Kalau Anda buka aplikasi belanja online favorit Anda sekarang, lalu ketik judul buku best seller apa saja, saya berani jamin dalam hitungan detik akan muncul deretan pilihan. Ada yang harganya normal, katakanlah 100 ribu rupiah. Tapi di bawahnya, ada yang harganya bikin kita kucek-kucek mata: 15 ribu, 20 ribu, atau paket hemat 50 ribu dapat lima buku. Tampilannya sekilas sama. Sampulnya sama. Judulnya sama. Tapi harganya tidak masuk akal. Itulah wajah monster yang sedang menggerogoti industri literasi kita: buku bajakan.
Ini bukan lagi sekadar masalah “pedagang kecil cari makan”. Ini sudah sampai pada tahap darurat nasional. Bayangkan, di tengah minat baca kita yang katanya rendah, sekalinya orang mau baca, yang dibeli justru barang curian. Kita ini seperti ingin pintar tapi lewat jalan pintas yang jahat. Dan yang paling menyedihkan, pasar gelap ini tidak lagi sembunyi-sembunyi di bawah jembatan atau di trotoar remang-remang. Ia berpesta pora di etalase digital yang megah, di marketplace yang setiap hari kita akses lewat ponsel.
Pertanyaannya menohok: Siapa yang bertanggung jawab atas kekacauan ini? Apakah pembeli yang mau murahnya saja? Apakah penjual yang tidak punya hati nurani? Ataukah platform marketplace yang membiarkan pencurian ini terjadi di depan mata mereka? Mari kita bedah pelan-pelan, dengan gaya jujur apa adanya.
Pertama, kita harus bicara soal mentalitas pembaca kita. Saya sering dengar alasan klasik: “Buku asli mahal, Mas. Buat makan saja susah, apalagi beli buku seratus ribu.” Kalimat ini sekilas terdengar heroik, seolah-olah membajak adalah bentuk perlawanan rakyat kecil. Tapi mari kita jujur. Banyak dari pembeli buku bajakan ini adalah orang-orang yang sanggup beli kopi susu kekinian seharga 40 ribu atau sanggup bayar cicilan HP kelas menengah. Jadi, ini bukan soal tidak mampu, tapi soal skala prioritas dan penghargaan terhadap keringat orang lain.
Membeli buku bajakan itu ibarat Anda datang ke restoran, makan kenyang, lalu kabur lewat pintu belakang tanpa bayar. Bedanya, dalam kasus buku, yang Anda rampok bukan cuma pemilik restoran, tapi petani yang menanam bahannya, koki yang meracik bumbunya, sampai pelayan yang mengantar piringnya. Di balik satu judul buku, ada penulis yang begadang berbulan-bulan, ada editor yang matanya perih meneliti naskah, ada desainer yang memeras otak, dan ada penerbit yang berisiko rugi besar. Dengan membeli buku seharga 20 ribu di marketplace, Anda baru saja memutus urat nadi kehidupan mereka semua.
Lalu, mari kita tengok para penjualnya. Di marketplace, mereka ini seperti jamur di musim hujan. Satu akun ditutup, muncul sepuluh akun baru dengan nama yang mirip-mirip. Mereka tidak perlu riset, tidak perlu bayar royalti, tidak perlu bayar pajak. Mereka cukup beli satu buku asli, scan pakai mesin murah, lalu cetak di kertas buram yang baunya bikin pusing kepala. Untungnya bersih. Ini adalah kejahatan yang sangat menggiurkan karena risikonya kecil tapi pasarnya luas. Mereka adalah parasit yang hidup menumpang pada popularitas karya orang lain.
Tapi, yang paling membuat saya gemas adalah peran platform marketplace itu sendiri. Selama ini, kalau ada protes dari penerbit atau penulis, jawaban mereka selalu diplomatis: “Kami hanya penyedia platform. Kami mendukung perlindungan hak cipta. Jika ada pelanggaran, silakan laporkan.” Kalimat ini rasanya seperti melihat orang dirampok di depan toko, lalu pemilik tokonya bilang, “Saya cuma sewakan tempat, kalau ada yang dirampok silakan lapor polisi ya.”
Marketplace punya teknologi algoritma yang sangat canggih. Mereka tahu apa yang Anda cari, apa yang Anda suka, bahkan kapan Anda gajian. Masa iya, mereka tidak punya teknologi untuk menyaring buku-buku yang harganya tidak masuk akal? Kalau ada orang jual narkoba atau senjata api, sistem mereka bisa langsung mendeteksi dan memblokir. Tapi kenapa kalau buku bajakan, sistemnya mendadak “buta”? Jawabannya mungkin pahit: karena buku bajakan itu laku keras. Dan setiap transaksi, ada perputaran uang di sana yang juga menguntungkan pihak platform.
Kita sedang menghadapi situasi di mana kejahatan difasilitasi oleh kemudahan teknologi. Marketplace seharusnya tidak boleh hanya bersikap pasif menunggu laporan. Mereka harus proaktif. Jika ada buku baru terbit dengan harga resmi 95 ribu, lalu ada akun yang menjualnya seharga 15 ribu dalam jumlah ribuan eksemplar, itu sudah bendera merah. Harusnya otomatis ditendang dari sistem. Jangan biarkan penulis dan penerbit yang sudah babak belur memproduksi karya, masih harus kerja bakti melapor satu per satu ribuan akun bajakan setiap hari. Itu namanya memindahkan beban tanggung jawab kepada korban.
Peran pemerintah juga tidak kalah krusial. Selama ini, penegakan hukum terhadap pembajakan buku di Indonesia masih terasa seperti macan kertas. Sesekali ada penggerebekan gudang, masuk berita, lalu setelah itu sepi lagi. Kita butuh aturan yang lebih tegas yang memaksa marketplace bertanggung jawab secara hukum atas konten ilegal yang ada di platform mereka. Di luar negeri, ada tanggung jawab renteng. Kalau platform membiarkan barang ilegal dijual, mereka bisa kena denda triliunan. Di sini? Kita masih terlalu ramah pada platform besar atas nama investasi digital.
Padahal, dampak buku bajakan ini mengerikan bagi masa depan literasi kita. Kalau pembajakan terus dibiarkan, penerbit lama-lama akan bangkrut. Penulis-penulis hebat akan berhenti menulis karena royaltinya ludes dimakan pembajak. Akhirnya, apa yang tersisa? Toko buku tutup, dan anak cucu kita hanya akan membaca buku-buku lama yang itu-itu saja karena tidak ada lagi orang yang mau memproduksi pengetahuan baru. Membela buku asli bukan cuma soal membela bisnis, tapi membela akal sehat bangsa.
Isu lingkungan juga sering dijadikan tameng. “Buku bajakan kan kertasnya jelek, jadi lebih ramah lingkungan.” Ini logika sesat. Kertas buram buku bajakan itu seringkali diproses dengan bahan kimia yang tidak standar dan limbahnya tidak terkelola. Belum lagi tinta murah yang kalau terhirup atau menempel di tangan bisa berbahaya bagi kesehatan. Jadi, tidak ada satu pun sisi positif dari buku bajakan, kecuali bagi dompet si pencurinya.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai individu? Jawabannya sederhana tapi berat: berhenti menjadi penadah. Ya, pembeli buku bajakan itu adalah penadah barang curian. Mulailah merasa malu kalau di rak buku Anda ada buku bajakan. Jangan bangga punya koleksi ribuan judul kalau semuanya hasil merampok hak orang lain. Kalau memang belum sanggup beli buku asli yang baru, pergilah ke perpustakaan. Atau belilah buku bekas yang asli di pasar-pasar buku lama. Itu jauh lebih terhormat. Setidaknya, buku bekas asli adalah barang legal yang berpindah tangan, bukan barang palsu yang diproduksi secara ilegal.
Kita harus membangun budaya malu. Malu baca buku bajakan. Malu memamerkan buku palsu di media sosial. Para bookfluencer atau pembahas buku di Instagram dan TikTok punya peran besar di sini. Jangan cuma pamer konten estetik, tapi edukasilah pengikut kalian soal cara membedakan buku asli dan bajakan. Ingatkan mereka bahwa setiap lembar buku asli yang mereka beli adalah “bensin” bagi penulis untuk terus berkarya.
Penerbit juga harus mulai kreatif. Jangan cuma mengeluh. Kita tahu harga kertas naik, tapi coba cari cara agar buku bisa lebih terjangkau tanpa mengurangi kualitas. Misalnya dengan menerbitkan versi “paperback” atau edisi ekonomis yang lebih murah tapi tetap legal. Perbanyak akses e-book yang aman dari pembajakan dengan harga yang lebih miring. Intinya, buatlah pembaca merasa lebih rugi kalau beli bajakan daripada beli yang asli.
Darurat buku bajakan ini adalah ujian bagi integritas kita sebagai sebuah bangsa. Apakah kita benar-benar ingin menjadi bangsa yang cerdas, atau cuma bangsa yang hobi mengoleksi tumpukan kertas curian? Marketplace harus berhenti bersembunyi di balik kata “penyedia platform”. Penjual bajakan harus dikejar sampai ke lubang semut. Dan pembeli harus sadar bahwa ilmu yang didapat dari barang curian tidak akan pernah membawa berkah.
Jangan sampai suatu saat nanti, kita terbangun di sebuah negara di mana tidak ada lagi buku baru yang terbit. Sebuah negara yang sunyi dari pemikiran segar karena semua penulisnya sudah menyerah kalah pada mesin fotokopi dan algoritma marketplace yang cuek. Di saat itu, kita baru akan sadar bahwa harga buku asli yang seratus ribu itu sebenarnya sangat murah dibandingkan harga hilangnya sebuah peradaban.
Tanggung jawab ini ada di pundak kita semua. Marketplace harus berbenah, pemerintah harus bertindak, dan kita sebagai pembaca harus punya harga diri. Mari kita bersihkan rak buku kita, bersihkan keranjang belanja online kita, dan mulailah menghargai setiap tetes tinta yang dituangkan penulis ke atas kertas. Karena literasi yang bermartabat tidak akan pernah lahir dari perbuatan yang tidak bermartabat.
Mari kita suarakan tagar #GanyangBukuBajakan bukan cuma sebagai tren sesaat, tapi sebagai komitmen seumur hidup. Setiap kali Anda menekan tombol “beli” untuk buku asli, Anda sedang mengirimkan pesan cinta kepada dunia literasi. Sebaliknya, setiap kali Anda membeli buku bajakan, Anda sedang membantu memaku peti mati bagi kreativitas anak bangsa. Pilihannya ada di tangan Anda, dan di jempol Anda yang sedang memegang ponsel itu. Jadilah pembaca yang cerdas, jujur, dan beradab. Sebab, hanya dari buku yang benar dan cara yang benar, kita bisa benar-benar belajar.




