Saya ini pecinta kertas. Sejak dulu. Rasanya, kalau belum memegang kertas, belum sah disebut membaca. Ada aroma yang keluar dari serat-serat kayu yang dipress itu. Ada sensasi jari yang menjepit lembaran tipis, lalu memindahkannya ke kiri. Sreett. Bunyi itu magis. Bagi orang angkatan saya, atau mungkin bagi Anda yang masih punya sisa-sisa romatisme masa lalu, buku fisik adalah benda sakral. Ia bukan sekadar tumpukan informasi. Ia adalah artefak. Ia adalah bukti bahwa kita pernah singgah di sebuah pemikiran.
Tapi dunia sedang berubah. Sangat cepat. Sekarang orang bicara soal green lifestyle. Orang bicara soal global warming. Lalu, telunjuk mulai mengarah ke meja kerja kita. Ke rak buku kita. Ke industri perbukuan kita. Pertanyaannya menohok: berapa banyak pohon yang harus tumbang demi satu judul novel yang mungkin habis dibaca dalam dua jam? Atau lebih parah lagi, berapa hektar hutan yang hilang demi buku-muka yang akhirnya hanya menumpuk di gudang karena tidak laku?
Ini dilema. Di satu sisi, kita ingin literasi naik. Di sisi lain, kita tidak ingin bumi makin panas. Maka muncullah gerakan paperless. Semuanya harus digital. Semua harus masuk ke dalam layar segenggam tangan. Katanya, itu lebih ramah lingkungan. Benarkah? Ataukah itu hanya cara kita melarikan diri dari rasa bersalah? Saya ingin mengajak Anda merenung sebentar. Sambil menyeruput kopi, mari kita bedah nasib buku cetak kita di tengah kepungan isu lingkungan ini.
Dulu, industri kertas adalah primadona. Indonesia punya hutan luas. Kita punya pabrik kertas raksasa. Ekonomi bergerak dari sana. Ribuan orang bekerja di hutan tanaman industri, di pabrik bubur kertas, hingga ke percetakan-percetakan kecil di gang sempit. Tapi sekarang, kertas dianggap musuh. Setiap kali kita mencetak buku, ada bayang-bayang emisi karbon yang menghantui. Isu lingkungan bukan lagi sekadar tren anak muda di Jakarta atau Surabaya. Ini sudah jadi kesadaran global yang menekan industri dari hulu ke hilir.
Mari kita bicara jujur. Produksi kertas memang memakan sumber daya yang besar. Air yang digunakan sangat banyak. Energi untuk mengolah kayu menjadi bubur kertas juga luar biasa. Belum lagi urusan limbahnya. Kalau tidak dikelola dengan benar, ia merusak sungai. Maka, wajar jika suara-suara untuk beralih ke digital makin kencang. E-book dianggap sebagai pahlawan. Satu perangkat Kindle atau iPad bisa menampung ribuan buku. Tanpa menebang satu pohon pun. Secara logika, ini kemenangan telak bagi lingkungan.
Namun, hidup tidak sesederhana hitung-hitungan di atas kertas digital. Kita sering kali terjebak pada simbolisme. Kita merasa sudah menyelamatkan bumi karena tidak lagi membeli buku fisik, padahal kita lupa bahwa perangkat digital yang kita gunakan itu pun punya jejak karbon yang tak kalah ngeri. Tambang litium untuk baterainya, energi untuk server penyimpannya, hingga limbah elektroniknya yang sulit didaur ulang. Jadi, apakah paperless benar-benar tanpa dosa? Belum tentu.
Kembali ke urusan buku di Indonesia. Tantangan terbesar buku cetak saat ini sebenarnya bukan sekadar isu lingkungan, tapi efisiensi. Di Indonesia, kita punya masalah pelik soal distribusi. Ongkos kirim buku dari Jakarta ke Papua sering kali lebih mahal dari harga bukunya sendiri. Ini gila. Kertas itu berat. Memindahkannya butuh bensin, butuh kapal, butuh truk. Di titik inilah isu lingkungan bertemu dengan isu ekonomi. Membawa ribuan ton buku fisik ke seluruh pelosok negeri adalah pemborosan energi yang nyata.
Maka, banyak orang mulai berteriak: ayo pindah ke e-book! Lebih murah, tidak butuh gudang, tidak butuh ongkir, dan “katanya” ramah lingkungan. Tapi tunggu dulu. Apakah masyarakat kita sudah siap? Membaca di layar itu butuh disiplin tingkat tinggi. Di layar itu ada godaan WhatsApp, ada notifikasi Instagram, ada video TikTok. Buku fisik menawarkan satu hal yang tidak dimiliki digital: ketenangan. Fokus. Ketika Anda memegang buku, dunia di luar seolah berhenti. Anda dan pikiran penulis menyatu.
Inilah yang membuat buku cetak tetap bertahan meski dihantam isu lingkungan. Ada nilai kemanusiaan yang sulit digantikan oleh piksel. Tapi, industri tidak boleh keras kepala. Kita tidak bisa terus-menerus menggunakan alasan “romantisme” untuk membenarkan pemborosan. Industri perbukuan Indonesia harus beradaptasi. Caranya? Bukan dengan mematikan buku fisik, tapi dengan membuatnya lebih bertanggung jawab.
Sekarang mulai muncul tren penggunaan kertas daur ulang atau kertas dari hutan tanaman industri yang bersertifikat FSC (Forest Stewardship Council). Artinya, setiap pohon yang ditebang sudah dipastikan ada penggantinya. Ini jalan tengah. Kita tetap bisa memegang buku, tapi dengan hati yang lebih tenang karena tahu prosesnya tidak merusak paru-paru bumi. Sayangnya, kertas jenis ini harganya lebih mahal. Dan kita tahu sendiri, orang Indonesia itu sangat sensitif soal harga. Naik seribu perak saja, keluhannya sampai ke langit.
Penerbit kita juga punya tantangan besar dalam hal manajemen stok. Selama ini, sistem kita sering kali “tebak-tebak buah manggis”. Cetak lima ribu ekslempar, ternyata yang laku cuma seribu. Sisanya? Menumpuk di gudang, berdebu, dimakan rayap, dan akhirnya dikilokan. Ini adalah kejahatan lingkungan yang nyata. Menebang pohon untuk sesuatu yang akhirnya jadi sampah adalah dosa besar literasi.
Solusinya sebenarnya sudah ada: Print on Demand (POD). Cetak sesuai pesanan. Teknologi ini memungkinkan kita mencetak buku meski cuma satu eksemplar. Tidak ada lagi stok menumpuk. Tidak ada lagi kertas terbuang percuma. Tapi, biaya cetak POD masih tinggi jika dibandingkan dengan cetak mesin offset dalam jumlah besar. Di sinilah tantangannya. Bagaimana membuat teknologi ramah lingkungan ini bisa terjangkau oleh kantong mahasiswa atau guru di desa?
Lalu ada soal distribusi digital. Saya melihat e-book di Indonesia ini masih seperti anak tiri. Banyak pembaca kita yang merasa kalau belum memegang fisik, mereka belum “punya” buku itu. Mereka rela mengeluarkan 100 ribu untuk buku fisik, tapi mikir seribu kali untuk beli e-book seharga 50 ribu. Ada rasa kepemilikan yang hilang di dunia digital. Belum lagi urusan pembajakan. E-book itu sangat mudah dicuri. Sekali klik, file PDF-nya tersebar di grup WhatsApp. Penulis gigit jari, penerbit gulung tikar.
Jadi, kalau kita bicara paperless, kita tidak bisa bicara soal teknologinya saja. Kita harus bicara soal mentalitas. Menyelamatkan lingkungan lewat gerakan paperless di dunia perbukuan membutuhkan ekosistem yang sehat. Pembacanya harus menghargai hak cipta. Pemerintahnya harus mendukung infrastruktur internet yang merata. Dan penerbitnya harus kreatif mengemas konten digital agar tidak membosankan.
Saya sering membayangkan masa depan di mana buku fisik menjadi benda mewah. Bukan mewah karena harganya yang mahal, tapi mewah karena kualitasnya. Buku yang dicetak adalah buku yang benar-benar layak disimpan seumur hidup. Buku yang dicetak dengan kertas pilihan yang ramah lingkungan, dengan desain yang indah. Sementara untuk bacaan yang sifatnya informatif, cepat basi, atau sekadar hiburan ringan, biarlah ia hidup di dunia digital. Ini adalah bentuk penghormatan kita pada alam.
Kita juga harus menyinggung soal perpustakaan. Di tengah isu paperless, perpustakaan fisik di daerah-daerah masih sangat dibutuhkan. Mengapa? Karena tidak semua orang punya akses ke perangkat digital yang mumpuni. Di banyak desa, buku fisik adalah satu-satunya jendela dunia. Mengganti semua buku fisik dengan tablet di sekolah-sekolah pelosok mungkin terdengar keren dan “hijau”, tapi kalau listriknya saja sering mati, tablet itu cuma jadi talenan plastik.
Artinya, transisi menuju paperless di Indonesia harus dilakukan dengan penuh kearifan lokal. Kita tidak bisa sekadar membebek tren global tanpa melihat realitas di lapangan. Isu lingkungan adalah kewajiban, tapi literasi adalah kebutuhan dasar. Jangan sampai demi terlihat peduli lingkungan, kita malah mematikan akses pengetahuan bagi mereka yang belum terjamah teknologi.
Penerbit-penerbit indie di Indonesia sebenarnya punya peran besar dalam hal ini. Mereka biasanya mencetak buku dalam jumlah kecil. Mereka lebih teliti memilih naskah. Mereka punya hubungan emosional yang kuat dengan pembacanya. Model bisnis seperti ini sebenarnya lebih “hijau” dibandingkan penerbit besar yang mencetak buku secara massal tanpa perhitungan yang matang. Efisiensi adalah kunci.
Kita juga perlu mengedukasi penulis. Penulis zaman sekarang harus sadar lingkungan. Jangan hanya mengejar jumlah halaman agar bukunya terlihat tebal dan gagah di rak. Tulislah yang esensial. Tulislah yang benar-benar perlu ditulis. Semakin padat tulisan Anda, semakin sedikit kertas yang dibutuhkan. Ini mungkin terdengar lucu, tapi penghematan kata adalah bentuk nyata dari penghematan pohon.
Lalu bagaimana dengan nasib para distributor buku? Mereka adalah pihak yang paling terdampak jika paperless benar-benar menjadi arus utama. Gudang-gudang besar akan kosong. Armada truk pengangkut buku akan berkurang. Tapi, mereka bisa bertransformasi. Distributor buku fisik bisa berubah menjadi penyedia platform digital atau penyedia layanan print on demand yang tersebar di berbagai kota. Jadi, buku tidak perlu dikirim dari Jakarta ke Medan. Cukup filenya yang dikirim, lalu dicetak di Medan sesuai pesanan. Hemat ongkir, hemat bensin, hemat karbon.
Isu lingkungan ini sebenarnya adalah peluang bagi industri buku untuk “bersih-bersih”. Membersihkan diri dari praktik bisnis yang boros. Membersihkan diri dari mentalitas “asal terbit”. Kita dipaksa untuk berpikir lebih cerdas. Bagaimana menciptakan produk pengetahuan yang bermutu tinggi dengan dampak kerusakan lingkungan yang paling rendah.
Saya secara pribadi masih sering membeli buku fisik. Tapi sekarang saya lebih selektif. Saya hanya membeli buku yang saya tahu akan saya baca berulang-ulang. Untuk bacaan sekali habis, saya mulai membiasakan diri membaca secara digital. Ini adalah kompromi saya sebagai manusia yang hidup di masa transisi. Kita tidak perlu menjadi ekstremis lingkungan yang mengharamkan kertas sama sekali, tapi kita juga jangan menjadi manusia masa bodoh yang menghabiskan sumber daya alam tanpa rasa bersalah.
Tantangan buku cetak memang berat. Ia dijepit oleh harga kertas yang naik, daya beli yang turun, dan tuntutan untuk ramah lingkungan. Tapi saya percaya, buku cetak tidak akan mati. Ia hanya akan bertransformasi. Ia akan menjadi lebih eksklusif, lebih berkualitas, dan lebih bertanggung jawab. Ia akan tetap menjadi teman setia di malam-malam sepi, saat layar ponsel terasa menyakitkan mata.
Mungkin suatu saat nanti, anak cucu kita akan melihat buku fisik sebagai sesuatu yang ajaib. Mereka akan heran bagaimana mungkin pikiran manusia bisa dituangkan ke atas lembaran kayu yang tipis. Dan di saat itu, tugas kita adalah memastikan bahwa lembaran kayu itu berasal dari proses yang tidak menghancurkan masa depan mereka.
Dunia perbukuan di Indonesia harus mulai berbenah. Isu lingkungan bukan lagi sekadar bumbu dalam seminar-seminar literasi. Ia adalah realitas bisnis yang nyata. Penerbit yang tidak peduli pada efisiensi dan isu lingkungan akan ditinggalkan oleh generasi baru yang lebih sadar ekologi. Dan penulis yang tidak mau beradaptasi dengan dunia digital akan kehilangan panggungnya.
Mari kita dukung industri perbukuan yang lebih sehat. Membeli buku asli adalah langkah awal. Karena dengan membeli buku asli, kita mendukung rantai industri yang legal dan terukur. Buku bajakan, selain merugikan penulis, biasanya dicetak dengan proses yang asal-asalan dan limbah yang tidak terkontrol. Menjadi pembaca yang cerdas berarti juga menjadi pembaca yang peduli pada kelestarian bumi.
Akhirnya, buku adalah soal nilai. Isinya adalah pengetahuan, fisiknya adalah pengingat. Entah itu dalam bentuk kertas atau dalam bentuk digital, yang terpenting adalah pesan yang ada di dalamnya sampai ke hati pembaca. Tapi jika kita bisa menyampaikan pesan itu tanpa merusak rumah besar kita—yaitu bumi—mengapa kita tidak melakukannya?
Tantangan paperless ini bukanlah akhir dari segalanya. Ini adalah awal dari babak baru. Babak di mana literasi dan ekologi berjalan beriringan. Babak di mana kita tidak lagi harus memilih antara menjadi pintar atau menjadi perusak alam. Kita bisa menjadi keduanya: pembaca yang lahap dan penjaga bumi yang tangguh.
Selamat membaca, apa pun medianya. Jangan lupa, setelah selesai membaca buku fisik, rawatlah baik-baik. Kalau sudah tidak butuh, berikan kepada orang lain agar kertasnya terus berguna. Jangan biarkan ia berakhir di tempat sampah. Karena di dalam setiap lembar kertas itu, ada sebagian dari paru-paru dunia yang kita pinjam. Dan utang itu, harus kita bayar dengan cara menghargai setiap huruf yang tertulis di atasnya.




