Mengapa Toko Buku Fisik Banyak yang Tutup?

Setiap kali saya melewati pusat perbelanjaan tua di Jakarta atau jantung kota di daerah, ada satu pemandangan yang bikin sesak dada: papan “Diskon Besar-Besaran” yang dipasang di depan toko buku legendaris, yang beberapa minggu kemudian berganti menjadi papan “Disewa” atau malah sudah tertutup rolling door rapat-rapat. Toko buku fisik yang dulu jadi tempat kencan intelektual, tempat anak sekolah ngadem sambil baca komik gratisan, atau tempat orang tua membelikan hadiah kenaikan kelas, satu per satu bertumbangan.

Fenomena ini bukan cuma terjadi pada toko buku kecil “ecek-ecek” di pinggir jalan. Raksasa toko buku berjaringan yang cabangnya ada di mana-mana pun mulai merampingkan barisan. Ada yang menutup puluhan outletnya sekaligus, ada yang luas tokonya menciut drastis, berganti menjadi tumpukan alat tulis atau peralatan kantor. Orang-orang pun mulai berteriak kiamat: “Inilah akhir dari era toko buku!”

Tapi, benarkah toko buku fisik mati hanya karena orang malas baca? Saya rasa tidak sesederhana itu. Kalau kita mau jujur dan buka-bukaan pakai kacamata realitas, ada banyak faktor yang membuat bisnis toko buku di Indonesia saat ini seperti sedang berjalan di atas aspal panas sambil memikul beban berat.

Alasan pertama yang paling telak adalah pergeseran perilaku belanja kita. Mari kita berkaca pada diri sendiri. Kapan terakhir kali Anda pergi ke toko buku hanya untuk membeli satu judul buku? Kebanyakan dari kita sekarang pergi ke toko buku fisik cuma untuk “window shopping”. Kita masuk, keliling rak, melihat-lihat sampul yang menarik, membaca sinopsis di belakangnya, lalu apa? Kita ambil ponsel, buka aplikasi marketplace, cari judul yang sama, lalu klik “Beli”. Kenapa? Karena di sana harganya lebih murah 20 sampai 30 persen dan sering kali ada promo gratis ongkir.

Toko buku fisik di Indonesia saat ini terjepit dalam posisi yang sangat tidak adil. Mereka harus bayar sewa gedung di mall yang harganya selangit, bayar listrik AC yang harus dingin seharian, bayar gaji pegawai yang harus ramah, dan bayar pajak yang tertib. Sementara itu, penjual buku di marketplace—terutama yang menjual buku bajakan atau toko buku daring tanpa toko fisik—tidak punya beban biaya operasional sebesar itu. Jadi, toko buku fisik itu sekarang fungsinya beralih jadi “showroom” gratisan buat toko online. Orang lihat barangnya di toko fisik, tapi belinya di HP. Kalau begini terus, ya pengusaha toko buku mana pun bakal angkat tangan.

Kedua, masalah margin keuntungan yang sangat tipis. Di dunia perbukuan kita, skema bisnisnya adalah konsinyasi atau titip jual. Toko buku itu cuma dapat jatah sekitar 35 sampai 40 persen dari harga banderol. Dari potongan itulah mereka harus membiayai semua operasional tadi. Padahal, perputaran uang di buku itu lambat. Buku bukan seperti roti yang tiap hari dibeli orang. Satu judul buku bisa nangkring di rak selama berbulan-bulan tanpa ada yang menyentuh. Bayangkan biaya “sewa tempat” bagi buku yang tidak laku itu. Itulah sebabnya sekarang Anda lihat toko buku fisik isinya makin sedikit buku, makin banyak alat tulis, tas sekolah, sampai alat olahraga. Karena margin di alat tulis itu jauh lebih gurih daripada di buku. Buku sekarang cuma jadi pemanis saja agar tempatnya masih layak disebut “toko buku”.

Ketiga, hantaman buku bajakan yang tidak ada matinya. Ini sudah seperti kanker stadium lanjut. Toko buku fisik hanya menjual buku asli. Harganya resmi sesuai banderol penerbit. Tapi di luar sana, buku bajakan dijual dengan harga sepertiganya. Masyarakat kita, yang literasi keuangannya lebih kencang daripada literasi membacanya, tentu pilih yang murah. Toko buku fisik kehilangan pelanggan bukan karena orang berhenti membaca, tapi karena pelanggan mereka pindah ke “pasar gelap” yang lebih terjangkau. Negara kita belum bisa memberikan perlindungan yang cukup bagi toko buku fisik dari gempuran barang ilegal ini. Menjual buku asli di tengah lautan buku bajakan itu seperti jualan barang mewah di tengah pasar loak; berat sekali.

Keempat, perubahan gaya hidup digital. Kita harus akui bahwa perhatian manusia modern itu sudah terfragmentasi. Waktu luang orang sekarang habis untuk scroll media sosial, nonton streaming film, atau main gim. Pergi ke toko buku fisik butuh waktu, butuh ongkos bensin, dan butuh tenaga. Di sisi lain, konten digital memberikan kepuasan instan. Banyak orang merasa sudah “cukup tahu” dengan membaca ringkasan buku di internet atau nonton ulasan di YouTube tanpa merasa perlu membeli buku fisiknya ke toko. Toko buku fisik kehilangan daya tariknya sebagai pusat informasi karena informasi sekarang sudah ada dalam genggaman.

Lalu, apakah ini berarti toko buku fisik akan punah total? Saya rasa tidak, tapi mereka harus bertransformasi secara radikal. Toko buku yang hanya sekadar menumpuk kertas di rak kayu memang akan mati. Tapi toko buku yang mampu menciptakan “pengalaman” akan tetap bertahan. Lihatlah toko-toko buku independen yang sekarang mulai bermunculan di gang-gang cantik atau gedung tua yang dikelola secara personal. Mereka tidak punya ribuan judul, tapi mereka punya kurasi yang cerdas. Penjualnya tahu buku apa yang bagus, mereka bisa diajak ngobrol, dan mereka sering mengadakan acara diskusi atau peluncuran buku yang intim.

Toko buku masa depan harus menjadi “pusat komunitas”, bukan sekadar gudang jualan. Mereka harus punya kafe yang nyaman, harus punya sudut-sudut yang estetik buat difoto (karena ya, kita hidup di zaman pamer), dan yang paling penting, mereka harus punya jiwa. Orang datang ke toko buku bukan cuma cari kertas, tapi cari suasana, cari inspirasi, dan cari interaksi manusiawi yang tidak bisa diberikan oleh layar ponsel.

Kita sebagai pembaca juga punya tanggung jawab. Kalau kita ingin toko buku fisik di kota kita tetap ada, ya belilah buku di sana. Jangan cuma numpang baca atau numpang foto buat feed Instagram, tapi belinya di toko online yang entah di mana. Keberadaan toko buku fisik adalah indikator kesehatan budaya sebuah kota. Kota tanpa toko buku fisik itu seperti rumah tanpa jendela; pengap dan tidak punya pandangan ke luar.

Memang menyedihkan melihat toko-toko buku legendaris tutup satu per satu. Ada kenangan yang hilang di sana. Tapi kita tidak bisa hanya meratap. Kita harus mendukung ekosistem yang sehat. Pemerintah perlu turun tangan, misalnya dengan memberikan subsidi sewa lahan bagi toko buku atau memberikan insentif pajak. Marketplace juga harus dipaksa membersihkan lapaknya dari buku bajakan agar toko buku fisik bisa bersaing secara adil.

Toko buku fisik sedang mengalami seleksi alam yang sangat kejam. Yang lamban dan kaku akan terkubur sejarah. Yang kreatif dan mampu menyentuh sisi emosional pembaca akan tetap berdiri tegak. Mari kita doakan—dan yang lebih penting, mari kita datangi—toko-buku fisik yang masih bertahan. Karena di sana, di antara aroma kertas dan keheningan rak, ada ketenangan yang tidak akan pernah bisa kita temukan di keramaian dunia digital. Jangan biarkan toko buku fisik jadi dongeng masa lalu yang cuma bisa kita ceritakan ke anak cucu. Belilah buku, datanglah ke toko, dan jagalah jendela dunia itu agar tetap terbuka.