Pernahkah Anda melangkah ke toko buku dengan niat suci hanya ingin “cuci mata”, tapi mendadak keluar dengan satu plastik besar berisi tiga sampai lima buku baru? Lalu, sesampainya di rumah, buku-buku itu tidak langsung dibuka segelnya. Anda hanya menimangnya sebentar, mengagumi desain sampulnya, lalu meletakkannya di atas meja atau menyelipkannya di rak yang sudah mulai melengkung karena keberatan beban. Di dalam hati, Anda berjanji: “Minggu depan, pas libur, saya habiskan semua.”
Minggu depan datang, dan yang habis justru waktu Anda untuk tidur siang atau maraton film seri. Buku-buku tadi? Mereka tetap diam di sana, perlahan tertutup debu tipis, menjadi penghuni tetap yang setia menunggu giliran yang tak kunjung tiba. Selamat. Anda tidak sendirian. Anda sedang terjangkit sebuah “penyakit” kultural yang namanya sangat keren dan berasal dari Jepang: Tsundoku.
Istilah ini gabungan dari kata tsunde-oku (menumpuk barang untuk nanti) dan doku (membaca). Jadi, secara harfiah, tsundoku adalah hobi menimbun bahan bacaan tanpa sempat membacanya. Di Indonesia, fenomena ini masif sekali. Coba cek rak buku teman Anda, atau jangan-jangan rak buku Anda sendiri. Berapa persen dari koleksi itu yang benar-benar sudah tamat dibaca? Kalau angkanya di bawah lima puluh persen, jangan berkecil hati. Anda adalah bagian dari jutaan orang yang lebih mencintai “potensi” pengetahuan daripada pengetahuan itu sendiri.
Kenapa kita melakukannya? Kenapa kita rela mengeluarkan uang ratusan ribu—bahkan jutaan kalau sedang ada pameran buku besar-besaran—hanya untuk membeli pajangan kertas?
Alasan pertama biasanya adalah optimisme yang berlebihan. Saat membeli buku, kita merasa sedang membeli “waktu” dan “versi diri yang lebih pintar”. Kita membayangkan diri kita duduk di kursi empuk dengan segelas kopi, menjadi orang yang sangat intelektual karena melahap buku sejarah yang tebal. Padahal, yang kita beli hanyalah bukunya, bukan waktu untuk membacanya. Kita sering lupa bahwa membeli buku itu cuma butuh waktu lima menit dan satu gesekan kartu, sementara membaca buku itu butuh komitmen berjam-jam, energi mental, dan suasana hati yang pas.
Ada semacam kepuasan instan saat transaksi terjadi. Membayar buku itu rasanya seperti sudah mendapatkan ilmu yang ada di dalamnya secara otomatis. Padahal ya tidak begitu jalannya dunia. Ilmu itu tidak meresap lewat pori-pori kulit saat kita memeluk buku itu di kasur. Ia harus dikunyah lewat mata dan dicerna oleh otak. Tapi, dopamin yang muncul saat membawa pulang plastik belanjaan dari toko buku itu memang candu. Kita merasa sudah melakukan “investasi leher ke atas”, padahal investasinya macet di rak kayu.
Alasan kedua adalah soal identitas. Buku itu benda yang sangat simbolis. Rak buku yang penuh memberikan kesan bahwa pemilik rumah adalah orang yang berwawasan, terbuka, dan punya selera. Kita menumpuk buku sering kali untuk membangun citra diri, baik untuk orang lain maupun untuk meyakinkan diri sendiri. Kita membeli buku-buku “berat” tentang filsafat atau ekonomi makro bukan karena kita benar-benar ingin membacanya sekarang, tapi karena kita ingin menjadi orang yang seharusnya membaca buku semacam itu. Akhirnya, buku-buku itu hanya jadi dekorasi intelektual.
Lalu, ada faktor “takut ketinggalan” atau FOMO (Fear of Missing Out). Di era media sosial ini, tren buku berputar sangat cepat. Ada buku yang mendadak viral di TikTok atau Instagram, semua orang membicarakannya. Kita pun merasa wajib punya. Takut kalau nanti bukunya habis atau tidak dicetak lagi. Kita beli, kita foto, kita unggah ke media sosial dengan takarir “akhirnya punya juga”, lalu… ya sudah. Selesai. Bukunya masuk ke tumpukan tsundoku bersama kawan-kawannya yang lain.
Belum lagi kalau kita bicara soal diskon. Di Indonesia, pameran buku besar-besaran sering kali menjadi ajang “pembantaian” dompet bagi para pengidap tsundoku. Harga buku yang dipotong lima puluh sampai sembilan puluh persen membuat nalar kita lumpuh. Kita merasa rugi kalau tidak beli. “Kapan lagi buku sebagus ini cuma tiga puluh ribu?” begitu pikir kita. Kita memborong satu kardus, merasa menang banyak, padahal sebenarnya kita sedang membeli sampah kertas jika buku itu berakhir tanpa pernah dibuka sama sekali.
Apakah tsundoku ini berbahaya? Kalau menurut saya sih tidak, asalkan Anda tidak sampai gagal bayar cicilan rumah gara-gara beli buku. Secara psikologis, melihat tumpukan buku sebenarnya bisa memberikan rasa nyaman. Ada sebuah studi yang menyebutkan bahwa keberadaan buku di rumah—meski tidak dibaca—bisa merangsang minat belajar anak-anak di rumah tersebut. Buku-buku itu menciptakan atmosfer literasi.
Namun, ada sisi gelapnya: rasa bersalah. Para pengidap tsundoku sering kali merasa terbebani oleh tumpukan buku mereka. Setiap kali melihat rak, mereka merasa seperti sedang ditagih hutang oleh para penulisnya. “Kapan saya dibaca?” seolah buku-buku itu berteriak dari kejauhan. Rasa bersalah ini bukannya membuat kita rajin membaca, malah sering kali membuat kita makin malas karena merasa tugas itu sudah terlalu menumpuk dan mustahil diselesaikan.
Lantas, bagaimana caranya berdamai dengan tsundoku atau bahkan “sembuh” darinya?
Pertama, terimalah kenyataan bahwa Anda tidak akan pernah bisa membaca semua buku di dunia ini. Hidup ini singkat, Kawan. Kalau satu buku tidak menarik dalam lima puluh halaman pertama, letakkan. Jangan dipaksa. Berikan kepada orang lain yang mungkin lebih membutuhkannya. Mengurangi tumpukan dengan cara mendonasikan atau menjual kembali buku-buku yang “sepertinya tidak akan saya baca” adalah terapi yang sangat melegakan jiwa.
Kedua, cobalah sistem “satu masuk, satu keluar”. Jangan beli buku baru sebelum Anda menamatkan satu buku dari tumpukan lama. Ini butuh disiplin tingkat tinggi, apalagi kalau Anda sering lewat di depan toko buku. Tapi ini cara paling efektif untuk menjaga kewarasan rak buku Anda. Anggaplah tumpukan buku itu sebagai antrean di puskesmas; yang sudah datang lama harus dilayani dulu sebelum menerima pasien baru.
Ketiga, ubah perspektif Anda tentang “membaca tamat”. Kadang kita merasa gagal kalau tidak membaca buku dari halaman pertama sampai terakhir. Padahal, untuk buku non-fiksi misalnya, Anda boleh saja cuma baca bab yang Anda butuhkan. Kalau Anda cuma butuh bab tiga, baca itu saja, lalu anggap buku itu sudah memberikan manfaatnya bagi Anda. Tidak perlu ada beban moral untuk melahap glosarium dan daftar pustakanya kalau memang tidak perlu.
Keempat, buatlah daftar “tumpukan prioritas”. Pilih tiga sampai lima buku dari tumpukan tsundoku Anda yang paling ingin Anda baca tahun ini. Letakkan buku-buku itu di tempat yang paling terlihat, misalnya di atas meja kerja atau di samping bantal. Fokuslah pada sedikit buku itu saja, abaikan sisa tumpukan yang lain untuk sementara. Keberhasilan menamatkan satu buku akan memberikan rasa percaya diri untuk lanjut ke buku berikutnya.
Fenomena tsundoku sebenarnya adalah bukti betapa kita masih menghargai buku sebagai sumber kebenaran. Kita menumpuknya karena kita percaya di dalamnya ada jawaban atas kegelisahan kita. Kita hanya perlu sedikit lebih berani untuk meluangkan waktu—bukan cuma meluangkan uang. Membeli buku memang butuh uang, tapi membaca buku butuh “kehadiran”.
Jadi, jangan terlalu keras pada diri sendiri kalau rak buku Anda masih penuh dengan segel plastik. Setidaknya, Anda sudah mendukung industri penerbitan dan membantu penulis mendapatkan royaltinya (yang seperti kita bahas sebelumnya, jumlahnya tidak seberapa itu). Tapi, alangkah indahnya jika hubungan Anda dengan buku-buku itu tidak berhenti di kasir toko.
Malam ini, cobalah ambil satu buku dari tumpukan terbawah. Yang paling berdebu. Yang paling lama Anda abaikan. Buka segelnya perlahan, cium aroma kertasnya yang khas, lalu bacalah sepuluh halaman saja. Mungkin itulah awal dari sembuhnya Anda dari tsundoku, atau setidaknya, awal dari sebuah perjalanan baru di dalam kepala Anda yang jauh lebih seru daripada sekadar menumpuk kertas di pojok ruangan. Ingat, buku adalah jendela dunia, tapi jendela itu tidak akan ada gunanya kalau tirainya tidak pernah Anda buka.




