Jangan Mau Jadi Penulis Kalau Belum Siap Menghadapi Kenyataan Pahit Ini

Beberapa waktu lalu, saya duduk di sebuah kafe remang-remang di sudut Yogyakarta, menghadapi seorang pemuda yang matanya berbinar-binar penuh idealisme. Di tangannya ada sebuah draf novel tebal yang katanya sudah ia kerjakan selama dua tahun penuh. Dengan nada suara yang bergetar penuh harap, ia bertanya, “Mas, kalau buku ini terbit, apakah hidup saya akan berubah? Apakah saya bisa mulai menyebut diri saya sebagai seniman yang merdeka?”

Saya terdiam cukup lama. Saya melihat draf itu, lalu melihat wajahnya yang masih polos dari “tamparan” industri literasi. Rasanya saya ingin memeluknya, lalu membisikkan pelan di telinganya: “Nak, pulanglah, cari pekerjaan yang punya slip gaji tetap, dan jadikan menulis sebagai hobi di hari Minggu saja.” Tapi tentu saya tidak sejahat itu. Saya hanya menarik napas panjang, menyeruput kopi yang sudah dingin, dan mulai menyusun kata-kata untuk menjelaskan kenyataan pahit yang sering kali disembunyikan di balik gemerlap peluncuran buku di toko-toko besar.

Kenyataan pahit pertama yang harus Anda telan bulat-bulat adalah: di Indonesia, menulis buku itu sering kali merupakan kegiatan amal yang dipaksakan. Mari kita bicara jujur-jujuran soal angka, karena idealisme tidak bisa dipakai untuk membayar tagihan listrik. Dengan sistem royalti standar 10 persen, Anda sebenarnya sedang bekerja untuk semua orang kecuali diri Anda sendiri. Anda bekerja untuk toko buku yang mengambil jatah 35-40 persen, Anda bekerja untuk distributor, dan Anda bekerja untuk penerbit. Anda, sang kreator, sang pemilik ide, sang pemeras keringat dan air mata, justru berada di urutan paling buncit dalam rantai makanan ekonomi ini.

Bayangkan, Anda menulis selama setahun, lalu buku Anda laku seribu eksemplar—yang di zaman sekarang sudah dianggap prestasi lumayan. Jika harga buku Rp80.000, Anda hanya dapat Rp8.000 per buku. Totalnya Rp8 juta. Itu penghasilan Anda selama setahun bekerja. Jika dibagi dua belas bulan, hasilnya bahkan tidak cukup untuk membeli pulsa internet dan biaya parkir harian di minimarket. Jadi, kalau Anda bermimpi menjadi penulis karena ingin kaya raya secara instan, segera bangun dari tidur Anda, cuci muka, dan carilah lowongan kerja di bank atau perusahaan tambang.

Kenyataan pahit kedua: naskah Anda tidak sepenting yang Anda kira. Ini mungkin terdengar kasar, tapi bagi penerbit, naskah Anda adalah komoditas. Anda mungkin merasa telah menciptakan mahakarya yang setara dengan tulisan Pramoedya Ananta Toer, tapi bagi tim pemasaran penerbit, pertanyaannya cuma satu: “Bisa laku berapa?” Di era algoritma ini, kualitas tulisan sering kali kalah telak oleh jumlah pengikut di Instagram atau TikTok. Kita berada di zaman di mana seseorang yang tidak bisa menyusun kalimat subjek-predikat-objek dengan benar, tapi punya satu juta followers, akan lebih mudah mendapatkan kontrak buku daripada seorang sastrawan yang bertapa sepuluh tahun di gunung.

Jika Anda tidak siap melihat buku-buku “sampah” nangkring di rak best seller sementara buku Anda yang berbobot hanya mendekam di gudang bawah tanah, maka jangan jadi penulis. Dunia literasi kita sedang mengalami pergeseran nilai. Buku bukan lagi sekadar jendela dunia, tapi sering kali hanya menjadi pelengkap konten atau merchandise dari sebuah ketenaran digital. Ini adalah kenyataan yang pahit, sepahit empedu, namun itulah realitas yang harus dihadapi setiap penulis yang mencoba tetap waras di tengah gempuran tren yang dangkal.

Ketiga, Anda harus siap menjadi “pengemis” perhatian. Menulis buku hanyalah 20 persen dari pekerjaan. 80 persen sisanya adalah jualan. Jangan harap setelah buku terbit, tugas Anda selesai. Tidak, Kawan. Justru penderitaan baru dimulai. Anda harus siap mempromosikan buku Anda sendiri di media sosial sampai merasa malu pada diri sendiri. Anda harus siap membuat video-video konyol, memohon-mohon orang untuk membeli, atau setidaknya memberikan ulasan di marketplace. Jika Anda seorang introvert yang berharap bisa bersembunyi di balik meja tulis dan membiarkan karya Anda bicara sendiri, bersiaplah untuk kecewa. Di Indonesia, buku yang diam adalah buku yang mati.

Lalu, ada masalah pembajakan yang masif dan terstruktur. Ini adalah kenyataan yang paling bisa bikin serangan jantung. Anda berjuang mempertahankan hak cipta, tapi di platform belanja online, buku Anda dijual seharga nasi bungkus oleh para pembajak yang tidak pernah membaca satu halaman pun dari karya Anda. Sedihnya lagi, masyarakat kita banyak yang lebih bangga pamer buku bajakan karena harganya murah daripada menghargai proses kreatif penulisnya. Pemerintah? Ya, mereka kadang-kadang bikin acara literasi yang meriah, tapi urusan memberantas mafia bajakan, rasanya masih seperti menggantang asap.

Belum lagi soal kesepian. Menulis adalah pekerjaan paling sunyi di dunia. Anda akan menghabiskan waktu berjam-jam sendirian dengan pikiran Anda sendiri, mengabaikan ajakan nongkrong teman-teman, dan sering kali dianggap pengangguran oleh tetangga karena hanya diam di rumah depan laptop. Dan setelah semua pengorbanan itu, ketika buku terbit, orang hanya akan bertanya, “Mana buku gratisannya?” atau “Wah, sukses ya, kapan-kapan traktir makan-makan dong!” Mereka pikir royalti Anda cukup untuk mentraktir satu kelurahan, padahal untuk makan siang sendiri saja Anda masih harus menghitung sisa kembalian di saku celana.

Jadi, setelah mendengar semua kenyataan pahit ini, apakah Anda masih ingin menjadi penulis? Jika jawaban Anda adalah “ya”, maka mungkin Anda memang orang “gila” yang dibutuhkan oleh negeri ini. Anda adalah jenis orang yang lebih mencintai proses kreatif daripada hasil akhir. Anda adalah orang yang merasa bahwa ada pesan yang harus disampaikan, tak peduli apakah dunia akan mendengarnya atau tidak.

Menjadi penulis di Indonesia memang bukan jalan menuju kemapanan finansial, melainkan jalan menuju kemapanan jiwa—itupun kalau Anda kuat. Anda harus punya mentalitas baja yang tidak luntur hanya karena ditolak penerbit puluhan kali atau karena royalti yang hanya cukup buat beli kuota bulanan. Anda harus tetap menulis karena jika tidak menulis, Anda merasa ada sesuatu yang busuk di dalam kepala Anda.

Saran saya, tetaplah menapak di bumi. Jangan biarkan romantisasi tentang dunia penulis mengaburkan logika Anda. Milikilah pekerjaan tetap, jadilah guru, jadilah pegawai kantoran, atau jadilah pedagang pasar. Biarlah pekerjaan itu yang memberi makan perut Anda, sementara tulisan Anda memberi makan jiwa Anda. Dengan begitu, Anda tidak akan pernah merasa dikhianati oleh kata-kata. Anda tidak akan pernah menyalahkan buku Anda jika ia tidak laku, karena sejak awal, Anda tidak menggantungkan hidup padanya.

Tulislah buku dengan kesadaran penuh bahwa Anda sedang melakukan sebuah tindakan heroik yang sia-sia di mata ekonomi, namun sangat berharga di mata peradaban. Sebab, pada akhirnya, ketika semua angka royalti itu terlupakan, yang tersisa hanyalah jejak pemikiran yang Anda tinggalkan di atas kertas. Dan bagi sebagian orang, itu sudah lebih dari cukup untuk menjustifikasi seluruh rasa sakit dan kenyataan pahit yang harus mereka lalui. Selamat menulis, dan jangan lupa seduh kopi, karena itu mungkin satu-satunya hal yang bisa Anda beli dengan tenang dari hasil royalti pertama Anda nanti.