Masihkah Menulis Buku Jadi Profesi Menjanjikan di Tahun 2026?

Beberapa hari yang lalu, saya sedang iseng membuka-buka arsip tulisan lama saya di laptop sambil ditemani suara mesin kopi yang menderu. Tiba-tiba masuk sebuah notifikasi dari seorang kawan yang baru saja memutuskan resign dari posisinya sebagai manajer di sebuah perusahaan rintisan. Dia bertanya dengan nada yang sangat serius, “Mas, tahun 2026 ini, masih masuk akal nggak sih kalau aku banting stir jadi penulis buku full-time? Apakah profesi ini masih punya masa depan, atau kita cuma sedang merawat monumen masa lalu?”

Pertanyaan itu membuat saya tertegun sejenak. Kita sekarang berada di tahun 2026. Sebuah zaman di mana kecerdasan buatan (AI) sudah bisa membikin puisi cinta yang lebih mendayu-dayu daripada gombalan anak SMA, dan bisa menyusun laporan riset hanya dalam hitungan detik. Di sisi lain, toko buku fisik yang dulu menjadi tempat kita “beribadah” setiap akhir pekan, kini satu per satu berganti rupa menjadi gerai kopi atau gudang logistik belanja daring. Lalu, di mana posisi penulis manusia di tengah hiruk-pikuk ini?

Kalau Anda bertanya apakah menulis buku itu “menjanjikan” secara finansial di tahun 2026, saya harus memberikan jawaban yang pahit namun realistis: Jika parameter “menjanjikan” Anda adalah gaji bulanan yang stabil dengan asuransi kesehatan kelas satu dan tunjangan hari raya yang melimpah, maka jawabannya adalah tidak. Menulis buku tetap menjadi salah satu profesi paling spekulatif di kolong langit Indonesia. Anda bisa saja menjadi sangat kaya karena satu judul meledak, tapi probabilitasnya mungkin sama dengan memenangkan undian berhadiah sabun cuci.

Namun, kalau kita bicara soal relevansi dan peluang, ceritanya jadi lain. Di tahun 2026, buku bukan lagi sekadar tumpukan kertas yang dijilid. Buku telah berevolusi menjadi “jangkar intelektual”. Di tengah banjir informasi yang serba singkat, dangkal, dan sering kali diproduksi oleh mesin, sebuah buku yang ditulis oleh manusia dengan darah, keringat, dan perspektif yang unik justru menjadi barang mewah. Orang mungkin lelah membaca ribuan konten pendek di media sosial yang isinya cuma kulit, dan mereka mulai kembali mencari kedalaman. Di sinilah penulis buku manusia punya celah.

Kita harus mengakui bahwa pola “cuan” penulis di tahun 2026 sudah bergeser secara radikal. Penulis yang hanya mengandalkan royalti 10 persen dari penerbit mayor mungkin akan segera masuk dalam kategori spesies terancam punah. Profesi ini menjadi menjanjikan justru ketika si penulis mampu membangun ekosistemnya sendiri. Sekarang adalah zamannya penulis-pengusaha. Mereka tidak lagi menunggu bola di rumah, tapi aktif mengelola komunitas lewat platform digital, menjual akses eksklusif ke naskah mereka, hingga menawarkan lisensi adaptasi untuk berbagai format konten visual.

Ada fenomena menarik di tahun 2026 ini: Personal branding seorang penulis jauh lebih mahal harganya daripada harga bukunya itu sendiri. Buku telah menjadi “tiket masuk” untuk peluang-peluang lain yang lebih menggiurkan. Menjadi penulis buku di tahun 2026 adalah cara paling elegan untuk membangun otoritas. Ketika Anda punya buku, Anda bukan lagi sekadar “orang yang bicara”, tapi “orang yang menuliskan pemikirannya”. Perbedaan itu sangat krusial dalam dunia profesional kita saat ini.

Lalu, bagaimana dengan ancaman AI? Banyak orang ketakutan profesi penulis akan punah karena mesin bisa menulis lebih cepat. Tapi menurut saya, di tahun 2026 ini, AI justru menjadi “saringan”. Penulis-penulis medioker yang hanya memindahkan informasi tanpa rasa, tanpa gaya bahasa yang khas, dan tanpa opini yang tajam, memang akan digilas oleh mesin. Tapi penulis yang punya karakter—yang kalau kita baca tulisannya, kita bisa merasakan “nyawa” dan kepribadiannya seperti gaya tulisan Iqbal Aji Daryono atau siapapun idola Anda—tidak akan pernah bisa digantikan. Mesin tidak punya memori masa kecil, tidak tahu rasanya patah hati karena ditolak gebetan, dan tidak paham getirnya antre di Puskesmas. Itulah yang dicari pembaca manusia.

Jadi, apakah profesi ini menjanjikan? Ia menjanjikan bagi mereka yang mau berevolusi. Menulis buku di tahun 2026 menuntut Anda untuk tidak sekadar “bisa menulis”, tapi juga harus paham cara “mengemas ide”. Anda harus jadi sedikit desainer, sedikit manajer komunitas, dan banyak-banyak jadi pemikir. Jika Anda bersedia menjadi manusia yang multidimensi itu, maka menulis buku adalah profesi yang sangat menjanjikan karena ia memberi Anda kemerdekaan yang tidak dimiliki oleh buruh korporat mana pun: kemerdekaan untuk memiliki pikiran sendiri.

Namun, tetaplah waspada. Jangan sampai romantisasi tentang “profesi penulis” membuat Anda lupa pada tagihan yang terus berjalan. Di tahun 2026, ekonomi literasi kita masih penuh tantangan. Masalah pembajakan digital makin canggih, minat baca tetap menjadi perdebatan panjang, dan perhatian pembaca makin mahal harganya. Menjadi penulis berarti bersedia bertarung memperebutkan perhatian di tengah gempuran video pendek yang menari-nari di layar ponsel setiap detik.

Kesimpulan saya untuk kawan yang ingin resign tadi: Silakan menulis, tapi jangan tinggalkan akal sehat. Jadikan buku sebagai pusat dari segala aktivitas ekonomi Anda, bukan satu-satunya sumbernya. Manfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan, tapi tetaplah jadi manusia yang otentik di dalam tulisan. Di tahun 2026, dunia mungkin tidak lagi kekurangan buku, tapi dunia selalu kekurangan perspektif yang jujur dan berani.

Menulis buku mungkin tidak akan membuat Anda menjadi orang terkaya di kompleks perumahan Anda dalam waktu singkat. Tapi ia akan membuat hidup Anda jauh lebih berwarna, lebih bermakna, dan—siapa tahu—lebih abadi daripada gedung-gedung beton yang hari ini tampak megah namun esok mungkin sudah roboh. Jadi, kalau Anda punya sesuatu yang sangat penting untuk diteriakkan pada dunia, menulislah. Masih menjanjikan, kok, minimal menjanjikan kepuasan batin yang tidak ada tandingannya.