mana yang benar-benar memberikan asupan bagi jiwa dan mana yang hanya sekadar pemanis buatan bagi mata. Buku bagus mungkin jarang laku hari ini, tapi ia adalah tabungan bagi peradaban masa depan. Sedangkan buku viral yang cepat habis itu? Ya, biarlah ia menjadi bumbu penyedap yang meramaikan dapur literasi kita, asal jangan sampai kita lupa mana makanan pokok yang sebenarnya.

Menutup obrolan panjang ini, saya hanya ingin berpesan: bacalah apa yang ingin Anda baca, tapi sesekali, tantanglah diri Anda untuk membaca sesuatu yang sulit. Sesuatu yang tidak viral. Sesuatu yang mungkin membuat Anda mengerutkan kening. Karena di sanalah, di antara baris-baris kalimat yang jarang laku itu, sering kali tersimpan kebenaran yang paling murni yang tidak akan pernah Anda temukan dalam jutaan klik atau ribuan komentar di media sosial. Teruslah membaca, teruslah menulis, dan mari kita rayakan dinamika dunia buku Indonesia dengan segala kegilaannya ini.