Buku Fisik vs E-book: Mana yang Lebih Nyaman di Mata dan Kantong?

Dunia ini memang aneh. Dulu, orang berkelahi soal ideologi. Sekarang, di media sosial, orang bisa berdebat kusir sampai urat leher keluar hanya untuk meributkan mana yang lebih unggul: buku yang dicetak di atas kertas atau buku yang muncul di layar elektronik. Kelompok “pemuja kertas” bakal bilang kalau e-book itu tidak punya jiwa. Sebaliknya, kaum “digitalis” bakal menuding pecinta buku fisik sebagai orang purba yang hobi merusak hutan.

Debat ini tidak akan pernah selesai kalau kita cuma bicara soal selera. Karena selera itu subjektif. Ada orang yang kalau tidak mencium bau lem buku, kepalanya pusing. Ada juga yang kalau harus bawa buku tebal ke mana-mana, encoknya kumat. Maka, mari kita bedah masalah ini dari dua sudut pandang paling realistis bagi kita, manusia Indonesia yang hidup di zaman transisi ini: kenyamanan mata dan kesehatan kantong.

Mari kita bicara soal mata dulu. Ini penting, karena mata adalah modal utama kita untuk membaca. Kalau mata sudah sepet, mau bukunya sebagus apa pun, ya bubar jalan.

Buku fisik itu menang telak dalam hal “ketenangan visual”. Kertas itu benda mati yang tidak memancarkan cahaya. Ia hanya memantulkan cahaya dari luar. Mata kita secara alami didesain untuk melihat pantulan cahaya, bukan menatap sumber cahaya langsung. Itulah sebabnya membaca buku fisik selama dua jam tidak akan bikin mata Anda terasa seperti habis diguyur air sabun. Tidak ada emisi blue light yang bisa mengganggu hormon tidur Anda. Membaca buku fisik sebelum tidur adalah obat paling manjur untuk menjemput mimpi indah.

Sedangkan e-book? Nah, di sini kita harus membedakan antara membaca di tablet/HP dengan membaca di perangkat e-reader khusus seperti Kindle atau Kobo. Kalau Anda baca e-book di layar HP, saya cuma bisa bilang: kasihan mata Anda. Menatap layar LCD atau OLED berjam-jam itu berat. Cahaya yang ditembakkan langsung ke pupil mata bikin kita jarang berkedip, mata jadi kering, dan akhirnya kepala jadi pening.

Tapi kalau Anda pakai e-reader yang teknologinya e-ink (tinta elektronik), ceritanya beda lagi. Layar itu tampilannya mirip sekali dengan kertas. Tidak ada cahaya yang menyorot balik ke mata. Bahkan di bawah terik matahari pun, tulisan di e-reader makin jelas, beda dengan HP yang kalau kena matahari langsung jadi cermin gelap. Jadi, untuk urusan mata, buku fisik masih juara satu, dan e-reader khusus adalah juara dua yang bedanya tipis. Membaca di HP? Itu pilihan terakhir kalau memang terpaksa.

Sekarang, mari kita bedah urusan yang lebih sensitif: Kantong alias isi dompet. Di sini, situasinya jadi sedikit terbalik.

Secara harga satuan, e-book biasanya lebih murah. Wajar, karena penerbit tidak perlu beli kertas, tidak perlu sewa gudang, dan tidak perlu bayar truk untuk kirim barang. Di toko buku digital legal, selisih harga e-book dengan buku fisik bisa mencapai 20 sampai 30 persen. Bahkan banyak karya klasik yang hak ciptanya sudah habis bisa Anda unduh secara gratis dan legal. Bagi mahasiswa yang uang sakunya pas-pasan, e-book adalah penyelamat hidup. Anda bisa punya perpustakaan berisi ribuan buku hanya dalam satu genggaman tanpa perlu keluar ongkir sepeser pun.

Tapi, jangan tertipu dengan harga murah di awal. Buku fisik punya “nilai investasi” yang tidak dimiliki e-book. Buku fisik itu aset. Kalau Anda sudah selesai baca dan lagi butuh uang, Anda bisa menjualnya kembali ke pasar buku bekas. Di Indonesia, komunitas pemburu buku bekas itu militan sekali. Buku yang kondisinya masih bagus bisa laku 50 sampai 70 persen dari harga barunya.

Sedangkan e-book? Sekali Anda beli, ia terkunci di akun Anda selamanya. Anda tidak bisa menjualnya lagi, tidak bisa meminjamkannya ke teman (kecuali Anda kasih pinjam HP-nya sekalian), dan Anda tidak benar-benar “memiliki” barangnya. Anda cuma punya hak akses. Kalau platform digitalnya bangkrut atau akun Anda kena blokir, ya wasalam. Pengetahuan Anda menguap begitu saja. Jadi, kalau bicara soal nilai ekonomi jangka panjang, buku fisik sebenarnya lebih “menguntungkan”.

Belum lagi kalau kita bicara soal gaya hidup. Di Indonesia, ongkir itu sering jadi hantu. Beli buku harga 50 ribu, ongkirnya 40 ribu. Sakitnya tuh di sini, kata orang-orang. E-book menang mutlak di sini. Klik, bayar, langsung baca. Tidak perlu nunggu kurir datang sambil teriak “Paket!” saat Anda lagi mandi. Efisiensi waktu dan biaya kirim ini adalah keunggulan e-book yang sulit dilawan oleh toko buku fisik konvensional.

Namun, ada satu hal yang sering dilupakan: “biaya gangguan”. Membaca buku fisik itu biayanya nol untuk urusan fokus. Tapi membaca e-book di perangkat yang tersambung internet itu mahal harganya dalam hal konsentrasi. Baru baca satu halaman, ada notifikasi WhatsApp masuk. Ada email kerjaan. Ada tawaran diskon belanja online. Waktu Anda habis untuk hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan membaca. Dalam hal ini, e-book seringkali jadi “murah di harga, mahal di gangguan”.

Lantas, mana yang harus dipilih? Kalau saya boleh memberi saran gaya Iqbal Aji Daryono, ya jangan fanatik. Hidup ini sudah susah, jangan ditambah susah dengan urusan pilih-pilih media baca.

Gunakan e-book untuk bacaan-bacaan yang sifatnya informatif, cepat basi, atau sekadar hiburan ringan yang sekali baca habis. Pakai e-book kalau Anda sedang dalam perjalanan jauh dan tidak mau koper Anda berat karena beban kertas. Manfaatkan e-book untuk mencari referensi cepat yang sulit ditemukan di toko buku lokal.

Tapi, untuk buku-buku yang “berdaging”, buku-buku yang ingin Anda tandai dengan coretan pensil, atau buku yang ingin Anda wariskan ke anak cucu, belilah buku fisiknya. Belilah buku fisik untuk buku-buku yang ingin Anda nikmati pelan-pelan di hari Minggu sore sambil ditemani teh hangat tanpa gangguan notifikasi ponsel.

Kenyamanan mata itu penting untuk kesehatan jangka panjang. Kenyamanan kantong itu penting untuk kelangsungan hidup bulan depan. Maka, jadilah pembaca yang cerdas secara hibrida. Kita beruntung hidup di zaman di mana kedua pilihan ini tersedia. Tidak perlu memusuhi salah satunya. Kertas punya sejarah, digital punya masa depan.

Yang paling penting itu bukan medianya, tapi apakah isinya masuk ke otak atau tidak. Percuma beli buku fisik mahal-mahal kalau cuma jadi pajangan biar kelihatan intelektual. Percuma juga punya ribuan koleksi e-book di tablet kalau yang dibuka tiap hari cuma aplikasi gim.

Jadi, silakan pilih mana yang paling nyaman buat mata dan dompet Anda hari ini. Selama Anda masih mau membaca, dunia perbukuan kita—baik yang berbau kayu maupun yang berbau sirkuit elektronik—akan tetap bernapas. Mari kita rayakan perbedaan ini dengan terus membaca, apa pun wadahnya. Karena pada akhirnya, yang membuat kita pintar itu adalah gagasan di dalamnya, bukan cara gagasan itu diantarkan ke mata kita.