Beberapa waktu lalu, seorang kawan lama menghubungi saya lewat WhatsApp. Isinya standar: basa-basi menanyakan kabar, lalu ujung-ujungnya bertanya soal “dapur”. Dia, yang katanya sedang bosan jadi budak korporat, tiba-tiba punya cita-cita luhur nan romantis, yaitu menjadi penulis buku. “Mas,” katanya, “aku punya draf novel. Kalau tembus penerbit mayor, kira-kira bisa nggak ya buat DP rumah? Ya minimal buat cicilannya lah.”
Membaca pesan itu, saya hampir saja tersedak kopi sasetan yang sedang saya seruput. Antara ingin tertawa terbahak-bahak atau menangis sedu-sedan meratapi nasib kami para kuli tinta. Bayangan orang awam tentang penulis buku itu memang sering kali terlalu indah, seolah-olah begitu buku nangkring di rak toko buku, saldo ATM langsung meledak layaknya J.K. Rowling setelah merilis Harry Potter. Padahal, realitas di lapangan sering kali lebih mirip dengan perjuangan mencari sinyal di pelosok desa: penuh perjuangan, ketidakpastian, dan lebih banyak “muter-muter”-nya.
Mari kita bedah secara dingin, sejuk, namun tetap sedikit pedas, bagaimana sebenarnya isi dompet penulis buku di Indonesia. Apakah benar-benar bisa untuk membayar cicilan rumah yang bunganya mencekik itu, ataukah sebenarnya hanya cukup untuk membayar parkir dan segelas kopi kekinian yang rasanya lebih banyak gula daripada kafeinnya?
Pertama-tama, kita harus bicara soal angka keramat dalam industri perbukuan kita: sepuluh persen. Ya, 10%. Itulah angka standar royalti yang diterima penulis dari harga jual buku. Bayangkan, Anda memeras otak selama berbulan-bulan, begadang sampai mata panda, riset sampai tipus, lalu ketika buku itu dijual seharga Rp100.000, bagian Anda hanyalah Rp10.000 per eksemplar. Dan ingat, Rp10.000 itu masih angka kotor yang belum dipotong pajak. Jika buku Anda dicetak 3.000 eksemplar—angka standar cetakan pertama di Indonesia—dan laku keras semuanya dalam setahun, total yang Anda terima adalah Rp30 juta.
Angka Rp30 juta itu terdengar lumayan? Tunggu dulu. Mari kita hitung secara matematis ala emak-emak menghitung belanjaan. Menulis satu buku yang berkualitas itu butuh waktu berapa lama? Katakanlah enam bulan. Jika Rp30 juta dibagi enam bulan, ketemunya Rp5 juta per bulan. Masih setara UMR Jakarta, sih. Tapi ingat, itu kalau bukunya habis terjual semua. Kalau hanya laku 500 eksemplar? Ya, silakan hitung sendiri berapa sisa uangnya setelah dipotong biaya internet dan camilan selama menulis.
Di titik inilah, romantisasi menjadi penulis mulai bertabrakan dengan tembok realitas yang keras. Banyak penulis pemula yang kaget saat menerima laporan penjualan pertama mereka. Mereka membayangkan antrean orang di depan toko buku, namun yang mereka temukan adalah kenyataan bahwa buku mereka terjepit di antara ratusan judul lain, berdebu, dan mungkin sebentar lagi masuk kotak diskon atau malah dimusnahkan karena gudang penerbit sudah penuh.
Lalu, bagaimana dengan cicilan rumah? Di kota-kota besar seperti Yogyakarta saja, cicilan rumah subsidi atau tipe mungil sudah menyentuh angka Rp1,5 juta hingga Rp3 juta per bulan. Untuk bisa membayar cicilan itu secara konsisten hanya dari satu buku, Anda harus memastikan buku tersebut menjadi best seller yang cetak ulang berkali-kali. Masalahnya, menjadi best seller itu bukan sekadar soal kualitas tulisan. Ada faktor keberuntungan, kekuatan algoritma media sosial, hingga momentum yang pas. Mengharapkan cicilan rumah dari satu judul buku itu hampir mirip dengan mengharap hujan turun di tengah musim kemarau ekstrem: mungkin saja terjadi, tapi jangan dijadikan rencana utama hidup.
Namun, apakah itu berarti menjadi penulis buku adalah jalan menuju kemiskinan? Tidak juga. Di sinilah letak dinamika yang unik. Penulis buku di Indonesia saat ini harus berubah wujud menjadi makhluk yang multifungsi. Buku bukan lagi menjadi produk akhir yang diharapkan memberi kekayaan langsung, melainkan menjadi “kartu nama” yang sangat berharga.
Seorang penulis yang bukunya terbit di penerbit besar akan mendapatkan otoritas. Otoritas inilah yang kemudian bisa diuangkan. Tiba-tiba Anda diundang menjadi pembicara, menjadi narasumber workshop, atau diminta menulis kolom di media besar dengan honor yang jauh lebih “manusiawi” per katanya dibandingkan royalti buku. Jadi, kalau ditanya apakah royalti buku cukup buat beli kopi? Jawabannya: Sangat cukup, bahkan bisa buat beli kopinya beserta kafe-kafenya kalau bukunya sekelas karya Andrea Hirata atau Tere Liye. Tapi untuk penulis kebanyakan, kopi yang dimaksud mungkin masih kopi instan yang diseduh sendiri di rumah.
Dinamika penulisan buku di Indonesia juga makin diperumit dengan serangan digital. Dulu, penulis hanya bersaing dengan sesama penulis di rak toko buku. Sekarang, musuh utamanya adalah durasi layar smartphone. Orang lebih betah membaca utas di Twitter (atau X) atau menonton video singkat di TikTok daripada menekuni 200 halaman kertas. Akibatnya, oplas cetakan buku terus menurun. Jika sepuluh tahun lalu cetakan pertama bisa 5.000 eksemplar, sekarang 2.000 eksemplar saja penerbit sudah gemetar.
Belum lagi masalah pembajakan. Ini adalah duri dalam daging yang paling menyakitkan. Bayangkan, Anda bersusah payah menulis, lalu di marketplace muncul buku Anda versi bajakan dengan harga sepertiganya. Penjual bajakannya kaya raya, pembelinya merasa bangga dapat barang murah, dan Anda sebagai penulis hanya bisa mengelus dada sambil melihat laporan penjualan yang stagnan. Dalam kondisi begini, alih-alih cicilan rumah, bayar iuran sampah bulanan saja sudah syukur.
Lalu, kenapa orang masih mau menulis buku? Kenapa kawan saya tadi masih ngebet pengin jadi penulis? Mungkin karena ada kepuasan ego yang tidak bisa dinilai dengan uang. Ada kebanggaan luar biasa saat melihat nama kita tercetak di sampul buku. Ada perasaan abadi bahwa ide-ide kita akan tetap hidup meski kita sudah tiada. Tapi ya itu, kebanggaan tidak bisa dipakai untuk membayar cicilan bank. Bank tidak butuh idealisme Anda; bank butuh saldo yang mencukupi setiap tanggal jatuh tempo.
Maka, saran saya bagi siapa pun yang ingin terjun ke dunia penulisan buku di Indonesia: jangan pernah jadikan menulis buku sebagai satu-satunya tumpuan ekonomi. Menulislah karena Anda punya sesuatu untuk dibagikan. Menulislah karena Anda mencintai prosesnya. Soal uang, anggaplah itu bonus. Jika Anda beruntung, bonusnya bisa buat DP rumah. Jika nasib sedang biasa-biasa saja, ya nikmatilah secangkir kopi itu dengan khidmat.
Penulis masa kini harus cerdik. Mereka mulai melirik jalur self-publishing atau platform digital seperti Wattpad atau Karyakarsa, di mana mereka bisa memegang kendali lebih besar atas pendapatan mereka. Di sana, tidak ada potongan 90% untuk distribusi dan penerbit. Anda menulis, pembaca membayar langsung, dan uangnya masuk ke kantong Anda dengan potongan yang jauh lebih kecil. Apakah ini masa depan? Mungkin saja. Tapi jalur ini menuntut Anda bukan hanya jadi penulis, tapi juga jadi manajer pemasaran, desainer, hingga admin media sosial bagi diri sendiri.
Kembali ke pertanyaan di judul: Cukup buat beli kopi atau cicilan rumah? Jawabannya sangat bergantung pada seberapa keras kepala Anda dalam berkarya dan seberapa lincah Anda menari di antara hiruk-pikuk industri literasi yang sedang tidak baik-baik saja ini. Indonesia adalah pasar yang besar, namun sekaligus pasar yang sulit ditebak. Kita punya jutaan orang, tapi berapa banyak yang mau mengeluarkan uang seratus ribu untuk sebuah buku?
Pada akhirnya, profesi penulis buku di Indonesia tetaplah profesi yang romantis sekaligus tragis. Ia menawarkan keabadian nama, namun sering kali abai pada urusan perut. Namun, selama masih ada orang-orang “gila” yang mau duduk berjam-jam di depan laptop demi menyusun kata menjadi kalimat, dan kalimat menjadi cerita, literasi kita tidak akan mati. Meskipun mungkin, mereka harus sering-sering berpuasa demi bisa melunasi cicilan rumah yang tagihannya selalu datang lebih pasti daripada ilham tulisan.
Jadi, buat kawan saya yang tadi bertanya, saya jawab begini: “Tulislah bukumu sampai selesai. Setelah itu, tetaplah bekerja di kantor itu. Pakailah royaltimu untuk merayakan keberhasilanmu dengan kopi terbaik. Soal cicilan rumah, mari kita bicarakan lagi setelah bukumu dibeli lisensinya untuk dijadikan film atau serial Netflix.” Karena jujur saja, di negeri ini, sering kali tulisan baru benar-benar menghidupi ketika ia sudah tidak lagi berbentuk buku.
Dinamika ini memang melelahkan, tapi di situlah seninya. Menjadi penulis di Indonesia adalah latihan kesabaran tingkat dewa. Anda harus siap dicueki penerbit, siap dikritik pembaca, dan yang paling berat: siap melihat saldo royalti yang angka nolnya tidak sebanyak harapan. Namun, jika Anda berhasil melewati itu semua, rasa bangganya melebihi rasa bangga memiliki rumah mewah hasil korupsi atau hasil memeras keringat orang lain. Karena buku adalah keringat pikiran Anda sendiri.
Satu hal yang pasti, jangan pernah menyerah hanya karena urusan angka. Uang bisa dicari lewat jalan lain, tapi kepuasan melahirkan sebuah karya adalah sesuatu yang sakral. Meskipun hari ini tulisan Anda hanya cukup untuk membeli segelas kopi saset di pinggir jalan, siapa tahu besok lusa, kata-kata Anda adalah yang membangun rumah bagi jiwa-jiwa yang sedang kesepian dan tersesat. Dan bukankah itu jauh lebih mewah daripada sekadar bangunan semen dan bata?
Sebagai penutup, dunia buku kita memang sedang penuh drama. Tapi di tengah drama itu, selalu ada ruang untuk harapan. Entah itu lewat kebijakan pemerintah yang lebih memihak penulis, atau lewat tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk tidak membeli buku bajakan. Sampai saat itu tiba, mari kita tetap menulis, tetap menyeduh kopi, dan tetap berani bermimpi punya rumah dari hasil kata-kata—meskipun mungkin, mimpinya harus dicicil pelan-pelan lewat setiap paragraf yang kita susun.




