Menulis itu kegiatan yang rakus. Ia rakus menyedot perhatian, rakus melahap energi, dan yang paling parah, ia rakus memakan waktu. Masalahnya, kita ini bukan penulis yang hidup di menara gading. Kita bukan pujangga zaman dulu yang kerjanya cuma melamun di tepi telaga sambil nunggu inspirasi datang, lalu makan dan minumnya sudah ada yang menyiapkan. Kita ini manusia biasa. Kita punya bos di kantor yang rewel, kita punya cicilan yang harus dibayar lewat pekerjaan 9-ke-5, dan kita punya keluarga yang butuh kehadiran kita—bukan cuma raga kita, tapi juga kewarasan kita.
Sering kali, menulis menjadi korban pertama dalam pertempuran waktu ini. “Nanti saja kalau ada waktu luang,” begitu kata kita. Padahal, kita semua tahu, waktu luang itu mitos. Waktu tidak pernah luang; ia selalu penuh. Kalau tidak diisi dengan kerja, ya diisi dengan scroll TikTok. Kalau tidak diisi dengan keluarga, ya diisi dengan tidur karena kelelahan. Jadi, kalau Anda menunggu waktu luang untuk menulis buku, saya berani bertaruh sampai kiamat pun naskah Anda tidak akan pernah selesai.
Lalu bagaimana caranya agar menulis, bekerja, dan berkeluarga bisa berjalan beriringan tanpa harus ada yang “berdarah-darah”? Di sini saya mau berbagi resep yang tidak manis, tapi mujarab.
Pertama, buang jauh-jauh bayangan bahwa menulis itu harus dalam waktu yang lama dan suasana yang tenang. Itu kemewahan yang tidak kita miliki. Kita harus belajar mencuri waktu. Ya, mencuri. Menulislah di sela-sela jam makan siang kantor. Menulislah saat menunggu jemputan anak sekolah. Menulislah di angkot atau kereta saat berangkat kerja. Sepuluh menit di sini, lima belas menit di sana. Kalau dikumpulkan, dalam sehari Anda bisa punya waktu satu jam. Satu jam itu cukup untuk menghasilkan dua atau tiga paragraf yang bernyawa.
Banyak penulis gagal karena mereka merasa harus menyediakan waktu khusus, misalnya tiga jam nonstop di kafe yang estetik dengan kopi mahal. Begitu sampai di kafe, eh, malah sibuk foto kopinya buat update status. Waktu habis, naskah nol besar. Padahal, menulis itu soal ketekunan mengumpulkan remah-remah waktu. Jangan remehkan satu paragraf yang Anda tulis di aplikasi catatan ponsel sambil nunggu antrean ATM. Itu jauh lebih baik daripada satu bab yang hanya ada di kepala tapi tidak pernah diketik.
Kedua, buatlah kesepakatan dengan keluarga. Ini penting. Menulis itu kegiatan yang soliter, sementara keluarga itu kegiatan komunal. Sering kali terjadi gesekan di sini. Istri atau suami merasa diabaikan karena kita asyik di depan laptop, atau anak-anak merasa kehilangan teman main karena ayahnya sedang “mencari wangsit”.
Solusinya adalah komunikasi yang jujur. Katakan pada mereka: “Ayah butuh waktu satu jam saja setiap malam setelah kalian tidur untuk menulis.” Atau, “Ibu mau menulis sebentar di Sabtu pagi, setelah itu kita jalan-jalan.” Libatkan mereka dalam mimpi Anda. Kalau mereka merasa menjadi bagian dari proyek buku Anda, mereka akan menjadi pendukung nomor satu, bukan penghalang. Jangan sampai gara-gara ambisi jadi penulis, Anda malah jadi orang asing di rumah sendiri. Ingat, royalti buku mungkin tidak seberapa, tapi kehangatan keluarga itu tak ternilai harganya.
Ketiga, soal manajemen energi, bukan cuma manajemen waktu. Bekerja delapan jam di kantor itu melelahkan secara mental. Kalau Anda memaksakan diri menulis saat energi sudah di titik nol, yang keluar hanyalah tulisan yang kering dan emosional. Kenali ritme tubuh Anda. Apakah Anda tipe “burung hantu” yang segar di malam hari, atau “ayam berkokok” yang produktif di subuh hari?
Kalau saya, saya lebih suka subuh. Saat dunia masih sunyi, saat belum ada email kantor yang masuk, dan saat anak-anak masih mimpi indah. Satu jam sebelum mandi subuh adalah waktu emas. Pikiran masih jernih, belum tercemar oleh drama di kantor atau berita politik di televisi. Menulislah di saat energi Anda paling tinggi. Jangan kasih sisa-sisa energi untuk karya Anda. Karya Anda berhak mendapatkan bagian terbaik dari diri Anda.
Keempat, belajarlah untuk berkata “tidak” pada hal-hal yang tidak penting. Kita ini sering merasa kekurangan waktu, padahal sebenarnya kita hanya kelebihan gangguan. Berapa jam dalam sehari Anda habiskan untuk berdebat di grup WhatsApp yang isinya cuma hoaks atau stiker lucu yang tidak lucu-lucu amat? Berapa lama Anda habiskan untuk menonton drama orang lain di media sosial yang sebenarnya tidak ada urusannya dengan hidup Anda?
Kalau Anda mau jadi penulis yang produktif di tengah kesibukan, Anda harus tega melakukan diet informasi. Kurangi tontonan yang tidak perlu. Batasi waktu bersosial media. Waktu yang Anda hemat dari sana bisa dialihkan untuk menyelesaikan satu sub-bab. Menulis itu butuh fokus, dan fokus itu butuh pengorbanan. Anda tidak bisa mendapatkan semuanya dalam satu waktu.
Kelima, jangan menuntut kesempurnaan pada draf pertama. Ini adalah jebakan yang paling sering menjatuhkan penulis yang sibuk. Karena waktu kita terbatas, kita ingin setiap kalimat yang kita tulis langsung bagus, langsung indah, langsung layak cetak. Akibatnya, kita menghabiskan waktu satu jam hanya untuk memperbaiki satu kalimat pertama. Akhirnya? Frustrasi dan berhenti.
Ingat, tugas Anda saat mencuri waktu di tengah kesibukan adalah mengalirkan ide. Biarkan saja tulisannya berantakan. Biarkan saja logikanya masih bolong-bolong. Biarkan saja gaya bahasanya masih acak-adut. Yang penting, ide itu sudah pindah dari kepala ke layar. Urusan merapikan, urusan memperindah, itu nanti di tahap revisi. Draf yang buruk masih bisa diperbaiki, tapi layar yang kosong tidak bisa diapa-apakan.
Lalu, bagaimana dengan pekerjaan kantor? Jangan sekali-kali mengorbankan profesionalisme Anda di kantor demi menulis buku, kecuali Anda memang sudah siap mengundurkan diri. Menulislah dengan tenang karena dapur Anda sudah aman. Kalau Anda menulis di jam kantor dengan rasa waswas takut ketahuan bos, tulisan Anda akan terasa gelisah. Selesaikan tugas kantor dengan cepat dan efisien, supaya Anda tidak perlu membawa pekerjaan kantor ke rumah. Dengan begitu, waktu di rumah benar-benar bersih untuk keluarga dan untuk hobi menulis Anda.
Banyak orang bertanya, “Mas, apa nggak capek kerja terus nulis lagi?” Ya capek, jelas. Tapi capeknya itu beda. Capek kerja itu sering kali karena tekanan, sementara capek menulis itu capek yang memuaskan. Ada semacam katarsis ketika kita berhasil menuangkan pikiran kita ke dalam tulisan. Menulis justru bisa menjadi pelarian yang sehat dari kepenatan dunia kerja. Ia adalah ruang pribadi di mana Anda menjadi penguasa atas dunia yang Anda ciptakan sendiri.
Kuncinya adalah disiplin yang luwes. Jangan terlalu keras pada diri sendiri kalau suatu hari Anda gagal menulis karena ada urusan keluarga yang mendesak atau lembur di kantor. Hidup itu dinamis, tidak selalu bisa mengikuti jadwal di atas kertas. Kalau hari ini gagal, coba lagi besok. Yang penting jangan berhenti total. Menulis satu kalimat setiap hari itu lebih baik daripada menulis sepuluh halaman tapi cuma setahun sekali.
Terakhir, ingatlah mengapa Anda menulis. Apakah untuk pamer? Apakah untuk cari kaya? Atau karena ada sesuatu yang mengganjal di dada yang kalau tidak dikeluarkan Anda merasa sesak? Kalau alasan Anda kuat, sesibuk apa pun Anda, Anda pasti akan menemukan jalan untuk menulis. Waktu itu seperti karet, ia bisa melar kalau kita tahu cara menariknya.
Mengatur waktu antara menulis, bekerja, dan keluarga memang seperti pemain sirkus yang sedang melakukan juggling dengan tiga bola sekaligus. Salah satu jatuh, berantakan semua. Tapi seiring berjalannya waktu, tangan Anda akan semakin lihai. Anda akan tahu kapan harus melempar bola “kerja” lebih tinggi, kapan harus menangkap bola “keluarga” dengan erat, dan kapan harus memberikan sentuhan lembut pada bola “menulis”.
Jadi, tidak ada lagi alasan tidak punya waktu, ya? Mulai sekarang, berhentilah mencari waktu. Mulailah membuat waktu. Ambil ponsel Anda, buka aplikasi catatan, dan tulis satu kalimat sekarang juga. Itu adalah langkah awal Anda menuju buku yang selesai di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Selamat mencuri waktu, dan selamat menjadi penulis yang tetap sayang keluarga serta tetap berprestasi di tempat kerja. Dunia butuh cerita Anda, jangan biarkan ia terkubur oleh tumpukan cucian atau tumpukan laporan kantor.




